
Geho sama sempat menangkap senyuman yang terbentuk disudut bibir pertapa yang sebentar lagi tertelan dalam gelombang kobaran api yang menyerangnya. Sebenarnya Geho sama tidak berniat melukai pertapa yang terus saja memaksa mengajak bertarung dengannya.
"Pertapa ini benar-benar gila atau hendak bunuh diri?"
Geho sama semakin terkejut melihat pertapa itu masih tidak bergerak melihat api berbentuk naga raksasa yang hendak melahap dirinya.
"Aku ingin melihat apakah kekuatanmu ini pantas membuatku moksa!"
Kemudian pertapa itu merapal sebuah mantra untuk memanggil astra atau senjata lain yang digunakan untuk menangkal serangan Geho sama.
Kali ini pertapa itu tidak menggunakan busur yang tergenggam ditangannya. Setelah membentuk mudra satu tangan, maka sebuah serangan balik menerjang ke arah Maha Naga Taksaka yang bergulung-gulung dengan begitu dahsyatnya.
"Varunastra!"
Namun ledakan kekuatan yang berasal dari astra atau senjata yang dipanggil oleh pertapa itu lebih dahsyat dibandingkan kekuatan yang dikerahkan Lodra. Ledakan itu muncul dalam bentuk gelombang air tsunami yang unik. Sebab gelombang air raksasa yang muncul itu bergerak menyapu dan membelit kobaran api Maha Naga Taksaka.
Sehingga sekilas kini terjadi pergulatan antara dua naga raksasa yang terbuat dari dua unsur saling berlawanan. Gelombang air berhasil menggulung dengan begitu dahsyat berukuran berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan wujud Naga Taksaka.
Pertapa itu merupakan Ciranjiwin atau manusia abadi yang memiliki nama lain Aswatama. Kekuatan astra yang dikerahkan Aswatama atau yang memiliki nama lain Droni, Droniyana, Acaryanandana, atau juga Acaryaputra sungguh dahsyat.
Sebab secara pasti api hitam yang dikerahkan oleh Lodra berhasil dikalahkan. Bahkan dapat terhisap oleh pusaran gelombang tsunami yang bergerak terus menggulung, hingga akhirnya api hitam itu lenyap tak berbekas.
**
"Apa yang aku bilang, suaramu memang hanya seperti kentut. Lihatlah, kau sudah mensia-siakan chakra milikku." Geho sama merutuk melihat jurus Maha Naga Taksaka akhirnya lenyap tak tersisa terhisap oleh astra yang dikerahkan sang pertapa.
'Jaga mulutmu, Geho sama. Siapa yang kau katakan mensia-siakan chakra milikmu? Kau yang memiliki dua mata, seharusnya lebih mengetahui jika jurus yang digunakan pertapa itu bukan sembarangan.
Engkaupun tau, jika astra Varunastra
yang dipanggil itu adalah senjata milik Batara Baruna, Dewa dari segala lautan. Ciranjiwin ini memiliki ilmu tingkat para dewa yang tidak terhitung jumlahnya.
Jadi mulutmu tidak usah merepet ke arahku seperti suara kentutmu, siluman emprit sialan!#)%"+';@^!~#'¥$₩\=\' Lodra langsung tersinggung mendengar ucapan Geho sama.
Mulutnya terus merepet seratus kali lipat lebih panjang dibandingkan dengan yang dilakukan Geho sama. Makhluk setengah siluman itu menepuk-nepuk jidatnya pusing mendengar makian Lodra.
Dia akhirnya merasakan seperti yang dirasakan Suro, "mengapa tuan Suro tidak menyumbat mulutmu sejak dulu? Rahasia apa yang membuatnya tahan dengan suaramu yang seperti kaleng rombeng ini.
Aku curiga sepertinya Sang Hyang Kavacha telah membuatkan semacam peredam di kuping tuan Suro. Jika tidak, dia pasti sudah gila mendengar ocehanmu Lodra!
Atau justru karena ulahmu lah, akhirnya tuan Suro berubah menjadi bocah gemblung dan bertambah semakin gendeng! Lodra agung apanya? Dasar payah!"
Lodra semakin murka omelannya tetap dibalas oleh Geho sama. Kemarahannya semakin memuncak, umpatannya semakin panjang seperti rentetan petasan undangan perkawinan. Tetapi Geho sama sudah tidak peduli, dia sudah terlalu pusing dengan kelakuan jiwa pedang itu.
Mendengar umpatan dan makian Lodra, Geho sama tidak mau kalah. Kembali dia menimpali ucapan jiwa pedang yang terdengar hanya dalam kepalanya saja itu, "Lodra yang agung apanya, dasar mulut kentut!"
Suara makian Lodra terus memanjang mewarnai lubang telinga Geho sama menggema didalam kepala makhluk setengah siluman itu.
Meskipun begitu, dia sesekali tetap membalas ucapan dari jiwa pedang itu. Perdebatan dua makhluk yang sama-sama keras kepala itu terus berlangsung dibawah tatapan pertapa yang kini melihatnya dengan pandangan aneh.
'Perasaanku saja atau memang siluman ini kewarasannya telah moksa?' Sang pertapa itu menggaruk-garuk kepalanya sambil menatap Geho sama yang terus berbicara sendiri.
Sehabis melepaskan astra Varunastra milik Batara Baruna, pertapa itu seperti kebingungan sendiri dengan sikap yang diperlihatkan lawannya.
Apa yang terjadi? Sepertinya ada yang salah, ada alur waktu yang berubah oleh sesuatu hal." Pikiran pertapa itu berkecamuk mencoba menelaah apa yang ada didepan matanya.
Tidak banyak yang mengetahui nama asli dari sosok tersebut. Bahkan eyang Sindurogo sendiri tidak mengetahui sedikit pun tentang masa lalu dari tokoh tersebut.
Sebab dalam dunia persilatan pertapa itu dikenal dengan nama lain. Mereka tidak satupun mengetahui nama aslinya. Karena itulah saat Geho sama mampu menebak namanya membuat pertapa itu sedikit terusik.
Seakan lelaki tua itu tidak berkenan, jika nama aslinya diketahui oleh dunia. Karena nama itu akan dikaitkan pada sebuah cerita tentang Ciranjiwin yang mendapatkan kutukan untuk hidup terus.
Sebuah kutukan dari awatara Dewa Wisnu yang bernama Sri Kreshna, disebabkan kesalahan yang dia lakukan.
Sedangkan nama asli dari pertapa itu adalah Aswatama. Dijuga disebut Droni atau Droniyana, karena anak dari Maharesi Dorna. Dia juga disebut, Acaryanandana, atau juga Acaryaputra.
Tetapi dunia persilatan di Negeri Atap Langit, dia justru lebih dikenal dengan nama Dewa Obat atau Dewa segala tau.
Sebab selain ilmu pengobatannya yang berasal dari ayahnya guru Dorna yang sangat mumpuni. Selain memiliki ilmu pengobatan dia juga memiliki pengetahuan yang tidak terhitung jumlahnya.
Seakan segala pengetahuan tentang seluruh alam dia mengetahuinya. Sebab sesungguhnya guru dari ayahnya dulu adalah seorang Ciranjiwin.
Nama guru dari ayahnya itu adalah Parashurama yang dulu pernah menjadi Awatara Batara Wisnu. Kemudian perannya digantikan oleh Sri Rama.
Parashurama sendiri selain Awatara dari Batara Wisnu, dia juga merupakan murid langsung dari Dewa Siwa atau Batara Guru. Karena itulah mengapa Parashurama memiliki kapak yang tidak akan hancur oleh apapun.
Sebab senjata kapak miliknya merupakan pemberian dari Dewa Siwa. Dengan kehebatan-kehebatan Mahaguru yang dimiliki pertapa itulah, mengapa dia memiliki pengetahuan yang seakan tidak tak terbatas.
Srlain itu dia juga memiliki kewaskitaan yang luar biasa. Dia seperti ahli nujum sebab dia mampu mengetahui kejadian yang sebelum dan yang akan terjadi. Seakan dia adalah seorang peramal.
Karena itulah para pendekar menyebutnya sebagai Dewa Segala Tahu karena kemampuannya itu, selain nama Dewa Obat yang tersemat dalam dirinya.
Walaupun sebenarnya lelaki itu tidak sepenuhnya mengetahui segala hal. Kecuali lintasan peristiwa atau penglihatan yang tertangkap olehnya atau yang masuk dalam alam mimpi atau alam bawah sadarnya.
Biasanya penglihatan yang dia tangkap adalah potongan-potongan peristiwa yang tidak lengkap. Sehingga dia harus menganalisa sendiri dengan kejadian yang sebenarnya.
Seperti juga yang dia hadapi sekarang. Beberapa peristiwa yang dia alami sebagian tidak sesuai dengan analisa yang dia lakukan jauh sebelum pertemuannya dan juga pertarungannya dengan Geho sama saat ini.
Alasan itulah yang membuat pertapa itu justru ragu untuk menghabisi Geho sama. Dia kini justru asik mengamati tingkah yang dilakukan lawannya.
'Apa yang diucapkan makhluk itu sebagian besar ada benarnya. Aku memang tidak menangkap hawa kegelapan yang ada dalam tubuhnya.
Pertanda bahwa dia memang sudah tidak lagi menjadi bagian dari Dewa Kegelapan. Tetapi aku masih merasakan aura sangat sesat, aku yakin itu milik iblis Kali purusha."
Keraguan masih menyelimuti pikiran pertapa. Meskipun begitu dia kembali melesatkan anak panah chakra ke arah Geho sama.
Kehancuran yang ditimbulkan akibat pertarungan mereka berdua semakin melebar ke arah timur. Geho sama kali ini menggunakan Pedang Kristal Dewa untuk menangkis setiap lesatan anak panah chakra yang dikerahkan sang pertapa.
'Coba kau sedari tadi mengikuti arahanku, kau tidak perlu mengumbar kekuatanmu sebanyak yang kau kerahkan untuk membentuk anak panah chakra.' Lodra tersenyum penuh kemenangan.
Sebab ucapannya memang terbukti ampuh menahan serangan lawan. Bilah pedang itu berhasil menangkis setiap lesatan anak panah chakra yang sanggup menembus dan menghancurkan sebuah batu besar sekalipun.
Kondisi itu telah membantu Geho sama menghemat kekuatan tenaga dalam yang tidak sebanyak, jika dibandingkan saat menggunakan gandewa andalannya.