SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 130 Penggabungan Kekuatan Tiga Jiwa



"Sekarang telan api hitamku itu, jika kau sanggup melakukannya. Hahahaha...!"


Lodra tertawa lepas melihat api yang dia kendalikan terus mengejar, meski Eyang Sindurogo telah terbang melesat ke langit. Tetapi wujud api itu tidak membiarkan sasarannya lepas.


Api yang dalam pengendalian Lodra menjadi wujud burung raksasa terus mengejar, seakan mengikuti kemanapun musuhnya itu melesat.


Saat Eyang Sindurogo melesat ke atas itu mendadak raut muka Suro terlihat kebingungan seperti baru saja terbangun dari tidur panjang.


'Akhirnya kamu sudah sadar bocah.' Suara Lodra terdengar dalam alam pikiran Suro.


Dia seperti terperanjat saat menyadari bahwa dirinya tengah berada di kancah pertempuran. Dia masih mengingat jelas saat terakhir tubuhnya terhantam pukulan tangan kosong gurunya. Setelah pukulan itu mendarat semuanya menjadi gelap.


'Kenapa bocah apakah kamu masih bingung?' Lodra kembali bersuara melihat Suro masih belum membaca situasi yang terjadi.


'Setelah terhantam Eyang guru aku tidak ingat apapun. Kemudian entah bagaimana sesorang yang mengaku Lodra yang agung mengajakku ke suatu tempat seperti padang savana yang luas. Kemudian mengajariku sebuah jurus pedang yang luar biasa hebat. Tetapi kenapa sekarang aku kembali berada di tengah-tengah pertempuran ini?' Suro masih kebingungan tangannya mengaruk-garuk kepalanya sambil tatapannya melihat ke sekeliling.


'Kali ini kamu harus berterima kasih banyak kepadaku bocah. Karena aku telah menyelamatkan nyawamu.' kembali suara Lodra terdengar oleh Suro.


Namun hal itu menambah kebingungan Suro yang tidak memahami maksud perkataan dari jiwa pedang itu. Suro mencoba mengira-ira apa yang sebenarnya terjadi saat dirinya kehilangan kesadarannya.


'Bocah selama dirimu tidak sadar akulah yang menguasai tubuhmu agar bisa menyelamatkan nyawamu.'


Kemudian Lodra bercerita semua hal yang terjadi selama Suro kehilangan kesadarannya. Mendengar penjelasan Lodra membuat Suro kaget, dia tidak menyangka jika Lodra yang pemarah itu ternyata telah menyelamatkan nyawanya.


'Aku paham sekarang jadi seperti itu pantas saja aku merasakan setiap tebasan yang aku lakukan terasa begitu nyata. Saya tentu saja mengucapkan rasa terima kasih yang tak terukur banyaknya kepada pepulun Lodra yang agung. Apalagi ilmu rahasia dari Pedang Kristal Dewa telah diturunkan kepada Saya. Jadi sekali lagi Suro mengucapkan terima kasih kepada pepulun Lodra yang agung.'


Lodra yang mendapatkan rasa terima kasih dan rasa hormat dari Suro tersenyum dengan lebar ke arah Kavacha yang tetap terdiam seperti biasanya.


'Ilmu Pedang itu aku berikan kepadamu sebagai rasa terima kasihku karena telah menempa bilah pedangku menjadi wujud kristal Dewa. Itu juga sebagai tanda kepercayaan yang aku miliki untuk mengendalikan bilah Pedang Kristal Dewa ini kuberikan kepadamu bocah.'


'Ada hal lain yang sebaiknya kamu ketahui bocah. Sebaiknya kamu secepatnya menyelesaikan perang yang sedang berlangsung ini. Karena jika kekuatan dua orang yang berada diatas awan dan satu orang yang kamu sebut eyang guru itu ikut campur dalam peperangan ini, aku yakin tidak akan ada yang selamat. Kekuatan mereka bertiga akan sangat susah dihadapi jika ditambah dengan pasukan yang ada sekarang. Kita bertiga sebaiknya menyatukan kekuatan kembali. Apakah Hyang Kavacha bersedia?'


Sang Hyang Kavacha yang mendapatkan pertanyaan dari Lodra hanya menganggukan kepala menyetujui rencana Lodra.


Lodra yang telah merasakan betapa kuatnya kekuatannya saat bergabung dengan Kavacha, kini dia berniat kembali menyatukan seluruh kekuatan mereka bertiga.


Lodra dan Kavacha kemudian memberikan penjelasan lebih lanjut kepada Suro terkait perkataan Lodra yang berniat menggabungkan kekuatan mereka bertiga. Kekuatan gabungan itu sudah dibuktikan kedahsyatannya saat menghadapi serangan Eyang Sindurogo.


'Baiklah aku setuju dengan usul penggabungan kekuatan itu.'


Suro setelah mendapatkan penjelasan kembali memperhatikan kancah peperangan yang sudah kacau.


kemudian senyumnya langsung merekah begitu pandangannya menemukan dua sosok yang sangat dia kenal. Mereka berdua berada ditempat yang tidak jauh sehingga dia bisa langsung mengenalinya.


Setelah menghisap energi murni yang membuat wilmana mampu terbang, kini langkah kilatnya menunjukan kemajuan dengan sangat pesat.


Sehingga dalam sekejab tubuhnya sudah berada dihadapan Dewa Rencong dan Dewa Pedang. Bahkan pasukan Medusa yang dia lewati tidak melakukan apapun karena kecepatannya tidak mampu mereka tandingi.


Dua pendekar itu sedikit terperanjat dengan kecepatan ilmu meringankan tubuh yang digunakan Suro.


"Paman guru akhirnya semua siluman yang berada di atas awan hitam itu sudah aku habisi semua. Tetapi ada hal lain yang sebaiknya paman berdua mengetahuinya."


Dewa Pedang dan Dewa Rencong membiarkan Suro bercerita semua yang terjadi saat dirinya berada diatas awan hitam.


"Dan satu lagi paman, Eyang guru ternyata telah berada diatas awan itu. Bersama dua orang yang tidak aku kenal. Mereka menaiki sebuah wahana terbang yang sebelumnya para siluman itu terus mengitarinya."


"Suro tidak terlalu memahami apa yang terjadi dengan Eyang guru, tetapi yang jelas dia sudah tidak bisa mengingat apapun termasuk dia juga tidak bisa mengingat jati dirinya sendiri. Karena dia menganggab dirinya adalah Sukmo Ngalemboro, entah siapa yang dimaksud."


Kemudian Suro menjelaskan juga tentang kejadian yang menyebabkan gurunya terkurung dialam lain, kemungkinan besar adalah bagian dari sebuah rencana yang dibuat oleh orang yang berada di wahana terbang itu.


"Aku mendengar sendiri paman bahwa merekalah yang menyebabkan eyang guru terjebak di alam lain. Kemudian mereka mengatakan juga jika mereka kini telah menjadikan eyang guru dalam kendalinya." Suro terlihat sedih saat menceritakan nasib gurunya yang sekarang walaupun sudah terbebas dari alam lain, tetapi justru bernasib lebih buruk, yaitu menjadi boneka dikendalikan oleh orang lain.


Dia menceritakan secara singkat kepada kedua pendekar tentang kejadian yang di alami saat berada diatas awan hitam. Dia kemudian menjelaskan kepada dua pendekar tentang ancaman besar yang berasal dari orang-orang yang ditemui diatas awan hitam itu.


"Sebaiknya kita menghancurkan seluruh pasukan Medusa sebelum Eyang Sindurogo dan dua orang yang berada dibalik awan hitam itu turun. Kekuatan mereka lebih mengerikan dibandingkan para siluman."


"Lalu apa yang akan nakmas rencanakan?" Dewa Pedang meski belum memahami maksud perkataan Suro yang terasa membingungkan, tetapi mencoba menelaahnya.


Suro menjelaskan semua kepada dua pendekar seperti penjelasan yang dilontarkan oleh Lodra kepadanya.


"Baiklah jika seperti itu yang nakmas Suro tidak ada yang salah. Jika kita bisa menghentikan peperangan ini lebih cepat, mengapa tidak kita lakukan! Benar tidak kakang Dewa Rencong? Apakah kakang akan ikut bergabung mengamuk menghancurkan pasukan Medusa?" Dewa Pedang menatap Dewa Rencong menunggu jawaban darinya.


"Mengapa tidak, memang sedari tadi kita sudah mengamuk. Obat pemulih tenaga dalam yang aku miliki masih banyak. Aku bisa melakukan ini secara terus menerus tanpa lelah."


Tanpa menunggu lama mereka kembali memulai peperangan yang sempat terhenti itu. Dengan serangan gabungan mereka bertiga Pasukan Medusa akhirnya dapat dipukul mundur.


Pasukan Kalingga yang sebelumnya dibuat kocar-kacir karena serangan siluman yang tidak ada habisnya kembali membentuk barisannya. Mereka kini justru yang merangsek kedepan memukul mundur pasukan Medusa.


Tentu saja yang berada dibarisan terdepan adalah tiga orang yang mengamuk tanpa ada yang mampu menghentikannya. Kekuatan Dewa Pedang dan Dewa Rencong ditambah tehnik api terkuat milik Suro yang berasal dari bilah Pedang Kristal Dewa menghancurkan barisan pasukan musuh.


Sehingga dengan itu mempermudah langkah mereka membantu Perguruan Pedang Surga yang sudah terdesak.


Tehnik bumi milik Suro yang mampu membuat sewujud ular raksasa dari tanah, kini wujud ular itu diselubungi api hitam. Meskipun berkali-kali Tongkat iblis berhasil menghancurkan ular yang dikendalikan Suro, tetapi itu tidak berhasil menghentikan serangan susulan yang dilakukan Suro.


Sebab Suro akan mendatangkan kembali ular raksasa lainnya dari dalam bumi. Belum serangan yang dikerahkan oleh Lodra membuat api besar yang langsung menyapu bersih pasukan didepannya. Kebanyakan dari mereka langsung tunggang langgang menyelamatkan diri, jika tidak tubuh mereka akan hangus terbakar dengan cepat.