SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 70 PERTARUNGAN TAHAP FINAL part 9



"Jurus Jaring Seratus Pedang Terbang? Sepertinya aku tidak pernah mendengarnya nakmas Suro!" Dewa Rencong yang berada dibelakang tetua Tunggak semi ikut menimpali, setelah dia sempat mengingat-ingat jurus tersebut tidak pernah dimainkan Eyang Sindurogo.


Suro tidak segera menjawab perkataan Dewa Rencong justru tertawa kecil sambil menggaruk-garuk pipinya.


"Hehehe....! Tentu saja saja tetua tidak pernah mendengar jurus ini. Karena memang nama jurus ini Suro karang sendiri dan baru saja terlintas dipikiran."


"Terlintas dipikiran nakmas? Berarti nakmas sendiri yang menamakannya? Apakah artinya jurus ini nakmas sendiri yang menciptakannya?" Dewa Rencong masih belum memahami perkataan Suro. Dia kembali menegaskan maksud perkataannya.


"Benar tetua, murid sendiri yang menamakannya barusan. Karena murid sendiri yang menciptakan jurus ini beberapa hari yang lalu!"


"Beberapa hari yang lalu!" Tetua Tunggak Semi dan Dewa Rencong hampir bersaman mengucapkan kata-kata yang sama. Mereka berdua kemudian saling berpandangan seakan kuping mereka salah mendengarnya.


Tetua Tunggak Semi akhirnya yang memulai berbicara, sebab Dewa Rencong justru sibuk mengaruk-garuk tengkuknya yang terasa kencang setelah mendengar perkataan Suro. Agaknya ada yang salah didalam kepala calon muridnya itu yang dinilai begitu tinggi oleh Dewa Pedang. Sebab bagaimana mungkin jurus yang seperti dibuat asal-asalan yang baru beberapa hari diciptakan sudah digunakan dalam ajang yang begitu penting. Seperti sekarang, menentukan menang atau gagal memperoleh nama tetua muda di sekte sebesar Pedang Surga, tentu sebuah pilihan yang terlalu bodoh.


"Nakmas, aku akui kemampuan nakmas yang dipertunjukan bersama Dewa Pedang sesuatu yang tidak sembarangan orang bisa mencapainya. Tetapi apakah itu tidak berlebihan jika jurus yang belum matang nakmas pakai dalam kesempatan yang begitu penting seperti sekarang ini?"


"Benar sekali tetua, kesempatan yang seperti ini sangat jarang bisa Suro dapatkan. Karena itu Suro tentu tidak akan mensia-siakan kesempatan bagus ini."


"Nah, itu nakmas bisa paham. Lalu kenapa nakmas masih memaksa mengunakan jurus yang belum matang dalam peristiwa sepenting ini. Bahkan baru diciptakan beberapa hari yang lalu!" Tetua Tunggak Semi sampai menggeleng-gelengkan kepala tidak mampu memahami pemikiran Suro.


"Ini pemilihan tetua muda lho, nakmas! Beribu-ribu murid perguruan cabang memimpikan mendapatkan kesempatan seperti yang nakmas dapatkan. Karena itu jangan mensia-siakan kesempatan yang bagus ini. Coba nakmas dipikirkan lebih matang terlebih dahulu, jika ingin menggunakan jurus yang belum sempurna ini."


Suro hanya terdiam menunggu tetua itu selesai berbicara sambil mengusap-usap pipinya. Sejak awal Suro tidak peduli dengan jabatan tetua muda. Meskipun dia tidak tertarik dengan hal itu, hanya saja dia juga tidak ingin mempersulit kapasitas Dewa Pedang sebagai Ketua sekte membuat dia menyanggupi mengikuti pemilihan tetua muda ini.


Tetapi setelah melihat berbagai macam jurus yang diperlihatkan para peserta membuat dia menikmati proses pemilihan ini. Sehingga dia bisa mempelajari tehnik ilmu yang mereka perlihatkan. Apalagi kini dia mempunyai banyak teman yang bisa dikatakan sebaya dengan dirinya membuat dia semakin menikmati.


"Mohon maaf tetua kesempatan langka yang murid maksud adalah kesempatan bisa bertarung dengan lawan sekuat tetua yang sudah ditingkat shakti. Karena menurut pendapat murid kekurangan jurus ini hanya bisa diketahui jika bertemu lawan sekuat tetua. Mohon tetua sudi menjajal dan memberikan masukan sekiranya ada yang kurang!" Suro kemudian menjura ke arah tetua.


"Nakmas ini pertarungan untuk mendapatkan jabatan tetua muda. Bukan waktunya untuk latihan."


Suro mengaruk-garuk pipinya sambil memikirkan sesuatu.


"Percayalah tetua! Murid yakin jurus ini tidak kalah jauh dibandingkan jurus Tebasan Sejuta Pedang yang sempat dinilai paman guru Dewa Pedang dengan begitu berlebihan."


Glek!


Tetua Tunggak Semi hanya bisa menelan ludah. Dia yang sudah menyaksikan sendiri kedahsyatan jurus Tebasan Sejuta Pedang, tentu bisa memahami kedahsyatan jurus gubahan Suro itu. Jika yang dikatakan Suro benar adanya, maka kini justru dia yang dibuat ketar ketir sendiri.


wajahnya tergambar sebuah kecemasan. Sesuai dengan firasatnya sejak awal yang buruk. Berhadapan dengan murid ketua sekte pasti sebuah pertanda tidak bagus untuk dirinya.


Bukan dia takut tidak mampu menghadapi jurus yang akan dia hadapi. Hanya saja jika dia melawannya dengan kekuatan penuh, tentu akan ditertawakan oleh tetua lain. Dia tentu tidak mau dipermalukan didepan umum, jika tidak mampu menahan jurus yang baru diciptakan beberapa hari yang lalu itu dengan kekuatannya yang tidak disetarakan dengan kekuatan para peserta.


"Kasih keras nakmas Suro jangan kasih kendor!"


Dewa pedang berteriak-teriak sambil tertawa terbahak-bahak. Dia mendengar jelas apa yang sedang mereka katakan.


Tetua Tunggak Semi menoleh ke arah Dewa Pedang dengan sorot mata yang menunjukan kegeraman. Dari jauh terlihat dia masih tertawa terbahak-bahak.


'Ketua gila itu sepertinya mendengar apa yang barusan aku katakan.' Tetua Tunggak semi menggumam pelan sambil menatap ke arah Dewa Pedang yang terlihat masih terbahak-bahak.


Entah kenapa sejak menjadi guru dari Suro tingkah ketua sekte itu berubah menjadi sedikit ke kanak-kanakan.


"Baiklah, terserah nakmas. Silahkan gunakan jurus yang nakmas suka."


"Apakah nakmas sudah mengetahui aturan pada babak ini?"


"Mohon maaf tetua aturan mengenai apa yang dimaksud? Apakah ada yang berbeda pada tahap ini selain mengalahkan tetua?" Suro memincingkan matanya sambil mengingat-ingat Dewa Pedang pernah menyingung tentang aturan atau tidak.


Tetua Tunggak Semi kini menepuk jidatnya berkali-kali.


"Apakah gurumu Dewa Pedang tidak menjelaskan apapun tentang aturan di tahap ini?"


Kembali Suro mengingat-ingat.


"Kata paman guru Dewa Pedang murid hanya disuruh untuk datang mengikuti pemilihan tetua muda. Selain itu beliau hanya mengatakan jangan sampai kalah, itu saja seingat Suro."


'Ketua gendeng(gila), pantas saja tidak pernah punya murid. Sekalinya punya murid satu saja tidak diurus dengan benar.' Tetua Tunggak Semi kembali menatap ke arah Dewa Pedang yang belum juga berhenti dari tertawanya.


"Jadi begini nakmas, menurut aturan yang sudah ada pada babak ini setiap peserta diberikan tiga kesempatan untuk menyerang, jika dalam tiga kali kesempatan itu peserta tidak mampu menembus pertahanan tetua atau justru serangan nakmas mampu dipatahkan semua. Maka nakmas dinyatakan kalah."


Suro mulai menghitung setiap kesempatan yang ada.


"Waah banyak itu tetua kesempatan yang Suro punya. Tetapi jika dalam satu serangan belum mampu menembus pertahanan tetua kemudian dilanjutkan jurus berikutnya itu termasuk dua kesempatan serangan atau satu?"


"Itu dihitung satu nakmas. Satu kesempatan berakhir jika serangan balik dari tetua tidak mampu nakmas tahan atau nakmas hindari, sehingga nakmas terkena serangan balik itu."


"Bagus..bagus berarti cukup satu kesempatan untuk menguji jurusku. Tetapi setiap kesempatan pasti akan murid gunakan sebaik mungkin agar bisa menembus pertahanan tetua."


"Apakah nakmas sudah siap?"


"Sebentar tetua, sebaiknya saya menyingkirkan sebagian bilah pedang ini terlebih dahulu. Karena untuk serangan awal murid akan memulai dengan menggunakan sepuluh bilah pedang."


Dewa Rencong sampai harus menepuk-nepukkan telapak tangannya ke jidatnya. Karena cara memegang bilah pedang yang diperlihatkan Suro tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang pendekar pedang.


"Murid sudah siap tetua!" Suro kembali menjura ke arah tetua. Kemudian pedang itu dipegang dengan cara menangkupkan kedua belah tangannya didepan dadanya.


"Silahkan nakmas menyerang!"


Suro membalasnya dengan anggukan kecil. Kemudian dalam satu sentakan keras bilah-bilah pedang meluncur cepat keatas. Langkah kilatnya segera mengejar luncuran pedang itu. Disaat langkah kakinya bergerak cepat, dari ujung-ujung jarinya memancar seberkas sinar chakra yang segera mengapai seluruh bilah pedang yang masih menerjang ke atas. Semua berlangsung tak lebih dari seperempat seruputan teh.


"Jurus pertama Pedang Bersatu Bersama Angin!"


Dewa Rencong terkejut dengan tehnik yang diperlihatkan Suro.


"Luarbiasa ini pedang cahaya tahap langit! Bukan, ini tehnik Tapak Dewa Matahari. Tetapi itu juga bukan sesuatu yang lain, sebab sangat berbeda dengan pancaran energi chakra yang biasa Eyang Sindurogo lakukan."


Tetua Tunggak Semi tak kalah terkejutnya dengan cara Suro memulai serangannya.


Segera dia mengerahkan tehnik satu tebasan berkali-kali. Energi pedang segera menerjang ke arah Suro dan ke arah bilah-bilah pedangnya.


Dia berkelit saat berada diudara. Setelah meloncat menghindari energi pedang yang menerjangnya. Tubuhnya berputar tiga ratus enam puluh derajat, seiring dengan perputaran tubuhnya bilah pedangnya ikut berputar sekaligus menghindari serangan energi pedang tetua yang menghantam dengan begitu kuat.


Traaaang!


Bilah pedang Suro menghantam keras ke arah tetua. Satu bilah pedang sempat ditangkis, tetapi dia memilih menghindar dan tersurut beberapa langkah. Suro mengejar dengan serangan beruntun membuat tetua berkelit dan tersurut ke belakang beberapa kali.


Tetua Tunggak Semi tidak mau kalah melihat lawannya tidak bisa dijangkau dari serangan jarak dekat. Berkali-kali dia kembali mengunakan serangan jarak jauh tebasan angin yang menimbulkan hempasan energi pedang yang begitu kuat. Tehnik langkah kilat Suro yang sudah meningkat membuat dia dengan leluasa bisa menghindari serangan balik lawannya.


Gerakan pedang yang dikendalikan dengan tehnik Tapak Dewa Matahari membuat bilah pedang itu tidak terlepas, meski terhantam dengan begitu keras bilah pedang tetua.


Pada tehnik Dewa Pedang jurus pertama terilhami gerakan angin yang mampu berubah dengan leluasa. Perubahan angin yang bisa berubah dengan halus tetapi bisa dengan begitu cepat mendobrak dengan begitu keras. Benar-benar telah diwakilkan dengan gelar sepuluh bilah pedang terbang yang dimainkan Suro.


Serangan Suro yang bergerak selayaknya hembusan angin begitu lembut sehingga bisa menyusup diantara celah-celah kecil pertahanan tetua yang terbuka. Tetua Tunggak Semi kali ini begitu kerepotan melayani setiap serangan Suro.


Setiap pedang yang menghantam dia tangkis dengan sekuat tenaga tetapi tak dinyana energi pentalan bilah pedang itu justru dimanfaatkan oleh Suro dengan baik. Sehingga saat serangan susulan berikutnya bilah pedang itu menghunjam dengan lebih keras.


Tetua Tunggak Semi tentu saja memahami dan lebih dalam pemahamannya tentang pedang dibandingkan Suro. Hanya saja pada jurus yang digunakan Suro memakai sepuluh bilah pedang terbang. Sehingga cakupan serangannya lebih luas. Seakan dia sedang diserbu dari sepuluh arah yang berbeda.


Tidak seperti tehnik yang digunakan Mahesa yang mengunakan benang khusus, meskipun jurus ini terilhami tehnik yang digunakannya. Tetapi dasar dari jurus ini adalah ilmu tapak Dewa Matahari yang lebih kokoh sehingga tidak akan terputus meski terhantam serangan balik tetua.


Kelebihan lain dari tehnik yang digunakan Suro melalui pancaran chakra dari ujung jarinya dapat memanjang dan memendek sekehendak hati penggunanya.


Serangan tetua melalui energi pedang yang menerjang berkali-kali mampu dihindari Suro berkat langkah kilat yang dimilikinya. Meskipun begitu energi pedang tetua membuat Suro harus beberapa kali berjumpalitan, agar bisa terhindar dari begitu kuatnya energi yang dilepaskan.


"Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari!"


Tetua Tunggak Semi yang melihat luncuran serangan bilah pedang Suro yang bergerak semakin cepat, memaksa dirinya mengunakan jurus bertahan terkuat dalam kitab Dewa Pedang.


Trang! Trang!


Berkali-kali serangan Suro hampir saja mengenai tubuh tetua. Tetapi dengan kecepatan dan kekuatan seseorang yang sudah ditingkat Shakti mampu menahan serangan yang tidak ada putusnya itu. Bahkan gempuran bilah pedang Suro memaksa tetua itu tersurut beberapa langkah, demi menyelamatkan nyawanya dari serangan bilah pedang yang bergerak begitu ganas.


Tetua Tunggak Semi tidak menyangka tingkat kekuatan serangan yang dilancarkan Suro begitu berbeda dengan para peserta lain.


Kini dia mulai mempercayai perkataan Dewa Pedang yang menilai Suro begitu tinggi. Bahkan sempat berencana menjadikan Suro sebagai tetua tanpa pemilihan terlebih dahulu. Beruntung Dewa Pedang menerima usul wakil ketua sekte Eyang Udan Asrep. Jika tidak, tentu akan terjadi keributan antara ketua dan para tetua lain. Karena Dewa Pedang bersikeras dengan pedapatnya sendiri. Sehingga dengan usul Eyang Udan Asrep mereka semua sepakat diadakan seleksi tetua muda.


Dewa Pedang melakukan hal itu sebenarnya demi kebaikan sekte. Sebab dengan keberadaan Suro sebagai pencipta jurus itu, tentu akan memperkuat kekuatan Sekte Pedang Surga. Selain itu pertempuran yang dilaluinya saat melawan Naga Rhaksasa yang begitu besar mampu diselesaikan berkat peran besar Eyang Sindurogo dan Suro.


Berkat keberhasilan itu juga akhirnya tiga kerajaan menepati janjinya membangun kembali Sekte Pedang Surga dengan lebih megah. Secara tidak langsung tentu saja seluruh sekte berhutang budi pada Suro. Maka sebenarnya bukan sesuatu hal yang besar jika keputusan Dewa Pedang ingin mengangkatnya sebagai tetua.


Apalagi dengan kekuatan yang dia miliki, menurut Dewa Pedang sudah bisa disetarakan dengan para tetua lain. Para tetua lain menganggab perkataan Dewa Pedang itu hanya sebuah bentuk gertakan belaka. Kebenarannya belum ada yang membuktikan entah benar atau tidak. Selain itu sangat muskil jika anak seusia dia dan tingkat kundalininya belum sampai pada tingkat tinggi, tentu terasa seperti omong kosong belaka.


Tetapi mereka para tetua tidak melihat apa yang terjadi dipertempuran di Karang Ampel saat melawan Naga Rhaksasa itu. Bahkan Dewa Pedang sendiri juga tidak mengetahui, bahwa sumber chakra yang dikumpulkan Suro bukan hanya dari jalur tehnik kundalini saja. Tetapi dari tehnik dan cara lain yaitu, pengumpulan chakra melalui tehnik empat sage dan kemampuan khusus Suro yang memungkinkan dirinya mengolah kekuatan matahari menjadi chakra.


Apalagi mengetahui pencapaian tehnik sembilan putaran langit yang diciptakan dari pendiri Sekte Pedang Surga begitu cepat, hanya dalam waktu tidak lebih dari enam purnama telah menembus sampai tahap ke delapan. Sebuah pencapaian yang mungkin sangat susah ditandingi. Sebab pencipta tehnik itu sendiri memerlukan waktu sembilan purnama untuk menyelesaikan seluruh tahapnya.


Dengan kekuatan itu juga kini setiap orang dibuat terpana melihat Suro dengan sadar memapak serangan tetua Tunggak Semi secara langsung. Serangan tetua yang mengandung sepuluh persen kekuatannya itu entah bagaimana mampu ditahan.


'Ternyata perkataan Dewa Pedang bukan bualan belaka. Bocah ini Kekuatannya sulit diraba. Dengan sepuluh persen seluruh kekuatanku mampu dia tahan.' Tetua Tunggak Semi sempat membatin sambil terus melayani serangan Suro yang tidak ada jedanya.


"Bagaimana tetua apakah jurus ciptaanku kali ini ada kekurangannya sehingga tetua bisa memberikan wejangan?" Suro berhenti menyerang setelah pertarungan mereka berlangsung lebih dari dua puluh lima jurus. Agaknya dia ingin mengetahui pendapat tetua mengenai jurus yang sudah dia ciptakan.


Tetua Tunggak Semi tidak segera menjawab karena masih sibuk mengatur nafasnya. Dia masih tidak mampu mempercayai kekuatan Suro tidak sesuai dengan tingkat kundalini yang telah dia capai.


'Mataku yang sudah kurang awas atau memang kondisi bocah ini unik? Seharusnya bocah ini masih ditingkat atas, tetapi entah bagaimana kekuatan yang dia tunjukan jauh melampaui tingkatan itu.' Tetua Tunggak Semi masih tidak mempercayai yang dia lihatnya. Didalam hatinya timbul pertanyaan-pertanyaan yang dia sendiri pusing memikirkan jawabannya.


"Luar biasa nakmas, hanya itu yang sementara ini aku bisa katakan. Tulang tuaku ini sampai terasa pegal meladeni serangan nakmas yang tidak ada jedanya."


"Hahaha ....! Tetua memujinya terlalu tinggi. Seperti yang tetua lihat, tidak ada satu seranganpun dari Suro yang mampu menyentuh tetua. Bahkan tidak ada satu helai rambutpun yang terpotong oleh serangan murid ini. Baiklah karena kekuatan tingkat shakti yang dimiliki tetua ternyata begitu mengerikan, sebaiknya murid juga meningkatkan kekuatan dan kecepatannya untuk serangan berikutnya."