
'Dimana ini?' Mata Suro yang membuka perlahan merasa tempat yang ada disekelilingnya tidak dia kenal.
'Diamlah bocah, aku hendak menyembuhkan lukamu terlebih dahulu.'
Sebelum Suro menyadari tempat di sekeliling dirinya, seseorang telah menjawab. Dia mencoba mengingat-ingat lagi sebelum kesadarannya hilang.
'Benar, aku yang mengambil alih tubuhmu setelah kesadaranmu menghilang. Aku menggunakan kekuatan yang telah tersimpan dibilah pedangku. Aku rasa sebentar lagi tubuhmu sudah pulih dengan sempurna. Obat yang kau miliki ternyata sangat membantu mengobatinya.' Lodra menjelaskan seperlunya kepada Suro yang masih kebingungan.
Dewi Anggini yang ditolong Dewa Pedang dan Dewa Rencong mulai siuman. Agaknya ilmu gendam dari Pujangga gila terlalu parah melukainya.
"Nakmas apakah ada obat yang mampu menolong tetua Dewi Anggini?" Dewa Pedang menatap Suro yang terlihat telah bangun dari samadhinya.
"Aku rasa obat ini akan membantu memulihkan kondisi tetua Dewi Anggini?" Suro mengambil satu butir obat dari dalam botol kecil yang tergantung di pinggangnya.
Suro yang sebelumnya telah kehilangan kesadaran justru sedikit terbantu, sehingga kekuatan gendam milik Pujangga gila tidak semakin memperparah lukanya.
Kondisi Dewi Anggini yang berusaha keras menahan kekuatan Pujangga gila, justru membuat luka dalam akibat sambaran petir semakin bertambah parah.
"Paman apa hubungannya jurang neraka dengan kekuatan yang ada didalam dimensi lain tempat yang akan kita tuju?" Suro yang telah selesai memulihkan lukanya segera teringat dengan kekutan yang dimiliki Bhuta kala.
Bahkan rantai yang dimiliki Pujangga gila itu benar-benar sama dengan para tangan raksasa yang dulu pernah menyerang mereka. Dimana pada waktu itu tangan yang menghantam mereka terus-menerus tidak dapat ditebas dengan pedang, seperti menebas sesuatu yang tidak nyata.
Pada saat itu Suro bersama Dewa Pedang menerobos masuk ke dalam dimensi lain untuk menolong Eyang Sindurogo. Tetapi pada saat itu rangkaian serangan yang berupa tangan-tangan raksasa silih berganti menghantam mereka.
Tangan yang kepalannya sebesar gajah dewasa itu jumlahnya tak terkira banyaknya. Mereka berdua tidak mengetahui asal sumber serangan itu. Seakan berasal dari tempat yang sangat jauh.
Tetapi setiap genggaman tangan itu seperti memiliki mata sendiri, sehingga dapat menghantam mereka dengan begitu tepat. Kekuatan penghancurnya juga sangat mengerikan. Beruntung waktu itu Dewa Pedang melindungi Suro dengan perisai energi yang dia miliki. Jika saat itu Dewa Pedang tidak melindungi pasti dia sudah tewas di dimensi alam lain.
Rantai hitam milik Pujangga gila sedikit banyak telah menggambarkan bagaimana tangan-tangan raksasa bisa datang dari tempat yang sangat jauh. Sebab saat Suro dan Dewi Anggini melesat dalam jarak yang cukup jauh, rantai itu masih mampu mencapainya.
Bahkan saat mereka berdua melesat dengan cepat dan menghindar, rantai itu juga masih mampu mengejarnya seakan memiliki pemikiran sendiri.
"Entahlah nakmas tidak banyak yang berani mendekat ke jurang neraka kecuali orang yang ingin mati atau orang yang tersesat. Tidak ada yang pernah selamat baik yang bunuh diri maupun yang tersesat seperti kita sebelumnya. Bahkan kita yang masih jauh saja sulit untuk keluar dari sana."
"Adapun yang pernah selamat dari jurang neraka hanya ada dua. Jika menurut cerita adalah seseorang yang berjuluk Jerangkong Hidup dari Jurang Neraka. Dialah yang menemukan ilmu tongkat neraka, namun dia sudah tewas ratusan tahun lalu, sehingga kita tidak bisa bertanya. Sedangkan orang kedua yang selamat, kita juga tidak bisa bertanya kepadanya. Sebab orang kedua itu selain sudah tidak waras, dia juga hendak membunuh kita. Karena orang kedua yang selamat itu, adalah Pujangga gila yang sebelumnya menyerang kita."
"Tetapi memang sesuai yang nakmas katakan, kekuatan Bhuta kala dan Pujangga gila, terutama rantainya mirip kekuatan yang menyerang kita di alam kegelapan tempat eyang Sindurogo pada waktu itu pernah terjebak." Dewa Pedang menjawab pertanyaan, setelah memberikan obat milik Suro kepada Dewi Anggini.
Suro menatap derasnya hujan yang menguyur. Beruntung gubuk petani yang cukup sederhana itu, mampu melindungi mereka dari derasnya air hujan. Sehingga mereka dapat beristirahat dengan nyaman.
"Apakah mungkin sumber kekuatan mereka sama paman guru?" Suro kembali bertanya ke arah Dewa Pedang.
Dewa Pedang tidak segera menjawab karena dia sedang memantau Dewa Rencong yang sedang membantu menyalurkan tenaga dalamnya ke punggung Dewi Anggini. Dia mencoba membantu menyembuhkan luka dalam yang diderita tetua.
"Mungkin saja nakmas. Apalagi nakmas waktu itu pernah menyebut jika kekuatan yang menguasai eyang Sindurogo adalah milik Dewa Kegelapan." Dewa Pedang menatap ke arah Suro. Pemuda belia itu justru asik memandang air hujan.
Dia menjadi menerawang, tanpa sengaja dia berkhayal seandainya memiliki kehidupan yang sederhana, contohnya seperti seorang petani. Tentu hidupnya akan terasa lebih damai. Walaupun tidak sedamai yang dibayangkan.
Tetapi kehidupan seorang pendekar tidak akan bisa setenang seperti kehidupan para petani, ada saja onak dan duri di setiap jalan yang mereka lalui. Ada saja prahara yang harus mereka hadapi. Tetapi takdir yang telah memilih mereka untuk menjadi seorang pendekar. Dewa Pedang kemudian menghela nafas panjang.
"Ini pemikiran paman saja yang mungkin saja benar. Dengan melihat pertarungan di hutan Gondo Mayit paman memiliki kesimpulan. Jika kita mungkin saja mampu menghadapi musuh di dunia lain yang sudah menunggu."
"Terlepas dari kekuatan yang dimiliki para Bhuta kala yang sangat merepotkan dan juga Pujangga gila yang sangat menakutkan, entah sumber kekuatan mereka sama atau tidak dengan kekuatan yang menyerang kita di alam lain, namun paman rasa hanya kekuatan nakmas yang mampu menghadapinya."
"Api hitam yang mampu nakmas kerahkan, ampuh mengusir Pujangga gila. Entah alasan apa yang membuat orang gila dengan kekuatannya begitu mengerikan mampu dibuat kocar kacir bersama para Bhuta kala peliharaanya?"
"Jujur paman guru juga ketakutan melihat kuat dan besarnya api hitam yang hendak menelan Pujangga gila. Bahkan aku dan kakang Salya harus menjauh secepatnya, takut terkena sambaran hempasan api hitam itu."
Suro kebingungan saat dia diceritakan telah berhasil mengusir Pujangga gila, sehingga mereka dapat kabur meninggalkan Hutan Gondo Mayit.
'Itu aku bocah yang telah mengerahkan jurus api hitam. Lelaki gimbal itu tidak akan aku biarkan melukai tubuhmu. Kau terlalu bodoh, sehingga tidak segera mengerahkan api hitam milikku.'
'Maafkan aku Kanjeng Lodra yang agung, Suro tidak menyangka jika serangan terakhir miliknya mampu membuatku kehilangan kesadaran.'
Suro yang kebingungan langsung dijawab oleh Lodra. Karena memang dia yang melakukan, sehingga Suro tidak mengingat kejadian itu.
"Apapun itu, intinya paman hanya ingin mengatakan jika nakmas dapat menjadi kunci kemenangan kita untuk melawan musuh di alam kegelapan. Entah benar atau tidak pendapatku, yang jelas kita punya harapan untuk menang. Dan harapan itu ada pada nakmas." Dewa Pedang menatap Suro sambil tersenyum.
Mereka terus menunggu Dewi Anggini selesai bersamadhi. Sebab tetua itu sedang mencoba menyerap dengan baik khasiat obat yang diberikan Suro.
Setelah cukup lama akhirnya Dewi Anggini menunjukan perkembangan baik. Matanya mulai terbuka, itu menandakan proses penyembuhannya sudah selesai.
"Bagaimana tetua Dewi Anggini apakah sudah merasa lebih baik?" Dewa Pedang menatap Dewi Anggini.
"Aku rasa sudah pulih dengan sempurna, kakang. Khasiat obat yang diberikan nakmas Suro benar-benar membantuku cepat pulih."
"Apakah kita bisa kembali melanjutkan perjalanan? Langit sudah cukup cerah, hujan sepenuhnya telah berhenti." Dewa Pedang bertanya sambil menengok keluar melihat langit sudah terang kembali.
"Kali ini aku dapat menggunakan kekuatanku dengan maksimal. Obat dari nakmas terbukti manjur untuk mengobati luka dalam, sehingga mampu menyembuhkanku dengan begitu baik."
Suro hanya mengangguk mendapat pujian dari Dewi Anggini.
Setelah Dewi Anggini pulih mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Perjalanan mereka cukup panjang, hingga menjelang senja akhirnya mereka sampai di pantai Karang Ampel. Tempat itulah dimana dulu terjadi pertempuran melawan Naga raksasa bersayap yang memiliki ukuran seperti gunung.
Pertempuran itu juga yang membuat eyang Sindurogo terjebak di alam lain.
"Akhirnya setelah sekian lama, kita kembali ke tempat ini!" Dewa Pedang menatap ke sekeliling mencoba mengenali tempat dimana dulu pernah melakukan pertempuran melawan naga raksasa.
Semoga bisa menemani para readers