SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 337 Siluman Rakus



"Untunglah dia masih samadhi." Suro berjingkat-jingkat jalannya demi mencegah Geho sama bangun dari samadhinya.


"Kita tunggu paman sakti disini aja sambil membuat ayam bakar. Aku tidak ikut campur dengan keputusannya yang akan diambil paman sakti terkait dua lusin orang, bekas bawahan La Temmalureng yang sempat kakang kurung."


"Baiklah kakang, aku menurut saja apa yang kakang putuskan." Luh Niscita tersenyum ke arah Suro yang berhenti dipinggir aliran sungai didekat air terjun.


Suro mulai menyiapkan bumbu ayam bakar. Luh Niscita sendiri memilih menyiapkan kayu bakar. Mereka setelah selesai membantu orang-orang yang terluka kembali melanjutkan rencana untuk membuat ayam bakar.


Mereka memilih tempat sekaligus mengantar La Tongeq sakti untuk pergi menemui dua lusin orang yang dikurung oleh Suro didekat sarang ayam hutan. Tetapi Suro hanya mengantar sampai di air terjun tempat Geho sama sedang bersamadhi.


La Tongeq sakti akhirnya pergi ke tempat yang ditunjukkan Luh Niscita bersama beberapa pasukan penjaga miliknya. Dia sempat murka mendengar anaknya sempat dijadikan sandera oleh Temmalureng.


Dia berterima kasih berkali-kali kepada Suro yang telah menyelamatkan anaknya, dirinya dan juga para penduduk. Apalagi dia jugalah yang mengobati orang-orang yang terluka.


Sebelumnya dia juga sempat tidak habis pikir bagaimana mereka mau dan bersedia mengikuti hasutan La Temmalureng untuk ikut memberontak.


Karena itulah dia sendiri yang akan mencecar untuk mencari tau alasan kuat yang membuat tiga lusin orang dapat mengikuti dan mematuhi perintah La Temmalureng.


**


"Bau ini? Hmmmmmmmm...nikmat sekali...heeemmmmmm!" Geho sama yang sedang bersamadhi mendadak bangun. Sebab hidungnya mencium aroma ayam bakar yang terbang bersama asap yang dibuat Suro.


Sebelum matanya terbuka, hidungnya mulai mengendus-endus bau asap yang berasal dari api yang digunakan Suro untuk membakar ayam miliknya.


Semakin lama mengendus-endus aroma asap, semakin membuat perut Geho sama berteriak-teriak kelaparan. Dia segera mencari tau asal asap yang sedari tadi telah mengganggu samadhinya.


"Kalian lama sekali aku tunggu..."


Tanpa permisi Geho sama langsung menyambar satu ekor ayam yang telah selesai dibakar oleh Suro.


"Dasar siluman tidak punya adab," Suro bersungut-sungut melihat Geho sama telah memakan hasil jerih payahnya membakar dengan susah payah.


"Beri aku satu pahanya!"


"Enak saja, tidak...kamu bakar saja ayam lainnya. Mana cukup mengobati rasa laparku, jika satu pahanya kamu ambil?"


Tanpa rasa berdosa Geho sama memulai memakan ayam bakar tanpa mau berbagi dengan Suro. Luh Niscita justru tertawa terkikik melihat mereka berdua berebut ayam bakar.


Suro bersungut-sungut setelah gagal meminta satu paha ayam yang telah diambil Geho sama. Dia akhirnya memilih meneruskan membakar ayam sambil mengomel.


"Bagaimana dengan dua lusin orang yang mencarimu? Apakah mereka sudah kau kirim menemui Sang Hyang Yamadipati, bocah?"


"Mereka sudah aku racuni, mereka kini sedang menunggu keputusan paman sakti."


"Beruntung mereka akhirnya memilih langsung mencarimu, sebab sebelumnya mereka berencana bertarung denganku, tetapi karena pesanmu kepadaku untuk tidak ikut campur, jadi aku menyuruh mereka untuk menemuimu saja dan tidak melanjutkan pertarungannya denganku. Tetapi jika mereka tetap menyerangku, tentu sudah aku habisi mereka semua." Geho sama bersungut-sungut mengingat samadhinya terganggu gara-gara kedatangan La Temalureng bersama pasukannya.


Semakin dia bersungut-sungut, membuat makhluk itu semakin lahap memakan ayam bakar ala mbah Wiro.


"Gara-gara kamu memintaku bercerita aku semakin bertambah lapar, kamu harus bertanggung jawab!"


"Lha, siapa yang suruh bercerita, dasar siluman gendeng!"


"Pokoknya berikan aku satu ekor lagi!"


"Tidak ini jatahku! Enak saja, ikut mencari juga tidak, ikut membantu membakar juga tidak, maunya dapat jatah lebih banyak!"


wuuus...


"Kelamaan...!"


"Dasar siluman tidak punya adab!"


Dengan menggunakan Langkah Maya akhirnya Geho sama kembali mendapatkan satu ayam bakar kembali.


"Enak... ternyata memang tidak rugi menunggunya." Geho sama tersenyum dengan lebar setelah berhasil menyambar satu ekor ayam yang sudah selesai dibakar.


Suro yang hendak memakan ayam itu hanya bisa menggaruk-garuk kepala.


"Dasar, gagak rakus!"


"Cerewet seperti wanita saja! Sudah bakar saja lagi, itu masih banyak!"


"Tapi benar ini ayam nikmat sekali." Luh Niscita yang ada disamping Geho sama.


"Perutku sampai kenyang sekali"


"Wah...wah...wah aroma ayam bakar ini benar-benar mengundang selera. Keputusanku memang tidak salah untuk membawa ayam lebih banyak. Karena paman mendengar nakmas Suro menyukai ayam bakar, jadi paman meminta para penjaga berburu ayam sebelum kembali kesini."


Mendadak La Tongeq sakti muncul bersama beberapa penjaga yang sebelumnya ikut bersamanya sambil membawa serta ayam lebih banyak lagi. Dua lusin ayam dibawa oleh pengikutnya.


"Paman sudah kembali, lalu apa keputusan paman mengenai mereka?"


"Aku masih berpikir-pikir mengenai keputusan yang akan aku berikan kepada mereka."


"Untuk saat ini aku membiarkan mereka tetap di sana saja dahulu. Apalagi mereka dalam keadaan terkena racun pelumpuh tulang. Jadi aku tidak khawatir mereka akan memberontak. Biarkan saja aku ingin membuat mereka jera."


"Suro dapat memberikan mereka penawarnya. Tetapi itu artinya akan menghabiskan penawar yang aku miliki. Aku masih memerlukannya untuk aku teliti terlebih dahulu. Jika aku sudah dapat menemukan bahan yang digunakan, maka aku akan memberikan obat penawarnya kepada mereka semua."


"Benar, mereka juga tidak punya pilihan, selain menjadi bahan percobaan atas penawar yang nakmas buat."


"Mengenai hal itu Niscita mungkin dapat membantu kakang mencari bahan untuk membuat penawarnya."


Suro menganggukan kepala menyetujui usul Luh Niscita. Sebab dia lebih memahami hutan yang ada di negeri itu dibandingkan dirinya.


"Geho sama, sebaiknya kamu melatih paman sakti untuk membuat gerbang gaib. Sebab paman memerlukan itu nanti saat memulai menempati pemukiman baru yang berada diatas permukaan tanah. Dia akan segera mencoba menempati tempat itu bersama beberapa para penduduk, sebagai langkah awal sebelum semua penduduk ikut menempati pemukiman itu."


"Tidak mengapa, asal aku diperbolehkan menggunakan air nirvilkalpa sebanyak-banyaknya."


"Tentu saja aku mengijinkan, jika tuan Gagak setan hendak menggunakan air Nirvilkalpa." La Tongeq sakti langsung menyahut ucapan Geho sama.


"Aku memerlukan air Nirvilkalpa untuk menyempurnakan wujudku ini yang masih setengah siluman."


"Tidak mengapa Geho sama, aku juga membutuhkan waktu lebih lama disini. Karena aku juga harus membuat racun pelumpuh tulang dan juga penawarnya. Aku rasa racun ini ampuh untuk membuat musuh tidak berdaya. Kecuali dia memiliki sumber daya sekuat sarkara Deva untuk menekan pengaruh racun ini."


"Menurut anak buah La Temmalureng racun ini berasal dari Batara Karang, jadi aku harus menyiapkan penawarnya sebanyak mungkin. Aku rasa dia juga telah menggunakan racun ini untuk menaklukkan berbagai negeri."


"Mungin itu rahasia kemenangan pasukan Batara Karang menaklukkan berbagai negeri dan mencari tumbal sebanyak-banyaknya. Seperti orang-orang yang telah kita tolong sebelumnya."


"Aku tambah satu lagi ayamnya," Geho sama kembali mengambil satu ayam yang telah selesai dibakar.


"Rakusnya tidak ketulungan"


"Jaga mulutmu bocah, badanku tiga kali lipat tubuhmu, jadi wajar aku memakan banyak. Mana toleransimu?"


La Tongeq sakti tertawa terpingkal-pingkal melihat dua makhluk didepannya yang terus beradu mulut tidak ada yang mau mengalah.


**


Selama Geho sama mengajari La Tongeq sakti dengan ilmu membuka gerbang gaib Suro terus berusaha menciptakan penawar racun pelumpuh tulang.


Luh Niscita yang memiliki bakat dalam meramu obat ikut tertarik mempelajari apa yang dilakukan Suro.


"Sudah tiga bungkus penawar racun terpakai dalam penelitianku, namun semuanya sia-sia. Aku belum menemukan ramuan yang pas untuk membuat penawarnya."


"Mungkin kakang harus membuat racunnya terlebih dahulu, mungkin dengan melihat bahan dari racun itu akan dapat diketahui penawarnya."


"Benar juga apa yang adinda Niscita katakan, agaknya kepintaranmu diatas Mahadewi si Batari Durga...hahahaha...!"


"Mahadewi si Batari Durga? Siapa itu kakang?"


"Anu...itu sosok yang sebaiknya nanti perlu kamu waspadai."


Luh Niscita masih menunggu penjelasan Suro. Tetapi Suro justru pura-pura tidak melihatnya.


"Sebaiknya Niscita keluar dari ruangan ini, aku tidak mau kamu terkena racun yang tidak memiliki bau maupun rasa ini." Suro segera membebat hidungnya dengan beberapa lapis kain,sebelum membuka sebuah botol yang ada ditangannya.


Suro kemudian menoleh kekanan kekiri mencari Luh Niscita yang langsung kabur, melihat Suro hendak membuka botol.


'Beruntung dia sudah kabur duluan, jadi aku tidak perlu menjawab apa yang hendak dia tanyakan mengenai Mahadewi.' Suro mulai meneliti kandungan racun yang mampu membuat tubuh seperti tidak bertenaga. Begitu juga tenaga dalam seperti hilang tidak berbekas.


Beruntung dia memiliki ketahanan terhadap racun, setelah sebelumnya nyawanya pernah hampir mati terkena jurus selaksa dewa racun. Selain itu dia juga memiliki penawar racun kuat yang dibuat oleh Tohjaya ketua Perguruan Racun Neraka yang baru.