
Setelah mendapatkan persetujuan, maka Suro langsung melesat diikuti Dewa Rencong. Dia bergerak menyelinap dibalik bangunan dengan cepat.
Kemudian setiap makhluk kegelapan yang dia temui langsung disergap dan dihabisi dengan jalan diserap kekuatannya. Dia menghabisi makhluk itu dengan jalan menancapkan bilah pedang miliknya terlebih dahulu tepat di ubun-ubun kepala lawannya. Kemudian melalui bilah pedang itulah ilmu empat sage dikerahkan.
Dia berpindah tempat dari satu bangunan ke bangunan yang lain dengan menggunakan tehnik langkah kilat miliknya. Karena begitu cepatnya gerakan Suro, sehingga mata musuh tidak mampu menangkapnya.
Kemudian saat menyergap musuh, dia menggunakan jurus tehnik bayangan milik Perguruan Pedang bayangan. Tehnik itu pernah diperlihatkan Azura dalam pertarungan seleksi tetua muda. Sehingga dalam satu waktu dia seolah menyergap beberapa makhluk kegelapan sekaligus karena begitu cepatnya.
Sudah lebih dari lima belas makhluk kegelapan yang berhasil dihabisi dan diserap kekuatannya. Namun tubuh makhluk itu amblas terserap tanpa menyisahkan jasad.
Seharusnya jika mereka masih manusia, maka akan kembali kepada wujudnya sebagai manusia. Minimal akan ada jasad yang tersisa.
Pasukan kegelapan yang baru saja dihabisi oleh Suro adalah yang sejenis dengan sosok yang terlihat sebelumnya sedang menaiki semacam badak dan juga makhluk yang mirip kera besar. Suro melakukan semua itu dalam senyap sehingga tidak terdengar oleh musuh.
Melihat para makhluk lenyap, Suro segera membuat kesimpulan, jika makhluk yang diserap dengan menggunakan tehnik empat sage telah berubah seutuhnya menjadi bagian dari kekuatan kegelapan. Sehingga tidak tersisa lagi tubuh aslinya.
Namun ada kemungkinan lain melihat para pasukan kegelapan itu lenyap tanpa meninggalkan jasadnya. Bisa jadi makhluk kegelapan itu pada dasarnya bukanlah makhluk yang memiliki wadak kasar seperti manusia. Mereka tidak ubahnya seperti para Bhuta kala.
Suro kembali melanjutkan langkahnya untuk menghabisi makhluk kegelapan satu persatu. Dia bergerak semakin ke tengah menuju bangunan yang mirip istana dengan ukuran paling besar. Keputusan itu membuat mereka harus beradapan dengan musuh yang juga semakin banyak.
Karena semakin banyaknya lawan yang harus dia hadapi, membuat dia tidak lagi menggunakan tehnik empat sage. Kali ini dia menggunakan jurus Pedang Kristal Dewa. Jurus itu membuat api hitam dapat dikendalikan dengan sangat baik.
Jurus pedang Suro yang bergerak sangat cepat. Setiap tebasannya telah dilambari api hitam. Sehingga mampu melenyapkan tubuh para makhluk itu dalam waktu yang relatif singkat.
Karena begitu cepatnya gerakan Suro membuat para pasukan kegelapan tidak sempat memberikan perlawanan, bahkan mereka tidak menyadari kedatangannya. Sebab pedang miliknya telah membelah tubuh mereka menjadi beberapa bagian.
"Hati-hati bocah jangan sampai ketahuan, karena aku masih ingin tahu apa yang mereka lakukan didalam istana itu?"
Dewa Rencong hanya mengikuti dibelakang Suro. Sebab serangan yang dia lakukan hanya akan membuat mereka diketahui. Selain itu serangan miliknya tidak mampu menghabisi para makhluk kegelapan itu. Sebab hanya api hitam dan tehnik empat sage milik Suro yang mampu menghabisinya.
Mereka akhirnya sampai didepan bangunan terbesar yang menjadi tempat dimana pusaran hawa kegelapan keluar dan juga tempat para makhluk kegelapan berkumpul di dalamnya.
"Kita bersama-sama memasukinya bocah." Suro mendengar perkataan Dewa Rencong hanya mengangguk kemudian dalam satu hitungan mereka melesat naik ke atas.
Sampai di atas benteng mereka segera bergerak cepat menghabisi para penjaga. Kali ini Dewa Rencong ikut membantu Suro menghabisi musuh. Namun penyelesaian akhirnya tetapi diserahakan kepada Suro dengan dibakar api hitam miliknya sampai habis.
"Dibawa kemana tubuh para manusia tadi?" Dewa Rencong masih penasaran dengan nasib para manusia yang dibawa oleh manusia kelelawar yang sebelumnya terlihat membawa mereka di atas pundaknya.
Setelah mereka berhasil menghabisi para penjaga di atas benteng terakhir, mereka melanjutkan untuk mencari jejak para manusia yang dibawa para makhluk bersayap atau sebut saja manusia kelelawar.
Dia terlihat kebingungan, sebab di depan halaman yang mengarah ke dalam bangunan sudah dipenuhi berbagai makhluk yang bentuknya bermacam-macam. Namun semua memiliki satu kesamaan, yaitu warna kulit mereka hitam gelap.
"Lihatlah paman, aura kegelapan yang menyeruak dari dalam langsung menghilang, setelah melewati barisan makhluk itu." Suro ikut menatap barisan makhluk dibawah mereka dengan lebih teliti.
"Mungkin bagi mereka apa yang sedang mereka lakukan bagi bangsa manusia sebagai makan malam, paman? Aku yakin mereka sedang menyerap kekuatan kegelapan."
"Makan malam kepalamu. Tetapi aku setuju dengan perkataanmu, jika mereka memang sedang menyerap kekuatan kegelapan."
"Kali ini kita agaknya tidak bisa bergerak diam-diam. Tubuh manusia yang sebelumnya mereka bawa, paman yakin ada didalam bangunan megah seperti bekas istana itu.
Kita mungkin akan susah untuk masuk ke dalam, karena sebegitu banyaknya makhluk yang berdiri ditempat itu. Tetapi kita bisa memancing mereka semua untuk keluar dari dalam. Jika kita bisa membuat keributan diluar."
Suro dan Dewa Rencong kemudian melayang turun. Mereka kali ini tidak berniat sembunyi-sembunyi lagi. Sebab untuk masuk ke bagian dalam bangunan, mereka harus melewati ratusan atau mungkin ribuan pasukan yang sedang berdiri berjubel.
Setelah mereka turun tidak menunggu lama para makhluk itu telah melihat kehadiran mereka berdua, segera mereka mencabut senjata mereka dan bersiap menyerang. Kali ini Dewa Rencong tidak tinggal diam ikut menyeruak membantu Suro.
Kini mereka benar-benar dikepung dari berbagai arah. Bahkan regu pemanah diatas benteng yang melihat mereka turun melayang sudah menghujani mereka terlebih dahulu. Walaupun akhirnya kebanyakan panah itu justru mengenai rekan mereka sendiri. Untungnya mereka sejenis makhluk yang tidak akan mati jika hanya tertembus anak panah di kepalanya.
mereka mendarat persis ditengah halaman istana yang lumayan luas seperti sebuah lapangan. Tetapi tempat itu sudah dipenuhi lautan makhluk kegelapan.
"Aku hanya membantumu agar pekerjaanmu lebih ringan bocah, selesaikan sisanya dengan api hitammu!" Dewa Rencong memulai membuka serangan membabat habis musuh didepannya dalam jarak tidak kurang dari tiga tombak.
Suro yang ada dibelakangnya tidak kalah serunya musuh didepannya langsung terbabat habis dengan jurus pedang miliknya. Jurus itu adalah bagian pertama jurus Pedang Kristal Dewa.
Dengan jurus itu para makhluk kegelapan itu tidak sempat kembali hidup, sebab api hitam telah membakar habis potongan tubuh mereka. Begitu juga para pasukan kegelapan yang terkena jurus Dewa Rencong langsung dilahap habis tanpa sisa oleh api milikSuro.
Sebab api hitam itu terus berputar mengelilingi mereka membentuk sebuah wujud seekor naga. Api hitam itu seakan melindungi mereka berdua dari kepungan musuh yang terus bertambah banyak.
Sesuai dengan apa yang diinginkan Dewa Rencong, bukan hanya makhluk yang sedang berada diluar yang berbondong-bondong menyerang mereka berdua, tetapi serangan ke arah mereka juga datang dari para pasukan kegelapan didalam kastil atau sebuah istana yang terlihat begitu megah.
Entah sudah berapa banyak musuh yang berhasil mereka habisi. Begitu juga entah berapa banyak pasukan kegelapan yang masih didalam istanan besar itu. Sebab sejak tadi mereka terus berdatangan tanpa henti.
"Kurang ajar bagaimana mereka bisa sebanyak ini? Bukankah diluar hanya segelintir saja terlihat. Mengapa dari dalam istana ini mereka seperti keluar dari mata air yang tidak ada habisnya." Dewa Rencong memaki-maki sepanjang pertempuran itu.
Sebab sebanyak berapapun yang sudah sangup mereka bantai, namun itu hanya membuat para pasukan kegelapan itu datang dalam jumlah yang lebih banyak dari pada sebelumnya.