
"Matilah kau anak manusia!"
Jdaar....
Jdaaar...
Jdaaar...
Suro sempat bengong beberapa saat ketika jurus Maha Naga Taksaka miliknya lenyap tanpa sisa. Kesempatan itu digunakan lawan untuk menghantamkan cemeti oleh ketiga Kingkara ke arah Suro.
Suro segera menghilang dari pandangan dan muncul dibelakang tubuh lawannya.
"Serigala Neraka!"
Pukulan tangan kosong milik Suro kembali melesatkan kekuatan perubahan api tahap hitam. Kali ini dia menggunakan jurus milik Naga Hitam yang memiliki keistimewaan tersendiri.
Sebab kobaran api yang berbentuk serigala berkepala tiga itu mampu menghindari serangan dengan memecahkan diri. Sehingga tebasan yang dikerahkan lawannya dapat dihindari.
Tetapi Suro tidak mempercayai dengan apa yang dia lihat kemudian. Di saat lesatan kobaran api berbentuk tiga kepala serigala raksasa itu hendak melahap Kingkara, maka para Kingkara segera menebas udara dengan pedang hitam mereka.
Seketika itu juga udara terbelah, dan dari rengkahan itu muncul semacam gerbang gaib yang memiliki daya hisap teramat kuat. Kobaran api yang melesat itu tidak memiliki kesempatan untuk menghindar.
Bahkan sebagian kobaran api yang seakan memiliki jiwa itu membelah dan berusaha menghindar ke arah berlawanan. Tetapi daya hisap yang muncul dari ruang dan waktu itu teramat kuat sekejap kemudian seluruh kobaran api telah lenyap tidak tersisa.
Mulai dari situ Suro mulai mencari segala cara agar mampu mematahkan jurus para Kingkara. Satu-satunya cara yang diketahui mampu membunuh para Kingkara dengan jurus perubahan api tahap hitam selalu dapat digagalkan oleh lawannya.
Di saat Suro sedang kewalahan menghadapi para Kingkara, beberapa sosok musuh kembali muncul dihadapannya. Mereka adalah para pasukan Elang Langit dibawah pimpinan Hachi Suzaku dan Go Suzaku.
Diantara pasukan Elang Langit itu juga terlihat Ichiro dan Kenichi salah satu pasukan yang sebelumnya ikut menyerang kota Shaanxi beberapa waktu yang lalu.
Keadaan Suro yang berubah terjepit, justru membuat pasukan musuh tersenyum bertambah lebar. Mereka akhirnya merasa memiliki harapan besar dapat menghabisi pemuda itu.
Tetapi mereka tidak berani mendekat ke arah pertarungan yang dilakukan para Kingkara dan Suro. Mereka menyadari jika serangan para Kingkara itu begitu menakutkan dan mematikan, sehingga mereka hanya melihat dari kejauhan.
**
"Apa yang kalian lakukan? Kalian semua tinggalkan bocah itu! Gerbang belum berhasil di jebol kalian semua bergerak ke arah benteng!" Suara Khan Langit mengingatkan pasukan miliknya yang menyerang Suro berbalik arah kembali menyerang pasukan kekaisaran.
Tetapi Jendral Yuwen Shuji telah bersiap dengan kedatangan mereka. Pasukan pemanah segera melepaskan panah yang menghujani pasukan musuh.
"Janus Agni Sahasra!"
Begitu juga Dewa Obat, dia segera melepaskan anak panah chakra miliknya yang berbeda dari sebelumnya. Serangan yang dikerahkan Dewa Obat dilambari dengan tehnik perubahan api.
Meskipun perubahan api yang melambari masih berada ditahap jingga. Warna Jingga dalam tingkat panas berada pada urutan kedua setelah warna merah.
Tahapan panas api berdasarkan warna yang pertama adalah merah, kedua jingga, sedangkan urutan ketiga berwarna kuning, selanjutnya urutan keempat berwarna biru lalu tahap kelima berwarna putih. Sedangkan yang terakhir adalah tahap keenam yang berwarna hitam. Api yang tingkat panasnya melebihi kelima panas api yang telah disebutkan sebelumnya.
Dengan api tahap jingga Janus Agni Sahasra yang dikerahkan Dewa Obat membuat pasukan musuh kelabakan. Termasuk pasukan yang telah diperkuat dengan benih iblis.
Lesatan panah yang menghujani itu menciptakan ledakan-ledakan yang sanggup menyebarkan api dalam radius sekitar satu depa( sekitar 182 cm). Meskipun api jingga yang menyebar dalam radius yang tidak luas, tetapi itu sudah cukup membuat tanah lapang didepan gerbang Utara berubah menjadi lautan api.
Serangan itu begitu cepat, bahkan musuh belum sempat mengantisipasi serangan dari Dewa Obat itu. Ribuan pasukan gabungan yang terjebak dalam lautan api tidak banyak yang selamat, kecuali pasukan yang sudah sampai pada tingkat langit keatas.
Kebanyakan yang berhasil selamat adalah mereka pasukan dengan diperkuat bibit iblis. Walaupun banyak juga pasukan dengan bibit iblis terbakar habis oleh serangan dari Dewa Obat.
Tentu saja serangan itu membuat seluruh pasukan musuh kalang kabut. Bagi mereka pasukan yang telah diperkuat dengan benih iblis dengan kekuatan tingkat langit akan dapat melewati serangan itu dengan terbang melesat ke atas.
Luka bakar yang meliputi tubuh mereka juga segera pulih ketika mereka melesat terbang ke atas. Tetapi Dewa Obat tidak melepaskan mereka begitu saja.
Hujan anak panah itu kembali menerjang ke arah mereka, bahkan dengan jumlah dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Karena kali ini serangan yang dikerahkan oleh Dewa Obat hanya menyasar kepada mereka.
Jendral Yuen Shiji tentu saja girang melihat berduyun-duyun pasukan musuh dihentikan oleh serangan Dewa Obat. Terutama pasukan yang didalam tubuhnya bersemayam benih iblis. Dari serangan merekalah sejak awal yang menewaskan paling banyak pasukan kekaisaran.
"Api yang membakar mereka tidak memiliki mata. Jika musuhmu sudah berada didalam benteng ini, apakah kau ingin benteng ini menjadi lautan api seperti yang dialami mereka saat ini?"
Dewa Obat kembali menarik Gandewa Wijaya miliknya. Seketika itu juga muncul ribuan anak panah api yang melesat ke arah musuh. Serangan itu menyerang bertubi-bertubi untuk memastikan musuh yang tubuhnya sudah diliputi api terbakar secara sempurna dan tidak kembali pulih.
Mereka pasukan yang diperkuat dengan benih iblis memiliki daya regeneratif yang hebat, sehingga luka mereka dapat kembali pulih dalam waktu yang relatif cepat.
Ditambah mereka adalah pasukan yang sudah berada pada tingkat langit. Sehingga serangan Dewa Rencong tidak sepenuhnya berhasil menghabisi mereka semua.
"Aku mengira jurusku ini dapat membantu muridku menghadapi musuh. Ternyata untuk menghabisi mereka semua saja, tidak seluruhnya dapat aku lakukan!"
Pandangan Dewa Obat kembali menatap pertarungan Suro yang berada dikejauhan. Suro masih memilih menghindari serangan musuh dibandingkan menyerang balik.
Berkali-kali serangan perubahan api tahap hitam miliknya berhasil dilenyapkan oleh musuhnya. Dia mencoba mencari cara agar mampu mematahkan jurus milik musuhnya.
Pasukan Elang Langit selain mereka yang telah melakukan kontrak pemanggilan para Kingkara, mulai bergerak ke arah benteng dimana pasukan kekaisaran sedang bertahan.
Mereka merasa Suro hanya tinggal menunggu waktu, hingga akhirnya akan mati terkena serangan Kingkara yang mengepungnya.
"Gawat pasukan siluman kampret itu kembali menyerang kita!" Seru Dewa Obat.
Serangan yang dia Lesatkan tetap diarahkan kepada pasukan Khan Langit dan juga pasukan Goguryeo yang hendak mengepung benteng. Apa yang Dewa Obat lakukan setidaknya mampu mengurangi jumlah pasukan musuh.
"Dimana Geho Sama? Mengapa aku tidak melihat dia sedari tadi?" ujar Dewa Obat yang tidak mampu menutupi kekhawatirannya.
Serangan pasukan gabungan yang sebelumnya sempat kendor, kini bertambah mengila. Sehingga pasukan kekaisaran yang berjaga di sebelah sisi kanan dan kiri gerbang berhasil diporak-porandakan pasukan musuh.
Dengan kedatangan pasukan Elang Langit, pasukan gabungan dari Khan Langit dan Kerajaan Gogureyo yang sudah mencapai tingkat langit dapat menyerbu keatas benteng dengan lebih leluasa. Meski lesatan panah Dewa Obat berusaha menghentikan pergerakan mereka.
Pasukan Elang Langit yang memiliki jurus ruang waktu memang sangat sulit dihabisi. Justru kepada merekalah kebanyakan serangan Dewa Obat kali ini, tetapi serangan itu tidak cukup berhasil menghentikan langkah mereka.
Seperti yang sudah-sudah, seluruh serangan Dewa Obat dapat dihindari dengan menggunakan tubuh palsu. Sehingga usaha untuk menghentikan itu tidak berhasil.
Setelah berhasil menghancurkan barisan pasukan panah dan para pendekar di atas benteng sebelah kanan dan kiri gerbang Utara, mereka segera memasuki benteng. Pasukan Elang Langit bergerak bersama pasukan gabungan.
Setelah kematian ketiga jendralnya, kini hanya tersisa satu utusan barat. Dialah yang kini memimpin pasukan yang didalam tubuhnya bersemayam benih iblis. Banyak yang tidak mengenal utusan barat dari Khan Langit atau yang memiliki nama asli Jendral Batjargal.
Lelaki itu juga menggunakan benih iblis untuk memperkuat tubuhnya. Tetapi selama ini hampir tidak pernah ada yang melihat lelaki itu beraksi. Dia lebih banyak menghabiskan hidupnya untuk terus meningkatkan kekuatannya.
Jendral Batjargal ternyata memiliki kekuatan yang sudah mencapai tingkat surga. Selain itu kekuatan dari benih iblisnya telah mencapai gerbang kelima atau mungkin lebih kuat daripada itu.
Dengan kekuatan yang dia miliki membuat serangan panah Dewa Obat tidak mempan pada tubuhnya. Jendral itu juga yang sedari tadi menepis setiap panah chakra api yang dilesatkan Dewa Obat.
Dengan usahanya itu pasukan benih iblis banyak yang berhasil selamat. Kini dia bersama pasukannya dan juga pasukan Elang Langit terus menghancurkan bagian dalam benteng.
Kondisi itu membuat Dewa Obat yang berada diatas benteng bersama Jendral Yuwen Shiji dan Xian Hua terpaksa bergerak mencoba menghadang mereka. Suro juga melihat dikejauhan apa yang terjadi di benteng kota He Bei.
Tetapi dia sendiri sudah sedemikian kerepotan menghadapi para Kingkara. Dia sebenarnya hendak membantu pasukan musuh dengan mengundang salah satu penjaga gaib miliknya.
Tetapi dengan itu maka akan menyita banyak tenaga dalam jika mengerahkan ilmu itu. Sedangkan dia saat ini harus menghemat tenaga dalamnya sebaik mungkin, sampai dia mampu mengatasi jurus para Kingkara.
Pill pemulih kekuatan miliknya sudah tinggal sedikit, dia hendak menjadikan itu sebagai cadangan untuk menghadapi Karuru yang masih belum terlihat tertutup awan. Dia juga tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan lawannya saat ini.
Namun dia semakin yakin jika Pusaka iblis Kunci Langit pancaran aura sesatnya bertambah semakin kuat. Dia hanya bisa menahan sementara waktu untuk mencari tau sebabnya sampai para Kingkara yang mengepung dirinya berhasil dihabisi.
Akhirnya dia teringat pada Geho Sama dan yang lain. Melalui ruang batinnya dia memanggil Geho Sama untuk segera datang membantu pasukan kekaisaran. Pikirannya yang terbagi menjadikan dia tidak juga menemukan celah untuk mematahkan jurus para Kingkara.
"Cepat Datang Geho Sama!"