SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Pedang Akar Dewa



Trang! Trang!


Suro langsung melemparkan senjata Kapak Pembelah Semesta untuk memotong berpuluh rantai hitam yang melesat ke arah mereka betiga. Kapak itu dibuat dari Batu Giok Dewa, sehingga mampu memutus sesuatu yang Pedang Kristal Dewa sendiri tidak mampu memotongnya.


Kelebihan Batu Giok Dewa yang mampu melemahkan efek dari kekuatan kegelpan telah diketahui oleh Suro. Karena kemampuan itulah yang membuat Suro tertarik untuk menjadiannya senjata. Setelah mendapatkan kemampuan dari Mustika Dewa Tanah, maka dia mampu merubahnya menjadi senjata dan juga perisai tubuhnya.


“Setan alas aku akan membuatmu musnah anak manusia lakanat!” teriak Batara Karang yang lalu menghantamkan pukulan yang membuat topan. Namun topan yang dikerahkan oelh Batara Karang itu adalah energi kegelapan yang sangat pekat. Segala hal yang dilewati maka akan segera ditelan dan menghilang.


Suro pun tahu betapa mengerikannya jurus yang dimiliki lawannya. Karena itulah dia juga mengerahkan kekuatan yang tidak kalah mengerikannya.


“Kemarahan Sang Hyang Garuda!” teriak Suro. Maka segera muncul api hitam yang menderu bagaikan badai.


Perwujudan api hitam itu seakan dua sayap raksasa yang mengepak dengan kekuatan yang begitu mengerikan seakan melibas apapun yang ada di depannya.


Buuuuuum! Buuuuuum!


Dua sayap raksasa dari perwujudan api hitam menghantam ke arah gelombang serangan Batara Karang. Sebuah gelaombang besar itu hampir saja mampu menghancurkan formasi serangan dari Batara Karang, namun Batara Sarawita tidak mau kalah dia segera membantu menyerang dengan jurus yang tidak kalah mengerikannya.


“Naga Kegelapan!” teriak Batara Sarawita sambil memukulkan telapak tangannya.


Segera muncul sebuah penampakan naga hitam yang menggulung kekuatan yang sebelumnya dikerahkan Batara Karang. Kekuatan keduanya menyatu dan membentuk bergulung-gulung awan hitam yang berputar putar sedemikian kuat hendak melenyapkan jurus milik Suro.


“Aku akan membantumu!” seru Eyang Sindurogo yang segera menebaskan Pedang Kristal Dewa.


Tebasan yang dikerahkan itu menciptakan gelombang aura pedang yang mengerikan. Seketika terciptalah sebuah pedang raksasa yang terbentuk dari aura pedang dewa dan juga api hitam.


Duuuuum!


Hantaman tebasan itu menerjang kuat hendak membelah pusaran hitam yang terus menerjang ke arah mereka bertiga. Nyatanya serangan itu tidak dapat membuat gabungan serangan dari Batara Karang dan Batara Sarawita hancur.


Kondisi semakin bertambah menghawatirkan, sebab sosok Batara Sarawita yang lain ikut menghantamkan kekuatan kegelapan.


“Kalian pikir mampu mengalahkan diriku, aku memiliki empat mustika dewa, serangan kalian bukanlah hal yang menakutkan bagiku!” teriak Suro yang segera mengerhakan jurus yang bukan hnya kekuatan api hitam, namun juga dikerahkan dengan kekuatan yang lain.


“Brahmastra!” teriak Suro yang memulai seranganya, namun itu bukanlah serangan satu-satunya yang hendak dikerahkan.


Duuuuuuuum!


Ledakan keras menggelegar bersama serangan dari Suro, namun serangan itu hanya membuat pusaran hitam yang berputar hendak melibas mereka hanya terpental menjauh, tetapi kembali bergerak mendekat.


Maharesi Acaryanandana dan Eyang Sindurogo ikut membantu mengerhakan jurus andalan mereka, yaitu panah dewa dan juga ilmu Tapak Dewa Matahari jurus kelima Ledakan Matahari kembar.


Duuuuuuum! Duuuuuuuum!


Kembali menggema suara ledakan diangkasa, membuat mereka yang sedang bertarung dibawah sana merasakan betapa dahsyatnya pertarungan yang terjadi. Namun tetap saja awan hitam yang bergulung-gulung membuat pusaran itu tidak hancur.


Melihat keadaan itu membuat Suro segera membuat siasat, dia tidak berniat menyerang jurus yang dikerahkan lawannya, tetapi dia berniat menyerang langsung lawannya.


Dia telah menghilang dengan mengerahkan jurus langkah kilat, dia lalu muncul di belakang Batara Karang yang tertawa keras karena serangan yang dikerahkan Maharesi Acaryanandana dan Eyang Sindurogo tidak mampu menghancurkan gabungan jurus mereka bertiga.


“Maha Naga Taksaka/Vayusyastra/Indrastra!” Dengan serangan dekat Suro langsung menghantamkan jurusnya ke tubuh Batara Karang.


Craass! Duuuuuuuuum!


Serangan Suro itu diawali dengan hantamn telapak tangannya yang meruncing, seketika perisai yang melindungi tubuh Suro menjelma menjadi sebuah pedang. Setelah itu meledaklah sebuah teknik perubahan api yang merupakan awal penampakan dari Maha Naga Taksaka.


Ledakan keras langsung terdengar mengguncang tubuh Batara Karang yang langsung mutah darah. Itu bukanlah akhir dari serangan Angrok, ternyata jurus Dewa Angin dan Dewa Petir secara berturut turut menyusul.


Maka ledakan itu mengguncang tubuh Batara Karang dan hancur menjadi berkeping-keping, tetapi Agnrok mengetahui, jika tubuh Batara Karang dapat menyatu kembali. Maka Maha Naga Taksaka yang keluar dari tubuh Batara Karang langsung menerjang dan menelan semua sissa tubuh musuhnya.


“Tidak aku biarkan tubuhmu kembali pulih!” seringai Suro yang berhasil menghabisi musuhnya.


Kejadian itu berlangsung sedemikian cepat, sehingga dua Batara Sarawita yang hendak menolong tidak sempat. Suro langsung melesatkan Maha Naga Taksaka yang dikelilingi petir dan juga angin badai ke arah pusaran hitam yang menerjang hendak memusnahkan Maharesi Acaryanandana dan juga Eyang Sindurogo.


Tentu saja Suro tidak membiarakan hal itu terjadi, kini Maha Naga Taksaka dengan kekuatannya menggulung dengan sedemikian dahsyat. Dua kekuatan mengerikan itu secara dsengaja di bawa oleh Suro untuk menjauh dari daratan dan semakin terbang tinggi.


Rupanya Suro tidak ingin terulang kejadian diawal pertarungan yang telah merengut nyawa pasukan para pendekar dan juga nyawa para prajurit gabungan. Serangan yang dikerahkan Suro akhirnya berhasil menghancurkan jurus yang hampir melenyapakn Maharesi Acaryanandana dan juga Eyang Sindurogo.


“Kau begitu mengerikan!” seru Batara Sarawita yang menyadari, jika perisai yang menyelubungi tubuh Suro mampu berubah wujud menjadi senjata sekehendaknya.


“Apakah itu sudah membuatmu takut? Dasar lemah!” ejek Suro yang memperlihatkan tubuhnya yang kini diselubungi sebuah lapisan berwarna kehijauan.


Di tangannya juga telah terlihat sebuah bilah pedang muncul dari bagian zirah yang menutupi tubuhnya. “Seluruh bagian tubuhku adalah senjata dan matilah kalian!” teriak Suro yang segera menghantamkan Maha Naga Taksaka yang di begerak dengan dahsyat di iringi badai angin dan petir.


Penampakan yang mengerikan itu langsung melesat mengejar tubuh dua Batara Sarawita yang hendak menghindar. Namun Suro tidak membiarkan musuhnya kabur dengan mudah. Dia mengejar dengan menggunakan jurus Langkah Kilat.


Sekejap itu juga Suro telah menyusul lawannya tepat di depan Batara Sarawita yang bergerak ke kanan. Sosok itu padahal telah bersorak kegirangan, sebab saat dia menoleh kebelakang Maha Naga Taksaka bergerak mengejar ke kiri sosok Batara Sarawita lainnya.


Saat dia pandangannya kembali menghadap ke depan, maka sebuah pedang besar telah melesat menghujam ke tubuhnya.


Craaaas!


“Apakah kau mampu lepas dari tebasanku ini?” seru Suro sambil memelotot ke arah lawannya.


Aaaaarrrrrggghhh!


Hanya teriakan penuh kesakitan yang dapat di teriakan oleh Batara Sarawita yang tidak mengira, jika tubuhnya dapat di tembus oleh senjata milik Suro yang sebenarnya adalah batu giok dewa dari bagian perisai miliknya.


“Jawabannya tidak!” teriak Suro lagi sambil melakukan sesuatu hal yang sangat mengrikan pada tubuh Batara Sarawita yang hendak mencabut pedang yang menghujam di dada dan menembus sampai ke belakang punggungnya.


“Aaaaarrrggghhh! Sial apa yang kau lakukan dengan pedang milikmu?!” tanya Batara Sarawita sambil menahan rasa penuh kesakitan.


Batara Sarawita merasakan, jika pedang itu menusuk ke seluruh tubuhnya dengan cepat, kini yang dia lakukan hanya bisa meronta-ronta dengan rasa sakit yang tidak terkira, dia yang tidak bisa mati tentu saja merasakan apa yang tengah dilakukan oleh Suro.


"Ini adalah Pedang Akar Dewa, mustahil dirimu dapat lepas darinya!"


Pedang yang berasal dari perisainya itu berubah menjadi semacam akar yang menyebar ke segala bagian tubuh Batara Sarawita. Maka mustahil baginya dapat mencabut pedang yang sudah tertancap.


***


Jika ada yang berkenan mampir, ada karya Author lain yang ada di Karyakars#.com dengan nama pena Lelanangjagat_biru


Begitu juga di plat kuning Nov#lme.com ada karya Author dengan nama pena Lelanangjagat


Terima kasih yang masih setia menunggu maaf jika terlalu lama, akan saya selesaikan secepatnya