
"Akhirnya datang juga mereka!" seru Suro sambil kembali menghindari hujan serangan musuh.
Setelah Suro memanggil Geho Sama, tidak beberapa lama kemudian sebuah gerbang gaib muncul. Dari kejauhan Suro sempat melihat mereka adalah para pendekar yang sebelumnya masih menghadapi para Braholo di gunung Longmen.
Setelah itu keluar pasukan kekaisaran yang dipimpin Jendral Xuan Wu. Mereka sengaja keluar setelah para pendekar sesuai perintah Geho Sama. Hal itu untuk mengantisipasi serangan yang tidak terduga dari musuh kuat saat muncul dari gerbang gaib.
Perhitungan yang dilakukan Geho Sama memang tidak ada yang salah. Sebab kemunculan mereka bukan ditempat yang aman.
Mereka muncul tidak jauh dari barisan belakang pasukan gabungan antara Khan Langit dan pasukan Kerajaan Goguryeo. Kemunculan mereka awalnya tidak diketahui oleh pasukan musuh. Tetapi saat mereka menyadarinya, pasukan Jendral Xuan Wu telah menyerbu mengambil kesempatan atas kelengahan pasukan musuh.
Serangan itu tentu saja membuat pasukan gabungan kelabakan. Sebab dibagian belakang tidak dipersiapkan sebuah pertahanan untuk menghadapi serangan musuh seperti yang berada pada garis terdepan.
"Terus serang sekuat kalian....!! Walaupun serangan kita tidak akan mampu menghancurkan pasukan musuh, tetapi yakinlah serangan kita akan memberi peluang bagi pasukan Jendral Yuwen Huaji untuk bertahan lebih lama! Kita pecahkan konsentrasi pasukan musuh!"
Jendral Xuan Wu mengetahui jika serangannya tidak berpengaruh besar pada peta pertarungan. Namun itu bukan tujuan utama. Dia hanya ingin membuat konsentrasi musuh pecah, sehingga mampu mengurangi tekanan yang dirasakan pasukan kekaisaran yang bertahan didalam benteng.
Jendral Xuan Wu tidak lagi menahan waktu lebih lama, karena dia menyaksikan sendiri bagaimana pasukan kekaisaran yang bertahan didalam bentwng sudah dalam kondisi terjepit.
Tetapi yang tidak diperhitungkan oleh Jendral Xuan Wu dibarusan musuh bercokol Khan Langit yang berada ditengah-tengah pasukannya. Disana juga ada Raja dari Kerajaan Goguryeo.
Pasukan pengawalnya terkenal sangat kuat. Kekuatannya minimal setara dengan Jendral Ulagan milik Khan Langit. Dengan kekuatan para jendral penjaga miliknya yang terkenal kedahsyatannya, maka dia merasa aman.
"Kalian semua, cepat bantu mereka serang pasukan musuh!" Suara Pendekar Zhang terdengar oleh semua pendekar yang muncul bersamanya.
Melihat pasukan milik Jendral Xuan Wu segera menyerbu ke arah pasukan musuh, maka Pendekar Zhang segera membantu. Dia memimpin para pendekar dan bergerak maju menyerbu pasukan gabungan musuh.
Serangan pasukan yang dipimpin Jendral Xuan Wu yang hanya seribuan itu tentu tidak membuat pasukan musuh kalang kabut. Tetapi serangan para pendekar yang dipimpin Pendekar Zhang membuat mereka mau tidak mau harus membagi pasukan mereka untuk bergerak menghadang.
**
Dewa Rencong, Pendekar Dewi Anggini, Mahadewi dan juga Geho Sama muncul paling belakang. Dia cukup terkejut mengetahui tempat dimana Suro berada ternyata berada di tengah pertempuran.
Geho Sama justru tidak memperdulikan dengan pertempuran yang telah berkecamuk dihadapannya. Perhatiannya telah terpaku ke arah jurusan lain yang berada diatas udara.
Makhluk itu hanya menghawatirkan keselamatan Suro. Pandangannya terlihat penuh kecemasan saat menyaksikan pertempuran yang sedang dihadapi Suro.
Sebelumnya setelah mendengar permintaan Suro untuk secepatnya datang, buru-buru dia segera mengerahkan gerbang gaib. Beruntung dia dan para pendekar telah keluar dari goa Longmen untuk menjemput pasukan Jendral Xuan Wu.
Suro jika bukan dalam keadaan terdesak atau benar-benar sudah gawat, pasti dia tidak akan meminta tolong. Sehingga saat mendengar permintaan Suro dia tidak menunda waktu lagi. Begitu juga ketika dia muncul, maka pandangannya langsung mencari keberadaan Suro.
Perkiraannya memang tidak salah. Musuh yang di hadapi Suro memang tidak bisa dianggap enteng. Sehingga sangat pantas Suro kewalahan menghadapi lawannya.
"Ternyata tiga Kingkara sekaligus, pantas saja dia dibuat kewalahan. Jika hanya satu aku yakin dia sendiri sanggup menghadapinya. Selain itu, jurus yang dikerahkan Kingkara sangat merepotkan!" Geho Sama berbicara sambil pandangannya tidak lepas dari pertarungan Suro yang berada diatas udara.
Pertarungan yang terjadi antara Suro dan lawannya, berlangsung dengan kecepatan tinggi. Tidak semua orang mampu melihatnya.
"Kingkara?" Dewa Rencong mengernyitkan dahi mendengar ucapan Geho Sama. Dia juga menatap ke arah pertempuran Suro.
"Aku sepertinya pernah mendengar nama itu, bukankah itu...?" Dewi Anggini hendak melanjutkan ucapannya tetapi ragu untuk meneruskannya.
"Benar mereka dulunya adalah makhluk penjaga neraka yang hendak mengambil alih wewenang Batara Yama." Geho Sama menjawab sambil menggengam erat pedang ditangannya yang bergetar kuat. Lodra yang menguasai bilah pedang itu sudah tidak sabar untuk segera melesat menolong Suro.
Kita akan tetap menolongnya, tetapi beri sedikit waktu untuk diriku membaca jurus lawan terlebih dahulu.' Geho Sama menatap jalannya pertempuran yang dilakukan Suro, dengan perasaan tegang. Meskipun begitu dia masih berusaha menenangkan kemarahan Lodra.
Sejak kedatangan mereka, Lodra sudah merasakan bahaya yang mengancam jiwa Suro. Nalurinya adalah melindungi tuannya semampu dan sekuat yang dia bisa.
Apalagi saat menyaksikan Suro sudah dalam kondisi terdesak. Sehingga Lodra tidak bisa menahan waktu lebih lama lagi.
'Burung emprit gunakan isi kepalamu nanti saja, ini saatnya menggunakan kekuatanmu untuk membantu tuan Suro,' Lodra tidak puas dengan alasan Geho Sama yang tidak segera menolong Suro.
Geho sama sendiri tidak juga mampu menemukan cara untuk menangkal jurus milik Kingkara yang mampu melenyapkan semua serangan api hitam mikik Suro.
'Menghadapi para Kingkara tidak semudah yang kau kira tuan Lodra, serangan mereka adalah bentuk kutukan dan segel yang mampu membuat nyawa tercabut dari badan selamanya.' Geho Sama berusaha bersabar menjelaskan kepada Lodra.
Pertempuran yang dilakukan Suro begitu rumit, dan juga dilakukan dalam kecepatan yang mengagumkan. Bahkan Geho Sama sendiri dibuat begitu kagum, karena tidak sekalipun para Kingkara maupun pasukan Elang Langit mampu mengenai tubuhnya. Padahal mereka menyerang dari segala sudut untuk menutup jalan Suro.
Beruntung dengan pengerahan jurus Langkah Maya yang sangat lihai, sehingga lawan selalu dibuat kecele melihat serangan mereka hanya menghantam ruang kosong. Sedangkan Suro sendiri selalu dapat berpindah ke tempat yang cukup jauh dari lawannya.
Meskipun begitu, dalam sekejap kemudian seluruh lawannya kembali dapat mengurungnya. Walaupun pada kejap berikutnya Suro telah menghilang kembali untuk menghindar.
Sehingga sebagian besar pertarungan itu dilakukan seperti aksi kejar-kejaran diatas udara. Berpindah satu tempat ke satu ke tempat lainnya dengan sangat cepat seperti kilat.
Walaupun sesekali Suro membalas dengan menggunakan tehnik perubahan api tahap hitam. Tetapi tehnik serangan itu kembali dapat dilenyapkan oleh para Kingkara.
'Burung emprit sialan! Kalau kau ketakutan, biarkan aku sendiri yang menghadapi mereka tidak ada yang aku takutkan dengan kutukan dan segel para Kingkara!' Lodra kembali memaki-maki Geho Sama yang hanya bisa mendengus kesal.
"Baik, baik...akan aku lakukan! Aku akan segera membantu bocah gendeng itu!" Kali ini Geho Sama menjawab permintaan Lodra tidak melalui suara batin.
Dewa Rencong, Dewi Anggini dan Mahadewi kontan terkejut mendengar Geho Sama berbicara seperti membentak dengan penuh kesal. Mereka memincingkan mata melihat sikap Geho Sama yang aneh.
"Apakah setiap orang yang memegang pedang itu berubah jadi gendeng?" Dewa Rencong menatap Geho Sama sambil menggaruk-garuk kepala.
Tetapi Geho Sama menggacuhkan pertanyaan Dewa Rencong, wajahnya terlihat masih penuh kesal.
"Kalian bantu para pendekar, aku harus membantu bocah itu. Jurus yang dikerahkan ketiga Kingkara membuat jurus perubahan api milik bocah itu selalu gagal menghabisi mereka.
Aku tidak terlalu yakin dapat membantunya, tetapi dengan adanya Tuan Lodra bersamaku, aku akan mencoba membantunya!"
Tetapi sebelum tubuhnya melesat menuju pertempuran yang dilakukan Suro, Geho Sama kembali menyadari sesuatu hal menarik lainnya.
Pandangannya berpindah ke jurusan lain. Tepatnya ke atas awan. Dia segera menyadari jika aura sesat milik Pusaka iblis Kunci Langit memancar dari tempat diketinggian itu.
"Pantas saja dia membawa kita ke arah sini. Ternyata tujuannya hendak mengejar Karuru dan berusaha merebut pusaka yang dia miliki." Geho Sama berbicara sambil menunjuk ke atas langit.
Para pendekar yang berada didekatnya segera medongak mengikuti arah jari telunjuk Geho Sama. Dewa Rencong segera menyadari sesuatu hal yang barusan diucapkan Geho Sama.
Dia segera menangkap aura sesat diatas langit sana. Meskipun kemampuannya tidak sehebat ilmu empat sage, tetapi pancaran aura itu sekarang bertambah semakin kuat dibandingkan saat pertama kali Suro datang.
Setelah selesai berbicara, Geho Sama langsung menghilang dan melesat ke arah dimana Suro sedang bertarung. Sedangkan Dewa Rencong, Mahadewi dan Dewi Anggini langsung bergabung bersama Pendekar Zhang untuk membantu pasukan kekaisaran melawan pasukan gabungan musuh.