SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 433 Makam Kaisar Qing part 3



"Kalau kau tidak tertarik biar aku memilih salah satu dari senjata yang ada," Dewa Obat lalu berjalan ke salah satu ruangan yang didalamnya berisi berbagai senjata yang cukup banyak.


Suro dan Geho Sama berjalan dibelakang mengikutinya. Cukup lama Dewa Obat memilih dan memilah senjata yang cocok untuknya.


"Kapak ini tidak sesuai dengan ilmuku...Gada ini terlalu berat untukku...pedang ini terlalu ringan tidak pas ditangan...


Trisula ini cukup bagus kwalitasnya, aku pernah diajari oleh ayahanda. Tetapi sejak dulu aku kurang menyukai senjata jenis ini."


Pandangan mata Dewa Obat berpindah ke arah sebuah tombak yang memiliki kwalitas cukup bagus. Dia segera meraih dan memeriksanya.


"Tombak ini dibuat dengan baik dari pangkal sampai mata tombaknya memiliki keseimbangan yang sangat presisi."


Dewa Obat lalu memainkan satu-dua jurus tombak seperti senjata-senjata lain yang dia coba.


"Tombak adalah senjata terkuat menurut beberapa ahli beladiri. Sebab banyak kelebihan yang dimiliki sebuah tombak dibandingkan dengan senjata lain seperti bilah pedang.


Jika pedang adalah raja dari segala senjata, maka tombak adalah kaisar dari semua senjata. Kelebihan dari segi jangkauan, kecepatan dan kerusakan yang dimilikinya mampu mengalahkan kelebihan sebilah pedang.


Bahkan pengguna akan tetap dalam jarak aman saat menyerang musuh yang menggunakan sebilah pedang. Tetapi aku juga kurang menyukai jenis senjata seperti ini," ucap Dewa Obat sambil kembali menaruh senjata itu ditempat semula.


Berbagai senjata silih berganti dia coba sambil menjelaskan kelebihan dan kekurangannya. Suro maupun Geho Sama begitu kagum mendengar penjelasan Dewa Obat.


Mereka segera menyadari, jika pendekar didepan mereka adalah ahli menggunakan berbagai jenis senjata. Mereka tidak mengira, sebab dalam pertempuran yang dilalui bersama pendekar itu hanya menggunakan senjata busur panah tidak yang lain.


Setelah cukup lama memilih senjata, akhirnya mata Dewa Obat tertuju ke sebuah meja ditengah ruangan itu. Diatas meja itu sebuah kotak terbuat dari batu giok berwarna hijau bening yang entah mengapa telah menarik perhatian Dewa Obat.


Dia bukan tertarik pada wadah yang begitu mewah dan indah. Tetapi dia segera menyadari, sebuah aura kekuatan yang dimiliki senjata didalamnya seperti memanggil dirinya untuk mendekat.


"Aura senjata yang menarik, apakah dia memintaku untuk menjadi tuannya?"


Dari dalam kotak terbuat dari batu giok itu, Dewa Obat mendapati sebuah golok yang memiliki ukuran cukup besar.


Sriiing...!


Desir suara terdengar begitu ringan saat golok itu keluar dari sarungnya. Suara itu menandakan kwalitas baja yang digunakan untuk membuat bilah golok itu berkualitas sangat tinggi.


Ditengah bilahnya yang lebar dan tebal, terukir sebuah bentuk naga yang meliuk-liuk begitu indah. Bilah baja itu berwarna putih bersih berkilat-kilat, seperti hendak menunjukkan betapa tajamnya mata bilah yang dimilikinya.


"Sebilah golok yang mengagumkan! Aku tidak menyangka menemukan pusaka yang melegenda ditempat ini. Apakah kalian mengetahui nama golok ini?"


Suro hanya mengangkat bahu menandakan dia tidak mengetahuinya.


"Itu adalah golok sang Naga Pembantai." Geho sama menjawab pertanyaan Dewa Obat sambil bersedekap. Dia menjawab begitu cepat seakan tanpa perlu berpikir.


"Hebat kau Geho Sama, bisa mengetahui nama sebuah pusaka hanya dengan sekali lihat saja. Aku tidak menyangka kau ternyata secerdas itu!" seru Suro penuh rasa kagum.


Bukan hanya Suro, Dewa Obat tak kalah terkejutnya dengan apa yang disampaikan Gego Sama. Sebab jawaban itu memang sangat tepat.


Karena dia memang segera mengenalinya sejak pertama kali menarik bilah golok dari sarungnya.


"Tentu saja itu mudah bagiku, aku tidak buta huruf, apakah Dewa Obat tidak melihat itu tertulis di peti tempat dia disimpan." Geho Sama menunjuk pada batu giok yang sebelumnya menjadi tempat penyimpanan golok besar itu.


Suara tawa Suro langsung meledak mendengar jawaban Geho Sama. Air matanya sampai keluar tidak dapat menahan geli.


Dewa Obat segera memeriksa pada batu giok yang menjadi bekas peti penyimpanan. Dia memang menemukan ukiran rapi dalam bentuk huruf kanji kuno.


Tulisan itu sekilas sedikit samar jika tidak melihat dengan jeli. Alasan itulah yang membuat dirinya tidak menyadari adanya tulisan itu. Pertapa itu ikut tertawa sambil menepuk jidatnya berkali-kali.


"Aku tidak memperhatikannya, aku sudah begitu tertarik pada pancaran aura yang dimiliki pusaka ini. Seakan dia memintaku untuk melihat dan menjadi tuannya. Aku menyadari jika aura kekuatan yang terkandung didalamnya bukanlah aura kekuatan senjata biasa."


"Aku pernah mendengar nama golok Sang Naga Pembantai, tetapi itu sudah cukup lama. Aku tidak menyangka, ternyata selama ini berada di dalam tanah terkubur tanpa ada yang menjadi tuannya.


Pantas saja tidak pernah lagi mendengar ada yang memperebutkannya. Dulu pusaka ini pernah menggegerkan dunia persilatan atas kemunculannya. Namun aku tidak menyangka akan menemukannya disini." Dewa Obat lalu menyarungkan bilah golok itu dan menggantungkannya dibelakang pundaknya.


"Terlalu sayang pusaka bagus seperti ini hanya teronggok tanpa ada tuannya. Aku yakin pusaka ini akan berguna."


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju makam utama tempat jasad Kaisar Qing Shi Huang.


Setelah melewati lorong yang lebih lebar dan harus berbelok beberapa kali, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang sangat luas begitu luasnya tempat itu menyerupai lapangan.


Pandangan mereka bertiga langsung terpana menyaksikan kemegahan yang ada didepan mata mereka. Secara bersamaan mereka berdecak penuh kagum.


"Bagaimana ada hal seperti ini didalam tanah? Bagaimana mereka membuatnya?" Suro menatap dengan pandangan mata yang sulit melukiskannya dengan kata-kata.


Sebab dihadapan mereka kini berjejer prajurit yang terbuat dari tanah liat dalam jumlah yang sangat banyak. Tidak kurang dari delapan ribu pasukan terakota terpampang dihadapan mereka bertiga.


Seluruh prajurit itu berjejer seperti sebuah formasi dalam militer. Seakan mereka hendak menyambut musuh yang akan datang dari lorong yang dilewati mereka bertiga.


"Tunggu sebentar, apakah perasaanku saja atau tatapan mereka memang memandang ke arah kita?" Dewa Obat menatap prajurit yang berjejer didepan mereka dengan begitu teliti.


Beberapa kali tangannya mengusap matanya. Setiap patung tanah liat itu diberikan cat yang berasal dari bahan-bahan alami yang tahan lama.


Memang warna hitam pada mata setiap patung tanah liat itu seperti mengarah ke tempat mereka berdiri. Karena itulah mengapa Dewa Obat sampai memperjelas, jika patung itu tidak hidup.


"Apakah mungkin mereka disiapkan untuk menghalangi siapapun yang berusaha memasuki makam kaisar?" Kembali Dewa Obat bertanya ke arah Suro dengan was-was.


Sebab setiap patung yang berdiri dengan gagahnya itu menggenggam senjata yang sebenarnya. Dewa Obat terlihat begitu khawatir karena setiap bilah pedang dan tombak yang berada dalam genggaman patung-patung itu sangatlah beracun.


Seperti juga senjata rahasia yang semenjak awal menghujani mereka untuk menghalangi setiap langkah. Senjata itu juga mengandung racun yang sangat mematikan.


"Bukankah tuan pertapa sebelumnya mengatakan kepada diriku merindukan sebuah kematian agar bisa segera meninggalkan dunia ini?


Tetapi mengapa dalam pertarungan yang kita lewati, justru aku merasa tuan pertapa itu ketakutan akan mati terbunuh? Ini terasa sangat aneh bagiku, seperti dua hal yang saling berlawanan."


"Murid cubluk(bodoh), tentu saja aku menghindari mati konyol seperti itu. Aku itu menginginkan sebuah kematian yang akan mampu membuat diriku moksa. Sehingga membawaku langsung menuju Nirwana!"


Mata Dewa Obat melotot ke arah Suro yang justru tertawa cekikikan melihat raut muka Dewa Obat yang terlihat lucu.