SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 429 Bantalan Sempurna



"Ha? Apa tidak salah kau bertanya kepadaku?" ucap Geho Sama sambil menunjuk hidungnya yang panjang.


"Tentu saja, tidak ada yang salah, bukankah kau adalah makhluk yang telah melewati masa jauh sebelum kakek dan nenekku pun belum terlahir? Seharusnya kau punya kebijaksanaan yang sangat tinggi." Dewa Obat bertanya dengan nada pelan.


"Huuuufffttt...kebijaksanaan makanan apa itu? Isi kepalaku ini terlalu mahal hanya untuk memikirkan hal-hal remeh seperti itu. Biarkan bocah gendeng ini yang memikirkannya, dari pada setiap waktu kepalanya hanya dipenuhi ayam goreng." ujar Geho Sama sambil berjalan menjauh hendak bersamadhi dan mencoba memulihkan kembali kekuatannya.


"Tunggu sebentar Geho Sama, ini masalah penting juga." ujar Dewa Obat mencoba memaksa Geho Sama untuk memberikan saran.


"Sudahlah orang tua, mengenai masalah perguruan ini biarkan bocah itu yang menyelesaikannya. Dia memang sedikit sinting tetapi percayalah masalah seperti ini kecil baginya.


Bukan pertama kali dia menghancurkan perguruan seperti Lembah Beracun. Bahkan ditanah Yawadwipa dia justru melakukannya sendirian."


"Dan, satu lagi taruhan kita yang sebelumnya, aku yang memenangkannya."


"Ha? Taruhan apa?" Dewa Obat menggaruk-garuk kepalanya.


Seingat Dewa Obat dia tidak pernah diajak bertaruh.


"Saat pertarungan tadi, bukankah aku sudah bertaruh dia akan mengalahkan semua lawannya. Dan tidak usah menghawatirkan dirinya, meski kekuatan racun milik lawan sangat menakutkan."


"Mengenai itu memang benar, tetapi aku tidak bertaruh," ujar Dewa Obat menyela ucapan Geho Sama. Dia mulai menggaruk-garuk kepalanya.


"Kau memang tidak mengatakan bertaruh. Tetapi aku yang mengajak dirimu bertaruh dan kau tidak mengatakan menolak ajakan taruhanku," balas Geho Sama tidak kalah sengit.


"Mengapa aku merasa semakin lama bicaramu melantur." Dewa Obat mulai menggaruk-garuk kepalanya semakin keras.


"Melantur bagaimana? Ucapanku tidak ada yang salah memang seperti itu kejadiannya. Apalagi dirimu tidak percaya dengan kemampuannya. Terbukti bukan, ucapanku? Lihat mereka, kini semua telah tunduk kepadanya...


Dewa Obat kembali hendak menyela, tetapi segera disanggah oleh Geho Sama.


"Sudaaaah...ssssst" ucap Geho Sama pelan sambil membuat tanda satu jari mengarah ke atas didepan bibirnya.


"Pendekar sudah tua, jadi tidak usah mengelak dengan kesepakatan yang sudah kita buat.


Ingat, pepatah mengatakan lelaki itu yang dipegang kata-katanya bukan...


apanya, ya?" Geho Sama mulai memandang langit.


"Apa ya kelanjutan pepatah itu?" Geho Sama mulai sibuk membuka beberapa kitab-kitab yang selalu dia bawa.


Dewa Obat sudah mulai jengkel mendengar ucapan Geho Sama. Tangannya sudah membentuk mudra hendak memanggil Astra.


Suro mencoba menahan tertawanya melihat kelakuan Geho Sama. Tetapi mulutnya tidak mampu menahan untuk tidak terus tertawa. Akhirnya dengan susah payah dia mencoba menahannya dengan menangkupkan kedua telapak tangannya ke mulutnya sendiri.


"Ingat lelaki itu dipegang kata-katanya bukaaan....eeeeem dipegang...dipegang...dipegang eeeemmmm anunya kayaknya.


Sudahlah intinya pendekar sebagai lelaki kata-katanya harus bisa dipegang.


Jangan sampai membuat malu dunia persilatan. Itu bukan contoh yang baik untuk dilihat generasi muda, seperti bocah gendeng itu


Apa yang akan dunia katakan seorang Ciranjiwin bertaruh ayam goreng saja tidak mau membayar," ucap Geho Sama sambil berlalu.


"Ha? Apa, ayam goreng? Kupingku yang salah mendengar atau memang dirimu sudah tidak waras? Sedari tadi kita berdebat hanya untuk membicarakan masalah ayam goreng? Kau sepertinya memang tidak waras!" Mudra untuk memanggil Astra langsung dia batalkan, sebab jari tangannya itu sekarang sibuk dia gunakan untuk menepuk-nepuk jidatnya.


Pandangan mata Dewa Obat tidak berkedip melihat Geho Sama, sebab makhluk itu justru berpaling dan mulai berjalan menjauh. Kepala Dewa Obat hanya bisa mengeleng-geleng menahan kesal.


"Orang-orang dunia persilatan menyebutku Si Tua Gila, tetapi ternyata kalian lebih gila dibandingkan diriku!"


Suro masih sibuk menahan tertawa melihat Dewa Obat menghela nafas beberapa kali mencoba melepaskan kemarahannya yang sudah diubun-ubun.


"Sudah lupakan saja dengan ucapannya, apakah tuan Pertapa menemukan solusi yang tepat mengenai Perguruan Lembah Beracun?" sela Suro sambil memberi tanda kepada Dewa Obat dengan jari telunjuk menyilang dahi.


Geho Sama menoleh kebelakang sambil melotot tidak ketinggalan mulutnya ikut dia majukan memoncong hampir menyamai hidungnya yang panjang.


"Enak saja lupakan ucapanku, hutang ayam gorengku dia yang akan membayarnya! Jangan sekali-kali pernah menagih taruhan yang kau menangkan kepadaku. Ingat, dia yang membayarnya!" seru Geho Sama sewot.


"Dan apa lagi itu maksudnya menunjuk diriku dengan menaruh jari telunjukmu ke arah dahimu? Kau tau mengapa aku sekarang menjadi sinting? Itu semua karena jiwaku sudah terkontaminasi pikiranmu yang sudah tidak waras!"


Geho Sama tidak terima, dia terus mencerocos. Tetapi kali ini Suro mulai meladeni dan membalasnya.


"Sejak awal aku tidak menyuruh untuk memberikan mutiara jiwamu untuk aku telan. Jadi seharusnya salahkan dirimu sendiri mengapa mau bergabung denganku," jawab Suro tidak mau kalah.


"Seharusnya sejak awal kau memberitahukan jika pikiranmu sedikit tidak waras."


"Mana ada orang sinting tau dirinya sinting, termasuk dirimu tidak sadar sudah sinting," Suro membalas sambil tertawa.


Adu mulut mereka terus berlangsung tanpa memperdulikan Dewa Obat mulai mengurut-urut dahinya.


"Sebenarnya diantara kalian berdua siapa yang waras," Dewa Obat hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat adu mulut mereka berdua.


"Sebaiknya kita menemui pasukan Perguruan Lembah Beracun yang tersisa, aku akan memutuskan nasib mereka," Dewa Obat lalu berjalan tanpa menunggu jawaban mereka berdua


"Lihat bocah, gara-gara dirimu aku dianggap tidak waras!"


"Memang sudah lama, memang selama ini dirimu seperti orang waras?"


Suro dan Geho Sama lalu menghentikan perang mulut mereka dan mengikuti Dewa Obat dibelakangnya.


**


"Aku akan mengampuni nyawa kalian semua. Tetapi jika aku akan mengampuni kalian begitu saja, apa yang akan dunia persilatan katakan?" Suara Dewa Obat terdengar penuh wibawa.


Tetua Xie Tie yang mewakili seluruh anggota Perguruan Lembah Beracun masih duduk bersimpuh menunggu kelanjutan ucapan Dewa Obat.


"Aku akan memberikan syarat kepada kalian."


Dewa Obat lalu menjelaskan kepada mereka beberapa syarat yang harus mereka jalankan. Salah satunya adalah meninggalkan segala praktik keji yang biasa mereka lakukan.


"Apakah kalian menerimanya?"


"Apakah kami memiliki pilihan lain?" balas Tetua Xie Tie kepada Dewa Obat.


Pendekar itu justru tertawa mendengar pertanyaan balik dari tetua Xie Tie.


"Hahaha...tentu saja kalian tidak memiliki pilihan lain. Sebab jika kalian menyalahi satu saja syarat yang aku ajukan, maka bukan tanganku yang akan melenyapkan perguruan kalian.


Tetapi pemuda itu sendiri yang akan melakukannya. Seperti yang dia lakukan kepada kelompok Mawar Merah." Suara Dewa Obat terdengar tegas dan sedikit keras dengan sorot mata yang tajam menatap tetua Xie Tie.


'Lha, kenapa aku yang dijadikan bantalan,' Suro hanya bisa membatin sambil mengaruk-garuk kepalanya karena disebut namanya oleh Dewa Obat untuk menakut-nakuti anggota Perguruan Lembah Beracun.