
"Angger Suro muridku yang ku sayangi. Sebelum eyang kembali melanjutkan melatihku untuk menguasai ilmu olah kanuragaan sebaiknya kamu mendengar kisah eyang yang telah terjadi cukup lama."
Eyang akan bercerita tentang masa lalu eyang. Ini akan memberi gambaran kepadamu untuk melihat betapa berdarahnya dunia persilatan yang mungkin ke depannya akan kamu jalani."
"Eyang hanya ingin agar dirimu tidak tersesat seperti mereka yang telah salah memilih jalan yang mereka tempuh."
"Nuwun inggih eyang!"
Kejadian sekitar 400 tahun yang lalu di tanah Javadwipa suatu malam dihutan Lalijiwo(lupa diri) sebelah selatan kaki Gunung Arjuno.
"Trang!!..Trang!!
Bledaar!!..Bledaar
Suara hantaman logam dan bentrokan suatu bentuk kekuatan besar yang menghasilkan ledakan dan efek kejut yang sangat besar memecahkan ketenangan dihutan Lalijiwo. Ledakan suara bahkan terdengar mencapai ratusan tombak.
Seorang lelaki rambutnya telah memutih semua, ditangan kanannya memegang sebilah rencong bergagang putih terbuat dari gading berukir, berusia sekitar sembilan puluhan sedang melawan tiga sosok yang mengeroyoknya. Meskipun sudah dikeroyok dan beberapa luka telah menghiasi tubuhnya. Namun kekuatannya masih sanggup mengimbangi kekuatan mereka bertiga.
"Aku Sindurogo tak akan mati hari ini menghadapi manusia-manusia laknat seperti kalian. Jangan bermimpi mampu membunuhku justru kalianlah yang hari ini akan aku kirim ke alam baka!"
Sebuah kepercayaan diri yang luar biasa mengingat luka yang telah dideritanya. Sambil tangan kirinya memegangi luka diperutnya yang lumayan dalam.
"Manusia gila tak bisa mengukur, nyawamu sudah berada dileher." Sahut nenek yang membelakanginya.
Seorang nenek-nenek yang dikenal sebagai Dukun sesat dari Daha
Disebelah kanan seorang kakek yang memiliki badan seperti tengkorak dibalut tulang berjuluk Jerangkong dari Jurang Neraka dia bisa dibilang mayat hidup. Dua sejoli ini terkenal dalam dunia persilatan sebagai manusia abadi karena ilmu sesat yang mereka dalami.
Yang berada didepan Eyang Sindurogo berpostur tinggi besar adalah Singa Merah.
Mereka bertiga dikenal sebagai Tiga Tetua Sesat sekaligus juga merupakan guru dari Bathara karang.
Nenek ini dikenal memiliki ilmu hitam ajian Rawa Rontek yang membuat penggunanya tak akan mati walau kepalanya dipenggal. Bahkan jika ada anggota tubuhnya yang terputus dia bisa menyatukan kembali seperti sedia kala.
Kakek yang berjuluk Jerangkong dari Jurang Neraka ilmu andalannya adalah Ilmu ajian Pancasona yang menurut legenda itu merupakan ilmu yang dimiliki Rahwana. Manusia yang memiliki ilmu ini mempunyai kelebihan yang mengerikan apapun yang terjadi dengan tubuhnya selama dia masih terjatuh diatas tanah maka ia akan kembali hidup.
Seorang kakek yang sedang berhadapan langsung dengan Eyang Sindurogo berjuluk singa Merah memiliki ilmu kanuragaan lebih tinggi dan terlihat paling muda diantara mereka bertiga. Matanya yang tajam dan rambutnya yang merah, brewoknya yang lebat membuat penampilannya terlihat gahar. Ditambah badannya yang tegap, otot-otot yang mencuat keluar, membuat penampilannya terlihat masih muda dibandingkan umurnya. Sebab dari mereka bertiga justru dialah yang paling tua umurnya hampir 300 tahun.
Memiliki ilmu yang tak kalah sesatnya Jurus Setan Pemangsa Jasad. Kelebihan dari ilmu ini adalah kemampuannya menyerap energi chakra seseorang sampai tak tersisa bahkan tidak menyisahkan jasadnya. Dengan semakin banyaknya manusia yang dia cerna chakranya akan membuat si pengguna Ilmu Pemangsa Jasad bertambah kuat dan juga semakin terlihat lebih muda.
Selain itu pemilik ilmu dapat meregenerasi tubuhnya yang putus atau sakit atau bahkan hancur sekalipun dengan cara menghisap tubuh manusia lain. Dalam beberapa kasus bahkan si pengguna dalam keadaan darurat dapat menghisap tubuh selain manusia, bisa binatang atau yang lain.
"Kalian mengira dengan kekuatan yang sebesar telur puyuh itu mampu menghentikan langkahku."
"Banyak mulut."
Si Nenek menyerang dengan Jurus Cakar Seribu Racun, kukunya yang panjang hitam pertanda terkandung racun yang berbahaya. Kukunya keras melebihi baja dan tajamnya seperti silet. Jurus itu selain mengandalkan kecepatan juga didukung racun yang kuat dengan luka gores yang sedikit mampu membawanya kehadapan Sang Hyang Yamadipati dalam hitungan tak sampai seperminuman teh.
Pasangan sejolinya melabrak dengan cepat menghajar dari belakang dengan Jurus Tongkat Neraka. Sebuah Jurus tongkat yang sangat cepat dan rapat dipadukan dengan hawa ratusan roh penasaran. Setiap hantaman tongkatnya dibarengi dengan kekuatan tenaga dalam yang kuat membuat batu-batu berterbangan dihantam ujung tongkat.
Sebuah kombinasi serangan yang sangat harmonis dan mematikan.
Eyang Sindurogo menghindari serangan kuku dan tongkat dengan Jurus Rencong Nirvana Mengamuk. Sebuah jurus permainan rencong yang sangat hebat. Didapat dari tokoh jagoan persilatan yang mempunyai julukan Dewa Rencong Dari Bukit Lamreh. Sewaktu Eyang Sindurogo berkelana di suatu Kerajaan yang bernama Kerajaan Lamuri sebuah kerajaan sebelum Kerajaan Samudera pasee berdiri.
Walaupun kondisinya yang sudah sangat kepayahan dan luka yang tak ringan tetapi permainan rencong digabung ilmu Saifi Angin tingkat tinggi membuat pasangan sejoli itu kesulitan merangsek lebih jauh bahkan satu pukulan dan tendangan membuat keduanya terpental.
Singa Merah melihat rekannya terpental segera melabrak dengan jurus Sepasang trisula Penebar Maut, memberi kesempatan dua sejoli mengambil nafas.
Sebelum peristiwa itu terjadi, sebenarnya ada pencetus asal mula rentetan peristiwa yang membuat Eyang Sindurogo menyatakan perang melawan Perguruan aliran hitam terkuat yang ada di Benua Timur seorang diri.
Kejadian itu dipicu karena pergerakan Perguruan Awan Merah membantai hampir satu kademangan.
Alasan pembantaian menurut kabar dipicu sebuah desas-desus yang menyebar tentang keberadaan Kitab Tapak Dewa Matahari yang disimpan dan telah dipelajari salah satu keluarga Ki Demang Tambak yoso.
Kabar yang sebenarnya terjadi adalah seseorang Pendekar berkemampuan mirip Pendekar Tapak Dewa Matahari yang telah menghilang beberapa puluh tahun lalu, telah membantai puluhan perampok dikediaman Ki Demang Tambak yoso.
Pendekar yang telah membantai para perampok di kediaman Ki Demang Tambak Yoso sebenarnya adalah tabib yang telah menginap beberapa hari yang lalu. Karena permohonan dari Ki Demang sendiri untuk memastikan anaknya yang telah sakit dapat sembuh dengan total.
Ki Demang Tambak yoso baru mengetahui tabib yang menyembuhkan anaknya ternyata seorang Pendekar tingkat tinggi, setelah melihat aksinya menghabisi para kawanan perampok dengan sangat mudahnya. Hampir semua anggota perampok dihabisi. Namun ada beberapa perampok yang berhasil lolos.
Ki Demang selama ini memang mengenal kakek tua itu hanya sebagai seorang tabib saja. Tak pernah mencari tau lebih jauh tentang latar belakang dibalik penampilannya yang sangat sederhana dan biasa-biasa saja, tersimpan sejarah panjang hidupnya yang pernah mengegerkan dunia persilatan puluhan tahun yang lalu.
Bahkan dalam pertarungan dimalam itu lawan yang dia hadapi kebanyakan adalah perampok yang memiliki kekuatan setingkat jagoan kelas satu. Tetapi sepertinya para kawanan perampok sedang ketiban sial bertemu lawan yang salah dalam beberapa jurus hampir semua dapat dilibas dengan mudah. Jurus yang digunakan tabib tersebut mengingatkan mereka pada seorang tokoh dunia persilatan berpuluh-puluh tahun yang lalu sebelum menghilang dengan misterius. Seorang Pendekar yang telah malang melintang dan telah menempatkan namanya sebagai Pendekar nomor satu.
Entah Karena dendam yang tak dapat mereka balas atau yang lainnya kemudian terhembuslah berita palsu yang menyebar dengan cepat tentang keberadaan kitab yang berisi Ilmu Tapak Dewa Matahari telah disimpan dikediaman Ki Demang Tambak yoso.
Setelah kejadian perampokan yang digagalkan selang beberapa minggu kemudian pasukan dari Perguruan Awan Merah menyerbu kediaman Ki Demang Tambak yoso. Dan membantai seluruh penghuni berlanjut dengan pemerkosaan, perampokan hampir seluruh kademangan.
Mayat-mayat bergeletakan dibiarkan membusuk membuat gempar dan menyebar berita tersebut sampai ke kuping pendekar yang pernah menolong Ki Demang Tambak yoso.
Menurut rumor yang tersebar anggota perampok yang selamat sebenarnya adalah anggota Perguruan Awan Merah itu sendiri.
Oleh sebab itu bisa dipahami berita tetang kitab yang disimpan dikediaman Ki Demang Tambak yoso hanyalah sekedar kedok untuk menutupi aksi balas dendam mereka karena telah membunuh anggota perguruan.
Banyak rumor yang tersebar juga menyebutkan bahwa banyaknya aksi perampokan kemungkinan besar memang didalangi Perguruan Awan Merah. Perampokan adalah aksi mereka yang disamarkan untuk mengumpulkan dana dan juga aksi penculikan-penculikan wanita yang marak terjadi menurut kabar untuk dijual.
Bahkan ada cerita yang lebih sadis lagi bahwa aksi-aksi penculikan dan perampokan itu untuk menutupi kejadian sebenarnya bahwa mereka memang ditugaskan mengumpulkan tumbal manusia sebanyak mungkin untuk petinggi perguruan.
Hal itu disebabkan setiap perampokan yang terjadi selain habis harta bendanya berikut penghuninya juga ikut lenyap.
Pendekar yang pernah menolong keluarga Ki Demang Tambak yoso tak lain adalah Eyang Sindurogo. Setelah memastikan bahwa yang melakukan pembantaian itu adalah Perguruan Awan Merah. Maka dia memutuskan untuk menagih keadilan ke Perguruan Awan Merah.
"Ternyata kembalinya diriku dari pertapaan yang panjang untuk melebur sifat angkara murkaku menjadi welas asih tidak merubah sedikitpun wajah dunia ini. Garis takdir yang tak mampu aku hindari setiap langkahku selalu diikuti bau anyir darah. Selama apapun aku berlari dari dunia untuk menghindari tanganku berlumuran dengan darah, tetap saja takdir membawaku kembali."
"Dan tak mungkin aku menghindari takdirku yang ditakdirkan harus berlumuran darah sebab tangan ini tak kubiarkan terdiam melihat kebiadapan ini. Tak mungkin aku lari dari takdir yang kembali menyeretku untuk mengharuskanku membasahi tanganku dengan darah manusia-manusia biadab seperti mereka."
***
Sore itu di gerbang Perguruan Awan Merah yang dibangun dengan megah berdiri setinggi hampir tiga tombak dan dikelilingi tembok yang menjulang hampir dua tombak setengah. Memang tidak salah disebut perguruan aliran hitam terbesar diBenua Timur dengan kemegahan bangunan yang dimilikinya.
Sebuah keributan terjadi sesosok lelaki tua yang kemungkinan pendekar memaksa masuk untuk bertemu ketua perguruan. Keperluannya datang dengan alasannya ingin memberikan informasi keberadaan kitab Tapak Dewa Matahari yang dicari Perguruan Awan Merah beberapa minggu lalu. Dia mau memberi tau langsung ke ketua perguruan yaitu Bathara Karang dan tidak akan memberikan info tersebut ke orang lain.
Perkelahian sempat terjadi dua penjaga gerbang yang sebelumnya beringas setelah bertukar beberapa jurus pedang mereka menyadari kemampuan mereka tidak sebanding dengan orang tua tersebut.
Penjaga akhirnya menyerah setelah ujung pedang menekan tenggorokannya.
"Baiklah.. baiklah ..aku akan mengijinkanmu bertemu dengan atasan kami, jika dia mengijinkanmu maka kami juga tentu tidak akan membantah perintahnya. aku akan memanggilkannya, tunggu disini." Kata salah satu penjaga yang langsung berlari kedalam.
Sedang temannya masih mengacungkan pedangnya dengan gemetar ketakutan kearah sosok lelaki tua tersebut yang tak lain Eyang Sindurogo. Dia ketakutan saat melihat kekuatan dan permainan pedangnya bukanlah tandingannya yang hanya sekelas pemula.
Setelah menunggu seperempat seperminuman teh ketua penjaga datang bersama lebih dari dua puluh orang dengan berniat mengepung dan menyerang secara bersama tamu tak diundang yang berani mencari perkara dengan Perguruan Awan Merah.
"Orang tua sepertinya kau sudah bosan hidup!"
Serempak mereka menyerang dengan Formasi Tombak Penjaga Neraka. Salah satu bentuk serangan tombak yang mengandalkan kerjasama yang saling menutupi kekurangan dan tak membiarkan musuh untuk kabur maupun untuk mengelak.
"Apa susahnya kalian mengijinkanku bertemu langsung dengan Bathara Karang. Kalian justru telah membuat hidup kalian susah sendiri."
Serangan pedang yang indah dilihat dari gerakannya yang luwes dan cepat membuat formasi tombak yang mampu mengunci gerak seorang jagoan kelas satu dipecundangi hanya dalam satu jurus.
Serangan pedang yang sangat rapi telah menyerang titik-titik yang tidak membahayakan nyawa mereka tetapi efektif membuat lawannya tak mampu melakukan perlawanan lagi. Sebuah teknik pedang yang mengagumkan sebab melumpuhkan musuh lebih sulit daripada membunuh musuh perlu sebuah kemampuan yang tinggi untuk melakukannya.
"Orang tua kau ingin cepat mati berani mencari masalah dengan Perguruan Awan Merah!"
Ketua penjaga yang merupakan pendekar kelas satu merasa tidak puas langsung menerjang dengan sepasang pedang.
"Justru kalian yang membuat masalah! aku datang baik-baik kalian malah menyerangku."
"Sepertinya kalian lebih suka berbicara dengan kakiku daripada dengan mulutku!"
Sebelum tiga langkah satu tendangan kaki menghantam dagu ketua penjaga membuatnya menghantam tembok dengan keras merontokkan gigi dan membuat tulang rahangnya retak.
Melihat ketuanya sudah tak sadarkan diri mereka menjadi ragu-ragu. Apalagi melihat tenaga dalam dan gerakan jurus pedangnya, mereka dapat menebak kekuatan orang ini sekelas jagoan tingkat tinggi atau diatasnya lagi kemungkinan sudah taraf jagoan tingkat sakti atau bisa jadi jagoan tingkat langit.
Lemparan-lemparan tombak berbarengan dari jarak dekat mampu dihalau dengan mudahnya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan ketua perguruan kenapa kalian begitu keras mempersulitku! Apa susahnya kalian mengijinkan aku bertemu tanpa harus membuat babak belur kalian semua? Kepala kalian ini sepertinya terbuat dari tempurung kelapa tidak bisa diajak berbicara."
"Tutup mulutmu orang tua."
Serentak mereka menyerbu tetapi lawan mereka terlalu kuat, dalam satu libas mereka terlempar semua.
Dia tetap bersikukuh ingin bertemu dengan Bathara Karang sebab menurut pengakuannya informasi yang dia miliki mengenai Kitab Tapak Dewa Matahari yang dicari Perguruan Awan Merah benar-benar valid bisa dibuktikan kebenarannya. Tetapi tentu saja dengan informasi yang sangat berharga ini dia tidak mau pulang dengan tangan kosong. Makanya dia minta dipertemukan langsung dengan ketua perguruan sebab dia akan meminta imbalan langsung kepadanya.
Akhirnya Eyang Sindurogo terus memaksa merangsek masuk ke dalam kawasan padepokan Perguruan Awan Merah. Para penjaga yang mengepung berjumlah lebih dari dua puluh orang dan terus bertambah mengepung dirinya yang seakan tak menganggab keberadaan mereka.
Beberapakali para penjaga dan anggota perguruan lainnya mencoba menghentikan Eyang Sindurogo tetapi hasilnya nihil. Mereka rata-rata setingkat jagoan kelas menengah dan kelas atas tentu saja bukan lawannya.
Mereka terus mengepung dengan senjata telah terhunus semua. Kejadian seperti itu cepat membuat perhatian, berlusin-lusin lebih anggota perguruan lainnya segera ikut melakukan pengepungan.
"Keperluan apa kisanak membuat kekacauan di perguruan kami." Mereka tidak segera menyerang sosok kakek yang telah mereka kepung dikarenakan setelah beberapa kali mereka menyerang tak ada yang mampu menjebol pertahanannya. Mereka menunggu saat yang tepat untuk menyerang kembali.
"Aku tidak ingin mencari keributan justru aku datang ingin memberikan info kepada ketua sekte. Seperti yang telah aku jelaskan kepada penjaga. Aku sudah datang dengan baik-baik tetapi merekalah yang justru pertama menyerangku."
"Siapa yang berani membuat keributan di Perguruan Awan Merah apa ingin aku penggal kepalanya." Sahut yang lainnya membuat suasana semakin panas.
"Untuk apa aku jauh-jauh datang kesini jika hanya ingin dipenggal kepalanya? Dipasar juga banyak tukang jagal!"
"Manusia sudah bau tanah masih tidak tau diri tidak mengerti sudah diberi belas kasihan Lebih baik mati saja secepatnya!" Teriak lelaki yang sepertinya kemampuannya lebih tinggi dibanding yang lain.
Merasa dilecehkan dia melompat tinggi melewati orang-orang yang mengepung sambil mencabut goloknya diarahkan keleher. Diikuti belasan lain yang segera menyerang serentak dengan serangan yang mematikan.
"Trang..Trang...Trang."
"Buuk..Buuk..Buuk."
Yang terjadi kemudian adalah mereka tersungkur, terlempar lawan terlalu tangguh. Dengan lihai semua serangan mampu ditepis dengan sangat mudahnya.
Puluhan jagoan kelas satu yang ada disekte ikut mencoba menyerangnya semua terpental bahkan banyak yang pingsan pecah rahangnya,patah rusuknya. Mereka akhirnya mencoba mengulur-ulur waktu dengan tetap posisi mengepung serapat mungkin.
"Untuk menghadapi kalian cukup aku gunakan Jurus Pedang Dewa."
"Jurus Pedang Dewa Pedang Seribu pedang Bersatu Bersama Angin!"
Sebuah permainan pedang yang sangat cepat dikombinasikan dengan Jurus Langkah Kilat dari Jurus tertinggi Saifi Angin membuat puluhan orang berikutnya dibuat tangan dan kaki mereka semua tak lagi mampu memegang senjata dan tak mampu lagi menegakkan kakinya.
Puluhan penyerang hampir lebih dari tiga lusin secara serentak terlempar hampir dua tombak bukan luka serius tapi cukup membuat mereka tak sadarkan diri dalam beberapa saat.
"Nyalimu sunguh besar orang tua berani mengusik lebah dari dalam sarangnya." Seseorang yang wajahnya brewok dan kepalanya yang botak terlihat merangsek ingin ikut menyerang setelah melihat belasan orang terlempar dalam sekali jurus.
"Lebah tampangnya dekil amat, apa tidak malu mengaku-ngaku jadi lebah?"
"Setan alas nyawamu ada sembilan rupanya."
Segera dia melompat dan mencabut goloknya diarahkan pada bagian titik vital.
Sebelum mendaratkan goloknya seberkas bayangan kaki sangat cepat telah mendahului geraknya melabrak di bagian muka. Sebuah tendangan yang sangat keras tentunya sebab setelah terhempas lelaki botak itu meludahankan 3 gigi dari dalam mulutnya.
Sebenarnya gerakan lelaki itu sangat cepat dan juga bertenaga namun gerakan kaki Eyang Sindurogo lebih cepat menyasar membuat lelaki botak yang notabene seorang jagoan tingkat tinggi tak bisa menghindar terjengkang menghantam orang-orang yang berdatangan dari segala arah semakin banyak mengepung.
"Aku hanya ingin bertemu ketua kalian tanpa harus melibatkan kalian dan membuat hidup kalian tambah susah."
Eyang Sindurogo dengan santainya berjalan merangsek lebih ke dalam mengarah ke bangunan utama. Tetapi jalannya terhenti sebab samar-samar dia mendengar suara bayi dan anak-anak diselingi tangis beberapa wanita yang sesegukan mencoba menahan tangisnya dari arah sebelah kanan bangunan utama.
Para anggota sekte yang mengepung memblokade dengan lebih rapat saat Eyang Sindurogo berbelok arah menuju bangunan sebelah kanan. Membuat Eyang Sindurogo penasaran dengan pergerakan mereka. Sepertinya ada rahasia besar dibalik gerbang sisi kanan bangunan utama.
Akses menuju sebelah kanan bangunan utama memiliki pintu gerbang sendiri. Gerbang sisi kanan bahkan lebih ketat penjagaannya. Lebih ketat daripada pintu utama seakan daerah yang sangat rahasia orang luar tidak boleh tau.
Suara tangis bayi dan anak-anak semakin terdengar jelas dan semakin rapat mereka menghalangi gerak Eyang Sindurogo mendekati sisi kanan bangunan.
Benar saja setelah menghajar berpuluh-puluh orang yang mencoba menghalangi. Kemudian mendobrak pintu gerbang dengan sekali hantam. Pintu itu terlempar hampir dua tombak berikut orang-orang dibalik pintu yang mencoba menahan pintu ikut terlempar cukup jauh.
Setelah melewati gerbang bangunan sebelah kanan, ternyata sebuah rahasia Perguruan Awan Merah yang sangat keji tersimpan bahkan sangat mengerikan. Eyang Sindurogo memperhatikan sisi kiri berderet-deret beberapa ruangan yang cukup luas berbentuk seperti kerangkeng yang pantas untuk menahan binatang buruan berisi wanita-wanita yang kondisinya sangat miris. Hampir semua tidak memakai penutup badan yang pantas bahkan sekedar ala kadarnya, dibiarkan begitu saja sepertinya mereka wanita-wanita yang akan dijual sebagai budak. Dia hanya mampu menghela nafas panjang.
Diruangan-ruangan berikutnya Eyang Sindurogo terlihat lebih kaget karena begitu banyaknya orang-orang yang ditahan bahkan orang-orang yang ditahan kemungkinan besar adalah para penduduk kademangan beberapa minggu yang lalu ditangkap oleh anggota perguruan. Karena dalam ruangan itu yang memiliki luas lebih besar terisi berbagai macam orang baik lelaki maupun perempuan baik tua maupun muda dicampur menjadi satu seperti penampungan korban bencana alam. Jangan ditanya seperti apa rasanya manusia sebanyak itu dikumpulkan menjadi satu suara tangis anak-anak riuh rendah bercampur menjadi satu dengan tangis orang tuanya.
"Jadi itu alasan mereka yang sebenarnya tidak memperbolehkanku masuk karena tidak ingin bobrok mereka ketahuan."
Eyang Sindurogo membatin dia terkejut melihat saking banyaknya orang yang ditahan.
Apa mereka tidak takut ketahuan menempatkan orang-orang sebegitu banyaknya ditempat seperti ini bukan ditempat yang lebih tertutup sehingga tidak mudah tercium orang luar. Bahkan jika alasannya sebagai tahanan pun perlakuan mereka sangat tidak manusiawi. Apa tidak akan menimbulkan kecurigaan banyak orang terutama orang-orang kerajaan? Sama saja mereka memamerkan boroknya sendiri.
Kemungkinan kedua mereka telah kehabisan ruang tahanan karena kapasitasnya telah penuh atau memang mereka tidak takut akibat efek yang ditimbulkan dengan memamerkan sebegitu banyaknya orang-orang diruangan seperti ini.
"SIAPA YANG MENCARI MATI DI PERGURUAN AWAN MERAH?"
Suaranya tidak mengelegar tetapi tekanan tenaga dalamnya menyadarkan kerumunan orang untuk memberinya jalan dialah Bathara karang jika dilihat dari wajahnya sekitar berumur 40 tahun tetapi tidak ada yang tau ada desas-desus sesungguhnya makhluk ini telah berumur ribuan tahun.
"Aku dengar Perguruan Awan Merah mencari kitab Tapak Dewa matahari aku datang untuk memberikan informasi tersebut tetapi mereka malah menyerangku. Apa salah aku hanya membela diri?"
"Mana buktinya kau memiliki informasi tentang Ilmu Tapak Dewa Matahari kalau tidak berarti kau hanya ingin mati lebih cepat."
"Mohon maaf kisanak apakah kisanak yang bernama Bathara karang? Sekedar memastikan saja sebab aku tak akan sudi membagikan informasi yang sangat penting ini kecuali dengan Bathara Karang langsung. Karena tentu saja aku tidak sudi memberikan informasi tanpa imbalan!"
"Nyalimu sungguh besar kisanak."
"Tentu saja akulah Bathara karang. Aku akan memberikan imbalan yang setimpal. Sekarang mana bukti kebenaran informasi yang kau punya?"
"Ini!!"
Seberkas sinar menghantam Bathara karang secepat kilat tanpa tak terduga. Dada sebelah kirinya jebol, jangan tanya bagaimana kondisi jantungnya dengan luka yang parah seperti itu tentu saja sudah tak berbentuk lagi.