SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 409 Kedatangan Musuh Kuat part 2



Geho sama terus mengejar pasukan Elang Langit. Dia melacak musuh dengan menggunakan tehnik empat Sage.


Dengan ilmu itu dia tetap mampu menemukan jejak aura kekuatan musuh yang berulang kali berpindah tempat dengan cepat.


"Kalian pikir dapat dengan mudahnya datang dan pergi sesuka jidat kalian!" Setelah berhasil menghabisi salah satu dari siluman Elang, Geho sama tidak berhenti mengejar pasukan musuh.


Pertarungan mereka telah berpindah jauh dari luar kota Shanxi. Pasukan Elang Langit yang tertinggal tidak dapat menyelamatkan diri setelah bertemu dengan Geho sama.


Tetapi tujuan pengejaran yang dilakukan makhluk itu sebenarnya bukanlah pasukan Elang Langit, tetapi siluman Elang yang bernama Roku Suzaku.


Karena itulah dia kemudian memilih melesat mengejar Roku Suzaku dibandingkan bertarung dengan pasukan Elang Langit yang terkejar olehnya. Ada sesuatu hal yang membuatnya penasaran dan hendak dia tanyakan kepada makhluk itu.


Setelah melacak keberadaan Roku Suzaku, Geho sama kembali mengerahkan jurus Langkah Maya. Dalam sekejap dia telah menghilang dari pandangan.


Dia melesat menuju ke timur yang berada ditempat yang cukup jauh. Geho sama hanya merasakan aura kekuatan yang tertangkap, tanpa mengetahui seperti apa tempat tersebut.


Sekejap kemudian Geho sama telah sampai ditempat yang dia tuju. Tetapi dia kebingungan melihat sekitar. Tanpa dia sadari, dia telah sampai di gunung Taihang shan.


"Aku yakin tadi telah merasakan aura kuat di gunung ini, tetapi mengapa aku tidak menemukan siluman Elang tadi?


Apakah aku salah menentukan arah, sebab secara samar aku tadi juga merasakan kekuatan lain yang cukup kuat." Geho sama berbicara sendiri sambil mencoba kembali mengerahkan ilmu empat sage.


Setelah mengerahkan jurus itu, Geho sama berhasil menemukan pasukan Elang Langit. Mereka berada tidak jauh dari tempat dia berdiri. Karena itu dia segera mengejar mereka.


Mereka setelah mengetahui kedatangan Geho sama hendak kembali melarikan diri. Tetapi makhluk itu tidak membiarkan mereka melangkah lebih jauh.


Di gunung Taihang Sahan itu, dia berhasil menangkap setengah lusin pasukan Elang Langit. Tetapi diantara mereka tidak ada Roku Suzaku.


Kali ini Geho sama tidak berniat menghabisi mereka, tetapi dia hanya ingin bertanya tentang keberadaan Roku Suzaku. Dia menyadari jika makhluk itu adalah salah satu anggota suku kuno siluman Elang. Seperti juga dirinya makhluk itu sejenis dengannya.


Sebelum sempat Geho sama bertanya kepada para pasukan Elang Langit yang berhasil dia lumpuhkan, mendadak Geho sama merasakan sebuah aura kekuatan besar yang muncul tidak jauh darinya.


Dia segera berubah menjadi begitu waspada. Bahkan dia membatalkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut kepada Pasukan Elang Langit yang sudah tidak berdaya setelah berhasil ditotok olehnya.


"GEHO SAMA! MAKHLUK YANG HAUS KEKUATAN, IBLIS YANG HENDAK MENJADI PENGUASA SELURUH JAGAT!"


Suara keras menggelegar, membuat Geho sama semakin bertambah waspada. Dia mencoba mendeteksi keberadaan sosok yang barusan berbicara.


Dia menyadari, jika sumber suara itu berasal dari tempat jauh. Tetapi dengan tehnik memindah suara, seakan suara itu berasal dari seseorang yang berada didekatnya.


'Kekuatan ini, siapa gerangan?' Geho sama menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Dia menyadari kekuatan yang melambari suara barusan itu sangatlah kuat. Cukup kuat untuk menjadi lawan berat bagi dirinya.


Selang tidak berapa lama kemudian muncul seorang petapa dengan pakaiannya yang cukup sederhana. Sebuah pakaian yang biasa digunakan seorang resi.


Lelaki itu sudah cukup berumur seperti lelaki berumur tujuh puluhan tahun. Dengan rambut dan jegot yang sepenuhnya telah memutih.


Tetapi tubuhnya penuh berotot seperti seseorang yang biasa mengolah tubuh. Sehingga secara keseluruhan dia terlihat masih begitu gagah.


Lelaki itu muncul dari atas ketinggian dengan posisi duduk bersila. Dengan posisi itu dia terus mengambang diudara mendekat ke arah Geho sama.


"Siapa sebenarnya tuan pertapa ini? Bagaimana tuan bisa mengetahui namaku?"


Bukan jawaban yang didapat Geho sama, tetapi sebuah serangan secara mendadak yang cukup membuatnya terkejut. Tentu saja makhluk itu kebingungan mendapatkan serangan tanpa alasan yang jelas.


Lelaki itu terus menyerang Geho sama dengan serangan-serangan yang sangat mematikan. Seakan dia tidak membiarkan makhluk itu dapat bernafas.


Kecepatan serangan yang dilakukan itu bergerak laksana kilat menyambar. Jika tanpa Langkah Maya, tentu Geho sama akan kesulitan menghindarinya.


Lelaki itu tidak menggunakan senjata, tetapi setiap cakar yang menerjang ke arah Geho sama telah dilambari oleh energi perubahan petir.


Sehingga seandainya dapat selamat dari tajamnya jurus cakar yang dikerahkan, tetapi belum tentu selamat oleh sambaran angin yang menyertainya.


Niscaya, jika terkena sambarannya saja sudah dapat menrobek tubuh makhluk itu. Geho sama juga menyadari hal itu. Karena alasan itu lah dia memilih terus menghindar secepat mungkin dari terjangan serangan petapa tua itu.


Dia berniat menyelesaikan kesalahpahaman itu dengan tanpa kekerasan. Meskipun dalam hatinya dia memaki dan meruntuk tanpa jeda.


Geho sama pusing tujuh keliling menghadapi serangan pertapa tua itu. Dia tidak mengetahui sedikitpun alasan, mengapa pertapa tua itu menyerang dirinya. Padahal dia merasa sebelumnya tidak pernah sekalipun bertemu dengannya.


"HAHAHAHA...KAU BOLEH JUGA SILUMAN BIANG KEHANCURAN DUNIA!"


"HAHAHAHAHA...!" Lelaki kurus itu terus tertawa terkekeh menemani hujan serangan yang dilakukannya.


'Apakah orang ini sejenis dengan pujangga gila, mengapa dia tertawa tanpa sebab? Sepertinya kepala orang itu baru saja kebentur batu, membuatnya sedikit tidak waras,' Geho sama membatin sambil terus berusaha menyelamatkan dirinya.


Serangan yang dilakukan pertapa itu cukup membuatnya kesulitan, meskipun tidak ada satu pun yang berhasil melukainya.


Setelah cukup lama menyerang Geho sama, mendadak pertapa tua itu berhenti. Kembali lelaki itu berdiri mengambang diudara melihat Geho sama dari jarak yang sedikit jauh.


"Apa yang tidak aku ketahui tentangmu? Aku mengetahui semuanya!" Lelaki tua itu menatap tajam ke arah Geho sama sambil mengusap-usap jenggotnya.


Setelah serangan dahsyat barusan, lelaki tua itu tidak memperlihatkan kelelahan. Geho sama juga menyadari hal itu. Dia segera menyadari jika serangan awal itu hanya untuk menjajal kekuatannya.


"Sudah aku tunggu dirimu, setelah ribuan tahun disegel oleh para dewa. Sesuai pengetahuan yang aku miliki, akhirnya aku bertemu denganmu disini."


'Apa? Ribuan tahun menungguku? Apa aku tidak salah mendengar?"


Geho sama tercenung mendengar ucapan orang tua misterius itu. Dia tidak menyangka lelaki itu mengetahui rahasia hidupnya yang hanya segelintir yang mengetahuinya.


Apalagi dia menyebut ribuan tahun yang lalu telah menunggu dirinya. Dahi Geho sama semakin mengkerut mendengar hal itu.


'Semakin misterius saja pertapa ini. Siapa sebenarnya dirinya?' batin Geho sama dengan penuh tanda tanya dikepalanya.


"Sesuai perhitunganku kau muncul digunung ini. Karena itulah selama waktu yang panjang aku tetap tinggal digunung ini untuk menunggu kedatangamu!"


"Mohon maaf jika tuan pertapa harus menungguku selama itu. Memang ada urusan apa, sehingga tuan pertapa bersusah payah menunggu kedatanganku?"


"Urusanku banyak dan harus aku selesaikan hari ini juga."


Geho sama mencoba mengingat-ingat didalam kehidupan sebelumnya. Ingatannya kembali pada kehidupan panjang sebelum disegel oleh para dewa.


Semakin lama mengingat, dia semakin yakin tidak pernah bertemu dengannya. namun ada yang sedikit membuat dirinya ragu atas ingatannya.


Sebab jika dia sudah bertemu sejak ribuan tahun lalu, tentu saat ini wajahnya telah berubah jauh. Dan pastinya dia tidak akan mengenalnya.


Kepala Geho sama semakin gatal, dia kini sibuk menggaruk seluruh kepala dan wajahnya. Dia pusing dan kembali berusaha mengingat-ingat apakah sebelumnya pernah bertemu dengan pertapa itu atau tidak.


"Apakah kita pernah bertemu di masa lalu sehingga tuan pertapa memiliki dendam terhadapku?" Geho sama segera menyadari aura pembunuh yang dimiliki sosok didepannya kembali merembes keluar dan ditujukan ke arah dirinya, bukan kepada pasukan Elang Langit yang telah berhasil dia totok.


"Dendamku hanyalah mewakili para manusia yang telah kau bantai, mewakili ribuan mungkin puluhan ribu atau lebih. Jadi itu cukup menjadi alasan bagiku untuk membunuhmu!"


Wajah pertapa itu terlihat tenang, meskipun saat dia berusaha menghabisi Geho sama. Tetapi aura pembunuh yang berasal dari pertapa itu sudah menceritakan hal lain.


"Jadi tidak perlu bagiku harus bersusah payah bertemu denganmu terlebih dahulu, jika hanya untuk menemukan alasan untuk membunuhmu! Aku sudah mengetahui semua hal tentangmu, jadi buat apa aku perlu berbasa basi denganmu!"


Selesai berbicara kembali pertapa tua itu melesat menyerang Geho sama. Buru-buru Geho sama menghindar dengan menggunakan Langkah Maya.


"Kau pikir dengan ilmu sihirmu dapat menghindar dari seranganku! Kita lihat apakah kau mampu menghindari seranganku kali ini!"


Geho sama pusing dengan tindakan pertapa yang kembali menyerang dirinya. Dia tidak mampu memahami dengan tindakan yang diambil pertapa itu. Alasan yang diucapkan itu seperti dibuat-buat.


Semua tidak masuk akal bagi Geho sama. Karena itu dia mencoba membaca gerak gerik dari lelaki itu. Mungkin saja ada kesamaan pertapa itu dengan sosok pujangga gila yang artinya kewarasannya perlu dipertanyakan.


Tetapi kali ini Geho sama telah dibuat melotot dengan melihat tehnik yang hendak dikerahkan lawannya. Sebab itu adalah jurus mematikan yang dia ketahui.


"Coba kau gunakan jurus menghilangmu itu, kita lihat apakah kali ini kau dapat menghindari jurusku ini!"


"Brahmastra!"