SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 448 Sarang Penjahat part 4



Di tempat yang tidak jauh dari mereka Yang Xiaoma bersama wakil komandan pasukan penjaga kota Shaanxi, yaitu Yun Qingyan memukul mundur pasukan yang sebelumnya ikut mengepung Mahadewi.


Tetapi itu hanya sebentar sebab entah datang dari mana muncul pasukan yang tidak disangka. Mereka adalah para pendekar yang berasal dari kelompok lain datang atas undangan Feng Lei.


Mereka seperti juga Feng Lei, pasukan itu adalah bekas anggota Mawar Merah. Mereka datang adalah dalam rangka untuk menyerbu kediaman Yang Taizu.


Jumlah mereka lebih dari tiga ratus pendekar. Walaupun sebagian besar masih ditingkat pendekar kelas satu dan tingkat tinggi. Tetapi beberapa pendekar telah mencapai kekuatan tingkat Shakti.


Bersama kedatangan pasukan tambahan, kembali pasukan penjaga kota Shaanxi terpaksa harus bertahan dari serangan dua sisi yang berbeda.


"Gawat, jika caranya seperti ini kita semua akan dibantai!" Yang Jiang menatap ngeri pada pasukan musuh yang terus mendesak dan menjepit mereka.


**


"Kita agaknya sejak awal hanya mengulur waktu saja berhadapan dengan para siluman Elang. Sampai mereka memanggil mantan makhluk penjaga neraka." Dewa Obat hanya menatap ke sekeliling ruangan tempat kaisar Qing disemayamkan.


"Sebaiknya kita kembali ke titik awal yaitu kota Shaanxi. Ada beberapa hal yang hendak aku tanyakan pada Subutai dan mengabarkan hal ini kepada yang lain." Suro memutuskan meneruskan perjalanan. Sebab didalam makam itu sudah tidak lagi dia temukan petunjuk apapun, kecuali bait puisi yang memiliki arti yang membingungkan.


Setelah memutuskan hal tersebut mereka kemudian meneruskan perjalanan menuju kota Shaanxi.


Mereka langsung muncul di kediaman walikota. Disana mereka tidak menemukan orang-orang yang menunggu dirinya. Suro mulai khawatir. Setelah bertanya kepada para penjaga yang ada, akhirnya mereka mengetahui kepergian para pendekar yang lain.


Selain itu Suro juga bertemu Yang Xie Ying, setelah sebelumnya berhasil diselamatkan Yang Xiaoma dan dilepaskan totokannya dia sengaja ditinggal di kediamannya untuk menunggu kembalinya mereka


Yang Xiaoma tidak membiarkan Yang Xie Ying ikut bersamanya, sebab itu hanya akan membahayakan nyawa gadis itu.


Dari penjelasan Yang Xie Ying itu mereka mendapatkan pejelasan bahwa Yang Xiaoma bersama hampir seluruh pasukan penjaga kota Shaanxi pergi hendak membantu pendekar Mahadewi yang berurusan dengan para mantan anggota Mawar Merah.


"Ah, aku tidak mengira mereka tidak juga berubah. Ternyata keputusanku yang dulu adalah sebuah kesalahan. Aku tidak mengira adinda Mahadewi akhirnya terkena imbas atas keputusanku yang dulu." ucap Suro yang memberi kesempatan kedua kepada para pembunuh bayaran mantan anggota Mawar Merah.


"Inilah dunia persilatan anak muda, kadang kebaikan justru dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak tau terima kasih." Dewa Obat menepuk bahu Suro.


"Apa yang kalian tunggu? Cepat kita menyusul ke tempat yang dituju." Dewa Obat menunggu mereka membawa dirinya menghilang menggunakan Langkah Maya.


"Gunakan saja Kaca Benggala dari pada kau bertanya kepada para prajurit yang dia sendiri tidak mengetahui secara persis kemana tuan mudanya pergi," sambung Dewa Obat kepada Suro.


Suro mengikuti ucapan Dewa Obat, dia lalu mengambil Kaca Benggala dan bertanya keberadaan Mahadewi. Setelah mengetahui kondisi Mahadewi terdesak, maka Suro segera mengerahkan Langkah Maya menuju tempat yang diperlihatkan pusaka Kaca Benggala.


"Kampret, bocah gendeng aku yang memberikan usul, mengapa aku justru ditinggal?" Dewa Obat meruntuk, sebab tanpa ucapan apapun Suro justru mengerahkan jurus Langkah Maya tanpa mengajak dirinya.


Geho Sama hanya tertawa melihat reaksi Dewa Obat.


"Jangan khawatir kita akan menyusul."


Sekejap mereka berdua telah menghilang dari kediaman Yang Taizu walikota Shaanxi.


**


"KALIAN TERNYATA TIDAK MENGERTI APA ITU KESEMPATAN HIDUP KEDUA!"


Sebuah suara mengelegar membuat semua orang menghentikan pertarungan mereka. Sebab bukan suara yang begitu menakutkan yang membuat mereka berhenti, tetapi sebuah tekanan kekuatan yang begitu mengerikan telah membuat mereka jatuh terduduk.


Mereka belum menyadari siapa sebenarnya orang yang memiliki tekanan kekuatan sebegitu besar. Tetapi Feng Hen dan Feng Lei menyadari siapa pemilik aura kekuatan itu.


"Gawat, ini pemuda yang waktu itu," suara bergetar keluar dari mulut Feng Hen dengan rasa ketakutan yang memucak.


Tubuhnya yang hendak berupaya bangun tidak lagi mampu melakukannya. Beban sebesar gunung seakan menimpa ke dua pundaknya.


Bukan hanya dia, tetapi setiap orang yang ada di sana, kecuali Mahadewi. Gadis itu tetap bisa berdiri tegak dan tersenyum lebar sebab suara itu adalah milik lelaki pujaannya.


Setelah suara itu berhenti, mereka semakin ketakutan dan tidak berani bergerak. Sebab pemuda yang dimaksud telah muncul disamping Mahadewi.


"Kalian memang tidak punya rasa terima kasih!"


Belum lama setelah kemunculan Suro, secara berurutan muncul dua makhluk disamping pemuda itu. Salah satunya Feng Hen mengenalinya sebagai Dewa Obat.


'Bagaimana Dewa Obat bisa ikut bersamanya?'


Feng Hen semakin tertekan oleh aura yang dimiliki dua pendekar yang baru saja muncul. Kekuatan dua makhluk itu sudah mencapai kekuatan surga.


"Enak saja kau mau menyerah!" Geho Sama yang menjawab ucapan Feng Hen yang tidak berada jauh darinya.


Ditangan makhluk itu telah tergenggam pusaka Taru Braja. Tidak mau kalah melihat Geho Sama memunculkan senjata gaibnya. Maka Dewa Obat juga memanggil Brahmastra.


Suara ledakan bunga petir yang terus menyambar semakin membuat mereka semua ketakutan. Mereka cukup mengenal kekuatan dari Dewa Obat.


Tokoh pendekar yang namanya cukup disegani di Negeri Atap Langit, tentu dikenal oleh orang-orang yang ada ditempat itu. Mereka begitu ketakutan melihat Dewa Obat telah memanggil salah satu senjata gaib miliknya.


Feng Hen yang sudah melihat langsung kedahsyatan Suro, kini ditambah kemunculan dua pendekar yang kekuatannya tidak jauh darinya membuat nyalinya sebagai pendekar langsung tiarap.


Pernyataan menyerah oleh Feng Hen serta merta langsung diikuti oleh yang lain. Kengerian telah membayangi seluruh pendekar mantan anggota Mawar Merah.


Tekanan kekuatan musuh yang sebegitu mengerikan membuat mereka tidak berpikir dua kali mengikuti keputusan Feng Hen untuk menyerah kalah.


Yang Jiang dan Yang Xiaoma tersenyum lega melihat hal itu. Sebab sebelumnya kondisi pasukan penjaga kota yang dipimpin wakil komandan Yun Qingyan sudah terdesak hanya menunggu waktu sampai mereka dikalahkan.


"Mahadewi apa yang akan kau putuskan kepada mereka?" Suro setelah melihat musuh menyerah tanpa syarat, akhirnya menyerahkan semua keputusan kepada Mahadewi.


"Biarkan mereka aku hancur leburkan dengan Brahmastraku ini," Dewa Obat menyela sambil menatap kesegala arah.


"Kalian berani-beraninya mengganggu kekasih muridku!" Suara Dewa Obat tentu saja membuat Suro kaget.


Tetapi itu justru membuat Mahadewi bersemu merah menahan malu.


"Sebaiknya kakang saja yang memutuskan," balas Mahadewi singkat sambil menahan malu sebab disebut sebagai kekasih Suro oleh Dewa Obat.


Seluruh pedang telah dia tarik kembali ke dalam sarungnya, setelah pernyataan dari Feng Hen keluar.


Sebelum mulai berbicara Suro menghela nafas panjang. Pandangannya menyapu kesegala penjuru.


"Kalian semua adalah mantan anggota Mawar Merah memang memiliki tabiat buruk tidak bisa diampuni begitu saja."


Jumlah pasukan yang berada di pihak musuh sekitar empat ratusan. Sebab pasukan tambahan dari daerah luar yang datang atas permintaan Feng Lei sekitar tiga ratusan.


"Yang Xiaoma giring mereka dan masukan semua ke dalam penjara. Sampai aku merasa mereka ada gunanya atau tidak. Jika mereka hidup lebih tidak berguna dibandingkan kematiannya, maka tidak ada alasan bagiku membiarkan mereka hidup lebih lama. Akan aku penggal kepala mereka semua."


Suara ancaman Suro sudah cukup jelas, sehingga membuat mereka cukup ketakutan.


"Kami tentu berguna tuan pendekar, kami bisa menjadi pengikutmu. Kemampuan kami dalam mengumpulkan informasi sudah dikenal luas dalam dunia persilatan." Dengan memberanikan diri Feng Hen berbicara kepada Suro yang berada dihadapannya.


Kepala Feng Hen menunduk, begitu juga badannya. Sebab sebuah aura kekuatan sedang menekan tubuhnya sampai dia kesulitan bernafas.


"Siapa yang menyuruhmu berbicara disaat muridku belum selesai berbicara?"


Dewa Obat menggertak penuh kemarahan. Tetapi Suro memberi tanda kepada Dewa Obat untuk membiarkan Feng Hen meneruskan ucapannya.


"Menarik ucapanmu, apa yang kau ketahui tentang pasukan elang langit? Jika jawabanmu memuaskan, maka aku akan berpikir ulang mengenai nyawa kalian.


Tetapi jika kalian tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan, maka aku akan membunuhmu sekarang juga, itu semua karena kalian berani mengeroyok adinda Mahadewi!"


Feng Hen menelan ludah mendengar


ancaman dari Suro. Dia lalu bercerita sejauh pengetahuan yang dia miliki. Semakin jauh dia bercerita, membuat senyum Suro semakin melebar.


"Menarik, ternyata kalian masih memiliki kegunaan, aku memiliki tugas kepada kalian." Suro berbicara cukup pelan, tetapi dengan dilambari tenaga dalam sehingga siapapun ditempat itu mendengarnya.


Tetapi sebelum melanjutkan ucapannya, Dewa Obat menyela dirinya.


"Sebentar aku punya ide yang lebih baik. Mereka adalah manusia yang memiliki tabiat yang tidak bisa diatur kecuali dengan menggunakan kekerasan. Maka setiap dari kalian akan menelan satu pill racun seribu semut api."


"Itu sebagai tanda kesetiaan kepada muridku. Dalam beberapa waktu racun itu memerlukan penawarnya. Jika kalian kembali membawa informasi yang berharga, maka nyawa kalian akan diperpanjang, jika tidak. Berarti kalian tidak pantas hidup lebih lama."


Suro menganggukan kepala dengan ide yang dikemukakan Dewa Obat.


"Dan satu lagi aku memberikan kalian upah atas pekerjaan ini, tidak secara cuma-cuma. Jadi ada keuntungan diantara kita." Suro berbicara sambil menepuk-nepuk kantong emas miliknya.