SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 58 PERTARUNGAN TAHAP KEDUA part 6



"Akhirnya giliran kakang tiba!" Mahadewi memandang Suro yang segera bangkit dari duduknya.


"Benar giliranku tiba. Ak..u..a..ah, sudahlah." Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi mengurungkan niatnya kembali. Mahadewi yang mendengar lelaki yang ada didepannya memicingkan matanya dan menjadi penasaran dengan kata-kata yang tidak jadi diucapkan itu.


"Kenapa kakang? Apa ada sesuatu hal yang ingin kakang katakan kepada adinda?" Suro menatap Mahadewi sambil mengaruk-garuk kepalanya sambil menyengir.


"Anu eeee...Tidak..bukan apa-apa aku cuma merasa perutku agak sakit. Sepertinya aku lupa makan sebelum berangkat kesini!"


Mahadewi yang sedang menunggu kelanjutan perkataan Suro menjadi melengos.


Suro hanya tertawa kecil melihat wajah Mahadewi yang berubah cemberut. Dia segera melangkahkan kakinya ke arena pertarungan.


Suro yang telah bersiap di arena pertarungan menganguk kepala ke arah Narashinga yang menatap dengan tajam. Sama seperti kakaknya yang kidal dia mulai mencabut bilah pedangnya dan digengam dengan mengunakan tangan sebelah kiri.


Setelah semua siap Dewa Rencong kemudian segera memberikan aba-aba untuk dimulainya pertarungan.


Suro tidak segera menyerang justru asik mengamati lawannya. Dia berharap Narashinga segera mengerahkan tehnik yang sebelumnya digunakan oleh kakaknya Narashoma. Dia ingin melihat dari dekat tehnik yang telah dipertontonkan Nara bersaudara ini.


Dia mencoba mempelajari tehnik yang digunakan lawannya. Rasa penasarannya lumayan besar dengan tehnik unik yang dipakai Narashinga bersaudara. Walaupun berdasarkan kitab air, tetapi pengembangan dalam tehnik yang mereka pakai memiliki keunikan tersendiri. Sebab dengan tehnik itu mereka mampu membuat kabut dari kandungan air diudara.


Rasa ingin taunya itu sangat beralasan karena dengan dia mengetahui tehnik itu sedikit banyak pasti akan membantunya menguasai salah satu tehnik dalam kitab air.


Dengan penguasaan kitab air itu tentu juga akan membantu dirinya dalam menghimpun tenaga dalam yang bersumber pada kitab air. Salah satu unsur yang terkandung didalam kanda miliknya atau chakra muladarma. Seperti diketahui kanda atau chakra muladarma milik Suro terkandung sembilan unsur alam.


Setiap unsur alam yang terkandung didalam kanda dapat diibaratkan sebagai pintu masuk asal mula semua sumber tenaga dalam yang akan dia himpun didalam tubuh. Dengan semakin banyaknya pintu masuk yang terbuka tentu akan membuat tubuh semakin leluasa menghimpun tenaga dalam.


Dengan kondisi seperti itulah mengapa tubuh Suro tidak bisa disamakan dengan orang lain. Karena pada tingkat pencapaian tenaga dalam yang dia capai akan berbeda hasilnya dibandingkan dengan orang lain pada tingkatan yang sama. Sehingga akan terjadi perbedaan kekuatan yang sangat besar dengan tingkatan yang sama pada orang lain. Minimal kemampuan dia sembilan kali lipat lebih besar dibandingkan dengan orang normal.


Itupun dalam kondisi kemampuannya dalam menyerap kekuatan matahari dari tehnik Tapak Dewa Matahari tidak dihitung. Termasuk juga tehnik empat sagenya yang mampu menyerap energi alam tidak diaktifkan.


Jika dia telah menghimpun tenaga dalam dengan semua tehnik yang dia ketahui tentu akan membuat perbedaan kekuatan yang semakin besar. Apalagi berkat tehnik sembilan putaran langit yang hanya menyisahkan satu tahap lagi yang belum dibuka, tentu akan membuat kekuatannya tidak bisa ditempatkan pada tingkatan pencapaian yang sama dengan tingkatan orang normal lainnya.


Entah ditingkatan mana seharusnya dia ditempatkan. Karena pada saat dirinya yang masih berkutat pada tehnik kundalini yang masih ditingkat paling dasar saja, sudah mampu membelah tanah dan mengendalikan Naga Bhumi yang sebesar itu. Tentu kali ini kekuatannya sudah entah berapa kali lipat dibandingkan sebelumnya.


Narasinga masih menatap Suro yang justru balik menatapnya. Narashinga merasa ganjil dengan tingkah laku lawannya. Sebab bukan bersiap menyerang atau berjaga dari serangan lawan malah termanggu seperti sedang menunggu sesuatu hal. Terlihat dari cara dia memegang pedangnya yang masih ada didalam sarung pedangnya. Dan tangan satunya yang masih sibuk mengusap-usap dagunya.


Melihat hal itu Narashinga memilih memulai mengempos tenaga dalamnya untuk membuat kabut. Perputaran udara disekeliling Narashinga secara cepat berubah menjadi kepulan kabut asap yang semakin tebal. Narashinga terkejut dengan kekuatan tenaga dalam yang dia kerahkan terasa mengalir begitu deras sehingga kabut mulai menutupi area pertarungan.


Suro yang melihat pertunjukan tenaga dalam yang mengagumkan terlihat tersenyum cerah. Sambil kepalanya menganguk-anguk sekan sedang mencoba memahami tehnik yang barusan Narashinga lakukan.


Narashinga menjadi bingung dengan kelakuan Suro yang justru mengamati dirinya yang terkagum-kagum seperti melihat pertunjukan sulap. Melihat gelagat yang mencurigakan itu dia segera berhenti dan mulai menyerang Suro dengan jurus pedangnya.


Setiap sabetan pedang yang dilakukan Narashinga hanya dihindari dengan pergeseran kaki satu langkah dua langkah kekanan, kedepan, kebelakang tanpa sekalipun membalasnya.


"Setan alas jangan meremehkan diriku anak setan!"


"Hehehe mohon maaf senior aku terlalu takjub dengan pengolahan tehnik air milik senior!"


Trang! Trang!


'Sialan dia mencoba mencuri tehnik air milikku.' Narashinga membatin sambil menyerang lebih gencar.


Trang! Trang! Trang!


Perputaran gerakan sabetan pedang Narashinga semakin mengila membuat Suro harus mundur beberapa langkah sambil menangkis sabetan yang penuh variasi itu. Beberapa kali sabetan pedangnya mengarah bagian bawah Suro. Beruntung dengan sigap semua serangan itu mampu ditangkis dengan sempurna.


Tak ada perlawanan sama sekali dari Suro kecuali gerakan menghindar dan menangkis. Melihat hal itu tentu membuat Narashinga jengkel. Dia mulai mempercepat serangannya. Tetapi seiring kecepatannya yang bertambah, gerakan kaki Suro juga semakin bertambah cepat.


Melihat lawannya tak lagi meneruskan pengerahan ilmunya yang unik membuat Suro tak bisa mengetahui kelanjutan tehnik yang akan ditirunya. Tetapi sambil menangkis dan menghindar dari serangan Narashinga, Suro mencoba memahami tehnik yang telah diperlihatkan lawannya.


Pertarungan telah melewati lebih dari lima belas jurus tetapi gerakan yang dilakukan Narashinga seakan sudah dibaca semua. Terlihat bagaimana mudahnya Suro melayani setiap serangan yang dilakukan Narashinga.


Menghadapi musuh yang seakan telah mampu membaca seluruh gerakan serangan yang dia lakukan, membuat darahnya terasa mendidih. Kemudian Narashinga mengubah taktiknya segera dia mundur lima langkah.


"Kenapa senior malah mundur!"


Suro tidak berusaha mengejar lawannya justru memandang lawannya dengan tampang bodohnya. Narashinga tidak menjawab teriakan Suro. Dia hanya menggerung dan mulai mengempos tenaga dalamnya dengan deras. Tak lama berselang disekitar tubuhnya mulai diselimuti kabut.


Suro masih memandangi lawannya dengan satu tangannya bertolak pinggang. Bilah pedang yang sedang dipegang dia taruh dipundaknya. Dengan tampangnya yang terlihat melecehkan itu semakin membuat Narashinga bertambah murka.


"Kali ini apakah kau bisa menangkis seranganku kisanak?" Sebuah pertanyaan dari Narashinga berusaha mengintimadasi Suro. Sebab saat itu seluruh arena benar-benar telah ditutupi kabut yang begitu tebal. Bahkan untuk melihat hidungnya sendiri Suro kesulitan.


"Tentu senior saya akan berusaha melayani serangan senior!" Suro berteriak ke arah lawannya yang sudah tak terlihat lagi keberadaanya.


Trang! Trang!


Mendadak sebuah serangan menghajar dari arah sebelah kanan Suro. Beruntung Suro telah mendeteksi kehadiran Narashinga terlebih dahulu.


"Bagaimana mungkin kamu bisa melihat keberadaanku?"


"Bau badan senior terlalu jelas tercium dari hidungku!"


"Aarggh!" Narashinga yang tak terlihat oleh mata menggerung mencoba melampiaskan kemarahannya.


Narashinga terkejut serangannya kembali dapat ditangkis dan dihindari lawannya. Dia merasa lawannya bisa melihat dirinya dibalik pekatnya kabut. Karena selanjutnya setiap dia berpindah tempat dan mencoba membuat serangan mendadak tetap bisa dihindari lagi maupun ditangkisnya.


"Bagaimana mungkin kamu masih bisa menangkis seranganku?"


"Tentu saja, sesuai permintaan senior saya akan berusaha melayani serangan senior!" Suro seakan berbicara dengan tembok sebab kembali Narashinga menghilang dari pandangan.


Berkali-kali Narashinga mencoba mengecoh Suro dengan serangan yang mendadak yang seharusnya tidak bakal bisa diketahui. Tetapi berkali-kali dia menyerang selalu dapat dihindari maupun ditangkis lawannya. Hal itu semakin membuat Narashingaq bertambah murka.


Para penonton juga kini bertambah kesulitan menyaksikan dengan apa yang terjadi di arena. Bahkan ketebalan kabut melebihi apa yang dilakukan Narashoma.


'Berdoalah kali ini agar kamu bisa menangkis seranganku.' Terdengar jelas dari kuping Suro seakan orang yang berbicara berbisik itu berada disamping kanannya. Suro memahami itu adalah salah satu tehnik memindahkan suara untuk mengecoh lawan. Kabut yang dibuat Narashinga kali ini benar-benar sangat tebal. Dia yakin kali ini musuhnya tak akan sanggup melihatnya.


'Tentu saja senior Suro akan berdoa agar kali ini bisa melayani serangan senior.' Suro juga membalas suara lawannya dengan suara berbisik ke sebelah kanannya. Sambil berusaha menahan tawa, karena dia tau lawannya berada setengah tombak disebelah kiri.


"Aaaaargh!"


Teriakan kekesalan dari Narashinga mengawali serangannya. Dia begitu kesal dengan tingkah Suro yang semakin bertambah melecehkannya.