SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 156 Kitab Dewa Racun



Meskipun Tohjaya sekarang telah diangkat sebagai ketua perguruan, tetapi didepan Suro dia terlihat tetap menaruh hormat kepada pemuda belia didepannya. Melihat kecepatan daya tangkap Suro dia begitu kagum. Dia merasa tidak pernah melihat orang mempelajari ilmu racun secepat Suro.


"Baru kali ini aku melihat seseorang mempelajari ilmu racun secepat nakmas. Bakat nakmas ini hanya ada 1000 tahun sekali." Tohjaya menggaruk-garuk kepalanya melihat Suro membaca kitab begitu tebal dilahap hanya butuh waktu tidak sampai setengah hari.


Kemudian mulai mempraktekkan dari bab ke bab dengan begitu cepat. Meskipun pada beberapa bagian tidak sampai mempelajarinya dengan sangat detail, tetapi sedikit banyak Suro sudah mampu memahaminya. Apalagi dibantu Tohjaya membuat Suro dapat memahami dengan lebih baik.


Kemampuan dirinya mempelajari ilmu racun tidak lepas dari peran guru pertamanya yang seorang tabib. Walaupun dia tidak dikhususkan mempelajari ilmu racun. Tetapi mempelajari ilmu pengobatan didalamnya juga dituntut untuk bisa mengetahui segala binatang dan tumbuhan beracun, agar tidak sampai salah mengambil bahan untuk dijadikan ramuan obat.


Selain itu sedikit banyak pengetahuan Kolo Weling yang juga seorang ahli racun telah menurunkan ilmu racun miliknya kepada Suro. Sehingga dengan kondisi itu dirinya sudah mengetahui dasar-dasar ilmunya dan membuat langkah pendalaman ilmu itu berjalan lebih mudah.


"Hahaha...ini berkat guruku adalah paman sendiri yang bersedia mengajariku dengan begitu baik." Suro bersemangat mempelajari ilmu racun itu agar tidak terjadi kondisi seperti yang dialami Eyang Tunggak Semi yang harus tewas karena tidak ada yang memiliki penawar racunnya.


"Serius nakmas, paman tidak pernah melihat orang yang mampu menghafal seluruh kitab dengan begitu cepat, seperti yang telah nakmas lakukan. Penjabaran dan pemahaman yang aku tularkan kepada nakmas mengalir seperti air tanpa hambatan sama sekali. Semua itu terjadi karena nakmas begitu hebat memahami penjelasanku."


Suro kemudian memberi gambaran kepada Tohjaya tentang kemampuan ilmu racun yang mampu dia kuasai, karena memang sudah memiliki dasarnya.


"Jadi begitu. Pantas saja nakmas dapat mengerti dan memahami setiap bahan dengan cukup baik. Tetapi tetap saja kecepatan yang nakmas lakukan tidak pernah aku lihat sebelumnya."


"Dengan kemampuan nakmas, paman rasa sulit menemukan lawan yang mampu mengimbangi kekuatan nakmas. Seumur hidupku tidak pernah melihat manusia memiliki kemampuan seperti yang nakmas lakukan. Kekuatan api nakmas adalah jenis api terkuat. Pengerahan jurus perubahan bumi yang nakmas lakukan aku rasa baru nakmas sendiri yang mampu menguasainya."


"Ditambah jurus Tapak Dewa Matahari jurus terkuat yang pernah aku lihat. Sebab dengan jurus itu saja Eyang Sindurogo sudah merajai dunia persilatan selama ratusan tahun." Tohjaya begitu kagum dengan kemampuan yang dimiliki pemuda belia dihadapannya itu. Suro hanya tersenyum dan tidak membahas lebih lanjut.


"Ini sudah hari keempat dan nakmas sudah hampir seluruhnya mampu mempelajarinya."


"Benar, aku sampai lupa. Sudah berapa hari ini aku tetap berada diruangan ini."


Suro tertawa mendengar perkataan lelaki tua didepannya itu.


Dia kemudian kembali berkutat dengan segala bahan-bahan untuk membuat racun yang digunakan dalam Jurus Tapak Selaksa Dewa Racun, berikut penawarnya.


Setelah hari ketujuh sejak dia memulai belajar ilmu racun bersama Tohjaya, akhirnya Suro berhasil merampungkan pembuatan racun dan juga penawarnya dengan sempurna. Racun yang dulu mengakibatkan Eyang Tunggak Semi tewas. Dan racun itu juga yang dulu hampir menghabisi Dewa Pedang.


Tohjaya kemudian mengajari jurus racun terkuat milik perguruan itu. Tapak selaksa Dewa racun. Secara kebetulan Suro juga sudah mampu menguasai perubahan air-es lumayan baik. Dia hanya perlu meningkatkan kemampuannya agar jarum yang dibentuk dapat lebih kecil seratus kali lipat dari sebelumnya.


Dengan dibawah bimbingan Tohjaya Suro mampu menyelesaikannya dengan cepat.


"Jurus racun ini benar-benar kuat. Sebaiknya nakmas perlu berhati-hati dalam menggunakannya."


"Terima kasih paman atas kesediaan paman mengajariku ilmu racun yang paman kuasai." Suro menundukkan kepala sebagai bentuk rasa hormatnya.


"Tidak nakmas, sejujurnya aku justru menyukai bisa menurunkan ilmu ini kepada nakmas. Semoga dengan ilmu itu dapat menolong banyak orang seperti yang nakmas katakan saat akan memulai belajar ilmu racun dari perguruan ini. Diantara kita berdua saja sebenarnya aku ingin keluar dari perguruan ini sejak lama. Karena memang sudah tidak sesuai dengan kata hati paman. Dengan kedatangan nakmas sepertinya memberikan kesempatan pada paman untuk merubah jalan hidup yang sudah sekian lama paman jalani ini. Juga seluruh anggota perguruan yang tersisa yang ikut membangun kembali perguruan ini."


Dengan sumber daya yang dimiliki perguruan itu, setelah beberapa hari sejak pertarungan yang terjadi, Tohjaya sudah mulai membangun kembali perguruan yang hancur.


"Selain itu, seperti yang telah paman katakan sejak dari awal. Jika nyawa kami tetap bertahan didalam raga ini, adalah semata-mata karena belas kasihan nakmas. Maka tidak ada alasan bagi kami untuk tidak melakukan sebaik mungkin apa yang nakmas inginkan." Tohjaya kali ini hendak bersujud didepan Suro. Tetapi pemuda belia itu, kali ini dengan sigap menahan gerakan Tohjaya agar tidak meneruskan niatnya.


"Mohon maaf sebelumnya paman, jika nanti Suro bertemu dengan Dukun Sesat dari Daha ketua perguruan ini yang sebelumnya, terpaksa Suro akan membunuhnya. Selain agar tidak menjadi batu sandungan bagi paman. Ada hal lain yang harus dia bayar dengan nyawanya." Suro menatap lelaki tua itu dengan tetap tersenyum. Dia ingin melihat reaksi apa yang akan diberikan Tohjaya.


"Terimakasih nakmas, jika tindakan itu yang nakmas pilih. Jika itu yang nakmas lakukan tentu semua anggota perguruan ini akan berterima kasih. Sebab kami bukanlah lawannya jika harus berhadapan dengannya. Dia adalah yang terkuat dari kami. Jika mengetahui perguruan ini bergabung dengan aliansi Pedang Surga dia pasti akan membantai kami."


"Ilmu hitamnya yang tetap membuatnya awet muda dan tidak mudah mati sebaiknya nakmas waspadai."


"Sesungguhnya keberadaan anak-anak kecil diantara para tawanan, sebenarnya untuk praktik ilmu hitam milik ketua. Ilmu itu bernama setan pemangsa jasad. Dengan kekuatan ilmu itu membuat tubuhnya seakan abadi dan juga membuat dirinya awet muda. Umurnya lebih dari tiga ratus tahun, walau wujudnya mirip gadis belia yang cantik mempesona. Tetapi yakinlah dia adalah wujud dari iblis yang sebenarnya."


"Terima kasih atas penjabaran paman mengenai rahasia kekuatan yang dimiliki Dukun Sesat dari Daha." Suro tersenyum mendengar perkataan Tohjaya yang justru terdengar seakan merestui niatnya untuk menghabisi Dukun Sesat dari Daha yang telah membunuh Eyang Tunggak Semi.


"Dan satu lagi jika nakmas ingin menghabisi pastikan badannya hancur tidak berbentuk. Jika tidak ada kemungkinan tubuhnya akan pulih kembali."


Suro mengangguk-angguk mendengar penjelasan Tohjaya.


"Selain dengan Medusa yang berada di Perguruan Ular Hitam dia juga memiliki hubungan dengan tokoh aliran hitam yang memiliki nama tak kalah mengerikannya. Dia adalah ketua Perguruan Tengkorak Merah."


"Gelar pendekar yang dia sandang adalah iblis Tongkat. Hati-hati senjatanya setara dengan pusaka iblis. Ilmunya memiliki sumber dari guru yang saling berkaitan dengan Dukun Sesat dari Daha. Karena gurunya salah satu dari tiga sesat yang telah melegenda dari Perguruan Awan Merah."


"Dia berguru ilmu yang sumbernya berasal dari Jerangkong hidup dari Jurang Neraka, salah satu dari tiga sesat yang juga memiliki ilmu yang membuatnya tidak mudah dibunuh. Karena dia juga memiliki ilmu pancasona."


"Tempat yang akan nakmas tuju itu berada diselatan gunung Candrageni. Untuk mempermudahnya paman akan memberikan petunjuk kepada nakmas."


"Setelah melewati Gunung Mahendra(Lawu) nakmas terus ke arah barat. Nanti nakmas akan bertemu gunung Candramuka(Marawu atau Merbabu). Jika nakmas tetap lurus ke arah barat, maka nakmas akan menemukan dua buah gunung, yaitu gunung Soda(Sumbing) dan juga gunung Sadara(Sindoro). Kalau nakmas sampai menemukan dua buah gunung tersebut, berarti nakmas sudah kebablasan. Sebaiknya nakmas kembali ke gunung Candramuka."


"Dari gunung Candramuka itu sebaiknya nakmas lurus ke arah selatan. Nanti nakmas akan kembali menemukan sebuah gunung yang bernama Candrageni(Merapi). Setelah menemukan sebuah gunung Candrageni tujuan nakmas sudah tidak terlalu jauh dari situ. Nakmas tinggal lurus terus ke arah selatan."


Kali ini Suro menggaruk-garuk kepalanya sambil mengrenyitkan dahinya. Dia kebingungan dengan nama-nama gunung sebagai patokan dimana Perguruan Tengkorak Merah berada.


"Aku tidak pernah mendengar nama-nama gunung itu, tetapi aku pernah mendengar jika dari arah Gelagah wangi(Demak) tinggal lurus ke arah selatan."


"Hahaha...ternyata nakmas sudah tau. Memang disitulah tempatnya. Hanya saja jika nakmas harus ke Gelagah wangi terlebih dahulu, maka akan lebih jauh dan akan memakan waktu lebih lama."


Suro terlihat menganguk-angguk padahal dia tidak memahaminya. Tetapi dia tetap mengangguk-angguk saja ketika Tohjaya menyebutkan letak gunung-gunung yang dia sebutkan tadi untuk mempermudah dirinya menemukan tempat yang akan dituju. Tetapi dengan penjelasan itu justru membuat Suro bertambah pusing.


"Benar nakmas Suro perguruan itu berada di selatan gunung Candrageni atau lebih dikenal sebagai bumi Mataram."


Suro masih menganguk-anggukkan kepala mendengar nama Mataram yang terasa asing baginya.


"Tidak mengapa paman Tohjaya aku nanti mencarinya sambil jalan." Suro sempat kepikiran untuk bertanya kepada kaca benggala. Tetapi sepertinya tidak semudah yang dibayangkan, jika bertanya kepada pusaka itu. Suro belum menemukan kata yang tepat agar pusaka itu bisa membimbing ketempat yang dia inginkan.


"Baiklah paman atas semua ilmu yang paman berikan saya mengucapkan terima kasih. Jika perguruan ini sudah berdiri kembali sebaiknya paman datang ke Perguruan pusat Pedang Surga. Sebagai tanda bahwa perguruan ini ikut bergabung dengan aliansi Perguruan Pedang Surga."


"Nakmas tidak perlu berterima kasih, itu sudah kewajiban saya. Saya akan melaksanakan, sesegera mungkin setelah perguruan ini berdiri kembali. Saya akan datang ke perguruan pusat pedang surga sebagai bentuk kesetiaan pada aliansi besar perguruan, nakmas."


Setelah memahami Kitab Dewa Racun dari Perguruan Racun Neraka dan juga mempelajari cara pembuatannya dan menyelesaikan latihan jurus Tapak Selaksa Dewa Racun, akhirnya Suro kembali meneruskan perjalanannya.


Dengan berbekal informasi yang didapat dari Tohjaya, Suro kemudian melanjutkan perjalanannya. Tujuan dia kali ini adalah menuju perguruan Tengkorak Merah. Menurut Tohjaya tempat terbaik untuk mencari kemungkinan keberadaan Dukun Sesat dari Daha.


Minimal Suro akan mendapatkan kabar terkait ketua perguruan itu. Suro akan memastikan keberadaan para sisa pasukan Medusa ada yang kembali ke perguruan mereka atau tidak.


Karena sejak awal tujuan Suro memang ingin memastikan dari seluruh pasukan Medusa yang menghilang ada yang selamat atau tidak? Jika ada yang selamat seharusnya ada yang kembali keperguruan mereka masing-masing.


Jika semua pasukan yang bergabung dengan Medusa tidak ada yang kembali ke perguruan masing-masing, maka dia hanya memiliki satu dugaan yang bermuara pada gurunya sendiri.


Setelah membawa serta Kitab Dewa Racun milik perguruan itu Suro melanjutkan perjalananya. Dia melesat ke langit menaiki bilah pedang miliknya dengan memanggul Maung di atas dua pundaknya.


Tohjaya menatap kepergian Suro dengan terrkagum-kagum. Dia tidak mempercayai jika tidak melihat langsung, bahwa pemuda yang baru saja menghilang masih terlihat begitu muda. Tetapi dengan kekuatannya telah mampu mengalahkan perguruan miliknya seorang diri. Tetapi dalam hati dia bersyukur dengan kejadian yang belum lama terjadi itu, sebab dengan jalan itu dia dapat mengubah jalan hidupnya.


Beberapa kali dia sempat menghela nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya untuk memulai kehidupannya yang baru.


**


Nama-nama gunung itu diambil dari karya Raden Ngabehi Rangga Warsita yang berjudul Serat Pustaka Raja Purwa.


Beliau adalah seorang pujangga besar budaya jawa. Lahir pada tanggal 14 Maret 1802- meninggal pada tanggal 24 Desember 1873. Seorang pujangga besar dari Kasunanan Surakarta. Selain sebagai pujangga, beliau juga dikenal sebagai peramal ulung. Karya fenomenalnya adalah serat Jayengbaya atau lebih dikenal Jayabaya.


Menurut Raden Ng. Ronggowarsito perubahan nama itu terjadi pada saat masa Kerajaan Medang i bhumi Mataram yang ada di Jawa Tengah pindah ke Jawa Timur sekitar abad kesepuluh.


Tokoh yang telah melakukan pengubahan nama itu tidak sebutkan secara jelas, tetapi kemungkinan adalah penguasa Pengging. Tokoh yang mengubah nama gunung itu disebut bernama Prabu Ajipamasa.