
"Hati-hati paman, sepertinya kemampuan Bhuta kala itu mirip makhluk yang ada di dunia kegelapan yang akan kita tuju!"
Dewa Rencong terkejut mendengar teriakan Suro barusan. Dia sedang sibuk menyerang lawannya secara terus-terusan sampai beberapa bagian tubuh Bhuta kala hancur, tetapi kondisi itu tetap tidak mampu menghentikan amukan dari raksasa itu, yang kembali pulih dan menyerang balik dirinya.
'Jangan-jangan, memang benar apa yang dikatakan bocah waktu itu. Jika yang menguasai eyang Sindurogo adalah penguasa kegelapan, yang artinya sumber kekuatannya sama dengan para braholo dan juga Bhuta kala ini.''
Meskipun serangannya tidak berarti bagi lawannya, Dewa Rencong tetap tidak berhenti terus membuat serangan yang mampu menghancurkan tubuh lawannya. Kondisi pertarungan yang dilakukan Dewa Rencong terhadap Bhuta kala seakan bertarung dengan sebuah bayangan hitam saja yang tidak mampu dilukai dengan luka yang permanen.
Rangkaian serangan jurus Rencong Nirvana mengamuk dikombinasikan dengan sebuah bilah pedang melalui jurus bilah pedang terbang yang diajarkan Suro sebelumnya, telah berhasil menghancurkan berkali-kali tangan Bhuta kala yang hendak meraup tubuh Dewa Rencong. Dia terus menghindari serangan Bhuta kala dengan terbang mengelilingi tubuh lawannya yang sangat besar itu.
Walaupun tidak membuat luka yang permanen, tetapi dengan serangan-serangan yang dikerahkan Dewa Rencong ampuh mengusir Bhuta kala itu menjauh dari pohon beringin besar. Tempat dimana Suro sedang menjaga Dewa Pedang dan Dewi Anggini bersemadhi.
Dua pendekar itu terpaksa bersemadhi memulihkan kekuatan setelah beberapa kali tersambar petir. Beruntung kekuatan mereka sempat melindungi tubuhnya dari kuatnya hantaman petir yang menyambar. Tetapi kekuatan alam itu tetap lah kekuatan yang terlalu besar untuk diterima oleh tubuh manusia, sehingga membuat luka dalam pada tubuh dua pendekar itu.
Dengan luka dalam yang mereka derita, akhirnya Dewa Pedang memutuskan untuk beristirahat terkebih dahulu secepat mungkin. Dia mendarat ditempat terdekat dan tempat yang dia gunakan itu tanpa disadari sebelumnya adalah hutan Gondo mayit yang terkenal wingit.
Setelah mendarat Dewa Pedang dan Dewi Anggini segera mencoba mengobati luka dengan meminum obat dan juga dengan bersemadhi. Sebelum bersamadhi mereka telah meminta untuk dibangunkan jika ada sesuatu yang gawat.
Tetapi Dewa Rencong memilih membiarkan mereka berdua memulihkan kekuatan dan lukanya. Apalagi mereka berdua telah diberikan obat dari kolo weling, tentu tidak akan butuh waktu yang lama sampai mereka pulih kembali.
'Edan, ternyata memang seperti yang pernah aku dengar tentang cerita Bhuta kala. Mereka adalah makhluk yang sangat merepotkan.'
'Pantas saja hutan ini disebut dengan nama Gondo mayit atau bau mayat. Pasti manusia biasa yang terjebak dihutan ini tidak akan mudah keluar dengan selamat. Aku saja dibuat kerepotan dengan kemampuan yang dimiliki Bhuta kala ini.'
Walaupun Bhuta kala itu serangannya sangat mematikan, jika terkena. Tetapi Dewa Rencong dapat mengatasinya dengan baik. Bagi pendekar yang penuh pengalaman seperti Dewa Rencong, serangan Bhuta kala mudah dielakkan. Sebab pola serangan Bhuta kala hanya serampangan, membabi buta dan tanpa menggunakan strategi sama sekali.
Walaupun wujudnya begitu besar, tetapi raksasa itu kecerdasannya hampir tidak ada. Dia bertindak hanya berdasarkan hasratnya yang paling mendasar, yaitu ingin memuaskan rasa laparnya yang sangat rakus.
Namun makhluk itu tidak pernah merasakan kenyang, karena semakin banyak tumbal maupun energi kegelapan yang masuk ke dalam tubuhnya, justru semakin membuat rasa laparnya semakin bertambah kuat.
Hal itu terjadi karena tubuhnya yang semakin membesar ikut menyebabkan kebutuhannya pada kekuatan kegelapan dan asupan makanan juga bertambah lebih besar. Karena itulah makhluk itu menjadi makhluk yang tidak pernah merasakan kenyang.
Saat Dewa Rencong berupaya mengusir Bhuta kala, mendadak sesuatu telah hadir terpancing dengan pertempuran yang berlangsung. Mereka berdua segera menyadari ada makhluk lain yang mendekat. Sebab dari arah selatan kembali terdengar suara langkah kaki Bhuta kala yang menerjang pepohonan.
"Dari arah selatan ada Bhuta kala lain yang telah mendekat, paman! Berhati-hati lah paman!"
Agaknya pancaran kekuatan tingkat langit yang dikerahkan Dewa Rencong, bagi bhuta kala seperti aroma masakan yang mampu tercium dari jarak yang jauh.
"Bahaya paman, ternyata bukan dari arah selatan saja. Agaknya pancaran kekuatan langit dan hawa kemarahan paman telah membuat Bhuta kala yang lain mulai terpancing! Aku merasakan dari berbagai arah telah banyak yang datang mendekat!" Suro berteriak mencoba mengingatkan Dewa Rencong.
Bhuta kala yang baru saja datang itu tidak menyerang Suro maupun Dewa Rencong. Tetapi dia justru langsung menyerang ke arah Bhuta kala pertama yang sebelumnya di hajar Dewa Rencong.
Kebetulan Bhuta kala yang datang pertama kali itu terhantam oleh pukulan Dewa Rencong sehingga melemparkan tubuh raksasa itu jatuh didekat Bhuta kala yang baru saja datang.
Pertarungan dua Bhuta kala itu langsung pecah. Pertarungan dua Bhuta kala itu terasa begitu unik, sebab cara mereka bertarung tidak seperti yang dilakukan manusia pada umumnya.
Mereka tidak saling baku hantam dengan saling pukul, maupun saling tendang. Tetapi cara mereka bertarung dengan cara yang paling primitif yang dilakukan oleh para binatang, yaitu saling memakan.
Pertarungan dua Bhuta kala itu mirip pertarungan antara sesama kuda nil, yaitu saling membuka mulutnya selebar mungkin. Kemudian saling berebut untuk menelan kepala lawannya atau mungkin justru seluruh tubuh lawan akan dia telan semua.
Dua raksasa itu terus bergumul dan berebut untuk dapat menelan kepala musuhnya terlebih dahulu. Mereka saling dahulu mendahulu menaiki tubuh lawannya.
Pertarungan paling primitif dan paling brutal yang pernah dilihat. Beruntung dua makhluk itu tidak memiliki rasa sakit, sehingga tidak ada raungan rasa sakit sakit sebab luka sebesar apapun dan sehancur apapun akan kembali pulih dalam sekejap.
Medan pertempuran yang digunakan dua Bhuta kala itu semakin bertambah luas. Hutan yang memiliki Pepohonan rimbun yang besar-besar dan juga cukup padat kini telah hancur. Pertarungan dua raksasa itu telah merubuhkan pepohonan, sehingga menjadikan hutan itu seperti tanah lapang yang telah rata. Seakan pepohonan itu telah ditebang dengan cara yang cepat.
Suara pertarungan yang mampu menggetarkan bumi berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya Bhuta kala yang datang pertama berhasil dikunci tubuhnya. Kemudian Bhuta kala yang kedua membuka mulutnya dengan sangat lebar.
Mulut Bhuta kala ini ternyata memiliki mulut yang mampu melebar seperti mulut seekor ular. Seperti juga mulut seekor ular, rahangnya yang lentur mampu terlepas dari engselnya, sehingga dapat membuka cukup lebar untuk memungkinkan dia menelan sepuluh kali lipat besar tubuhnya sendiri.
Setelah rahangnya dipaksa membuka dengan cukup lebar sampai kondisi maksimal, raksasa itu kembali melakukan sesuatu yang terlihat begitu mengerikan.
Mulut Bhuta kala itu kembali membuka semakin lebar. Cara yang diperlihatkan tidak lagi sama seperti seekor ular, sebab dagu Bhuta kala itu kini membelah, sehingga terlihat dengan jelas isi di dalam rongga mulutnya yang penuh gigi. Bibir bawah membelah hingga pangkal leher didekat bertemunya dua tulang belikat.
Semua itu terjadi dengan demikian cepat, setelah mulutnya dapat membuka sampai begitu lebar kemudian meraup kepala musuhnya seakan dipegang sedemikian erat dengan menggunakan mulutnya. Karena seluruh rongga hingga lehernya penuh dengan gigi tajam seakan pepohonan berduri. Bentuk giginya itu seperti taring ular melengkung ke dalam. Sehingga apapun yang ditelan tidak akan mampu terlepas dan keluar dari dalam mulutnya.
Namun sebelum mulut itu melingkupi kepala lawan, sesuatu seperti lidah telah meluncur cepat seperti tombak yang besar dan cukup panjang sehingga menembus kepala musuhnya.
Meskipun kepalanya telah tertembus Bhuta kala pertama masih terus berontak agar dapat terlepas dari kuncian lawannya. Tetapi perlawanan itu tidak berlangsung lama. Setelah lidahnya menembus kepala hingga ke badan dan mulutnya telah melingkupinya secara penuh, sesuatu terjadi pada tubuh Bhuta kala pertama.
Kepala itu seperti lumer dan amblas terhisap kedalam tubuh lawannya. Seluruh bagian tubuh lawannya itu luruh. Tubuh dari Bhuta kala kedua yang berhasil menghisap lawannya juga mengalami perubahan sangat cepat seperti dipompa. Sehingga segera tubuh raksasa itu bertambah semakin besar, sejalan dengan tubuh lawan yang berhasil dia hisap.
"Jadi seperti ini satu-satunya cara menghabisi makhluk yang awalnya hanya sebentuk kumpulan energi kegelapan ini!" Suro segera memahami cara menghabisi makhluk raksasa didepan mereka. Dia mampu memahami setelah melihat sendiri secara langsung, bagaimana cara Bhuta kala dihabisi oleh sesama jenis sendiri.
**Ditunggu sumbangan poin, koin dan likenya. Jika tidak bisa cukup dengan hadirnya komentar anda biar authornya seneng.
Thanks. selamat berbuka bagi yang menjalankan puasa**.