SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 93 MENUJU KADEMANGAN KALINYAMAT part 3



Waktu sudah mendekati fajar suasana hutan yang dilewati Suro dan yang lainnya masih begitu gelap. Tetapi posisi mereka sudah hampir mendekati pinggiran hutan. Mereka kali ini berlari dengan penuh kewaspada tinggi, setelah sebelumnya perjalanan mereka dihentikan oleh penampakan tumpukan mayat prajurit Gelang-gelang ditengah jalan. Kondisi mayat yang menumpuk itu sudah menggambarkan bagaimana sadisnya orang yang telah melakukan pembunuhan itu.


Perjalanan dalam kegelapan bagi mereka bukan suatu halangan, walau memang tidak semudah jika dilakukan pada siang hari.


"Awas serangan datang!" Bersamaan dengan teriakan Dewa Rencong senjata rahasia yang berupa jarum dan anak panah menghujani mereka semua. Mereka tidak mengetahui arah datangnya serangan. Karena seakan musuh telah mengepung mereka dari berbagai arah.


Trang! Trang! Trang!


Setelah serangan itu menerjang, mereka semua segera menangkis hujan anak panah dan jarum-jarum yang datang dengan begitu dahsyat.


"Hati-hati ini jarum beracun!" Suro berteriak keras setelah mengetahui bahwa jarum dan anak panah itu terlihat kehitaman pertanda racun yang sangat berbahaya. Sebelumnya dia dibuat kerepotan dengan beban dipundaknya. Beruntung dia bisa secepatnya menurunkan beban yang dia bawa itu.


"Mampus kalian semua!" Sebuah teriakan terdengar dari arah depan.


Dewa Rencong tidak tinggal diam, dia segera membalasnya dengan terjangan energi tebasan angin. Seluruh pepohonan dan apapun itu terhempas semua terlempar lebih dari tiga puluh tombak.


Suro yang telah mendeteksi keberadaan musuh segera bergerak cepat. Dia berlari sambil memainkan dua bilah pedangnya untuk menangkis semua serangan yang menghampirinya.


Satu persatu dia menghabisi lawan yang berada disebelah kiri. Pasukan yang melakukan serangan mendadak itu menggunakan pakaian serba hitam. Wajahnya tertutup sebuah topeng yang juga berwarna hitam dan hanya memperlihatkan dua buah lubang untuk matanya. Rata-rata lawan yang dihadapi setara dengan pendekar tingkat atas dan tingkat tinggi.


Permainan pedang Suro bergerak cepat tak mampu dihentikan oleh musuh yang menghadapinya, meskipun musuh berjumlah lebih dari dua puluh lima orang. Lawan yang di hadapi Suro setiap berdekatan terkejut dengan paras wajah Suro yang terlihat jauh lebih muda dari mereka. Tetapi baik jurus pedang dan kekuatannya sudah melampaui mereka semua.


Jurus Pedang Bersatu Bersama Angin cukup untuk membungkam semua musuh yang menyerangnya.


Dewa Rencong yang sebelumnya telah yakin sudah menghancurkan seluruh lawan yang berada sisi depan dengan kekuatan besar miliknya, tetapi tidak dinyana ternyata sebagian besar musuh mampu menghindari serangan itu. Pemimpin kelompok itu tidak memberi kesempatan bagi Dewa Rencong untuk bernafas. Serangan jarum dan sumpit segera menghujani dirinya dengan lebih deras.


Tetapi serangan lawan yang menghujani dengan jarum beracun dan sumpit bagi Dewa Rencong bukan suatu rintangan yang berarti. Rencong miliknya yang bergerak dengan cepat seperti kilat dan membentuk pertahanan yang begitu kokoh. Semua serangan itu mampu ditangkis, dengan tidak melewatkan satu jarum pun yang dibiarkan mengenai tubuhnya.


Setelah beberapa belas jurus akhirnya lawan yang berada disisi depan mampu dihabisi semua. Dia berusaha secepatnya menghabisi mereka semua, karena khawatir dengan keselamatan Mahadewi dan Made Pasek. Sebab mereka masih diserang dari sebelah kanan dengan serbuan jarum dan panah beracun yang tidak terhitung jumlahnya.


Pemimpin kelompok yang menyerang mereka sebelumnya berada dibagian depan sebelum dihabisi oleh Dewa Rencong. Dia memiliki kemampuannya sudah sampai pada tingkat shakti tahap awal. Tetapi dengan kemampuan setinggi itu, tentu bukan lawan yang sepadan dengan Dewa Rencong. Meskipun pada saat itu dia sudah dibantu anak buahnya yang berjumlah lebih dari dua puluh orang.


Setelah selesai menghabisi musuh yang berada dibagian depan, segera Dewa Rencong bergerak ke arah kanan. Jurus Rencong miliknya begitu cepat dan dilambari kekuatan yang mengerikan. Lawan yang menghadapinya dibuat tak berkutik. Lawan yang berada disebelah kanan hanya dalam beberapa jurus sudah mampu dihabisi semua.


Mereka para pasukan pembunuh itu begitu terkejut. Mereka tidak menyangka sama sekali dengan kekuatan lawan yang diperintahkan untuk dihabisi itu. Bagi mereka kekuatan yang diperlihatkan Dewa Rencong begitu mengerikan seperti sebuah tembok kokoh yang tidak mungkin mereka robohkan. Padahal jumlah mereka jauh lebih banyak hampir sekitar sembilan puluh orang.


"Selesai sudah!" Suro sudah tidak lagi mendeteksi adanya keberadaan musuh yang tersisa. Dia masih memandangi kekuatan tebasan yang dikerahkan Dewa Rencong yang sebelumnya telah menghantam bagian depan. Dia masih saja dibuat terkagum-kagum dengan kekuatan Dewa Rencong yang begitu dahsyat, sebuah kekuatan tingkat shakti yang sudah mendekati tahap puncak.


"Apakah serangan jarum beracun barusan ada yang mengenai salah satu dari kalian?" Suro memandang ke arah Mahadewi dan Made Pasek.


"Tidak satu pun jarum itu mengenaiku kakang!" Mahadewi menjawab pertanyaan Suro lebih dulu.


"Saya juga tidak tetua muda Suro. Terima kasih kepada Pendekar Dewa Rencong dan tetua, karena telah melindungi kami berdua." Made Pasek menjura dengan hormat.


"Kelompok dari mana lagi ini paman?"


"Ini kelompok Pasukan hitam milik Perguruan Ular Hitam. Mereka sepertinya diperintahkan Medusa untuk menghabisi kita. Agaknya keberhasilan nakmas membunuh para siluman telah menggegerkan pihak Medusa."


"Mungkin saja paman, karena mereka menyerang kita dengan begitu rapi. Apakah mereka juga telah memprediksi kita akan melewati jalan ini paman?"


"Sepertinya begitu nakmas. Mereka adalah para pasukan pilihan milik Perguruan Ular Hitam. Kemampuan mereka begitu ditakuti didalam dunia persilatan. Sebab mereka selain membunuh untuk perguruan, mereka disinyalir juga berperan sebagai pasukan pembunuh bayaran. Cara kerja mereka membunuh menghalalkan segala cara, asal target berhasil dibunuh. Selain itu mereka kebanyakan membunuh secara diam-diam dan sangat sulit dideteksi keberadaannya. Mereka mempunyai tehnik khusus yang bisa menghilangkan hawa pembunuh dan keberadaan mereka."


"Seperti kemampuan yang barusan mereka perlihatkan paman? Karena sebelum mereka mulai menyerang kita, jujur saya tidak merasakan keberadaan mereka semua. Walau sudah dibantu dengan merasakan getaran tanah sekalipun. Seolah-olah mereka telah menyatu dengan benda mati disekitar mereka. Beruntung saja paman menyadari dan memperingatkan kami semua." Suro segera merapikan bawaan yang sebelumnya dia jatuhkan sekenanya.


Hal itu dia lakukan mengingat serangan yang datang seperti hujan saja, tentu dia tidak bisa bergerak leluasa jika bawaan yang besar itu masih menempel dibadannya.


Setelah semua musuh mampu dihabisi, mereka kemudian kembali meneruskan perjalanannya. Fajar sudah mulai menyingsing saat mereka keluar dari hutan itu. Setelah hutan lebat itu telah ditembus, mereka kini melewati area persawahan dan ladang penduduk sekitaran hutan.


"Sukurlah berarti aku bisa mengisi perut yang sudah keroncongan ini. Aku kali ini akan makan banyak biar perjelanan berikutnya tidak akan kelaparan seperti ini. Lauk apa ya yang sebaiknya nanti aku makan?'' Suro semakin bersemangat mendengar bahwa perjalanan mereka sudah mendekati perkampungan. Itu tandanya dia bisa segera makan sepuasnya.


Karena sejak tadi pagi perutnya yang telah kosong menuntut untuk segera diisi kembali. Apalagi dia harus berlari semalaman dengan beban berat dipunggungnya, tentu dia merasa begitu kelaparan. Karena memang terakhir dia makan sejak kemarin siang, saat berada dikampung terakhir sebelum memasuki hutan.


Dewa Rencong memerintahkan mereka berlari semalaman menembus hutan agar bisa lebih cepat sampai di Kadipaten Banyu Kuning. Keputusan yang diambil Dewa Rencong untuk segera sampai di Banyu Kuning, salah satunya dikarenakan keberhasilan Suro mampu membunuh para siluman.


Selain itu dengan melihat datangnya serangan yang bertubi-tubi menyasar mereka sepanjang jalan, dia bisa merasakan bahwa bagi Medusa Hitam keberadaan Suro dianggab sebagai sebuah ancaman serius. Seberapa serius ancaman itu belum diketahuinya. Oleh karena itulah dia ingin secepatnya sampai di Banyu Kuning untuk membuktikan seberapa serius ancaman yang bisa Suro lakukan untuk melawan para siluman itu.


Setelah matahari mulai naik dan setelah melewati persawahan dan ladang yang membentang sejak keluar dari hutan, akhirnya mereka telah sampai diarea persawahan yang sudah berada dipinggir suatu perkampungan.


Tidak ada aktivitas yang biasanya dilakukan para penduduk yang rata-rata pekerjaannya petani. Tidak ada yang berangkat ke sawah atau mencari rumput. Sesuatu hal yang terasa sangat ganjil.


"Mengapa tidak ada yang berangkat ke sawah paman? Terasa begitu ganjil?"


"Benar tetua, seharusnya ini sudah waktunya dipanen. Lihatlah padi sudah terlihat menguning!" Made Pasek ikut menimpali perkataan Suro karena sawah-sawah terlihat seperti dibiarkan begitu saja meski sudah waktunya panen.


"Benar ini sesuatu yang sangat janggal! Tidak ada orang yang menjaga padi mereka dari serbuan burung pipit yang memakan bulir-bulir padi." Dewa Rencong yang ada disampingnya ikut memandang hamparan luas padi yang telah menguning dipersawahan milik penduduk pinggiran hutan.


Mereka terus berjalan akhirnya memasuki perkampungan terdekat. Perkampungan itupun terlihat sepi, seperti tidak berpenghuni. Mereka terus menelusuri perkampungan itu dengan berjalan kaki tidak berlari menggunakan jurus meringankan tubuh agar tidak terlihat mencolok. Selain itu mereka berencana mencari pengganjal perut dan mencari pengganti kuda mereka yang telah mati.


"Agaknya perkampungan ini sudah beberapa hari yang lalu ditinggalkan penduduk." Dewa Rencong menyimpulkan setelah tidak menemukan siapapun yang bisa ditanya.


"Mereka sepertinya terpaksa meninggalkan kampungnya karena serangan siluman paman pendekar. Lihatlah beberapa rumah penduduk terlihat hancur. Dan sepertinya belum lama terjadi." Suro menimpali perkataan Dewa Rencong setelah melihat kerusakan beberapa rumah penduduk yang tidak wajar.


Mereka akhirnya meneruskan perjalanan mereka tanpa menemukan siapapun yang bisa ditemui. Setelah dirasa tidak ada siapapun diperkampungan tersebut Dewa Rencong memerintahkan untuk meneruskan perjalanan menuju perkampungan berikutnya. Untuk memepersingkat waktu mereka kembali berlari.


Setelah matahari hampir diatas kepala akhirnya mereka sampai diperkampungan berikutnya. Seperti perkampungan sebelumnya tidak ditemukan penduduk yang masih tinggal.


Kerusakan yang terjadi pada rumah penduduk semakin banyak dari pada perkampungan sebelumnya. Mereka masuk dan menyusuri perkampungan itu dengan berjalan santai.


Sampai diperempatan jalan kampung itu mendadak dari berbagai arah sebuah serangan menerjang. Sebuah serangan yang berupa bola-bola api meluncur cepat ke arah mereka.


Blaaar! Blaaaar!


"Awas lindungi diri kalian!" Dewa Rencong menahan satu serangan yang menerjang ke arahnya.


Suro yang membawa beban berat beberapa kali harus meloncat tinggi. Setelah beban yang ada dipundaknya dia taruh secepat mungkin. Kemudian dia menyerang balik ke arah wujud makhluk dengan seluruh rambutnya terbuat dari api itu. Siluman itu sejenis dengan apa yang telah menyerang mereka sebelum memasuki hutan semalam.


Setelah siang hari kini terlihat jelas api yang begitu besar bukan lah wujudnya yang sebenarnya. Itu semua hanyalah penampakan dari rambutnya yang berupa api.


Hooooaaaaarrrrgh!


Kembali bola-bola api menerjang ke arah mereka, dari mulut para siluman yang membuka lebar menampakan gigi dan mulutnya yang mengingatkan pada mulut seekor hiu.


Serangan berupa bola-bola api itu dihempaskan kembali oleh Dewa Rencong dengan kekuatan energi tebasan miliknya.


Melihat serangan bola-bola api tidak efektif menyerang musuh, kembali para siluman yang berjumlah sekitar enam ekor siluman melakukan serangan susulan. Tetapi kali ini para siluman itu menggunakan rambut api milik mereka. Rambut itu ternyata bisa dirubah menjadi sebuah senjata yang sangat mematikan.


Blaaar! Blaaar! Blaaar!


Rambut api itu berubah menjadi memanjang dan bergerak selayaknya sebuah cemeti. Dengan sebuah pengerahan yang dilakukan para siluman, beberapa kali rambut itu mampu menghantam ke arah mereka berempat menimbulkan suara yang menggelegar.


Siluman itu tubuhnya tidak terlalu besar dan warna kulitnya hitam, begitu hitamnya sehingga sekilas terlihat seperti bentuk bayangan saja. Walaupun tubuhnya kecil tetapi gerakannya sangat lincah. Ditambah kemampuan mereka yang bisa terbang atau melayang dan bergerak dengan kecepatan tinggi membuat siluman itu begitu mengerikan.