SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 437 Hancurlah



"Sihir apa ini?" Dewa Obat terlihat kebingungan menatap sekitar yang begitu asing.


"Apakah ini sebuah ilusi?"


Dewa Obat cukup kebingungan menyaksikan kondisi seluruh penjuru yang tidak biasa.


"Apakah ini dunia bawah tanah tempat Batara Yamadipati tinggal?" Tangan Dewa Obat mulai menggaruk-garuk.


Dia lalu berjalan mencoba membaca situasi yang ada. Di saat itulah di segera menyadari ada beberapa aura kekuatan lain yang sedang menatap dirinya.


Dia segera menoleh dan menatap sekeliling. Tetapi dia tidak menemukan siapapun.


"Perasaanku saja atau sedari tadi memang ada yang mengawasi ku?" Dewa Obat kembali menggaruk-garuk kepalanya.


Dia kembali terlihat seperti orang kebingungan, sebab di belakang dia yang ada hanya pepohonan. Tetapi dia sebenarnya merasakan keanehan melihat pepohonan yang tidak biasa.


Bentuknya bisa dikatakan sangat aneh. Sebab dipucuk-pucuk daunnya itu seperti sebuah kepala naga yang mulutnya sedang menganga seakan hendak menelan dirinya.


"Selama hidupku, baru kali ini aku melihat ada tumbuhan seperti itu. Aneh sekali dengan kondisi alam ini.


Jika ini hanyalah ilusi mengapa terasa begitu nyata, jika memang ini nyata mengapa terlihat membingungkan. Sebab jelas-jelas aku tadi sedang berada di makam kaisar Qing, lalu mendadak berpindah ditempat ini."


Dewa Obat berpikir keras mencoba mengingat terakhir kali sebelum muncul di tempat yang sangat asing itu. Sebelum cahaya terang muncul dari setiap telapak tangan musuhnya dia masih sadar dan masih melihat sekilas Suro dan Geho Sama yang bertarung dengan lawannya.


"Apakah saat ini aku masuk dalam jebakan jurus milik siluman elang itu?"


Dia kemudian teringat beberapa kalimat yang diucapkan Suro. Pemuda itu meminta untuk menghindar dari serangan lawan. Karena sangat berbahaya.


Tetapi kalimat setelahnya dia tidak lagi mendengar, sebab keburu dirinya berpindah tempat.


"Apakah calon muridku itu mengetahui tentang jurus ini, sebab seolah-olah dia begitu menghawatirkan diriku?"


"Mengapa dia terlalu menghawatirkanku, dia seolah menjagaku seperti tidak ada yang boleh melukaiku, seperti dalam pertempuran di Perguruan Lembah Beracun."


"Apakah itu pertanda...ah, pikiran gila macam apa ini? Sepertinya kepalaku sudah mulai teracuni oleh alam ini."


Dewa Obat kembali menatap ke sekeliling dan juga ke arah pepohonan yang sebelumnya sedikit lebih jauh darinya.


"Aneh...perasaan pepohonan itu sebelumnya berada cukup jauh dariku, tetapi mengapa sekarang berada cukup dekat?"


Dia mulai menggaruk-garuk dan memukul-mukul kepalanya sedikit pelan.


"Benar...kepalaku sudah terjadi kerusakan. Mana mungkin ada pohon yang bisa berjalan dan berpindah tempat. Pikiranku semakin lama semakin tidak waras."


Dia mencoba membaca alam dan mencari bintang-bintang yang berada di langit, tetapi tidak ada satupun yang muncul.


"Aneh jika ini siang mengapa tidak ada malam, jika ini malam mengapa tidak ada bulan atau minimal bintang?"


"Apakah aku terjebak dalam alam ilusi?"


Dewa Obat kembali sibuk menggaruk-garuk kepalanya mencoba menelaah apa yang sebenarnya terjadi.


"Gawat..sepertinya apa yang dikhawatirkan calon muridku itu benar adanya ini sangat berbahaya. Ilmu yang dimiliki siluman elang itu telah membuatku gila," ucap Dewa Obat yang baru saja menoleh kebelakang.


Ekspresi wajahnya sudah menggambarkan rasa keterkejutannya. Dia yang sudah berjalan cukup jauh tanpa dia sadari dibelakangnya pepohonan itu mengikuti dibelakangnya.


"Benar pikiranku sudah benar-benar gila kali ini. Apakah karena kutukan yang menimpa diriku, sehingga pikiranku semakin gila. Bagaimana caranya pohon-pohon itu terus berada didekatku.


Tanpa dia sadar pikirannya justru sedang memikirkan segala hal yang berhubungan dengan masa lalunya. Semua orang-orang yang dia kenal telah meninggalkan dirinya. Tidak ada satupun yang dia kenal pada masa mudanya ada yang hidup.


Rasa empati kepada orang lain juga hampir bisa dikatakan hilang. Hal itulah yang membuat dia tidak memperdulikan kedatangan orang-orang yang meminta pengobatan kepadanya.


Walaupun reputasinya sebagai ahli pengobatan sangat terkenal dan terbukti kemanjurannya. Dia akan menolong mereka jika pikirannya sedang enak, jika tidak jangankan bertemu melihat kediamannya saja mereka tidak akan sanggup.


Dia tidak mengetahui alasannya apa, tetapi semua itu ada hubungannya dengan pemuda yang akan dia angkat menjadi murid. Dewa Obat juga tidak memahami seorang siluman yang dulunya akan menghancurkan dunia bisa ditundukan olehnya.


Tetapi selain dari pada itu, baik paras dan kekuatan yang diperlihatkan pemuda itu semakin membuat Dewa Obat merasa yakin mengenalnya sebagai sosok lain dari masa lalunya.


Salah satu putra dari lawan beratnya di masa lalu. Bahkan ayahnya sekaligus gurunya menjadikannya sebagai pendekar terkuat pilih tanding tanpa ada lawan yang mampu mengalahkannya.


Walaupun tindakan ayahnya itu membuat dirinya iri, seakan dirinya dinomor duakan. Tetapi dia menyadari apa yang dilakukan ayahandanya adalah karena terikat pada sebuah sumpahnya yang akan menjadikan muridnya itu pendekar tak terkalahkan.


Terutama dalam hal ilmu memanah ayah dari sosok yang mirip dengan Suro dalam ingatannya itu adalah seperti dirnya juga yang ahli memanah. Walaupun dia sebenarnya tidak kalah dibandingkan dengan murid ayahandanya dari segi ilmu memanah.


Sraaat!


Kraak! Kraak!


Graup! Graup!


"Huwaaa...ternyata bukan pikiranku yang gila, tetapi alam ini tidak waras! Bagaimana ada pohon bisa berjalan!"


Di saat pikirannya sedang melayang-layang ke masa lalunya, mendadak pepohonan yang kembali berada didekatnya, mendadak bergerak dan mulai menyerang dirinya.


Kuncup bunga yang sejak awal seperti kepala naga yang siap menangkap mangsanya, kini bergerak hendak melahap tubuhnya.


Tentu saja dia kaget bukan kepalang yang dia lakukan adalah melesat terbang ke atas. Dia lalu memanggil Astra miliknya. Dia segera menyadari jika dirinya telah dijebak oleh siluman elang.


"Siluman elang! Kau mencari musuh yang salah! Ilmu picisanmu ini tidak akan mampu membunuhku!"


"Jika ini adalah dunia dimana kau berasal, maka akan aku hancurkan sehingga kau tidak punya kampung untuk kembali pulang!"


Dia segera merentangkan gandewa Wijaya yang dia panggil. Busur yang dia gunakan kali ini bukanlah anak panah chakra. Tetapi sesuatu yang lebih mengerikan.


Tempat itu menjadi teraang benderang disebabkan kilat petir yang menyelimuti ujung anak panah yang siap dia Lesatkan.


Dia saat itulah dia segera menyadari satu hal tentang alam yang dia kini berada. Sebab segala hal yang ada semuanya seperti monster.


Pepohonan yang berada di kejauhan bergerak mendatangi dirinya. Beberapa makhluk bersayap yang berada di kejauhan juga terlihat melesat ke arahnya.


Bahkan tanah-tanah tepat dibawahnya menyeruak muncul sesuatu yang bergerak seperti ular raksasa. Dia segera menyadari semua itu adalah akar pepohonan yang hendak melilit dirinya.


Beruntung dia berada ditempat yang cukup tinggi, sehingga ada waktu bagi dirinya untuk menghindari belitan yang mungkin saja akan mampu mengurung dirinya.


"Brahmastra!"


"Hancurlah!"


Duuuum!


Duuuum!


Duuuum!


Ledakan berturut-turut menghajar semua keanehan alam yang mengitarinya. Dia melesatkan Brahmastra berkali-kali.


Bahkan ditempat yang berada di kejauhan sekalipun tidak luput dari serangannya. Dia tidak memperdulikan tenaga dalamnya telah terkuras disebabkan kekuatan besar yang telah dia gunakan.


Dia menelan pill tujuh nirwana untuk memulihkan tenaga dalamnya dengan cepat. Kebakaran melanda di seluruh penjuru, tetapi dia tidak memperdulikannya.


Sebab tempatnya dia berdiri berada diatas udara, sehingga cukup aman dari kebakaran yang melanda.


Dengan itu juga pandangannya mampu menjangkau tempat yang cukup jauh. Hampir seluruh tempat yang dia lihat dipenuhi api, akibat serangan Brahmastra miliknya.