SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 183 Bhuta Kala part 4



Suro terlihat tersenyum setelah mendengar perkataan Lodra. Pandangannya beralih ke arah Dewa Rencong yang kembali berteriak ke arahnya. Dewa Rencong terlihat begitu cemas melihat Suro yang tetap terdiam setelah tubuh Bhuta kala benar-benar musnah.


Dia khawatir jika kejadian seperti waktu dia pertama kali menyerap kekuatan siluman terulang kembali. Apalagi kekuatan Bhuta kala lebih gelap dibandingkan dengan milik para siluman.


"Bocah gila! Jangan membuatku khawatir! Apakah kondisimu baik-baik saja!" Dewa Rencong kali ini berteriak cukup kencang sehingga Dewa Pedang dan Dewi Anggini terbangun dari semadhinya.


Dewa Rencong yang berganti peran dengan Suro untuk menjaga dua pendekar yang bersemadhi, membuat dia tidak bisa mendekat ke arah Suro.


"Apa yang telah terjadi kakang?" Dewa Pedang yang baru saja bangun terkejut dengan suasana alam sekitarnya. Sebab seluruh pepohonan yang ada didepan matanya sampai cukup jauh telah tumbang semua, seperti ada raksasa yang telah mengamuk.


"Panjang ceritanya adimas, tetapi yang jelas tanpa sengaja kita turun di hutan Gondo Mayit, tempat dimana jurang neraka berada." Dewa Rencong mencoba menjelaskan sesingkat mungkin atas situasi yang sedang mereka hadapi.


Dewa Rencong menoleh sebentar ke arah Dewa Pedang, kembali tatapannya menuju tubuh Suro yang berada di kejauhan.


Dewa Pedang yang melihat Dewi Anggini terlihat belum pulih akibat beberapa sambaran petir yang mengenainya, menyuruh dia untuk melanjutkan kembali proses pemulihannya. Meskipun medan energi yang melindungi tubuhnya tidak sampai membuat tubuhnya terbakar, tetapi kekuatan alam itu terlalu kuat menghantam tubuhnya.


"Bocah gila apa kau baik-baik saja? Aku akan menyusulmu!" Kembali Dewa Rencong berteriak dengan begitu keras ke arah Suro.


Dewa Pedang segera menyadari, jika Suro tidak sedang bersama mereka. Dia terlihat agak kebingungan sebab Suro berada cukup jauh dari mereka. Dewa Pedang melihat Suro berdiri mematung ditengah pepohonan yang tumbang. Dan kini hutan disekitaran tempatnya berdiri, terlihat begitu lapang.


"Tidak usah khawatir paman! Aku baik-baik saja, tidak usah menyusul!" Terdengar suara Suro menjawab dari kejauhan.


"Apa yang dilakukan nakmas Suro disana ditengah hujan sederas ini?" Dewa Pedang bertanya dengan wajah terlihat kebingungan belum mampu memahami situasi.


"Kita baru saja diserang Bhuta kala, bocah gila itu akhirnya berhasil menghabisi makhluk yang tidak mampu dimusnahkan itu!"


"Bhuta kala? Aku tidak menyangka tentang desas-desus tentang hutan Gondo Mayit ini ternyata benar! Lalu bagaimana ceritanya nakmas Suro mampu menghabisi makhkuk yang konon katanya tidak bisa mati itu?"


"Cerita itu memang benar, kekuatan langitku pun tidak ada gunanya jika berhadapan dengan Bhuta kala. Bocah gila itu menghabisinya dengan cara yang sama saat dia menghisap habis kekuatan para siluman." Dewa Rencong masih menatap Suro di kejauhan. Hujan yang turun cukup deras tidak dipedulikan oleh Suro, dia masih berdiri mematung disana.


"Ilmu tenaga dalam empat sage, ternyata lebih mengerikan dari pada yang aku pahami, untung selama ini tidak banyak yang menguasai, hanya nakmas Suro dan eyang Sindurogo. Ilmu itu akan sangat berbahaya jika disalah gunakan." Dewa Pedang berbicara sambil ikut memperhatikan seluruh bagian hutan yang hancur.


"Memang seberapa besar wujud Bhuta kala yang kakang hadapi?" Dewa Pedang bertanya ke arah Dewa Rencong dengan tatapan penuh penasaran


Sebelum Dewa Rencong menjawab pertanyaan Dewa Pedang, sebuah teriakan keras terdengar. Suara itu berasal dari teriakan Suro yang berada cukup jauh dari mereka. Secara serentak mereka berdua segera menoleh ke arah datangnya suara.


"Awas paman, dari arah belakang di balik pohon beringin, dua Bhuta kala telah muncul!" Suro berteriak keras ke arah Dewa Rencong dan Dewa Pedang.


Ternyata Suro masih tidak segera beranjak dari tempatnya berdiri, selain sedang berbicara dengan Lodra, dia juga sedang mencoba merasakan getaran tanah di sekitaran tempat dia berdiri.


Setelah menyadari datangnya Bhuta kala, dia kembali menaiki bilah pedang miliknya. Dia langsung melesat melewati pohon beringin besar yang menjadi tempat mereka berteduh.


"Adimas ingin melihat wujud Bhuta kala?Silahkan bantu bocah gemblung itu, biar aku yang menjaga Dewi Anggini. Agaknya aku juga harus memulihkan kekuatanku. Pertarunganku dengan Bhuta kala barusan, telah menguras banyak tenaga dalamku." Dewa Rencong lalu bersila dan mulai mengatur pernafasannya. Dia hendak memulihkan kekuatan tenaga dalamnya yang terpakai cukup banyak.


Dewa Pedang masih menatap Dewa Rencong yang mulai menghimpun tenaga dalamnya. Kemudian dia berubah menjadi begitu waspada, sebab sebuah suara kini terdengar cukup keras dari balik pohon beringin tempat dia berteduh.


Duum...! Duuum...! Duuuum...! Duuuuum...!


Seperti perkataan Suro, suara hentakan dan getaran tanah semakin lama terdengar semakin keras, pertanda makhluk yang disebut Suro barusan, sudah sedemikian dekat.


Dewa Pedang segera melesat naik keatas menerobos diantara cabang-cabang pohon beringin. Setelah berada dipuncak pohon, segera dia menyaksikan sendiri, seberapa besar makhluk bernama Bhuta kala yang diceritakan Dewa Rencong barusan.


Dia melihat dua makhluk hitam gelap, begitu gelapnya makhluk itu dari jauh hanya terlihat seperti bayangan. Tubuhnya setinggi lebih dari dua tombak atau setara dengan lima kali tinggi lelaki dewasa.


Mereka juga memiliki dua kaki dan dua tangan. Rambutnya terlalu gimbal hampir mirip bulu seekor domba, tetapi memanjang lebih dari sepinggang. Sesuatu yang paling mencolok adalah bentuk matanya yang sangat besar seperti mata seekor tarsius atau burung hantu, dengan warna merah menyala.


Dua makhluk raksasa itu terlihat berebut hendak menangkap Suro. Tindakan dua raksasa yang terlihat mengerikan itu justru terlihat sangat lucu. Mungkin benar perkataan Dewa Rencong, jika Bhuta kala akalnya setara dengan seekor cacing tanah.


Entah apa maksud dari perkataan Dewa Rencong? Sebab seekor cacing tidak memiliki akal walaupun memiliki otak.


Duuum...! Duuum...!


Dua Bhuta kala itu meloncat-loncat tinggi hendak menangkap tubuh Suro. Meskipun loncatan raksasa itu cukup tinggi, tetapi mereka kurang tangkas untuk menangkap pemuda yang terbang berseliweran diatas kepala mereka.


"Biar aku bantu nakmas!" Teriakan Dewa Pedang hendak mengawali serangannya. Serangan yang akan dia kerahkan itu menyasar pada bagian bawah dari dua Bhuta kala.


Sejak keberangkatannya, Dewa Pedang berpenampilan agak berbeda dari biasanya. Sebab selain membawa pedang miliknya yang dikenal sebagai Pedang Naga Langit, dia juga membawa serta pedang lain yang menggantung dipundaknya.


Sarung pedang yang menggantung dipundaknya cukup besar, sehingga pantas disebut kotak pedang. Sarung pedang itu mengingatkan penampilan Mahesa yang memiliki jurus tujuh pedang terbang.


Dia sengaja akan menjajal jurus sepuluh pedang terbang untuk menghadapi lawan yang menunggu di dimensi dunia lain. Tetapi ternyata dia akan menggunakan lebih cepat dari yang dia kira. Sebab dia akan menjajal jurus itu sekarang. Sasarannya tentu saja dua raksasa dihadapannya.


"Berikan serangan yang mampu membuka celah bagi Suro untuk menancapkan pedangku paman!" Suro setelah melihat Dewa Pedang telah datang, dia segera menggunakan kesempatan itu untuk meminta bantuan.


Suro hanya bisa membuat serangan jarak dekat, sebab pedang satu-satunya yang akan digunakan menampung kekuatan Bhuta kala telah digunakan untuk terbang. Kondisi itu membuat Suro tidak bisa mengerahkan jurus, seperti yang digunakan Dewa Pedang.


Dia ingin mengulang keberhasilannya seperti serangan sebelumnya yang berhasil menghabisi Bhuta kala. Karena itulah dia terbang berseliweran diatas tubuh dua raksasa itu, agar bisa menancapkan pedangnya langsung ke ubun-ubun salah satu raksasa itu.


"Baik!" Dewa Pedang segera menanggapi permintaan Suro barusan.


Sepuluh pedang miliknya segera dia kerahkan. Bilah pedang itu langsung melesat dengan cepat keluar dari sarungnya. Kemudian menghajar dua tubuh raksasa yang masih sibuk berloncatan hendak menangkap tubuh Suro.


Serangan Dewa Pedang yang dilambari kekuatan tingkat langit langsung membabat kedua tubuh raksasa. Walaupun dalam sekejap telah pulih, tetapi serangan itu memberikan peluang bagi Suro untuk menancapkan pedangnya.


"Paman guru beri waktu bagi diriku untuk menghabisi Bhuta kala yang satu ini! Buat sibuk yang satunya!"


Sebelum Dewa Pedang menjawab, raksasa yang tidak tertancap pedang Suro justru telah mengendus kekuatan tingkat langit miliknya.


"Wohahahaha...! Ada manusia lain yang lebih nikmat rupanya!" Bhuta kala itu langsung mengejar Dewa Pedang.


"Serahkan satu ini padaku nakmas! Segera habisi yang menjadi bagianmu!" Kali ini Dewa Pedang mengerahkan jurus sejuta tebasan pedang untuk mencincang makhluk itu.


Sebelum Bhuta kala itu mendekat, serangan Dewa Pedang telah mencincang seluruh tubuh Bhuta kala. Kehancuran serangan Dewa Pedang itu hanya menghentikan langkah Bhuta kala sejenak. Sebab makhluk itu kembali pulih dalam sekejap dan kembali berlari ke arah Dewa Pedang.


Melihat musuh yang kembali pulih secepat itu, membuat Dewa Pedang harus mundur agak jauh terlebih dahulu. Beberapa kali dia harus kembali lagi mengerahkan serangan susulan untuk menghentikan langkah Bhuta kala.


Dewa Pedang terus mengerahkan jurus yang sama untuk menghentikan gerakan lawan, sampai Suro berhasil menghabisi Bhuta kala yang satunya. Setelah berhasil menghabisi satu raksasa Suro melesat menghampiri pertarungan Dewa Pedang.


Kemudian pada saat yang tepat, setelah Dewa Pedang mengerahkan serangan yang menghancurkan tubuh Bhuta kala, Suro berhasil menyusup untuk menancapkan bilah pedangnya ke tubuh raksasa itu.


Meskipun kepalanya telah tertancap sebilah pedang, tetapi kondisi itu tidak mengurungkan niatnya untuk kembali mengejar Dewa Pedang.


"Serahkan sisanya pada Suro paman guru!" Suro berteriak dari atas kepala raksasa sambil beberapa kali menghindari tepukan kedua tangan Bhuta kala.


Mendengar teriakan Suro barusan Dewa Pedang menghentikan serangannya. Dari jarak lebih dari lima tombak Dewa Pedang melihat bagaimana raksasa itu dengan begitu cepat dapat terhisap amblas masuk ke dalam bilah pedang milik Suro.


Dewa Pedang sampai mengusap matanya berkali-kali melihat betapa kuatnya bilah pedang itu memusnahkan tubuh raksasa.


"Edan setiap kali aku melihat nakmas Suro mengerahkan potensi kekuatan pedang milik Pedang iblis itu, selalu membuat aku terkesima. Aku sangat beruntung sekali, andai saja Pedang iblis waktu itu sudah mampu menguasai setengah dari yang diperlihatkan nakmas Suro, tentu aku sudah mati."


"Bagaimana dia mampu mencapai penguasaan pedang melewati jagoan sekelas Pedang iblis sekalipun? Ini terasa sangat tidak masuk akal! Tetapi menurut perkataan nakmas, jika penguasaan pedangnya mampu begitu dahsyat, semata-mata karena campur tangan jiwa yang menjadi penguasa pedang itu!"


Dua Bhuta kala itu akhirnya dapat dihabisi semua oleh Suro tanpa menyisahkan satu helai rambut ditubuhnya. Tubuh Bhuta Kala mampu dihisap habis dengan sempurna, karena hakekatnya mereka hanyalah sebentuk energi kegelapan.


"Akhirnya selesai sudah mereka berhasil kita habisi paman. Sebaiknya kita secepatnya pergi dari hutan ini. Sebab makhluk yang sejenis dengan Bhuta kala mulai berdatangan dengan jumlah yang lebih banyak." Suro berjalan mendekat ke arah Dewa Pedang setelah berhasil menghabisi Bhuta kala yang terakhir.


"Paman guru, ingat tidak jika kekuatan Bhuta kala ini sangat mirip dengan makhluk yang kita temui di dimensi lain waktu itu?"


Dewa Pedang begitu mendengar perkataan Suro segera mengingat-ingat kejadian yang cukup lama itu.


"Benar juga nakmas. Aku baru ingat sekarang, iya benar. Sekuat apapun serangan yang aku kerahkan tidak mampu menghabisi makhluk itu. Sama seperti kejadian waktu itu "


Setelah menghabisi dua Bhuta kala barusan, Dewa Pedang segera mengajak ke arah Dewa Rencong dan Dewi Anggini yang meneruskan kembali semadhinya.


Agaknya luka yang diderita Dewi Anggini lebih berat dari yang diderita Dewa Pedang. Sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.