
Medusa yang menatap erat tubuh Suro yang terlempar, dia terkejut saat melihat sebuah zirah perang sudah membalut hampir sekujur tubuhnya. Karena zirah perang yang dipakai oleh Suro sebelumnya hanya menutupi bagian dada dan punggungnya saja.
"Bocah ini, pantas saja pedangku tidak mampu menebas tubuhnya. Ternyata sebuah perisai yang tidak terlihat sedang melindungi seluruh bagian tubuhnya."
"Tunggu sebentar...astaga kenapa aku begitu bodoh tidak menyadari sedari tadi! Tidak salah lagi itu... jadi...jadi selama ini...setan alas! Tidak mungkin bocah itu mampu menahan tebasan pedangku kecuali zirah perang yang dia gunakan memiliki kekuatan sekelas pusaka Dewa! Jadi selama ini senjata Dewa yang jatuh di hutan Gunung Salaka(sekarang gunung itu lebih dikenal dengan nama Semeru) disembunyikan oleh si setan Sindurogo! Setan alas!"
Walaupun Medusa sejak awal terlihat kagum dengan bentuk zirah yang dipakai Suro untuk melindungi bagian dada dan punggungnya, tetapi dia tidak menyangka sama sekali jika zirah itu adalah sebuah pusaka Dewa. Dia baru menyadari setelah zirah itu melindungi tubuh Suro dari kobaran api akibat kilat petir yang menghantamnya.
"Bodohnya diriku! Bagaimana aku tidak menyadari sedari tadi jika zirah yang dipakai bocah itu adalah kunci dari kemampuannya menahan tebasan pedangku." Suara bergemeletuk terdengar dari gigi Medusa yang beradu akibat menahan marah atas kebodohannya sendiri.
Tetapi dia sudah terlambat menyadari setelah tubuh Suro terlempar dengan begitu keras terhantam jurus ajian gelap ngampar miliknya. Kilat petir itu langsung membakar tubuh dan pakaian Suro. Begitu api itu telah berkobar sebuah zirah langsung melindunginya.
Dia baru menyadarinya saat api itu telah membakar habis pakaian Suro. Sebab setelah api itu terbang bersama sisa pakaian Suro yang terbakar, hampir seluruh tubuh Suro telah terlindung oleh sebuah zirah perang berwarna keemasan.
Pertarungan antara Suro dan Medusa menjadi pertarungan yang menjadi perhatian seluruh orang. Bahkan sebagian sampai menghentikan pertarungan mereka karena penasaran dengan yang dilakukan pada Medusa. Selain itu baru kali ini ada yang tetap hidup, setelah dihantam sinar dari kedua mata Medusa.
Melihat harta karun terbesar dibuang begitu saja membuat Medusa hanya bisa meruntuk kesal. Kesempatan kedua untuk mendapatkan pusaka Dewa sepertinya sulit dilakukan. Sebab saat ini seorang pendekar pedang terkuat dibelahan Benua Timur sudah bersama Suro.
Dewa Pedang yang baru saja datang dan menangkap tubuh Suro bukan lawan yang mudah untuk dihadapi. Bahkan serangan awal yang dia buat telah menghancurkan barisan pasukan manusia dan siluman hanya dalam satu serangannya.
"Kemana Pedang iblis? Apakah benar perkataan bocah itu barusan, bahwa Pedang iblis telah dikalahkan oleh Dewa Pedang?" Medusa yang melihat penampakan pendekar pedang terkuat di Benua Timur, membuat dia sangat terkejut. Karena itu pertanda musuh yang menghadapinya kemungkinan besar memang telah dikalahkannya.
Medusa setelah memperhatikan lebih jelas dibelakang Dewa Pedang ada seorang pendekar lain lagi yang segera dia kenali. Dia adalah seorang pendekar yang tidak kalah menakutkannya. Dan kekuatannya juga mendekati tingkat yang telah dicapai Dewa Pedang. Dia adalah pendekar terkuat di Swarnabhumi, yaitu Dewa Rencong. Dibelakang mereka berdua seluruh Pasukan Kalingga juga telah berdatangan.
"Kalian para pasukanku dan juga para siluman serang pasukan Kerajaan Kalingga tumpas habis jangan sisakan satupun!"
Seluruh pasukan cadangan yang berada digaris belakang beserta ribuan siluman segera melesat menyerbu ke arah pasukan Kerajaan Kalingga. Siluman itu begitu banyaknya membuat lesatan asap itu seakan terjangan wedus gembel dari letusan gunung Merapi.
**
"Kakang aku titipkan nakmas Suro padamu." Dewa Pedang segera menyerahkan tubuh Suro yang masih terbujur kaku kepada Dewa Rencong. Dia hendak menghadapi pasukan musuh yang sudah bergerak menuju tempatnya berdiri.
Meskipun pada serangan sebelumnya Dewa Pedang telah membuat kehancuran pasukan Medusa, tetapi kali ini para siluman yang seakan tak ada habisnya kembali hendak menyerang ke arahnya.
"Sejak kapan dia memakai pakaian perang ini adimas?" Dewa Rencong menatap penampilan Suro yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Benar juga kenapa aku tidak menyadarinya sedari tadi?" Dewa Pedang yang hendak menyongsong kedatangan pasukan musuh menghentikan langkahnya. Dia kembali mengamati sekujur tubuh Suro yang masih terbujur kaku dan tak sadarkan diri itu.
"Pakaian perang ini mirip sekali yang dipakai para Raja besar dari negeri Bharata. Tetapi pakaian ini terlalu mewah meskipun itu adalah para raja sekalipun. Apakah adimas tidak melihat keanehan dari bentuk pakaian yang dipakai nakmas Suro?" Dewa Rencong menatap Dewa Pedang yang masih terkejut tidak menyadari hal yang begitu ganjil.
"Jangan-jangan?" Dewa Pedang balik menatap Dewa Rencong lekat. Dewa Rencong yang di tatap memberikan anggukan kepala seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan Dewa Pedang.
"Benar ini adalah wujud pusaka Dewa yang kalian perebutkan lebih dari sepuluh tahun yang lalu." Dewa Rencong mengeleng-gelengkan kepala melihat tubuh Suro yang terbalut pakaian perang yang begitu megah.
"Mengagumkan sekali bentuk pusaka Dewa ini. Ternyata selama ini Eyang Sindurogo yang telah menyimpannya. Lalu bagaimana caranya Eyang Sindurogo mampu menyembunyikan pusaka Dewa ini dalam tubuh nakmas Suro?" Dewa Pedang masih menatap lekat ke tubuh Suro. Dia masih tidak bisa mempercayai jika muridnya itu ternyata selama ini memakai sebuah pusaka kelas Dewa.
Dewa Pedang yang telah bersama dengan Suro cukup lama, tidak merasakan sama sekali keberadaan pusaka Dewa itu. Bahkan dia juga baru pertama kali ini melihatnya.
Dia masih mengingat saat pertempuran melawan Naga Raksasa yang begitu mengerikan, justru seharusnya pada waktu itu zirah perang ini memperlihatkan wujudnya untuk memberi perlindungan kepada Suro. Sebab pada saat itu musuhnya lebih mengerikan dibandingkan musuhnya yang sekarang, yaitu hanya seorang Medusa.
Dewa Rencong yang mendapatkan pertanyaan dari Dewa Pedang hanya mengangkat bahunya seakan memberi jawaban bahwa dia juga tidak mengetahuinya.
"Tanyakan saja langsung kepada nakmas Suro jika nanti dia telah sadar. Lihatlah tubuhnya ini, agaknya baru saja terkena serangan dari mata Medusa. Kulitnya menjadi keras dan seluruh tubuhnya kaku seperti patung. Baru kali ini aku melihat orang yang terkena serangan mata Medusa tetapi tidak membuatnya menjadi batu."
"Walaupun kulitnya menjadi keras, tetapi denyut nadinya normal. Aku yakin dia akan baik-baik saja setelah dia siuman. Dia pingsan karena hantaman petir dari ajian Gelap ngampar milik Medusa. Bocah ini selalu saja membuat kejutan yang membuatku terkagum-kagum?" Dewa Rencong segera membantu Suro dengan mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Suro.
Dewa Pedang setelah mendengar perkataan Dewa Rencong hatinya telah tenang. Dia segera maju ke depan menyongsong pasukan musuh yang datang berduyun-duyun seperti banjir bandang.
Pendekar pedang itu langsung mengamuk sendirian digaris terdepan. Musuhnya yang berjumlah begitu banyak tidak mampu menahan gelar jurus pedangnya yang dilambari kekuatan puncaknya.
Berkat bantuan obat Suro kini tenaga dalamnya yang sebelumnya telah terkuras habis telah pulih seperti sedia kala. Sehingga dengan itu dia dapat menyerang dengan serangan terdahsyatnya.
Lawan yang ada dihadapannya tentu saja bukanlah lawan yang bisa mengimbanginya. Bahkan para siluman yang mendekatinya juga langsung mati tertebas oleh pedang cahaya tahap api putih miliknya.
Seakan harimau yang sedang mengamuk dia menghancurkan ribuan pasukan medusa dengan begitu mengerikan. Jika para siluman yang terus berdatangan dalam jumlah yang sangat besar tidak ikut menyerang pasti tidak akan ada yang sanggub menghentikannya.
"Para raja siluman hadapi Dewa Pedang!" Melihat Dewa Pedang menghancurkan barisan pasukan miliknya, Medusa segera membuat keputusan cepat agar bisa menghentikan amukan Dewa Pedang.
Mendengar perintah Medusa terlihat lesatan asap yang begitu besar muncul dari belahan awan hitam dilangit. Lesatan asap yang begitu banyak langsung berubah wujud menjadi para siluman yang bentuknya berbeda-beda. Kali siluman yang datang memiliki kekuatan yang tidak bisa dibandingkan dengan para siluman yang dengan mudah dibantai oleh Dewa Pedang.
Mereka segera mengeroyok Dewa Pedang. Mereka para Raja siluman memang pada tingkat yang sangat jauh dari para siluman yang sebelumnya. Bahkan Dewa Pedang sekalipun akhirnya dapat dibuat kewalahan.