SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 153 Rahasia dibalik Pedang Kristal Dewa



"Kalian sudah terlambat!" Suara Lodra menggelegar bersama terjangan serangan miliknya yang meluncur dengan begitu cepat.


Api hitam yang berbentuk burung raksasa menghantam seluruh barisan Perguruan Racun Neraka.


"Selamatkan nyawa kalian! Cepat menyingkir!" Tohlangkir berteriak sekerasnya, karena tidak akan ada gunanya mereka menahan serangan yang begitu mengerikan.


Tetapi teriakan Tohlangkir yang menyuruh semua orang untuk menyelamatkan diri telah tenggelam oleh teriakan orang-orang yang terbakar.


"Makhluk apa sebenarnya kau ini, bocah tengik?" Suara Tohlangkir masih terdengar untuk terakhir kali saat dirinya menghadang kedatangan serangan yang hendak meluluh lantakkan hampir seluruh Perguruan Racun Neraka. Serangan berupa pukulan terkuat miliknya tidak berarti sama sekali untuk menghentikan serangan Lodra.


Tidak banyak yang mampu selamat dari serangan kali ini. Anggota perguruan yang mampu selamat termasuk didalamnya, adalah yang justru berlindung di sisi utara dari perguruan itu.


Lodra melakukan dengan sengaja untuk tidak menyentuh bagian itu. Meskipun beberapa anggota perguruan berlarian ke arah sisi utara. Karena sebelumnya Suro sudah menyinggung tentang keberadaan para tahanan disana. Para tahanan itu kebanyakan wanita dan anak-anak. Meski ada beberapa lelaki di ruangan berbeda yang ikut menjadi tahanan.


Dengan mereka berlindung di bagian sisi utara justru membuat mereka semua selamat dari pembantaian yang dilakukan Lodra.


**


Lodra setelah melakukan serangan barusan, langsung meluncur terus naik keatas menembus awan. Kini tak ada lagi yang mampu menyerang Suro ditempat yang begitu tinggi.


Tubuh Suro terbaring diatas bilah Pedang Kristal Dewa. Sedangkan kakinya menjuntai kebawah, hanya tulang ekor sampai sebagian kepala yang seakan terpatri dibilah pedang yang begitu bening.


Lodra sengaja membaringkan Suro dengan posisi seperti itu, karena itu merupakan bagian dari cara dirinya mencoba mengobati tubuh Suro yang sedang keracunan. Lodra harus melakukan secepatnya sebelum terlambat. Karena jika tidak, maka nyawa Suro yang bakal menjadi taruhannya.


Beruntung Hyang Kavacha yang telah menyatu dengan raga Suro, mampu menahan racun yang telah terlanjur masuk, sehingga tidak membuat racun tersebut menyebar lebih jauh.


Dengan peran Hyang Kavacha itu, organ dalam Suro terselamatkan untuk sementara waktu. Minimal telah memberikan waktu bagi Lodra untuk menyembuhkannya.


Cara mengobati racun yang begitu mematikan dengan cara seperti yang dilakukan Lodra terbilang sangat unik. Karena itu memang terkait dengan kemampuan khusus yang dimiliki Pedang Kristal Dewa. Bilah pedang itu memiliki rahasia yang tidak ada yang mengetahuinya selama ini.


Selain mampu memancarkan kekuatan api hitam, pedang itu juga ampuh menetralisir segala macam racun.


Cerita dibalik nama lain dari api hitam milik Lodra disebut racun api bukanlah tanpa sebab. Karena nama itu diambil dari kekuatan api Wisanggeni. Nama yang berarti racun api itu, terlahir dari akibat kemarahan Batara Brahma. Dewa penguasa api dan juga menguasai segala upas atau bisa dan juga segala macam racun.


Meskipun Wisanggeni merupakan cucu dari Batara Brahma, tetapi Dewa Penguasa api tidak menghendaki cucunya terlahir kedunia.


Segala daya dan upaya dilakukan untuk menghabisi cucunya. Sudah tidak terhitung berapa banyak pusaka Dewa yang telah dihujamkan ke tubuh jabang bayi. Tetapi justru tubuh jabang bayi seakan menyerap seluruh kekuatan pusaka dewa, sehingga tubuh bayi itu tumbuh semakin kuat.


Bahkan Batara Brahma sendiri sempat menggigit leher jabang bayi itu sambil mengeluarkan racun yang tidak terhitung banyaknya. Semua itu adalah racun yang benar-benar mematikan.


Dia berharap jabang bayi itu akan segera mati dengan racun yang dia kerahkan. Tetapi Jabang bayi itu tetap hidup. Justru dengan usaha yang dia lakukan itu, membuat bayi Wisanggeni menjadi kebal terhadap segala racun dan segala senjata.


Kemudian Batara Brahma memutuskan untuk menceburkannya kedalam kawah Candradimuka. Tetapi api itu pun tidak berhasil membunuh si jabang bayi.


Justru kembali, bayi Wisanggeni menyerap kekuatan panas kawah Condrodimuka dan membuatnya tumbuh dengan begitu cepat. Dalam sekejab telah merubahnya menjadi seorang pemuda belia. Dalam cerita itu disebutkan, Wisanggeni mampu selamat karena perlindungan dari Sang Hyang Wenang.


Tetapi ada kisah lain yang menceritakan bahwa jabang bayi itu dibuang kelautan dan ditolong oleh Batara Baruna penguasa lautan dan juga Sang Hyang Anantaboga yang membesarkan dan juga mengajarinya dengan segala kesaktian.


Tetapi intinya dengan kondisi itu justru telah membuat Wisanggeni tidak dapat dikalahkan oleh para dewa sekalipun. Tidak ada senjata yang mampu mengores kulitnya. Tidak ada racun yang mampu membunuhnya.


Bahkan saat dirinya mengamuk di khayangan Jonggring saloka dan dikeroyok pasukan dewa sekalipun, tidak ada yang mampu menangkap apalagi menaklukkannya. Karena selain kesaktian yang dimilikinya, Sang Hyang Wenang ikut melindunginya. Sehingga dengan perlindungan dari leluhur dari para dewa, membuat pasukan dewa sekalipun tidak sanggub mengalahkan Wisanggeni.


Totalitasnya dalam menjunjung kebenaran pada akhirnya justru menyebabkan dirinya dibenci baik dari pihak para dewa maupun para raksasa.


Pilihan hidup itu akhirnya membawa takdir yang memaksa dirinya harus moksa lenyap dari dunia. Setelah mendapatkan perintah dari Sri Kresna dan juga kehendak Sang Hyang Wenang.


Pada Pedang Kristal Dewa bersemayam inti kekuatan wisanggeni, Jiwa dari Lodralah yang diberikan kepercayaan oleh Wisanggeni untuk menjaga agar kekuatannya tidak mudah disalah gunakan untuk keangkaramurkaan.


Karena alasan itulah mengapa dulu Pedang iblis tidak mampu mengerahkan api hitam sekuat Suro. Karena memang Lodra tidak membiarkan hal itu terjadi. Pedang iblis mampu menguasai kekuatan bilah pedang itu, kecuali hanya dalam jumlah yang sedikit.


Dari dalam bilah pedang itulah Lodra membuka inti kekuatan Wisanggeni untuk menyerap racun didalam tubuh Suro. Kekuatan itu menyelubungi tubuh Suro dan mulai menetralkan racun yang telah masuk kedalam tubuhnya.


"Dimana diriku?" Suro mulai siuman setelah racun didalam tubuhnya berhasil dibersihkan.


"Aku mengira sudah mati, racun itu begitu kuat?" Suro mengurut-urut kedua keningnya. Kepalanya masih terasa sedikit pusing.


'Aku tidak akan membiarkan dirimu mati semudah itu bocah!' Suara Lodra yang agung membuat kesadaran Suro langsung kembali sepenuhnya. Sebab setelah itu ocehan Lodra tidak berhenti.


'Bagaimana racun dalam tubuhku ini mampu keluar. Apakah Lodra yang agung telah menolongku?" Suro mengingat-ingat kejadian sebelum dia kehilangan kesadarannya.


'Memang siapa yang kau kira bisa menyelamatkanmu berkali-kali, bocah cubluk?' Suara Lodra menyentak disebabkan kekesalannya yang sedari tadi ditahan.


Sebab keputusannya untuk menghabisi musuh justru dicegah Suro. Dengan tindakan itu telah membuat dirinya celaka.


Dua jiwa yang sangat berlainan cara menyikapi permasalahan. Jika Suro yang sedari kecil dididik untuk mengasihi segala makhluk hidup lainnya, maka sangat berlawanan arah dengan Lodra. Sebab jiwa pedang itu meniru cara berpikir tuannya, yaitu Wisanggeni. Dia akan menghabisi siapapun yang dianggapnya salah.


Entah perpaduan seperti apa jadinya dua jiwa yang berbeda prinsip itu.


Suara Lodra yang merepet seperti suara petasan yang berbunyi tanpa henti, membuat Suro mengurut keningnya lebih keras. Kali ini dia tidak membantah satu patah kata pun, karena merasa berhutang nyawa berkali-kali.


'Bocah cubluk aku sedang memberikan wejangan yang penuh kebijakan tinggi, kenapa pikiranmu malah kemana-mana?'


'Nasehat penuh kebijakan tinggi apanya Lodra? Suaramu membuat kepalaku ikut pusing! Suaramu itu mirip wanara sedang berebut pisang.' Kali ini Hyang Kavacha tidak tahan dengan suara Lodra, dia ikut menyela ucapan Lodra.


'Baik Hyang Kavacha.' Suara dari Kavacha terbukti ampuh menghentikan ocehan Lodra. Suara Lodra membalas dengan nada rendah berubah drastis dari sebelum Hyang Kavacha bicara.


'Biarkan tuanku Suro berpikir. Jika tanpa tuanku bilah pedangmu itu juga tidak lebih dari sebuah besi karatan. Jadi tidak perlu mengulang-ulang apa yang telah kau lakukan untuk tuanmu sendiri. Karena itu sudah menjadi kewajibanmu!'


'Baik Hyang Kavacha.' Kali ini suara Lodra tak lagi mengebu-gebu, terdengar lebih pelan dari sebelumnya.


Suro tersenyum lebar mendengar suara dewa penolongnya telah berhasil menghentikan ocehan Lodra. Karena memang hanya dia harapan satu-satunya Suro, agar suara jiwa pedang itu mau berhenti.


''Baiklah, pemuda tampan ini sudah sehat kembali, sebaiknya aku mulai mencari tau mengenai keberadaan Dukun Sesat dari Daha kepada para anggota perguruan yang mungkin saja masih hidup tidak ikut dibantai habis oleh...hem.. ehemmmm..!" Suro tidak melanjutkan ucapannya, karena Lodra sudah bersiap akan melakukan ancang-ancang untuk kembali mendampratnya.


Suro segera meluncur cepat kebawah. Jika dilihat dari ketinggian hampir seluruh perguruan berubah menghitam pertanda telah terbakar habis. Sebagian kecil yang berada di sisi utara terlihat masih tetap berdiri tegak.


"Untunglah, para tahanan itu sepertinya tetap selamat."


'Tentu saja bocah, kau pikir aku yang tidak memiliki wujud kepala, lalu tidak mampu berpikir? Aku masih bisa mengendalikan jurus kemarahan Sang Hyang Garuda. Sehingga tidak melukai para tawanan.'


Suro tertawa mendengar perkataan Lodra barusan. Dia kali ini tidak ingin mensia-siakan waktu dan mulai mempercepat lesatan tubuhnya agar sesegera mungkin sampai dibawah.