
"Apakah eyang guru sudah tidak mengingat diriku?"
Mendengar perkataan Suro menyebut dirinya dengan sebutan eyang guru membuat dahinya mengkerut.
"Eyang guru? Pendekar muda jangan bercanda. Aku tidak memiliki murid yang begitu rupawan sepertimu. Apalagi kekuatan pendekar sudah berada ditingkat langit kemampuan pendekar sungguh luar biasa. Meskipun kemampuan muridku juga sebenarnya luar biasa, tetapi tidak sehebat pendekar muda."
Setelah selesai berbicara eyang Sindurogo mulai menyipitkan mata karena melihat pemuda belia didepannya justru mulai menangis. Merasa tidak enak dia kembali melanjutkan ucapannya.
"Apa ada perkataanku yang menyakitkan pendekar muda? Mengapa justru menangis mendengar pujian yang aku lontarkan?"
"Ini aku eyang, ini aku. Bagaimana eyang guru tidak lagi mengenaliku?" Air mata Suro kali ini banjir membasahi pipinya.
Eyang Sindurogo yang menatap pemandangan mengharukan seperti itu, justru terlihat kebingungan. Walaupun merasa tidak enak hati, tetapi dia juga tidak memahami mengapa pemuda belia yang sudah berada ditingkat langit ini terus memaksa dirinya untuk mempercayai, jika dirinya adalah muridnya.
"Mustahil bagaimana mungkin muridku yang tidak ketulungan dekilnya mengapa menjadi begitu rupawan? Apakah pendekar muda sedang membuat lelucon?"
"Jangan bercanda pendekar muda. Muridku memang sekitar seumuran pendekar muda. Tetapi dia sedang berada di pantai Karang Ampel. Jauh disana di Javadwipa. Jadi bagaimana mungkin sekarang sudah berada disini?"
"Selain itu bagaimana caranya membuat muridku yang setara dengan pendekar tingkat kelas atas dalam sekejap bisa menjadi pendekar tingkat langit. Karena seingatku dia mampu membuka cakra hanya sampai pada chakra ke tiga, yaitu chakra manipura. Jadi hal itu sesuatu yang mustahil."
Eyang Sindurogo sampai disini mulai timbul rasa curiga dengan cara Suro memaksakan dirinya untuk mempercayai perkataannya.
Reaksi kebingungan juga terlihat pada Suro. Dia kali ini menjadi bertambah kebingungan mendengar ucapan eyang Sindurogo yang justru tidak mempercayai dirinya sebagai murid. Dia kali ini menghentikan tangisnya dan mulai menggaruk-garuk kepalanya.
"Sebentar, aku ingat ini. Bagaimana pendekar muda memiliki Mandala Kalacakra milik pak tua?"
"Eyang guru mengenalinya ternyata, benar ini memang Mandala Kalacakra. Suro mendapatkannya dari Sang Hyang Ismaya, yaitu guru dari eyang."
"Tunggu, mengapa dirimu memiliki nama seperti muridku. Jangan-jangan kamu telah membaca batinku?" Kali ini Eyang Sindurogo bangun dari duduknya dan mulai waspada.
"Kalian jangan mendekat! Apakah ini adalah akal-akal kalian yang tidak berhasil mendapatkan ilmu Tapak Dewa Matahari dari pak tua, lalu kalian hendak mencuri ilmu itu dariku? Jangan bermimpi mengenai hal itu. Aku tahu sekarang, kalian ingin mendapatkan ilmu itu dengan cara berpura-pura menjadi muridku? Benar, itu pasti rencana kalian!"
Suro kali ini kebingungan dengan reaksi gurunya yang diluar perkiraannya. Dia menoleh ke arah Naga Tatmala. Tetapi dia hanya mengangkat bahu. Geho sama justru mulai bersamadhi.
Sejak mendapatkan bantuan pencerahan dari Sang Hyang Ismaya makhluk yang sejatinya adalah siluman itu, kini terobsesi untuk membersihkan hati dari gelapnya masa lalu yang dia miliki.
"Muridku memang tidak buruk rupa, tetapi wajahnya tidak akan sebegitu berubah rupawan seperti ini. Selain itu, bagaimana caranya pendekar muda menjelaskan peningkatan kekuatan yang sudah sampai tingkat langit dalam sekejap?" Eyang Sindurogo sudah dalam posisi siap tempur. Melihat itu Suro justru tambah kebingungan, tangannya sibuk menggaruk-garuk kepalanya.
"Mungkin eyang mengira pertempuran di karang Ampel melawan naga raksasa belum lama terjadi? Eyang harus mengetahui jika kejadian itu sudah cukup lama lebih dari satu tahun yang lalu. Jadi bukan sekejap Suro naik tingkat kekuatan tenaga dalamnya."
"Mungkin eyang yang tidak mengingat cerita selanjutnya, setelah terjebak didunia lain yang membuat eyang guru kehilangan kesadaran. Karena telah dikuasai penguasa kegelapan."
"Ceritamu memang masuk akal mengenai peningkatan kekuatanmu sampai tingkat tinggi dengan menggunakan tehnik rahasia milik Dewa pedang, yaitu sembilan putaran langit. Ternyata memang benar, ada tehnik rahasia seperti itu, aku kira itu hanya lelucon Dewa Pedang. Aku cukup kagum dengan tehnik yang kau jelaskan itu. Entah bagaimana cerita sebenarnya, sehingga engkau bisa mempelajari tehnik rahasia tersebut."
"Lalu bagaimana pendekar muda menjelaskan tentang pencapaian tingkat langit ini?"
Suro kemudian kembali menceritakan peningkatan yang dia capai tanpa sengaja. Namun kejadian yang dia alami, jika yang mendengar tidak melihat langsung pasti akan menganggap itu hanya sebagai lelucon. Reaksi itu juga yang diperlihatkan Eyang Sindurogo. Dia justru tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Suro.
"Pendekar muda jangan membuat kepalaku yang masih sakit ini bertambah sakit, karena mendengar cerita yang tidak masuk akal ini."
Kali ini Suro mulai menggaruk-garuk kepalanya dengan dua tangannya. Naga Tatmala justru mulai tertawa melihat tingkah antara guru dan murid yang seperti membuat lawakan. Dia sengaja tidak ikut berbicara, karena itu justru akan semakin membuat eyang Sindurogo tidak percaya.
Suro tidak menyerah untuk membuat gurunya percaya dengan dirinya. Dia kembali bercerita segala hal yang seharusnya hanya diketahui oleh dia dan gurunya saja. Termasuk ketika dia berhasil menyerap isi kitab tanpa aksara.
Setelah Suro selesai bercerita tentang semuanya, dia berharap gurunya akan mempercayai ucapannya. Tetapi selama dia bercerita ada ekspresi aneh yang ditangkap Suro pada wajah gurunya. Kondisi itu membuat Suro semakin penasaran apa yang sebenarnya ingin dikatakan gurunya setelah selesai mendengar cerita kehidupan antara mereka berdua.
"Aku sungguh salut dengan kemampuan pendekar muda. Entah ilmu apa yang pendekar muda ini miliki. Sehingga dapat mengambil seluruh ingatan yang ada dalam kepalaku. Pantas saja kepalaku pusing tujuh keliling setelah sadar."
"Ini pasti akibat dari ilmu yang pendekar kerahkan untuk mencuri ingatanku dengan mengambil paksa tanpa aku ketahui. Aku pernah mendengar cerita siluman bengis yang telah memakan puluhan, bahkan katanya ratusan ribu jiwa siluman dan juga manusia."
"Siluman itu sangat kejam dan ingin menjadi terkuat dan merajai sekaligus menguasai seluruh dunia. Dia menyerap seluruh kekuatan makhluk hidup lain dengan ilmunya empat Sage. Bahkan dia juga menyerap ingatan makhluk yang dia binasahkan itu. Nama siluman itu adalah Geho sama. Kalian pasti ada hubungan dengan siluman itu!"
Kali ini Suro menepuk-nepuk kepalanya berkali-kali. Dia juga menoleh ke arah Geho sama berharap dia tidak membuka mulutnya mendengar namanya disinggung.
Dia tidak memahami bagaimana keras kepalanya gurunya itu, sehingga begitu susah untuk menerima penjelasannya. Sepertinya menjelaskan gurunya untuk mempercayai lebih sulit dibandingkan menaklukkannya.
"Pendekar jangan memfitnahku aku tidak memiliki sihir yang mampu mencuri ingatan. Siluman yang pendekar sebut itu bukan diriku." Geho sama langsung membuka mata dan menyelesaikan samadhinya mendengar namanya disebut.
Suro mendengar perkataan Geho sama yang langsung bangun dari samadhinya rasanya ingin menangis karena kesal. Agaknya urusan lebih runyam lebih rumit untuk diluruskan.
"Memfitnah bagaimana pendekar yang gagah? Aku tidak memfitnah dirimu. Aku menyebut makhluk dalam cerita kuno tidak ada hubungannya dengan dirimu."
Mendengar ucapan eyang Sindurogo wajah Geho sama menjadi bersungut-sungut.
"Geho sama itu adalah aku bagaimana aku tidak tersinggung mendapatkan tuduhanmu yang tidak berdasar itu!"
"Ooooo jadi begitu aku paham sekarang. Sejak awal dugaanku memang tidak salah, karena memang sejak awal aku sudah merasakan aura siluman dari dalam tubuhmu. Perawakanmu memang menyerupai seperti yang digambarkan dalam legenda. Tidak salah memang dirimu adalah siluman Geho sama."
"Aku paham sekarang jadi kalian semua adalah satu komplotan dari siluman yang hendak menghancurkan alam raya ini."
Naga Tatmala mulai tertawa keras melihat betapa susahnya menjelaskan persoalan yang begitu mudah.