SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 336 Racun Pelumpuh Tulang part 3



Setelah menghilang Suro kemudian muncul didekat tempat pertemuan masyarakat yang dipimpin oleh La Tongeq sakti. Tetapi saat mereka sampai, pemandangan yang mereka temukan sangat tidak mereka sangka.


Mayat-mayat bertebaran disekitar depan gedung yang digunakan sebagai tempat pertemuan. Selain itu suara gaduh dan bertemunya senjata yang beradu dari dalam gedung terdengar cukup jelas dari luar.


Mereka segera menyadari serangan pasukan yang diperintahkan La Temmalureng dilakukan dengan cukup brutal. Sebab kebanyakan korban yang bergeletakan adalah justru para penduduk.


Korban yang tergeletak tidak bernyawa semakin bertambah banyak, saat mereka berdua hendak memasuki tempat tersebut. Sebagian justru menumpuk didekat pintu.


Kemungkinan serangan itu terjadi secara mendadak yang tidak sempat disadari oleh para penjaga bawahan dari La Tongeq sakti, maupun oleh para penduduk itu sendiri.


Suro dan Luh Niscita segera bergegas memasuki gedung besar didepan mereka. Pertarungan yang sempat mereka dengar dari luar ternyata melibatkan hampir semua orang yang ada di gedung tersebut.


Para penjaga dan para penduduk terus terdesak oleh serangan pasukan yang jumlahnya cukup sedikit. Sebab secara keseluruhan hanya satu lusin melawan ratusan orang.


"Jangan menuju kesana Niscita! Biar aku yang akan menolong mereka semua. Jaga saja ayam-ayamku jangan sampai kabur! Gawat nanti Gagak sinting itu akan mengomel berhari-hari, karena gagal makan ayam bakar."


Suro menghalangi Luh Niscita untuk membantu para penjaga yang sedang bertarung dengan musuh. Penjaga yang tewas semakin bertambah banyak. Begitu juga para penduduk akhirnya banyak yang ikut menjadi korban.


Meskipun menang banyak, tetapi perbedaan kekuatan dengan lawannya sudah cukup jauh, sehingga pertarungan itu justru terlihat seperti pembantaian.


Lawan yang sedang dihadapi penjaga maupun para penduduk rata-rata sudah berada pada tingkat tinggi. Bahkan ada satu yang sudah berada pada tingkat sakti yang terus membantai penjaga maupun penduduk yang dihadapinya.


Kekuatan pasukan musuh sangat jauh dibandingkan para penjaga yang kebanyakan hanya setara dengan pendekar kelas satu atau kelas atas. Dengan perbedaan kekuatan yang sebegitu jauh, tentu para penjaga tidak dapat menghentikan serangan musuh.


Namun meskipun telah banyak korban yang terus berjatuhan dari pihak penjaga, mereka tidak menyerah dan memilih tetap bertahan. Sebab mereka harus melindungi masyarakat yang terjebak dalam pertempuran.


Tidak ingin korban semakin bertambah banyak, Suro segera bergegas membantu mereka. Para penjaga yang sebelumnya sudah cukup kewalahan, akhirnya dapat bernafas lega. Sedikit lagi Suro datang terlambat, nyawa mereka pasti akan berakhir dihabisi pasukan musuh.


Wuuuss...


Zraat! Zraat! Zraat!


Suro segera bergerak dan berpindah tempat secara cepat menggunakan Langkah Maya. Setengah lusin pasukan musuh dalam satu tarikan nafas berhasil dihabisi dengan menggunakan jurus pertama dari tapak dewa matahari.


Satu lawan yang sudah berada ditingkat sakti menyadari kedatangan Suro. Walaupun dia terlihat begitu terkejut, namun ia segera meningkatkan kewaspadaanya


"Kau? Kau bagaimana bisa tetap hidup!"


"Memang apa yang kau harapkan terjadi padaku? Apa kau menginginkan aku mati?"


Wuuut! Wuuut!


Trang! Trang!


Dengan wajah yang tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya, lelaki itu segera melemparkan beberapa pisau terbang. Namun Suro mengatasinya dengan mudah.


"Tapak selaksa dewa racun!"


Dalam satu kebutan tangannya melesat puluhan jarum kristal es yang sangat kecil.


"Cukup Selaksa Dewa Racun ini yang akan menghabisimu!"


Lelaki yang terkena jurus dari Suro langsung ambruk dengan tubuh yang menghitam dan kemudian membusuk dengan cepat.


Setelah berhasil menghabisi pasukan musuh yang berada disebelah kiri, dia kemudian bergerak kesebelah kanan. Semua serangan yang dikerahkan Suro tidak butuh waktu yang lama. Setelah itu mereka mati dengan tubuh terpisah atau mati dengan mulut berbusa.


Suro kemudian bergerak menuju ke arah La Tongek sakti yang sedang sibuk menghadapi lawannya. Kekuatan lawan yang begitu besar, membuat lelaki itu cukup kerepotan. Kondisi itu juga membuat dia hanya bisa pasrah saat melihat dari jauh bawahannya dibantai oleh pasukan musuh.


Petok! Petok!


"Ramanda!"


Luh Niscita yang membawa ayam dengan cara diikat dan digantung dipundaknya berlari ke arah La Tongeq sakti, setelah melihat ramandanya itu cukup kewalahan menahan serangan musuh.


Beruntung Suro sempat mencegah agar Luh Niscita tidak melanjutkan niatnya mendekat ke tengah pertarungan yang sedang dilakukan La Tongeq sakti.


"Jangan gegabah Niscita, lawan dari ramandamu memiliki kekuatan setara dengan pendekar tingkat surga. Kedatanganmu hanya akan membahayakan paman sakti. Konsentrasinya akan terpecah dan itu akan mengakibatkan sesuatu yang sangat fatal."


"Maafkan Niscita kakang, tetapi ramanda sudah cukup kewalahan meladeni serangan musuh."


"Jangan khawatir, lihatlah jurus pedang terbang milikku sudah dikuasai paman sakti dengan cukup baik. Selain itu, meski kekuatan lawan berada diatasnya, namun kematangan jurus yang dikerahkan, kalah oleh paman sakti.


Luh Niscita yang melihat lebih teliti segera menyadari ucapan Suro memang benar adanya. Melihat hal itu dia sedikit lebih tenang.


"Tetapi sebaiknya kakang segera membantu ramanda."


Suro hanya menganggukkan kepala dan menghilang dari hadapan Luh Niscita.


Wuuuss!


Ziing!


"Aaaarrrggghhh!"


Suro segera menghilang dan muncul dibelakang sosok yang menjadi musuh La Tongeq sakti. Dia tidak langsung menghabisinya, dia hanya menggunakan serangan satu jarum kristal es yang sangat kecil, tetapi itu adalah bagian dari jurus Tapak Selaksa dewa racun.


"Aaarrrgggghhh!"


"Kau...kau..bagaimana bisa lolos dari racun pelumpuh tulang?"


"Kurang ajar kau menyerangku dengan racun apa ini?"


Melihat penampakan Suro yang tersenyum dengan mimik lucu membuat wajah lawan dari La Tongek sakti justru semakin bertambah pucat.


Sebab tanpa menunggu lama dia merasakan reaksi kuat dari racun yang telah masuk ke dalam tubuhnya. Dia bahkan sudah ambruk tidak mampu lagi berdiri lagi.


Dia sudah terkapar tidak mampu mengatasi racun yang dikerahkan oleh Suro. Meskipun sebelumnya lelaki itu sempat menotok beberapa bagian nadinya agar racun tidak menyebar lebih luas.


Melihat lawannya telah dilumpuhkan oleh Suro, maka La Tongeq sakti juga tidak meneruskan serangannya. Pandangannya justru menyapu ketempat lain. Melihat semua pasukan musuh yang datang telah dihabisi, dia cukup lega.


"Racun apa yang kau gunakan ini? Kau iblis, tidak mungkin kau berasal dari pendekar aliran putih, sebab membopong musuh dari belakang dan menyerang dengan menggunakan racun?"


Lelaki itu segera menyadari, jika racun yang digunakan untuk menyerang dirinya sangat kuat. Sebab dia mulai mutah darah kental yang berbau busuk dari mulutnya yang tertutup dengan topeng hitam.


Kondisi itu sudah menggambarkan betapa beracunnya jurus milik Dukun Sesat dari Daha itu. Lelaki itu tidak menyangka usahanya untuk menahan kuatnya reaksi racun tidak berhasil.


"Memang hanya kalian saja yang boleh meracuni musuh?"


''Beruntung aku memiliki ketahanan terhadap racun dibandingkan orang biasa. Apalagi racun nenek peyot dari Daha itu membantu tubuhku melawan racun pelumpuh tulang milik kalian,'' Suro tidak mengubris ucapan lelaki yang kini bertambah semakin kuyu dengan keringat sebesar jagung keluar dari wajahnya.


"Apakah paman sakti baik-baik saja?"


"Jangan khawatir nakmas, ini berkat jurus pedang terbang yang nakmas ajarkan sebelumnya. Akhirnya paman mampu memberikan perlawanan terbaik, meski musuh memiliki kekuatan cukup menakutkan."


"Namun sebenarnya paman cukup terganggu dengan jurus yang digunakan orang ini, bagaimana dia memiliki jurus-jurus yang mirip dengan apa yang paman miliki?"


"Tetapi paman mengucapkan terima kasih banyak kepada nakmas yang sekali lagi telah menyelamatkan banyak nyawa penduduk negeri ini."


Suro mengnggukan kepala menanggapi ucapan La Tongeq sakti. Pandangannya kembali mengarah kepada lelaki yang kini tergelatak di tanah mencoba terus mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan racun yang terlanjur memasuki tubuhnya.


"Ternyata kau hanyalah iblis yang berpura-pura membantu negeri ini!"


"Ya...ya...ya...ucapkan semaumu karena racun yang masuk dalam tubuhmu tidak ada obatnya, kecuali aku sendiri yang memilikinya. Jadi gunakan tenagamu sehemat mungkin, jangan sampai kau buang-buang untuk hal yang tidak perlu, seperti sekarang kau gunakan untuk berteriak-teriak!"


"Gunakan saja untuk menekan racun agar dapat mengulur waktu sebelum nyawamu dicabut Sang Hyang Yamadipati! Dan satu lagi siasat kalian untuk meracuniku bukanlah tindakan tepat."


Suro menatap sosok lelaki itu yang mulai kejang-kejang sekarat.


"Terima kasih nakmas," La Tongeq sakti bernafas lega, sebab sebelumnya dia sudah mati-matian bertahan dari serangan musuhnya yang sekarang tergeletak tak bernyawa.


"Siapa sebenarnya mereka ini, nakmas?"


"Silahkan paman lihat sendiri siapa lelaki yang berada dibalik topeng ini?"


La Tongeq sakti lalu membuka wajah lelaki itu. Wajahnya yang sudah mulai membiru dan membengkak, membuat dia sedikit kesulitan mengenalnya.


"Wajah ini, apa aku tidak salah? Bukankah dia La Jambu Wangi?"


"Bagaimana mungkin dia sudah mencapai tingkat surga?"


"Mereka semua memiliki kekuatan dengan sangat cepat, karena mendapatkan transfer energi murni laghima, paman," Suro segera menyahut ucapan La Tongeq sakti yang masih tidak mempercayai apa yang dilihat.


"Apa itu laghima? Paman sepertinya belum pernah mendengarnya."


"Itu adalah..." Suro menjelaskan secara garis besarnya kepada La Tongeq sakti.


"Jadi mereka mendapatkan kekuatan ini dengan cara barter menggunakan air Nirvilkalpa!"


"Kira-kira seperti itulah paman."


"Lalu apa alasan mereka melakukan hal segila ini?"


Sebelum Suro menjawab, sebuah suara membuat mereka berdua menghentikan pembicaraannya.


Petok! Petok!


Suara ayam yang begitu berisik membuat mata La Tongeq sakti berputar ke belakang.


"Apakah ramanda baik-baik saja?"


La Tongeq sakti terkejut melihat putri kesayangannya membawa ayam cukup banyak dan sebagian bergantungan dipundaknya. Sepontan dia menatap Suro sambil mengernyitkan dahi.


"Maaf paman itu tadi Niscita aku minta tolong untuk membawa ayam-ayam ini. Benar, hanya sebentar sebelum menolong paman."


Suro buru-buru mengambil ayam-ayam yang dipegang Niscita. Tetapi ditahan oleh Luh Niscita.


"Tidak mengapa kakang, biar Niscita yang membawanya. Silahkan kakang membantu ramanda mengobati mereka lebih dahulu." Luh Niscita menunjuk orang-orang yang sedang terluka.