SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch 185 Pujangga Gila part 2



"Suara itu adalah langkah kaki para Bhuta kala dalam jumlah besar, mereka semakin mendekat ke arah sini dengan sangat cepat paman. Kita sepertinya sudah sangat terlambat untuk menghindari pertarungan dengan mereka! Dengan jumlah sebegitu banyaknya, Suro tidak yakin dapat menghabisi semua." Suro yang menahan rasa sakit dikepala seakan pecah masih sempat memperingatkan kondisi itu kepada mereka.


Tetapi tanpa diberi peringatan sekalipun oleh Suro, mereka sudah memaklumi asal suara hentakan kaki yang menderu. Goncangan tanah yang bergetar lebih kuat dari sebelumnya sudah menggambarkan seberapa banyak Bhuta kala yang sedang bergerak ke arah mereka. Tentu Bhuta kala yang datang kali ini berjumlah lebih dari tiga.


Dewi Anggini sedikit kebingungan dengan situasi yang terjadi. Dengan singkat Suro menjelaskan situasi yang terjadi selama dia bersemadhi.


"Tidak, kita belum terlambat. Kita akan meninggalkan tempat ini sekarang juga, mumpung suara keras tadi tidak terdengar lagi. Nakmas Suro dan tetua Dewi Anggini pergi dahulu. Aku dan kakang Salya akan menahan mereka barang sebentar, agar memberi waktu bagi kalian untuk meninggalkan tempat ini dengan selamat."


"Kalau kita terbang bersama-sama aku yakin Pujangga gila ini akan mampu menyusul kita. Akan sangat berbahaya jika kalian terkena serangan suara barusan saat terbang diketinggian. Biarkan kami menahan dia hingga kalian lepas dari jangkauannya."


Dewa Pedang berbicara sambil menatap Suro yang terduduk menahan sakit dikepalanya. Begitu juga Dewi Anggini yang kembali memulihkan tubuhnya akibat serangan suara barusan.


Suro mengangguk sambil berusaha untuk bangkit berdiri. Meskipun kepalanya terasa sakit dia masih merasa mampu, jika hanya terbang meninggalkan tempat itu secepatnya. Tanpa menunggu lama mereka berdua segera melesat meninggalkan tempat itu.


Namun sekejap kemudian, suara keras yang berupa syair kembali menghantam. Kali ini suara syair itu menyasar ke arah dua sosok yang baru saja melesat terbang ke atas barusan.


"Sukmo niro tan keno sumingkir!"


(Nyawa kalian tidak boleh pergi)


"Aku menginginkan jiwa kalian! Jiwa yang sudah masuk ke dalam hutan ini adakah kalian pahami, bahwa itu semua sudah menjadi milik hutan ini?"


"Karena kau sudah meninggalkan daku sendiri, aku meminta nyawamu untuk menemani rinduku!"


Beberapa kali syair yang diucapkan lelaki itu, menderu disertai energi tebasan pedang yang tidak terkira banyaknya. Dewa Pedang dan Dewa Rencong secara kompak memapak terjangan kekuatan suara barusan.


Dari kejauhan terlihat lebih dari sepuluh Bhuta kala berlari menuju ke arah mereka. Ada satu Bhuta kala yang paling besar memimpin mereka semua. Sesosok manusia terlihat berdiri diatas kepalanya. Kedua tangannya memenggang rambut raksasa yang gimbal seakan tali kekang kuda tunggangannya.


Dengan melihat tampang dan suaranya dia adalah seorang kakek-kakek. Dia sangat kurus dan kulitnya menghitam seperti tulang berbalut kulit saja. Mirip sebuah mayat yang tidak sengaja terawetkan oleh kondisi alam.


Kondisi tubuhnya juga terlihat begitu kumal. Rambutnya yang panjang sama gimbalnya dengan raksasa tunggangannya itu. Pakaiannya terbuat dari kulit harimau yang sebagian bulunya masih ada. Bentuk pakaiannya anggap saja seperti mantel besar yang terlihat kedodoran. Mantel itu keadaannya dibuat dengan sedemikian sembarangan. Celananya juga tak lebih dari semacam cawat yang juga terbuat dari kulit. Semua dibuat dengan cara yang sama, serampangan atau hanya ala kadarnya saja.


"Sukmamu sudah ditakdirkan menjadi milikku! Biarkan cinta kita bersatu dengan ikatan rantai pengikat jiwa milikku ini!" Lelaki itu berteriak-teriak merancau dalam bentuk syair. Dia melakukan sambil memberi aba-aba Bhuta kala agar mempercepat langkahnya. Seakan raksasa yang sedang dia naiki itu adalah seekor kuda.


Tetapi rancauan syairnya itu adalah serangan yang sangat mematikan. Karena rentetan syair itu dilambari kekuatan mengerikan dan disertai energi pedang didalamnya. selain itu dia juga membuat serangan yang sangat berbeda dari pada sebelumnya.


Mantel dari kulit harimau yang menutupi tubuhnya bagian atas itu dia sibakkan. Setelah pakaian itu terbuka, sesuatu benda hitam gelap bergerak. Benda itu selalu dilingkupi semacam asap hitam.


Sebelumnya benda itu melingkari tubuh kakek-kakek itu. Setelah selesai berputar dan lepas, kemudian menjulur cepat dan melesat mengejar tubuh Suro dan Dewi Anggini.


Setelah diperhatikan benda hitam yang menjulur itu memiliki bentuk menyerupai sebuah rantai yang ujungnya berbentuk semacam kail. Rantai itu sebelumnya menutupi tubuhnya dari sebatas dada sampai perut.


Setelah rantai yang menutupi sebagian tubuhnya terbuka, maka penampakkan yang menggerikan segera terlihat.


Ternyata sebagian tubuh bagian dada dan perut sudah hancur. Namun tidak terlihat ada pembusukan. Dibagian dada sampai perut yang hancur itu seperti ditambal semacam jelaga hitam pekat. Ditempat itulah ujung lainnya dari rantai hitam itu bermuara.


Entah bagaimana ceritanya sekujur tubuhnya yang hancur itu dapat tergantikan fungsinya oleh kekuatan hawa kegelapan. Dengan adanya semacam jelaga hitam ditubuhnya itu justru menolongnya untuk tetap bertahan hidup. Atau justru dia adalah mayat hidup, entah tidak ada yang mengetahuinya.


Dua rantai kegelapan itu bergerak secara mandiri mengejar tubuh Suro dan juga Dewi Anggini. Entah seberapa panjang sebenarnya rantai itu, yang jelas dua orang yang dikejar sudah melesat cukup jauh.


Dewa Pedang dan Dewa Rencong segera menghadang hendak memutuskan dua rantai yang mengejar Dewi Anggini dan Suro.


"Tidak bisa putus, tidak bisa putus! Yayaya... Yeyeye...! Hahahaha! Kalian bodoh sebodoh Bhuta kala ini!" Lelaki itu berjoget-joget di atas kepala raksasa yang sedang mengupil.


Dia terlihat kegirangan melihat rantai yang berasal dari dalam dadanya, tidak mampu dipotong oleh Dewa Pedang maupun Dewa Rencong. Sebab rantai yang bergerak seakan memiliki pikiran sendiri itu, dapat berubah menjadi sesuatu yang tidak berbeda dengan sebuah benda maya yang tidak nyata. Tidak bisa diraba maupun dipegang.


Entah kekuatan apa yang dimiliki rantai hitam itu. Namun dua orang yang sedang dikejar rantai itu tidak sudi ditangkap, mereka berdua terus melesat menjauh. Dewi Anggini dan Suro bergerak zig-zag menghindari lesatan rantai yang bergerak begitu cepat.


"Orang gila sepertiku saja bisa tahu kalau rantai pemberian Hyang Antaga tidak akan bisa kalian putuskan! Sabar sejenak kisanak, seperti aku yang terus menunggu bersama rinduku yang telah aku peram dalam surga hatiku. Giliran kalian juga akan tiba. Aku berbaik hati akan untuk menjadikan jiwa dan tubuh kalian sebagai rumah teman-teman kecilku, agar bisa cepat tumbuh besar seperti Bhuta kala ini. Tetapi sabarlah jika kalian sudah terlalu merindukan, aku yakin kalian akan menjadi teman terbaik menemani rinduku! Hahahaha...! Lelaki itu terkikik tertawa begitu panjang sambil kembali lagi berjoget-joget.


"Pawana, Sadagati temani calon saudaramu ini bermain gobak sodor(nama permainan jaman dahulu)!" Pawana dan Sadagati memiliki arti yang sama, yaitu air.


Nama itu disematkan oleh lelaki itu untuk Bhuta kala disamping kanan dan kirinya. Entah bagaimana caranya pujangga gila itu mampu menjadikan para raksasa itu seperti peliharaannya saja.


Kebanyakan pujangga gila itu berbicara dengan bahasa sangat susah dimengerti, karena hampir sebagian besar ucapannya dalam bentuk kidung atau syair. Bahasa yang dia gunakan kadang bercampur dengan bahasa yang tidak dimengerti.


Dua Bhuta kala setelah mendapat perintah langsung menyerang Dewa Pedang dan Dewa Rencong diiringi para Bhuta kala yang lain. Mereka yang tidak mendapatkan perintah hanya mengepung mereka berdua.


Si Pujangga gila itu meloncat tinggi dari atas kepala Bhuta kala. Dia kemudian melesat terbang mengejar Suro dan Dewi Anggini.


**


"Gawat rantai apa ini? Mengapa gerakannya begitu cepat?" Suro yang melesat cepat dapat segera disusul. Dia langsung menghindar, tetapi tidak disangka rantai itu berhasil menyusul kembali.


Berkali-kali Suro mencoba menghindar, selalu saja rantai itu berhasil mengikutinya.


Disaat Suro sedang sibuk menghindari lesatan rantai yang terus mengikutinya, dari arah belakang melesat sesosok manusia yang mengejar ke arahnya. Dia tak lain adalah Pujangga gila pemilik dari rantai itu. Kemampuan terbang lelaki itu sangatlah mengagumkan, dalam beberapa tarikan nafas saja dia sudah berhasil menyusul Suro dan Dewi Anggini.


Sebelum Suro sempat menjauh dari Pujangga gila, kembali suara syair yang sangat mematikan menghantam mereka. Kali ini dia terpaksa menahan energi pedang yang terkandung didalam suara syair yang diucapkan Pujangga gila.


Dalam kondisi melesat terbang, Suro segera melepaskan jurus Sepuluh Jari Dewa Mengguncang Bumi. Jurus itu untuk menangkis energi pedang yang terkandung dalam hempasan suara yang dilepaskan lelaki itu.


Sebelum Suro bernafas lega, kembali sebuah syair terdengar dan menghajar ke arahnya dan Dewi Anggini. Ternyata serangan itu tidak sekali saja, tetapi susul-menyusul dengan kekuatan berkali lipat dibandingkan sebelumnya.


"Aku adalah cinta dan kalian adalah huruf untuk merangkai rinduku!"


"Tanpamu, rinduku tidak akan sempurna!"


"Tidak akan mungkin sekejappun dalam hidupku merelakanmu pergi! Karena ragamu adalah semesta rinduku!"


"Jika kalian pergi kepada siapa rinduku ini akan bermuara!"


Gelombang suara syair itu terus menghantam Suro dan Dewi Anggini. Hantaman gelombang kali ini bahkan membuat Dewi Anggini harus mutah darah. Tetapi dia tetap melesat menjauh dari Pujangga gila.


Serangan yang dilakukan Pujangga gila bukan hanya menyerang raganya yang masih belum pulih, karena luka dalam sebelumnya. Tetapi serangan itu juga menyerang jiwanya.


Suara itu menderu seperti petir dan kalimat yang dirangkai tidak lagi dilagukan seperti sebuah kidung. Tetapi seperti orang yang sedang bersyair. Entah apa arti dari syair yang dia ucapkan orang gila itu, tetapi serangan itu jelas ingin menghabisi mereka berdua. Syair yang diucapkan orang gila itu juga mengandung kekuatan semacam ilmu gendam.


Ilmu gendam adalah tehnik khusus yang dapat menguasai alam pikiran bawah sadar. Dengan kekuatan itu kesadaran lawan mampu dikuasai sepenuhnya. Sehingga lawan dapat dikendalikan sekehendaknya. Pada tingkatan lebih tinggi ilmu gendam juga dapat digunakan untuk melukai atau juga dapat digunakan untuk membunuh dalam sekala besar.


Secara sengaja serangan kali ini menghentak dengan lebih keras untuk membuka alam bawah sadar mereka. Ketika terbuka, maka ilmu gendam miliknya akan menyusup cepat masuk kedalam jiwa mereka berdua.


Suro dan Dewi Anggini secara kebetulan sedang merindukan sosok yang sama, yaitu eyang Sindurogo. Dengan kondisi itu membuat serangan kali ini berhasil menghajar mereka dari segi fisik maupun psikis.


Tidak berbeda dengan Dewi Anggini kondisi Suro bahkan lebih buruk, dia akhirnya kehilangan kesadarannya.


Serangan Pujangga gila berlangsung sangat cepat. Waktu yang dia gunakan dari dirinya memperintahkan dua Bhuta kala untuk menyerang Dewa Pedang dan Dewa Rencong, sampai serangan yang dia lakukan sekarang hanya butuh beberapa seruputan teh saja.


**


"Gawat mereka membutuhkan pertolongan kita kakang!" Diantara serangan Bhuta kala yang bergerak sangat cepat, Dewa Pedang masih sempat melihat Suro dan Dewi Anggini terhantam serangan suara syair yang lebih kuat dari pada sebelumnya.


Mereka tidak segera melesat terbang menyusul Suro, sebab mereka kini sedang dikelilingi para Bhuta Kala. Jika sampai mereka melesat terbang, maka tubuh mereka akan dapat dengan mudah ditangkap Bhuta kala lain yang sedang mengepung mereka berdua.


Walaupun akal makhluk itu terjun bebas dari setandarnya manusia biasa, namun kekuatan fisiknya tidak diragukan lagi. Kemampuan melompat raksasa itu sangat tidak dimasuk akal.


"Kakang kita harus memadukan serangan membentuk pusaran. Agar kita dapat menghancurkan mereka secara serentak. Sehingga ada celah bagi kita untuk kabur dari mereka semua!"


Dewa Rencong yang juga sedang sibuk menghindari serangan Bhuta kala masih mampu mendengar perkataan Dewa Pedang. Dia juga melihat Suro dan Dewi Anggini membutuhkan bantuan mereka secepat mungkin.


"Gunakan jurus Pusaran Pedang Dewa, kakang Salya!" Dewa Pedang memberi aba-aba, sebelum mereka meratakan tempat itu.


Secara bersama-sama mereka mengerahkan jurus Pusaran Pedang Dewa. Lesatan energi pedang tingkat langit membumi hanguskan tempat itu dengan sangat cepat.


Setelah serangan barusan, peluang terbuka untuk melarikan diri. Karena seluruh tubuh Bhuta kala itu telah hancur. Namun itu hanyalah penampakan yang sesaat saja, sebentar saja mereka pasti akan kembali pulih. Karena itu Dewa Pedang dan Dewa Rencong segera menggunakan kesempatan yang sempit itu untuk melesat mengejar Suro dan juga Dewi Anggini.


Setelah melesat secepat yang dia mampu, mereka akhirnya sampai pada jarak yang tidak terlampau jauh dengan Suro. Didepannya Pujangga gila dan Suro terlihat saling berhadapan. Dewi Anggini sudah pada tempat yang lebih jauh. Dia masih berusaha lepas dari serangan rantai yang masih mengejarnya.


Ketika mereka berdua hendak mendekat membantu Suro menghadapai Pujangga gila, mendadak mereka berdua merubah haluan tidak jadi mendekat ke arah Suro. Justru mereka melesat ke arah lain.


Niat mereka untuk menolong Dewi Anggini dan Suro terpaksa harus dibatalkan terkebih dahulu. Karena mereka harus menyelamatkan nyawa mereka sendiri. Hal itu disebabkan sebuah penampakan yang mengerikan. Secepat kilat mereka segera memutuskan menyingkir sejauh mungkin ke arah kanan dan kiri.