SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 182 Bhuta Kala part 3



Dewa Rencong memincingkan mata mendengar perkataan Suro yang menyebutkan, jika dia mengetahui cara membunuh Bhuta kala.


Setelah pertarungan kedua Bhuta kala berlangsung, dia memilih berteduh dibawah rimbunnya pohon beringin bersama Suro yang sedang menjaga Dewa Pedang dan Dewi Anggini. Dua pendekar itu belum juga menyelesaikan samadhinya. Agaknya luka dalam akibat sambaran petir yang mengenai mereka berdua beberapa kali memerlukan waktu kesembuhan lebih lama.


"Apa maksud perkataanmu barusan bocah?" Dewa Rencong menatap Suro dengan penuh tanda tanya.


"Kali ini biarkan Suro yang akan menghadapi makhluk itu, aku ingin memastikan jika pemikiranku tidak meleset. Jika memang benar apa yang aku pikirkan, maka aku akan dapat menghabisi makhluk itu seperti yang telah diperlihatkan dalam pertarungan sesama Bhuta kala barusan."


"Semoga saja aku berhasil menghabisi makhluk ini. Karena jika aku berhasil, kemungkinan dapat membantu memecahkan satu masalah yang akan kita hadapi di dimensi kegelapan nanti." Suro menatap ke arah Dewa Rencong dengan tersenyum.


"Jangan bercanda bocah kekuatan makhluk itu sangatlah mengerikan, gerakannya sangat cepat dan kuat. Walaupun mereka memang terlihat begitu dungu. Aku rasa akal mereka sebanding dengan seekor cacing. Tetapi mereka sangat merepotkan dan sangat berbahaya. Gerakannya serampangan dan tidak terarah sama sekali!"


Dewa Rencong pandangannya beralih ke arah Bhuta kala yang terus menghisap tubuh lawannya. Hujan deras disertai petir yang menyambar masih berlangsung. Bahkan beberapa kali terlihat menyambar pepohonan yang berada didalam hutan itu.


"Rencana apa yang sebenarnya ingin kau buktikan itu, bocah?" Pandangan Dewa Rencong beralih ke arah Suro yang menatap dirinya.


"Paman ingat tidak, saat Dewi Anggini bercerita sebuah dongeng dari negeri Wajin yang menceritakan tentang Geho sama. Siluman yang katanya memiliki bentuk seperti manusia burung yang mampu menyerap kekuatan siluman lain dengan menggunakan ilmu empat sage. Pada dasarnya apa yang sedang dilakukan Bhuta kala itu tidak jauh berbeda dengan tehnik empat sage."


"Jangan gila kamu bocah, jangan sekalipun bermimpi kamu ingin menghisap kekuatan Braholo. Jika kau melakukannya, maka jiwamu akan dikuasai sepenuhnya oleh energi kegelapan itu." Dewa Rencong langsung memotong ucapan Suro, karena dia sudah mengetahui garis besar rencana Suro.


"Kekuatan mereka tidaklah sama dengan para siluman yang dulu kamu hisap sampai tidak tersisa. Bahkan waktu itu kekuatan para siluman sempat mempengaruhi jiwamu, sehingga membuatmu merasa tidak nyaman."


Suro termangu mendengar perkataan Dewa Rencong dia memang mengingat saat dia pertama kali menghisap tubuh siluman ular, memang dia merasa tidak nyaman setelah melakukannya.


"Secara harfiah aku yang menghisapnya, tetapi yang terjadi sebenarnya Suro hanyalah perantara. Karena Suro akan menjadikan bilah pedang ini yang akan menyerap dan menyimpan kekuatan para Braholo dan juga para Butha kala yang kini telah mulai berdatangan dari segala arah."


Dewa Rencong terdiam dan menatap Suro dengan lekat, dia agak ragu mengijinkan Suro menghadapi Bhuta kala. Kemudian dia mencoba memahami kembali perkataan pemuda belia didepannya. Karena jika dia berhasil menghabisi Bhuta kala didepan mereka, maka masalah mereka yang sedang menunggu di dimensi lain sedikit teratasi.


Suro kemudian meyakinkan kepada Dewa Rencong saat peperangan yang terjadi di Banyu Kuning dia menghisap puluhan bahkan mungkin ratusan siluman yang menggempurnya dari berbagai arah.


Ketika itu dia mampu menyerap seluruh siluman hanya sekejap. Dalam kejadian itu, bukan dirinya yang menampung seluruh kekuatan siluman, karena yang terjadi sebenarnya bahwa hampir seluruh kekuatan itu disimpan oleh Lodra.


Bahkan saat diatas Wilmana sebuah wahana terbang raksasa, dia juga menyerap kekuatan siluman yang ada. Dengan semakin banyaknya siluman yang dihisap akhirnya justru membuat Pedang Pembunuh iblis miliknya berubah menjadi Pedang Kristal Dewa. Sehingga kekuatannya meningkat drastis menjadi pusaka sekelas senjata dewa. Karena kekuatannya yang meningkat begitu kuat, sehingga memungkinkan bagi Lodra untuk mengerahkan jurus api hitam terkuat yang pernah diperlihatkan, yaitu jurus ketiga Kemarahan Sang Hyang Garuda.


"Baiklah, tetapi berhati-hatilah. Lihatlah ukuran tubuhnya telah berubah lebih besar dua kali lipat dari ukurannya yang semula. Pasti itu juga membuat kekuatannya menjadi lebih mengerikan dari pada sebelumnya." Dewa Rencong menunjuk Bhuta kala yang telah selesai menyerap lawannya. Kini tubuh Bhuta kala sangatlah mengerikan, karena satu paha kakinya hampir menyamai ukuran dua ekor gajah dewasa.


"Baik paman Salya, Suro akan tetap berhati-hati menghadapi makhluk itu " Sekejap kemudian Suro melesat menaiki bilah Pedang Kristal Langit miliknya.


Suro mencoba menancapkan bilah pedang miliknya di kepala makhluk itu. Tetapi rencana sederhana itu, tidak sesederhana yang direncanakan. Bahkan lebih rumit dari pada apa yang pernah dibayangkan.


Seperti yang telah dikatakan Dewa Rencong jika kekuatan dan kecepatan Bhuta kala saat ini telah berubah berkali-kali lipat dari pada sebelumnya.


Suro tidak berniat menyerang tubuh Bhuta kala, dia akan melakukan seperti yang telah dilakukan makhluk itu untuk menghabisi jenisnya sendiri barusan.


Dia akan menjadikan kepala Bhuta kala itu sebagai sasaran serangannya. Suro tidak memahami, mengapa Bhuta kala sebelum menyerap kekuatan lawan dari jenisnya sendiri, harus menancapkan sesuatu yang mirip sebuah lidah kedalam kepala lawannya terlebih dahulu.


Meskipun tidak mengetahui maksud perbuatan Bhuta kala, Suro akan memulai mengerahkan tehnik empat sage setelah menancapkan bilah pedangnya ke dalam kepala Bhuta kala.


Suro terus menghindari serangan makhluk raksasa itu. Dia harus terbang dengan sangat cepat jika tidak ingin tertangkap. Meskipun serangan Bhuta kala yang hendak menangkapnya tidak berhasil, tetapi berkat gerakan tangannya yang besar dan cepat, menghasilkan hempasan angin yang kuat hampir menyamai kekuatan sebuah angin taufan.


Bhuta kala terus mengejar tubuh Suro yang bergerak dengan begitu lincah. Saat dia berhasil mendarat diatas kepala Bhuta kala maka segera dia menancapkan bilah pedang Kristal dewa diatas ubun-ubunnya.


Setelah berhasil menancapkan dia tidak langsung bisa mengerahkan tehnik empat sage. Sebab tangan Bhuta kala hampir saja menangkap tubuh Suro. Dia segera bergerak menghindar terlebih dahulu sebelum mengerahkan tehnik empat sage dengan kekuatan maksimal.


Sekejap kemudian setelah Suro mengerahkan tehnik empat sage sambil menggengam Pedang Kristal Dewa, terjadi sesuatu dengan kepala Bhuta kala. Kepala itu mengempis dari dalam, seakan isi kepala itu tersedot semua.


Segera Suro memahami, mengapa Bhuta kala sebelum menghisap tubuh lawannya, dia terlebih dahulu menancapkan lidahnya. Sebuah lidah yang memiliki bentuk tak lazim menyerupai sebuah tombak besar yang tajam. Sehingga dengannya dapat menembus kepala sampai masuk ke dalam rongga dada lawannya.


Secara sangat cepat tubuh Bhuta kala amblas masuk ke dalam bilah Pedang Kristal Dewa. Setelah kepalanya mengecil dan menghilang Bhuta kala itu sudah tidak mampu melakukan perlawanan, setelah itu Suro dapat dengan leluasa menyelesaikan tugasnya.


"Apa kau baik-baik saja bocah?" Suara Dewa Rencong berteriak ke arah Suro. Pemuda belia itu terlihat terdiam setelah berhasil menghisap seluruh tubuh Bhuta kala. Dia terdiam sambil menatap bilah pedang miliknya, sebenarnya dia tengah asik berbicara dengan Lodra.


Jiwa pedang itu pada awalnya menyumpah serapah, karena di suruh menghisap kekuatan yang begitu kelam. Tetapi setelah dia berhasil melakukan sesuatu dengan kekuatan besar milik Bhuta kala, senyum Lodra mulai mengembang.


'Berikan padaku sebanyak apapun bocah, aku akan siap menampungnya. Setelah bilah pedangku berubah menjadi Pedang Kristal Dewa, kekuatanku mampu memurnikan sejahat dan segelap apapun kekuatan yang aku serap.'