SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
PERTARUNGAN TAHAP FINAL part 1



Setelah pertarungan Arimbi dan Mahadewi selesai maka selesai pula pertarungan tahap kedua. Para peserta diberi waktu untuk memulihkan tenaga dahulu sebelum melanjutkan pertarungan tahap berikutnya.


Pada tahap ketiga atau tahap akhir ini para peserta akan berhadapan langsung dengan para tetua. Ada empat Tetua yang terpilih untuk menjadi benteng ujian bagi para peserta. Diantaranya adalah Tetua La Patiganna yang sebelumnya menjadi wasit pertarungan. Kedua adalah Tetua Tunggak Semi yang merupakan salah satu tetua di sekte pusat. Selanjutnya adalah Tetua Eyang Sinar gading yang merupakan guru dari Arimbi. Dia merupakan guru besar Perguruan Lemahabang yang ikut berafiliasi dengan Sekte Pedang Surga. Dan yang terakhir adalah Eyang Kaliki tetua dari perguruan cabang yang masuk wilayah Kerajaan Agni. Suatu kerajaan kecil yang berada di gugusan pulau yang dibentuk dari sebuah gunung berapi bernama Gunung Karakatao.


Dipodium kehormatan Terlihat Dewa Rencong sedang berbicara berdua dengan Dewa Pedang. Sepertinya mereka terlihat dalam pembicaraan yang cukup serius.


"Berarti bocah gila yang menghancurkan lapangan pertarungan itu muridmu?"


"Benar tuan pendekar!"


"Berarti sama gilanya dengan gurunya!"


Jeglug!


Dewa pedang menelan ludah mendengar perkataan Pendekar yang ada didepannya. Dia hanya bisa mengaruk-garuk kepala, baru pertama kali ada yang berani mengatakan gila kepada dirinya. Tentu saja selain Eyang Sindurogo yang berbicara sesuka jidatnya sendiri. Tetapi sepertinya sifat pendekar yang satu ini juga tidak berbeda jauh selalu berbicara dengan nada ketus dan sekehendaknya. Beruntung pembicaraan mereka berdua tidak didengar para tetua lain yang duduknya berjauhan dari posisi mereka berada. Jika sampai terdengar tentu wibawanya sebagai Pendekar Pedang nomor wahid dan sebagai Ketua Sekte golongan putih terkuat di Benua Timur tercoreng.


"Bagaimana caranya dirimu melatih murid gilamu sampai sekuat itu? Baru pertama kali aku melihat penguasaan tehnik bhumi sampai setinggi itu?"


"Uhuk..!" Dewa pedang terbatuk mendapat pertanyaan seperti itu.


"Ceritanya panjang pendekar, yang jelas sebelum menjadi muridku dia telah memiliki guru lain. Termasuk mengenai tehnik bhumi yang dia perlihatkan sebenarnya bukan berasal dari diriku. Dari seorang guru yang dia tak mau menyebutkannya. Entah siapa?"


"Aku mengakui saat melihat kwalitas tulangnya, memang sesuatu yang sangat pantas kamu angkat menjadi muridmu karena kwalitas tulangnya sangat langka. Selain daripada itu entah kenapa seperti ada yang janggal pada dirinya. Entah pengamatanku yang salah atau memang muridmu itu lain dari pada yang lain. Sebab saat aku memperhatikan dirinya, sepertinya kemampuan yang dia miliki dalam tehnik kundalini belum sampai di titik nadi alambusha. Salah satu syarat yang harus dicapai untuk bisa disebut pendekar yang sudah mencapai tingkat tinggi. Tetapi entah mengapa justru tenaga dalamnya aku rasakan menurut pengamatanku, justru telah melampaui tingkat itu. Apakah aku yang salah atau memang unik kondisi tubuh muridmu itu?"


"Memang seperti itu pendekar, kondisi tubuhnya berbeda dengan orang kebanyakan. Termasuk kekuatannya tidak bisa dimasukan pada tahap kekuatan seperti pada umumnya. Selain itu dia memiliki kondisi kanda yang juga sangat langka. Bahkan sebagian orang justru menyebut kondisinya sebagai kondisi terburuk untuk belajar ilmu olah kanuragan."


"Maksudmu seperti kondisi dirimu dan juga gurumu dulu?"


"Benar pendekar, kondisi kanda yang berada di chakra muladharanya mengandung sembilan perubahan unsur alam."


"Pantas saja dia sekuat itu. Berarti dia telah selesai menguasai seluruh tahap dalam teknik tenaga dalam sembilan putaran langit yang sangat mengerikan itu."


"Tepatnya dia baru selesai pada tahap delapan."


"Benarkah? Lalu bagaimana dia bisa mengerahkan tenaga dalam sebegitu mengerikan itu? Tidak mungkin, itu tidak mungkin bagaimana bisa dia mampu mengerahkan tehnik bhumi sehingga membuatnya mampu mengangkat lapangan sebesar itu. Bukankah dalam tahap ke delapan setara pada tingkatan chakra visudhi yang berada ditenggorokan? Tak lebih dari tingkatan kelas atas sedangkan hal yang dia lakukan sebanding dengan tingkat shakti. Anda yang sudah berada ditingkat shakti pasti sudah memahami itu. Apalagi bukankah ketua sekte juga sudah ditingkat shakti tahap kesembilan atau dengan kata lain sudah di puncak tingkat shakti."


"Benar sekali pendekar. Bahkan pada saat pengolahan tenaga dalam dia hanya sampai pada tahap sushumna yang seharusnya berada pada tingkat pendekar kelas bawah. Dia mampu melakukan kemampuan yang tak bisa dilakukan seorang pendekar kelas atas sekalipun."


"Kamu jangan membual mana ada kekuatan tenaga dalam hanya sampai tahap sushumna melebihi kekuatan pendekar kelas atas."


"Ya benar sekali, perkataanku memang seperti membual. Tetapi itulah yang terjadi, seperti yang pendekar lihat tadi. Dia menghimpun tenaga dalam dengan tehnik yang tak biasa dilakukan orang kebanyakan. Bahkan aku sendiri tidak tau tehnik apa yang dia gunakan. Karena tehnik itu bukan berasal dari diriku yang mengajarkannya."


Dewa Rencong sedikit bingung dengan penjelasan ketua Sekte Pedang Surga yang duduk disampingnya itu.


'Bagaimana mungkin seorang Dewa Pedang yang pengetahuannya begitu luas masih saja tak mampu mengerti tehnik pengolahan tenaga dalam yang digunakan muridnya sendiri, terasa ganjil memang. Tetapi dengan melihat pencapaian Suro dalam tahap kundalininya dan kekuatan yang diperlihatkan terasa lebih ganjil lagi. Apakah mungkin itu tehnik rahasia yang konon katanya bisa menyerap energi alam langsung? Sehingga membuat pengunanya dapat meningkatkan kekuatan tenaga dalamnya berkali-kali lipat. Tetapi setau dia yang menguasai tehnik itu di Benua Timur ini hanya Eyang Sindurogo, tidak ada orang lain. Dan tidak mungkin juga anak ini belajar ilmu dari Eyang Sindurogo. Karena tokoh satu itu tidak pernah memiliki seorang muridpun. Tetapi jika itu bukan ilmu yang dimiliki Eyang Sindurogo, pasti tehnik itu termasuk tehnik rahasia kelas wahid yang mungkin hanya dimiliki oleh seorang pendekar yang luar biasa. Mungkin sekelas Eyang Sindurogo. Tetapi siapa? Karena sepanjang pengetahuannya tidak ada yang bisa disetarakan dengan tokoh satu itu. Tetapi apapun itu, dengan tehnik itu telah membuat bocah yang tak layak memperdalam ilmu kanuragan menjadi seseorang yang begitu kuat.' Mata Dewa Rencong menjadi menerawang memikirkan tehnik yang disebut Dewa Pedang. Pikirannya mencoba mengingat-ingat tehnik yang digunakan Suro, karena dia juga sempat melihat bagaimana cara Suro mengerahkannya.


"Itu belum seberapa dibandingkan kemampuannya dalam berpikir."


"Kemampuan dalam berpikir bagaimana? Apakah dengan tampangnya yang terlihat bodoh itu memiliki otak yang encer?"


"Benar sekali dia mampu memecahkan formasi rahasia dalam kitab Dewa Pedang sesuatu yang aku pun tak sanggup melakukannya?"


"Hahahahaha..... Aku mengagumimu karena orang-orang menyebutmu sebagai jenius dalam ilmu pedang, tetapi ternyata perkataan mereka salah semua. Aku baru pertama kali mendengar perkataan seorang guru yang mengaku kalah pintar dibanding anak didiknya sendiri."


"Hemmmm...ya mungkin saja, tetapi itu bukan aku saja sepertinya yang mengakui kemampuan dia dalam memecahkan sesuatu yang salah satunya aku sebutkan."


Melihat Dewa Pedang terlihat begitu serius dengan perkataannya dia menjadi tercenung seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi dia tahan.


"Tetapi aku tidak sedang membual pendekar! Akan aku ceritakan tentang kemampuan dia yang tak mampu aku lakukan atau mungkin lebih tepatnya aku pun tidak berpikir sejauh yang bisa dia pikirkan. Mengenai cara dia memahami Kitab Dewa Pedang dia mampu menciptakan jurus yang lebih kuat daripada jurus pamungkas dalam kitab Dewa Pedang."


"Apa itu tidak berlebihan ada bocah yang seumuran dia mampu membuka formasi rahasia dari sebuah kitab yang serumit kitab Dewa Pedang? Kemudian dengan kemampuannya mampu merumuskan jurus baru yang bahkan lebih hebat dari kekuatan puncak kitab itu. Kalau yang Dewa Pedang katakan itu benar, apakah itu tidak berlebihan seperti bukan kemampuan manusia normal saja. Seperti cerita legenda Sang Hyang Krishna yang seorang titisan deva."


"Entahlah?" Dewa pedang justru baru kepikiran tentang perkataan lawan bicaranya yang menyebut Suro seperti titisan Sang Hyang Para Deva. Dia masih bertanya-tanya dari mana sebenarnya Eyang Sindurogo menemukan bocah itu, kemudian menjadikannya murid. Sampai sekarang pun dia masih banyak terkesima dengan kemampuan bocah yang terlihat biasa saja itu.


"Sepertinya dari tampangnya yang terlihat bodoh itu menyimpan kemampuan menyerap ilmu yang luar biasa. Andai saja bukan muridmu tentu aku akan menjadikannya muridku juga." Dewa Rencong seolah sedang berbicara sendiri matanya menerawang menatap jauh seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Jika yang dikatakan Dewa Pedang itu memang benar sepertinya bukan aku saja yang akan tertarik ingin menjadikan bocah itu muridnya. Beruntung Dewa Pedang yang menjadi gurunya. Jika gurunya bukan Dewa Pedang tentu banyak para tokoh golongan hitam akan menjadikannya target buruan. Antara diangkat menjadi murid utama golongan mereka atau justru dibunuh. Tentu mereka tidak ingin menjadikan batu sandungan kedepannya, jika dia tidak masuk golongan mereka. Pilihan Dewa Pedang sangat tepat menjadikannya murid. Karena kalau tidak dalam waktu yang tak lama setelah kabar ini terdengar aku yakin keselamatan bocah itu dalam kondisi yang gawat. Pasti banyak golongan hitam akan menjadikannya target buruan."


"Sebenarnya aku seakan belum yakin jika bukan Dewa Pedang yang mengatakannya langsung, pasti aku tidak akan mempercayainya. Andai saja bocah itu bertemu dengan Eyang Sindurogo aku yakin dia akan tertarik dan akan menjadikannya muridnya?" Mata Dewa Rencong kembali menerawang.


"Tentu saja, karena memang dia adalah murid Eyang Sindurogo sebelum aku mengangkatnya menjadi muridku."


"Apa!"


Dewa Rencong seketika meloncat dari tempat duduknya terkejut mendengar perkataan Dewa Pedang. Dia memandangi lawan bicaranya dengan mata yang melotot.


Dewa pedang hanya tersenyum melihat reaksi Dewa Rencong yang menatapnya dengan begitu tajam, sepertinya dia masih belum terlepas dari rasa keterkejutannya.


"Benar, dia murid satu-satunya yang Eyang Sindurogo miliki. Bahkan aku juga belum lama mengetahuinya jika dia telah mengangkat seorang murid. Seperti yang pendekar pahami sifat Eyang Sindurogo yang banyak menyepi."


"Karena itulah aku mencoba memperkuat dirinya secepat mungkin, agar kemampuannya bisa meningkat pesat. Menurut Eyang Sindurogo sendiri muridnya ini memiliki kemampuan yang bisa melewati kekuatan gurunya itu. Jika bisa mencapai tahap yang dikatakan gurunya aku yakin kunci keberhasilan untuk membebaskan Eyang Sindurogo kemungkinannya akan semakin besar. Selain itu, yang bisa membuka gerbang dimensi dunia lain hanya muridnya itu."


Dewa Rencong kembali terkejut dengan perkataan Ketua Sekte dia kembali seakan tidak mempercayai perkataan itu. Setelah mendengar itu kemudian dia merenung sebentar. Lalu wajahnya berubah dengan drastis tersenyum ke arah lawan bicaranya. Sepertinya ada niat tertentu yang ingin dia utarakan.


"Jika bocah itu memang murid Eyang Sindurogo berarti aku juga punya kesempatan untuk menjadi gurunya? Bukankah gurunya juga sahabatku." Wajahnya berubah seperti memelas sedang berharap banyak agar diperbolehkan mengajari Suro. Dewa Pedang tertawa kecil melihat perubahan mimik muka Pendekar dari bagian ujung barat Swarnabhumi itu.


"Tentu saja jika memang Suro menginginkannya. Pendekar bisa tanyakan langsung kepada dirinya. Tetapi sebelumnya biarkan saya membimbing Suro menyelesaikan tehnik sembilan putaran langit. Setelah itu silahkan pendekar mengajarinya. Tetapi kalau boleh memberi saran sebaiknya tuan pendekar bisa memulainya pada pelatihan jiwa. Sebab sepanjang pengetahuanku tidak ada yang lebih mengerti tentang kekuatan jiwa selain tuan pendekar."


"Ajarkan padanya tentang kekuatan jiwa yang mampu membangkitkan aura yang mampu menekan musuh. Walaupun kekuatan bocah itu begitu mengerikan tetapi belum memiliki pengalaman yang banyak dalam pertempuran nyata maupun menghadapi manusia-manusia yang licik. Aku pikir dengan tambahan kekuatan jiwa yang nanti tuan pendekar ajarkan. Mampu membuat dirinya membaca dan mempelajari kedalaman jiwa lawannya dan juga bisa meraba niat buruk seseorang."


"Tentu saja aku akan melakukan seperti yang tuan pendekar Dewa pedang katakan. Akhirnya... tidak sia-sia aku mengikuti firasatku untuk datang ke tanah Javadwipa ini.


"Ternyata Sang Hyang widhi wasa memberi petunjuk padaku untuk bertemu emas manikam yang tak ternilai harganya ini." Dewa Rencong terlihat mengangguk-anggukan kepala seperti mendapatkan pencerahan baru.


"Berarti firasat tuan pendekar, yang membawa sampai ke sekte ini?"


"Benar sekali entah mengapa firasatku begitu kuat seakan mengharuskan kakiku melangkah ke tempat ini."


"Berarti bukan karena kabar tentang Eyang Sindurogo yang membuat Dewa Rencong datang ke tanah Javadwipa?"


"Salah satunya,kejadian itu bukankah sudah terjadi lima purnama yang lalu? Aku juga mendengar itu. Makanya hal itu semakin membuat keinginanku untuk datang ke tanah Javadwipa ini semakin kuat."


Setelah istirahat yang ditetapkan selesai, maka pertarungan tahap akhir akan segera dimulai. Dari tujuh murid utama yang lolos akan berhadapan dengan para tetua untuk menilai kemampuan mereka. Sehingga dari tujuh orang itu hanya akan lolos lima peserta yang mendapatkan jabatan tetua muda. Dewa Rencong segera berjalan turun ke arah arena pertarungan.


Di arena pertarungan seorang tetua telah menunggu kedatangannya. Dia bernama Eyang Sinar Gading dari Perguruan Lemahabang. Tetua cabang sekaligus Guru dari Arimbi.


"Teuku sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda!" Eyang Sinar Gading memangil Dewa Rencong dengan sebutan bangsawannya. Karena dia memang merupakan salah satu pangeran Kerajaan diujung barat Swarnabhumi. Di terlihat sumringah bisa melihat sahabat lamanya.


"Suatu kehormatan juga bisa bertemu dengan tetua Sinar Gading disini. Sudah sangat lama sekali sejak terakhir bertemu dibukit Lamreh."


"Benar mungkin sudah lebih dari dua windu. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih karena kesediaan Dewa Rencong sudah mau datang dan menjadi wasit untuk seleksi tetua muda Sekte kami."


"Tidak mengapa karena dengan perantara ini aku nanti akan mendapatkan emas manikam yang tak ternilai harganya." Emas manikam yang dimaksud adalah Suro yang ingin dia angkat menjadi muridnya. Tetapi Eyang Sinar Gading terlihat penuh dengan tanda tanya dengan maksud emas manikam yang dikatakan Dewa Rencong.


"Benarkah?" Eyang Sinar Gading ingin bertanya lebih lanjut, tetapi seorang tetua lain menyodorkan bumbungan yang berisi tujuh peserta yang lolos sampi babak akhir ini.


"Mahesa silahkan turun ke arena pertarungan tetua yang akan menjadi lawanmu sudah menunggu!"


Kali ini Dewa Rencong tidak benar-benar sebagai wasit seperti babak sebelumnya. Dia justru hanya seperti pengamat saja atau mungkin tepatnya juri seperti empat juri yang lain. Sebab yang menentukan lolos atau tidaknya para peserta lebih banyak ditentukan oleh tetua yang menjadi lawannya. Dia kali ini hanya menjaga kemungkinan yang tidak diinginkan saja.


Mahesa berjalan turun ke arah arena pertarungan.


"Mohon arahannya tetua." Mahesa menjura ke arah Eyang Sinar Gading dan juga ke arah Dewa Rencong. Para tetua itu hanya membalasnya dengan anggukan kecil.


Setelah dimulai aba-aba dari Dewa Rencong Eyang Sinar Gading mempersilahkan Mahesa untuk menyerangnya.


"Silahkan nakmas memulai serangan! Aku akan memberi tiga kesempatan kepada nakmas untuk menjebol pertahananku. Jika nakmas pada kesempatan ketiga tetap tidak mampu menjebol pertahananku maka nakmas dianggab kalah. Tetapi bukan berarti langsung dianggab gugur karena itu masih menunggu hasil akhir semua peserta."


"Silahkan nakmas memulai serangan, gunakan kesempatan pertama ini dengan sebaiknya!"


"Sendiko dawuh(siap laksanakan) tetua!"


Dalam satu hentakan tujuh bilang pedang terbang menerjang kearah Eyang Sinar Gading.


"Gelombang Pedang Menggulung Gunung!"


Segera tujuh bilah pedang itu bergerak seakan arak-arakan ombak yang akan menyapu seluruh daratan.


"Pedang Bersatu Bersama Angin!"


Dengan tenang Eyang Sinar Gading melayani serbuan pedang dengan jurus pertama dalam Kitab Dewa Pedang. Permainan pedang yang diperlihatkan tetua itu begitu luar biasa. Bilah pedangnya bergerak dengan cepat, sekaligus kadang bersifat lembut dan kadang menghentak keras, seirama dengan pergerakan sifat angin.


Hanya dengan jurus pertama satu bilah pedangnya mampu melayani serangan tujuh bilah pedang Mahesa. Kecepatan dan kekuatan seorang tetua cabang memang tidak diragukan lagi.


Trang! Trang!


Kemudian seluruh bilah pedang Mahesa terlempar dan terlepas dari kendali si empunya.


"Kesempatan pertama nakmas telah gagal silahkan nakmas pungut kembali bilah pedangnya."


Mahesa tersentak jurus pedang yang dia banggakan dengan begitu mudahnya dikalahkan. Dengan tangan sedikit gemetar antara malu, marah dan kaget bersatu dalam perasaannya dia mulai memunguti bilah pedangnya.


"Ini kesempatan kedua nakmas keluarkan potensi yang nakmas miliki."


"Sendiko dawuh tetua!"


Kembali serangan pedang terbang Mahesa meluncur dengan cepat menerjang Eyang Sinar Gading. Serangan kali ini dia lepaskan dengan sekuat tenaganya baik kecepatan maupun tenaganya dia gunakan semaksimal mungkin.