
Kelabang Hitam segera menyadari sebuah atau lebih aura berkekuatan besar berasal dari meja didekat jendela. Bukan hanya dirinya anak buahnya juga menyadarinya.
Sebab mereka yang berada dibawah tingkat shakti seperti lelaki yang bernama Kelabang Hitam itu merasakan sebuah tekanan kuat seperti tertimpa beban berat.
Nafas mereka juga terasa sesak. Karena itulah mereka tidak segera bergerak menyerang. Kelabang Hitam juga mengetahui, jika aura kekuatan yang menekan itu tingkatannya jauh berada diatas dirinya.
Salah satu alasan itu yang membuat dia tidak berani bertindak sembrono dan memilih membaca situasi terlebih dahulu sebelum bertindak. Pandangannya kemudian berpindah ke arah lain, yaitu dimana dua pemuda dan pemudi berada. Tepatnya dia sedang menatap seorang pemuda yang sedang bersembunyi dibawah meja.
"Yang Xiaoma dasar pengecut, kau sekarang akan mati! Orang-orang yang mengawalmu ini tidak akan mampu menghentikan langkah kami untuk memotong kedua kaki dan tanganmu!" ucap Kelabang Hitam sembari melirik ke arah Dewi Anggini.
Lelaki itu sudah bersiap dengan dua bilah pedang tergenggam dikedua tangannya. Dia mempersiapkan kedua senjatanya, jika mendadak diserang balik oleh kelima orang yang duduk di dekat jendela itu.
Lelaki itu mengira, jika Dewi Anggini dan yang lainnya adalah pengawal pribadi dari Yang Xiaoma. Jika itu benar, tentu mereka tidak akan membiarkan majikannya disakiti.
Tetapi wanita itu justru mengacuhkan dirinya, begitu juga empat rekannya yang lain. Mereka tidak melirik sedikitpun saat dia berbicara barusan. Mereka justru disibukkan dengan makanan yang telah terhidang diatas meja.
Tatapan mata Kelabang Hitam kembali berpindah ke arah Yang Xiaoma. Kali ini dia menatap dengan lebih menakutkan dibandingkan sebelumnya.
Melihat hal itu, Yang Xiaoma dan juga dua lainnya, merasa seakan hendak ditelan mentah-mentah. Apalagi saat itu Kelabang Hitam mulai mengerahkan hawa pembunuh dan aura kekuatan miliknya.
Sebenarnya hal itu dia lakukan bukan untuk menakut-nakuti ketiga orang yang sudah ketakutan itu, tetapi dia lakukan itu untuk menjajal reaksi yang akan diberikan kepadanya dari kelima orang yang ada didekatnya.
Mereka yang dimaksud adalah Dewi Anggini bersama empat orang lainnya. Ketenangan yang ditunjukan mereka berlima membuat Kelabang Hitam menjadi serba salah untuk bertindak. Mereka seakan tidak peduli dengan keributan yang terjadi dilantai itu.
'Siapa sebenarnya mereka ini? Kedatanganku bersama puluhan anak buahku seakan bukan sebuah ancaman bagi mereka. Mereka justru tetap sibuk dengan makanan didepan mereka.' Kelabang Hitam bertanya-tanya dalam hati melihat hal yang janggal itu.
Mata lelaki itu kembali melirik ke arah wanita yang sebelumnya berteriak saat dirinya masih berada dijalanan depan Pavillium Angin Utara. Dia segera menyadari, jika tidak satupun anak panah yang dilesatkan oleh anak buahnya berhasil melukai satu pun dari kelima orang itu.
Padahal di jendela itulah puluhan anak panah melesat masuk. Secara nalar, tidak akan ada yang selamat jika mereka duduk begitu dekat dengan jendela tersebut.
Aura kekuatan yang sedari tadi dia rasakan menjadi jawaban atas alasan, mengapa mereka dapat selamat dari begitu banyaknya lesatan anak panah yang menerjang.
'Entah mereka ada hubungannya dengan Yang Xiaoma atau tidak, tetapi yang jelas mereka adalah para pendekar yang berkemampuan tinggi. Aku harus mewaspadai hal ini."
**
Melihat kedatangan lebih dari dua puluh orang itu, lelaki muda yang bernama Yang Xiaoma semakin menggigil ketakutan. Bahkan celananya telah basah sedari tadi.
Kipas yang dia pegang terlihat bergetar hebat. Jalan menuju lantai bawah telah tertutup, sebab dari arah bawah telah bermunculan orang-orang yang hendak menangkap dirinya.
Tidak ada lagi jalan keluar bagi dirinya untuk menyelamatkan diri. Sedangkan pilihan untuk melawan pun dia juga tidak sanggup. Akhirnya dia memilih tetap bersembunyi dibawah meja.
"Yang Xiaoma sialan, kau menyeretku pada masalah yang berkaitan dengan kelompok Mawar Merah." Gadis cantik yang bernama Yang Xie Yin berteriak dengan kesal ke arah pemuda yang bersembunyi di bawah meja.
Dia dan juga lelaki yang bernama Yang Jiang sebenarnya tidak kalah ketakutannya melihat orang-orang yang berdatangan hendak menyerang mereka.
**
"Sialan padahal arakku belum selesai aku minum."
"Diam mulutmu Golok setan! Kelompok Mawar Merah telah dibubarkan, mulai sekarang kita mencari makan sendiri-sendiri." ucap seseorang yang berada disebelah lelaki tambun itu.
"Pedang setan, apakah memang benar jika markas pusat kita sudah hancur lebur? Aku sebenarnya masih tidak mampu mempercayai kabar itu," sahut lelaki tambun yang berjuluk Golok setan.
"Makhluk apa sebenarnya yang telah menghancurkan markas kita? Sebab Kaisar Yang Guang saja lebih memilih bersekutu dengan kita daripada bermusuhan," imbuhnya.
"Aku mendengar jika yang menyerang markas kita hanyalah seorang pemuda ingusan. Tetapi kabarnya kekuatannya telah mendekati seorang dewa." Pedang Setan menjawab sambil menatap ke arah wajah rekannya yang justru tertawa mendengar penjelasannya barusan.
"Dewa apanya, mulutmu baru dicekokin satu guci arak saja sudah merancau, dasar payah!" Golok setan mendengus kesal, dia lalu kembali menenggak arak ditangan kirinya.
Mereka berdua dikenal dalam rimba persilatan sebagai Sepasang setan pembunuh. Karena memang mereka adalah pembunuh bayaran yang namanya cukup dikenal di seantero daratan Negeri Atap Langit.
"Feng Lei nama besarmu sebagai Kelabang Hitam ternyata tak lebih dari pada suara kentut. Lihatlah, seluruh panah milik anak buahmu tidak mengenai siapapun!" Golok setan mendengus kesal.
"Dasar pembunuh amatir, untuk urusan semudah itu saja tidak mampu mengerjakan dengan benar." Golok setan memaki-maki Kelabang Hitam sampai puas. Setelah itu pandangan matanya berpindah ke arah Yang Xiaoma yang meringkuk ketakutan dibawah meja.
"Anak Yang Taizu, Kau pikir seluruh pasukan kota ini mampu melindungi nyawamu. Kali ini aku akan memotong tangan dan kakimu. Itu adalah hukuman karena berani mempermainkanku!
Yang Taizu gubernur kota ini akan menyesal, karena berani menyepelekan diriku. Keberanian kalian bapak anak yang mencoba mempermainkan kelompok ini aku anggab sebagai keputusan terbodoh kalian.
Apa susahnya kalian membayar upah kepada kami. Padahal tugas yang kalian berikan telah berhasil aku lakukan.
Dia pikir setelah kelompok Mawar Merah hancur, maka kita akan seperti ayam sayur yang ketakutan dengan prajurit yang dia miliki!" Golok setan membanting guci yang seluruh araknya telah habis dia tengak.
Setelah meluapkan kekesalannya dengan membanting guci kosong, pandangan lelaki itu justru berpindah ke arah orang-orang yang sedang sibuk menyantap makanan tanpa terganggu oleh luapan amarah dirinya.
"Oww, baru aku sadari ternyata dirimu yang membawa masuk para gembel itu! Pantas saja, bagaimana mungkin para gembel bisa memasuki Pavillum Angin Utara ini, kecuali karena ada peran seorang anak dari Yang Taizu gubenur dari kota Shanxi ini.
Apalagi mereka makan dilantai tiga tempat yang tidak sembarangan orang bisa membayarnya. Pantas saja, ternyata mereka adalah orang-orang dari keluarga Yang." Golok setan segera mengenali orang-orang yang sedang menikmati makanan tanpa memperdulikan keributan disekitar mereka.
Seperti juga Kelabang Hitam, Golok setan juga tidak memahami sikap yang mereka tunjukan. Sebab kelima orang yang duduk dimeja dekat jendela itu tidak menunjukkan rasa ketakutan atas kehadiran mereka.
Selain itu dia juga segera menyadari sesuatu yang juga dirasakan oleh Feng Lei atau Kelabang Hitam yang membuat lelaki itu ragu untuk menyerang mereka.
Bedanya bagi Golok setan justru itu adalah sesuatu hal yang sangat menarik, yaitu pancaran kekuatan yang berasal dari mereka berlima
"Pantas saja tuan muda Yang berani bertingkah, ternyata mereka memiliki jagoan yang melindungi keluarga mereka!" Tatapan Golok setan berpindah dari Yang Xiaoma yang ketakutan dan bersembunyi dibawah meja ke arah Dewi Anggini.
Pancaran kekuatan besar dari meja didepan jendela lebih menarik hatinya dibandingkan tuan muda yang bersembunyi dibawah meja.