
"Ini seperti mimpi, lihatlah ternyata sekarang sudah tidak ada shurala sama sekali dipermukaan!" Suro terkejut dengan penampakan yang sangat berbeda dari yang sebelumnya mereka saksikan.
Mereka bertiga kemudian terus melesat memeriksa diberbagai penjuru alam itu. La Tongeq sakti yang hampir seumur hidup tidak merasakan sinar matahari terlihat begitu bergembira.
"Pemandangan awan dan sinar matahari ini sangat aku rindukan. Entah berapa lama aku sudah tidak pernah melihat pemandangan ini?" La Tongeq sakti menatap awan yang berarak di langit yang tidak lagi ada hawa kegelapan didalamnya.
"Lihatlah, selain tidak ada hawa kegelapan, sejak tadi kita juga tidak menemukan satupun shurala." Geho sama menatap kesekeliling dari tempat diketinggian.
Karena mereka bertiga memang terbang diatas udara. Tanpa adanya awan dan kabut hitam yang melingkupi alam itu, maka matahari dapat menyinari seluruh alam itu.
Suro maupun Geho sama mencoba mengerahkan tehnik empat sage untuk melacak keberadaan hawa kegelapan yang mungkin saja masih ada ditempat tersebut.
Namun sekian jauh mereka merasakan energi alam disekitar, Suro maupun Geho sama tidak berhasil menemukan jejak hawa kegelapan.
"Ini sangat aneh kemana mereka semua menghilang?" Geho sama menatap ke arah Suro yang msih penasaran mencoba menggunakan tehnik empat sage untuk melacak keberadaan hawa kegelapan.
"Benar, sepertinya alam ini sudah bersih sama sekali dari hawa kegelapan. Bahkan tidak satupun dari shurala yang sebelumnya bertebaran dapat kita ketemukan," Suro menyahuti ucapan Geho sama sambil terus melacak hawa kegelapan.
Suro kembali mengajak mereka untuk melacak hampir ke seluruh alam yang luas itu. Namun sampai berkali-kali mereka melacak, tidak menemukan apa yang mereka cari.
"Ini kita sudah diujung benua, lihatlah dikejauhan samudera telah membentang dengan warnanya yang biru. Tidak sama dengan saat terakhir kali kita melihatnya yang terlihat menghitam."
"Kemungkinan warna menghitam pada samudera adalah karena hawa kegelapan yang telah meresap sampai ke dalam samudera. Tetapi kini penampakan yang sangat berbeda melingkupi seluruh alam, baik di darat maupun di lautan." sahut Geho sama yang berada disamping Suro.
"Kemungkinan setelah sebagian kekuatan sejati yang dia miliki aku serap, dewa kegelapan kemudian mencari sumber kekuatan tambahan yang lebih banyak. Dan dia mengambil kekuatan tambahan itu dari hawa kegelapan yang telah tersebar di alam ini hingga tidak tersisa."
"Termasuk para shurala yang telah menyerap kekuatan kegelapan miliknya. Bisa dikatakan dia memanen apa yang telah dia tanam. Karena kekuatan dan jiwa para makhluk yang menyerap kekuatan kegelapan akan memperkuat kekuatan dan jiwanya."
"Apakah artinya alam ini sudah dapat kami tinggali dan tidak perlu hidup didasar bumi?"
La tongeq sakti menatap ke arah Suro dengan berharap dia bisa memulai hidup yang baru.
"Benar apa yang paman ucapkan, jika seperti itu, sebaiknya dari sekarang kita mencari tempat yang aman untuk dijadikan tempat bermukim."
"Namun demi menjaga ada kemungkinan datangnya serangan para shurala yang tidak kita ketahui, sebaiknya akan aku buatkan benteng mengelilingi tempat yang akan dijadikan pemukiman."
Mereka kemudian kembali ke titik awal dengan menggunakan langkah maya. Karena dititik awal tanahnya terlihat lebih subur dibandingkan ditempat lain.
Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya mereka menemukan tempat yang cocok untuk digunakan sebagai pemukiman.
"Bagaimana paman sakti, apakah tempat ini cocok menurut pandangan paman?"
"Benar sekali nakmas, aku menyukai lembah ini. Paman rasa benteng alam ini dapat melindungi dari beberapa arah."
"Kalau memang paman setuju, baiklah aku akan membuat benteng perlindungan, agar penduduk yang nantinya menempati lembah ini dapat hidup dengan aman dan terlindungi dari serangan luar. Benteng yang akan aku buat seharusnya mampu melindungi dari serangan shurala sekalipun."
"Baik nakmas, silahkan nakmas lakukan."
Suro kemudian mulai mengerahkan tehnik perubahan tanah untuk membuat benteng seperti yang telah dijanjikan.
Braak!
Duuum!
Duuum!
Setelah tanah yang ada didepan Suro bergerak naik ke atas, maka secara berurutan terdengar dentuman berkali-kali. Hanya dalam beberapa tarikan nafas benteng tanah yang menjulang tinggi muncul didepan mereka.
Sebenarnya secara alami lembah yang akan digunakan sebagai tempat pemukiman itu telah dibentengi oleh deretan pegunungan granit yang sangat curam. Dan sulit didaki karena kemiringannya mencapai sudut hampir sembilan puluh derajat alias tegak lurus.
Pegunungan itu membentang dari sisi timur ke utara lalu menembus sampai sisi barat. Karena itulah Suro membentuk benteng terluar itu hanya di sebelah selatan.
Benteng terluar yang dibuat oleh Suro tingginya hampir dua kali pohon kelapa. Benteng itu memiliki lebar lebih dari lima puluh langkah, sehingga terlihat begitu kokoh.
Sejak menyerap kekuatan Dewa Kegelapan kekuatan milik Suro telah meningkat hingga tingkat surga lapisan atas.
"Lodra, kini giliranmu!" Suro segera mencabut Pedang Kristal Dewa.
Dalam satu kali tebasan melesat api hitam yang langsung melingkupi benteng tanah yang begitu megah. Demi melingkupi seluruh benteng itu Lodra mengerahkan jurus Kemarahan Sang Garuda.
Benteng yang awalnya hanyalah sebuah benteng tanah, setelah dibakar oleh Lodra akhirnya menjadi merah membara dengan sangat cepat. Setelah itu api hitam kembali kepada bilah pedang ditangan Suro.
Suro kemudian berpindah ketempat lain dia melakukan seperti sebelumnya. Tetapi kali ini dia membuat benteng melingkar membentuk bulatan penuh dengan tinggi tak kalah seperti sebelumnya.
Pada akhir proses, dia kembali mengerahkan Lodra untuk membentuk benteng tanah itu menjadi batu yang sangat kokoh. Begitu kokohnya bahkan mirip benteng sebuah kerajaan besar.
"Paman nanti tinggal membuat pintu gerbangnya saja. Aku sengaja menyisahkan celah yang dapat digunakan untuk membuat gerbang benteng ini."
"Terima kasih nakmas, ini sudah sangat membantu sekali."
"Seharusnya benteng ini tidak akan ada yang mampu menjebolnya, kecuali diserang para Shurala yang menguasai kemampuan tehnik perubahan tanah."
"Aku rasa para Shurala yang memiliki kemampuan itu juga sudah hilang dari alam ini. Jika tidak, tentu saat aku menunggu tuan Suro selama dua purnama dikedalaman tanah, tentu aku sudah kerepotan diserang oleh mereka," sahut Geho sama meneruskan ucapan Suro.
Setelah selesai membentuk benteng kokoh, maka Suro mulai menata kota yang akan ditinggali penduduk.
Dia seperti membangun sebuah kota kademangan. Semua di kerahkan dengan menggunakan tehnik perubahan tanah. Dan kemudian dibakar dengan api hitam milik Lodra.
Demi memastikan tidak adanya serangan ataupun keberadaan para Shurala, akhirnya mereka bertiga memilih tinggal ditempat tersebut selama beberapa hari.
Apalagi sebelum keberangkatannya mengikuti Suro, La Tongeq sakti telah diberikan bekal begitu banyak oleh ketiga istrinya. Walaupun sebenarnya satu bekal dari istrinya saja sudah cukup untuk dirinya selama beberapa hari. Namun demi mencegah rasa iri dari istrinya yang lain, akhirnya dia membawa semua bekal itu.
Selama Suro membangun sendiri seluruh kota yang akan ditinggali, Geho sama dan La Tongeq sakti memilih memantau kondisi sekitar terutama keberadaan para makhluk kegelapan. Mereka Geho sama dan La Tongeq sakti menelusuri beberapa tempat di empat arah mata angin hingga jauh.
Geho sama masih penasaran dengan kondisi alam itu yang jauh berbeda dibandingkan terakhir kali saat dia menyambanginya.
"Mungkin memang benar, jika para Shurala telah menghilang dari alam ini." Geho sama mengedarkan pandangan matanya ke segala penjuru arah mata angin dari tempat di ketinggian.
"Aku tidak menyangka, jika alam ini dapat kembali hidup, setelah ribuan tahun tenggelam oleh hawa kegelapan."
"Benar, tuan pendekar. Aku juga tidak menyangka jika memiliki kesempatan dapat muncul dipermukaan dan melihat sinar matahari."
Disepanjang mata memandang terlihat pepohonan mulai tumbuh cukup rimbun. Walaupun pepohonan yang tumbuh belum cukup tinggi.
Terakhir kali Geho sama dan Suro muncul rumput-rumput memang sudah tumbuh. Namun pepohonan belum tumbuh setinggi, seperti yang terlihat sekarang.
**
Setelah selesai membangun benteng dan memastikan jika para Shurala tidak lagi terlihat didaratan sampai jarak yang begitu jauh, akhirnya mereka memutuskan kembali menuju negeri bawah tanah.
Sesat mereka muncul bukan sambutan hangat kepada mereka bertiga, justru para rakyat negeri itu sedang berkumpul didepan kediaman La Tongeq sakti.
Mereka melakukan berbagai protes terkait kebijakan yang dilakukan La Tongeq sakti. Salah satunya adalah keputusan membiarkan para pedatang tetap tinggal ditempat tersebut. Dan juga protes yang lain.
Walaupun La Tongeq sakti merupakan pemimpin negeri bawah tanah itu, tetapi memang dia adalah seorang pemimpin yang cukup bijaksana dan bukanlah seseorang yang memperintahkan dengan tangan besi.
Meskipun jika dia melakukan itu, maka tidak ada yang mampu melawannya. Sebab dia satu-satunya orang terkuat di negeri tersebut.
Demi menjernihkan suasana dan juga hendak menjelaskan alasan kepergiannya yang sampai lebih dari satu minggu, dia akhirnya mengumpulkan seluruh penduduk untuk mengabarkan tentang rencana mereka sebelumnya.
Dia hendak merembuk masalah itu dengan seluruh rakyat yang dia pimpin. Sekaligus berembuk mencari jalan keluar terhadap protes yang mereka layangkan.
Saat La Tongeq sakti sibuk dengan rakyatnya, Suro maupun Geho sama memilih melakukan hal yang lain. Seperti rencana awal saat Suro tersadar dari meditasinya yang panjang, yaitu rencana ingin berburu ayam hutan.
Luh Niscita memaksa ikut pergi bersama mereka berdua. Walaupun Suro sudah berbicara jika mereka berdua tidak perlu dipandu jalan.
Namun Luh Niscita memaksa agar diperbolehkan untuk menjadi petunjuk jalan. Karena bisa dikatakan seluruh hutan didalam negeri bawah tanah itu telah dijelajahi oleh Luh Niscita.
Mereka bertiga kemudian pergi berajalan beriringan.
"Sebenarnya kakang berencana hendak membuat ayam bakar."
"Aku suka itu kakang, biasanya aku berburu bersama ramanda. Nanti Niscita akan memperlihatkan tempat yang banyak ayam hutannya."
"Jika seperti itu kakang akan membuatkan ayam bakar yang istimewa untuk adinda. Aku pastikan adinda Niscita akan menyukai masakan kakang. Ini ayam bakar yang istimewa karena resep yang kakang gunakan berasal dari ahlinya ayam bakar."
"Ayam bakar resep istimewa?" Luh Niscita mengernyitkan dahi.
"Iya benar, sebab kakang akan membuat ayam bakar ala mbah Wiro."
"Siapa itu Mbah Wiro kakang?"
"Emmmmm...dia sejenis dengan ramandamu."
"Sejenis dengan ramanda? Maksudnya?"
"Iya, dia memiliki istri lebih dari satu. Tetapi dia memiliki keahlian masak yang jarang memiliki lawannya. Karena itulah warung makanannya memiliki masakan paling enak yang pernah kakang makan."
"Kakang sempat meminta resep darinya, sebab rasa nikmat dari ayam diwarungnya itu sulit untuk ditandingi. Aku rasa justru paling enak yang pernah aku datangi."
**
Kepergian Suro bersama Geho sama dan Luh Niscita ternyata telah diamati pasukan mencurigakan. Mereka menatap kepergian Suro dan yang lainnya hingga jauh.
Seluruh pasukan itu menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya. Mereka bersembunyi disemak-disemak dipinggiran pemukiman.
Jumlah pasukan itu lebih dari tiga lusin dan menggunakan seragam yang sama, yaitu serba berwarna hitam. Mereka kemudian memecah menjadi dua kelompok.
"Kalian habisi La Tongeq sakti, aku bersama yang lain akan menghabisi pemuda itu."
"Tenang saja, dengan kekuatan yang telah kau berikan ini, kami yakin akan mampu menghabisi La Tongeq sakti yang masih di tingkat langit. Apalagi satu gerbangpun dia belum membukanya." Satu orang ini kemungkinan merupakan pemimpin pasukan. Karena dialah yang memberi perintah kepada yang lain.
Pasukan yang terpecah menjadi dua itu, satu lusin menuju ke tempat pertempuan para penduduk, lalu dua lusin lainnya mengejar Suro. Tetapi mereka sengaja menjaga jarak cukup jauh, agar tidak dapat diketahui oleh Suro dan yang lainnya. Mereka cukup berhati-hati mengikuti Suro dikejauhan.