SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
541. Sukma Pemusnah Semesta



"Kakang harus berjanji kembali secepatnya!" ucap Mahadewi sambil memelototi Suro yang berdiri tegak seperti tiang rumah.


Di belakangnya Geho Sama yang berdiri menjulang terus berbicara memanas-manasi Mahadewi sambil tertawa terbahak-bahak. Geho Sama terlihat begitu puas menyaksikan Suro ketakutan seperti sedang di siksa di kawah. Condrodimuko seribu reinkarnasi kehidupan tanpa henti.


Suro hanya tersenyum manis untuk meredam kemarahan Mahadewi yang hendak ditinggal lama olehnya. Saat itu Suro pun tidak mengetahui seberapa lama waktu yang diperlukan untuk memastikan Dewa Kegelapan musnah secara total.


Dia berupaya mencari cara yang tepat untuk meredam kemarahan Mahadewi kepada sesuatu yang membuatnya tertarik. Setelah cukup lama berpikir dan rela mendengarkan omelan Mahadewi, akhirnya Suro menemukan sesuatu yang sangat bagus untuk dikatakan kepada Mahadewi.


"Apakah dinda tidak berminat menjadi bidadari di khayangan?" tanya Suro mencoba menenangkan Mahadewi yang sudah naik pintam hendak memelintir kuping Suro.


Awalnya Mahadewi tidak mengerti dengan perkataan Suro, namun dengan kemampuannya Suro memperlihatkan sebuah pemandangan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata baik keindahannya dan juga suasananya.


Mahadewi langsung terpana dan kehilangan seluruh kemarahannya. Wajah Mahadewi seketika segera berubah menjadi wanita tercantik seketika saat melihat apa yang mampu diperlihatkan Suro kepadanya.


"Ini dimana kakang?"


"Ini khayangan Alang-alang Kumitir tempat Sang Hyang Wenang berada," ujar Suro mulai menjelaskan. Pada saat itu sebenarnya hanya kesadaran Mahadewi yang dibawa serta dengan penglihatannya.


"Apakah aku juga akan kakang ajak?" Mendadak sesosok wanita yang jauh lebih cantik muncul di belakang Mahadewi yang senyumnya melebihi matahari terbit di puncak Gunung Himalaya.


"Sekarang apakah kakang diperbolehkan menuntaskan tugas Sang Hyang Ismaya dan juga Sang Hyang Wenang untuk memusnahkan Dewa Kegelapan?" tanya Suro mencoba merayu Mahadewi.


"Waktu yang kakang perlukan bukankah waktu yang teramat lama, mungkin aku sudah tidak ada di dunia, atau justru aku sudah menjadi tua renta?" ucap Mahadewi yang memahami penantian yang diperlukan untuk menunggu Suro bukan waktu yang sebentar.


Mahadewi mengetahui itu tentu saja karena Geho Sama lah yang menjadi biangnya. Dia memberitahukan semua kepada Mahadewi tentang semua itu karena sebelumnya kesadarannya bersambung dengan Mahadewi.


Geho Sama begitu senang melihat Mahadewi mengamuk seakan kemarahannya dan kekesalannya kepada Suro telah terbalaskan. Dia terus tertawa puas seperti baru saja mendapatkan sebuah penghargaan dari para dewa.


"Aku rela kakang, pergilah, aku akan menunggumu, meskipun itu seribu tahun lamanya," ucap Mahadewi.


"Apa? Tidak mungkin! Apakah engkau tidak mendengar, jika bocah sialan ini akan meninggalkan dunia ini dan berusaha menyegel Dewa Kegelapan memerlukan waktu hingga seribu tahun lamanya!" ucap Geho Sama mencoba memancing kemarahan Mahadewi.


"Diam kau Geho Sama!" dengus Mahadewi yang ganti memelototi makhluk mengerikan itu.


Secara mengagumkan Geho Sama langsung gemetaran begitu ketakutan. Dia tidak mengetahui bagaimana itu terjadi. Ternyata semenjak kesadaran dirinya pernah bersatu dengan Suro, rupanya dia juga takut dengan apa yang Suro takuti.


Tubuh Geho Sama itu langsung tegak berdiri tanpa berani berbicara. Kepalanya langsung mengangguk-angguk mengikuti cerocos kemarahan Mahadewi seperti lehernya terbuat dari per. Kali ini Suro yang dapat tertawa lepas sebelum akhirnya dia berpamitan kepada semua dan kembali ke Dunia Kegelapan.


Dalam sekejap Suro telah sampai di hadapan Dewa Kegelapan yang berhasil di segel olehnya dan dipenjara oleh kekuatan lima unsur pembangun alam semesta. Hanya saja kekuatan kegelapan yang ada padanya secara terus menerus menyerap ura kegelapan yang memenuhi alam kegelapan membuatnya penjara yang teah dibuat Suro hampir-hampir saja runtuh.


"Ini saatnya bagimu musnah selamanya Dewa Kegelapan!" dengus Suro sambil mengerahkan kekuatannya untuk balik menyerap kekuatan yang dimiliki oleh Dewa Kegelapan.


"Jurus Pusaran PanchaMahabuta!" terik Suro yang segera mengerahkan kekuatan puncak dari jurus empat sage.


Seketika itu juga aura kegelapan yang ada disekitar Suro terserap dan masuk ke dalam tubuhnya seakan itu adalah lubang hitam. Mata Dewa Kegelapan tercekat saat menyaksikan apa yang terjadi dia juga segera menyadari kekuatan miliknya yang susah payah dia serap tanpa di duga kini justru dengan cepat amblas ditarik keluar kembali oleh pusaran yang diciptakan Suro.


"Kali ini aku akan memusnahkanmu tanpa sisa Dewa Kegelapan! Sekarang terima lah nasibmu!" seringai Suro.


"Aku adalah Dewa Kegelapan, tidak akan aku biarkan manusia sepertimu berhasil memusnahkan diriku!" teriak Dewa Kegelapan dengan penuh amarah.


Segel yang memenjarakan dirinya langsung bergerak cepat mengikat tubuhnya menjadi sedemikian erat tidak membiarkannya bergerak. Keadaan itu semakin membuat kemarahan Dewa Kegelapan menjadi murka.


"Aku tidak akan membiarkan ini berjalan dengan mudah! Jasadku memang dapat kau penjarakan, tetapi ragaku ini hanyalah penompang dari kekuatan sejati sukmaku!" dengus Dewa Kegelapan yang berusaha menarik kembali kekuatan miliknya yang terus terkikis oleh pusaran yang diciptakan Suro.


Terlihat rasa putus asa telah menyelimuti jiwa dari Dewa Kegelapan. Dia menyadari, jika dirinya tidak mampu mempertahankan kekuatan miliknya, maka dapat dipastikan tubuh dan sukmanya kemungkinan juga akan musnah.


Hanya saja tubuhnya yang terbelenggu membuatnya tidak dapat bergerak bebas. Dia kini tidak memiliki pilihan lain untuk menyelamatkan dirinya harus bertaruh dengan taruhan yang membuatnya musnah atau justru akan menjadi penguasa semesta dan mampu mengalahkan Sang Hyang Wenang beserta semua dewa.


Kekuatan terakhir yang dapat dia oertaruhkan dalah kekuatan jiwa Dewa Kegelapan. Dengan kekuatan sukmanya itu dia berniat lepas dari segel dan penjara yang dibuat oleh Suro. Hanya saja dengan dia mengerahkan kekuatan itu dia akan lepas dari jasadnya. Dalam keadaan itu semua hal dipertaruhkan, sebab itu adalah saat paling kuat dan juga saat terlemah baginya.


Perbandingan keberhasilannya adalah lima puluh persen dan kemungkinan gagal juga lima puluh persen. Sebuah pertaruhan yang seimbang. Jika dia lepas dari segel dan mampu menguasai tubuh Suro, maka dia akan menang.


Sedangkan saat ini kemungkinan dia akan hancur akibat pengerahan jurus yang diperlihatkan Suro telah membuat kekuatan kegelapannya terus menerus lenyap dan dia memperhitungkan waktu yang dimiliki tidak banyak. Dalam kondisi itu dia akhirnya memantapkan untuk mengerahkan kekuatan jiwanya.


"Kita lihat apakah kau mampu menghadapi jurus pamungkasku Sukma Pemangsa Semesta!" teriak Dewa Kegelapan. Bersama teriakan itu seberkas sosok keluar dari tubuh Dewa Kegelapan dan melesat ke arah Suro yang berada di tengah pusaran dengan posisi bersamadhi dan menangkupkan kedua tangannya di dada.


Meskipun kedua mata Suro terpejam, namun segala sesuatu yang terjadi dapat dia liat seterang siang hari. Dia segera menggerakkan penjara yang mengekang tubuh Dewa Kegelapan. Tanpa di sangka kali ini penjara itu bukan hanya mengunci tubuh Dewa Kegelapan tetapi berhasil menyerapnya hingga lenyap tidak tersisa.


Semua itu sebenarnya telah diperkirakan oleh Suro. Apa yang dilakukan oleh Dewa Kegelapan justru memang yang dinginkan oleh Suro. Dia mendapatkan pemahaman dari Sang Hyang Ismaya selama dia menunggu tubuh Dewa Kegelapan yang berhasil dia segel.


Selama sukma Dewa Kegelapan masih bersemayam di tubuhnya, maka akan mustahil melenyapkannya. Satu-satunya satu cara yang bisa dilakukan adalah memaksa dan memancing Dewa Kegelapan keluar dari jasadnya dan mengerahkan kekuatan sejati dari jiwanya.


Kekuatan itu memang sangat dahsyat, bahkan Maharajadewa sekalipun tidak akan mampu mengatasinya. Dengan jurus itu Dewa Kegelapan akan mampu menguasai tubuh korbannya dan menjadikannya sebagai tubuh pengganti.


"Kau pikir setelah dapat menghancurkan tubuhku kau telah berhasil memusnahkanku, kau salah besar anak manusia, justru ini adalah akhir dari perjalananmu! Terimalah jurusku ini!" teriak sukma Dewa Kegelapan yang melesat menuju tubuh Suro.


Ketika sukma Dewa Kegelapan berhasil masuk ke dalam tubuh Suro, justru sebuah senyuman terbentuk di wajah Suro, "kini kau telah terjebak Dewa Kegelapan!" seringai Suro dengan senyuman kemenangan.