SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 122 SEBUAH RENCANA



Dewa Pedang yang sedang dikeroyok dengan begitu banyaknya siluman tidak gentar sedikitpun. Walaupun dengan itu membuat Dewa Pedang terkepung dari segala arah, tetapi itu justru membuat amukannya semakin mengila. 


Dia bergerak cepat dengan pedang cahaya api putih. Dia sengaja menggunakan pedang cahaya terkuat kedua lebih kuat dari tahap api biru, karena siluman yang menyerang kebanyakan berumur lebih dari sepuluh ribu tahun.


Setiap tebasan pedang cahaya miliknya dipadukan jurus dari kitab Dewa Pedang dan dikerahkan oleh pendekar pedang terkuat, membuat serangan yang dilakukan begitu akurat, cepat dan tentu saja sangat dahsyat. Tumpukan mayat siluman mulai menggunung seiring amukan yang dilakukan Dewa Pedang. 


Dengan kedatangan Dewa Pedang beserta pasukan Kalingga membuat arus serangan pasukan yang dipimpin Medusa menjadi terpecah. Jika sebelumnya mereka hanya fokus terus mengempur pertahanan pasukan Perguruan Pedang Surga, kini lawan yang harus dihadapi berada didepan dan dari arah belakang, yaitu Pasukan Kalingga yang baru saja sampai.


Dengan kondisi itu tentu saja membuat semangat pasukan Perguruan Pedang Surga berkobar kembali. Apalagi melihat ketua perguruan mereka yang bisa dilihat dari kejauhan, telah mengamuk dan membuat gunungan mayat para siluman yang mengepungnya.


Tetapi tetap saja itu belum membuat sebagian besar dari mereka menjadi bernafas lega, karena dengan begitu banyaknya pasukan siluman yang terus berdatangan membuat mereka tetap bisa dibantai kapan saja. Apalagi kebanyakan dari anggota Perguruan Pedang Surga yang ada digaris belakang belum mencapai tahap pedang langit. Dengan kondisi itu tentu membuat mereka menjadi was-was, karena bisa menjadi sasaran yang empuk untuk dimangsa para siluman.


Bahkan dengan kedatangan Dewa Pedang yang mengamuk dengan begitu dahsyat dan membuat gunungan mayat, seakan belum mengurangi jumlah pasukan siluman. 


Eyang Tunggak semi yang sebelumnya bersama tetua lain menghadapi Tujuh Pedang Sesat diluar dinding perguruan, kini mereka telah bergabung bersama para tetua Sinar Gading, tetua Nguyen Poo, tetua Datuk nan Bujang dan juga tetua lainnya sampai saat ini mereka mati-matian menahan serangan musuh.


Ketujuh tetua yang mampu mengimbangi kekuatan Tujuh Pedang Sesat, yang dimaksud adalah Eyang Tunggak semi, Eyang Sangkan paran guru dari Gayatri, Eyang Tunggak Jati, tetua Gagak Pamilih guru dari Basudewa, Eyang Kebo ijo dan dua tetua lagi. Salah satunya adalah guru dari Jaladara tetua dari perguruan cabang yang ada disekitar Gunung Jamurdipa atau sekarang lebih dikenal dengan nama Gunung Slamet. Satu lagi adalah guru dari Bajang Awarawar yang merupakan guru besar dari Perguruan Alap-alap Kumitir.


Dengan kehadiran mereka sebenarnya kekuatan pertahanan Perguruan Pedang Surga digaris terdepan bertambah. Tetapi para siluman yang menyerang ke arah mereka juga bertambah berkali-kali lipat daripada sebelumnya.  


Sehingga sekuat apapun para tetua yang menahan seluruh pasukan musuh, tetap saja tidak mampu menahan seluruh pasukan siluman yang menerjang ke arah mereka. 


Semakin banyak siluman yang menyerang semakin banyak juga para siluman yang berhasil menerobos pertahanan para tetua. Sasaran para siluman itu adalah anggota perguruan yang berada digaris belakang. Karena tingkat kekuatan mereka lebih lemah membuat para siluman itu mudah memangsa korbannya.


Apalagi sebagian tetua itu juga sedang menghadapi para jagoan dari aliran hitam yang merupakan bagian dari pasukan Medusa. Mereka adalah tokoh golongan hitam yang tingkat kemampuannya tidak jauh berbeda dari para tetua.


Guru dari Anum Panji tetua cabang perguruan Gerbang Mahakam akhirnya tewas terbunuh oleh iblis tongkat setelah dia membantu Dewi Anggini. Kematian dari anggota perguruan juga terus bertambah banyak.


Seperti yang dikhawatirkan Suro akhirnya kini benar-benar terjadi. Pertempuran yang terus berlangsung sudah semakin banyak memakan korban dari pihak Perguruan Pedang Surga, hampir sepertiga dari anggota perguruan kini telah tewas.


Digaris belakang pasukan Kerajaan Kalingga Dewa Rencong yang terus membantu mengobati Suro akhirnya membuahkan hasil. Setelah melalui penyaluran tenaga dalam oleh Dewa Rencong ke tubuh Suro dalam jumlah besar membuat dia mulai kembali sadar dari pingsannya.


"Paman Maung?" Matanya yang terbuka segera mengenali pendekar yang berada didepan matanya. 


"Benar bocah ini aku. Bagaimana ceritanya kamu bisa terlempar sebegitu jauh?"


"Hantaman dari serangan Medusa begitu kuat paman. Tubuhku yang kaku tidak sempat menghindarinya. Begitu kuatnya hantaman itu, membuat tubuhku terasa seperti hancur berhamburan paman" 


"Benar aku juga melihat lontaran tubuhmu yang langsung ditangkap adimas Dewa Pedang. Tetapi meskipun serangan Medusa yang begitu dahsyat, aku sudah memeriksa dari denyut nadimu tidak mengalami luka dalam.


"Terima kasih paman Maung atas pertolongannya." Suro mencoba bangkit untuk memberi hormat kepada pendekar yang sedari tadi duduk bersila sambil menyalurkan tenaga dalam, tetapi ternyata efek dari serangan Medusa masih mendekam dalam tubuhnya. Tubuhnya masih kaku tidak bisa digerakkan sedikitpun.


"Aku tidak tau cara mengobati akibat serangan dari kedua mata Medusa, nakmas. Makanya paman hanya mencoba menyadarkanmu saja. Karena menurut pengetahuan paman selama ini tidak pernah ada yang selamat dari serangan mata Medusa. Jika nakmas mampu bertahan sampai saat ini dan tidak berubah menjadi arca batu, paman yakin nakmas mengetahui caranya agar bisa pulih seperti sedia kala dari pengaruh serangan Medusa." 


"Benar paman aku bisa pulih dari pengaruh serangan kedua mata Medusa dengan menggunakan tehnik empat sage. Menurut perkiraan Suro, ilmu itu bukan hanya berasal dari energi chakra tetapi juga dari sebuah kekuatan kutukan yang mampu memusnahkan energi kehidupan seseorang. Dengan tehnik empat sage Suro dapat menyerap energi kehidupan. Sehingga dengan itu energi kehidupan yang hilang dapat dikembalikan mengisi tubuhku kembali"


"Bagus kalau begitu. Silahkan nakmas mengerahkan tehnik empat Sage aku akan menjauh."


Setelah beberapa saat kemudian Suro berhasil memulihkan tubuhnya dan mulai bangun. Dia terperanjat sebab seluruh pakaiannya sudah tidak ada. kini justru telah diganti dengan sebuah Zirah perang yang menutupi anggota tubuhnya.


"Paman Maung kemana pakaianku siapa yang telah menelanjangiku dan mengganti pakaianku dengan baju besi ini?" 


"Jangan-jangan adinda Mahadewi yang telah mengganti seluruh pakaianku dengan pakaian besi ini?" Dia tersenyum-senyum sendiri jika itu yang menggantikan itu adalah wanita paling cantik yang pernah dia lihat itu.


Sebuah hantaman telapak tangan dengan kecepatan tinggi tiba-tiba menghantam pipinya dengan keras.


"Aduuuh!" Suro langsung mengusap-usap pipinya yang memerah. Wajahnya yang hendak memelototi orang yang menyerangnya mendadak bibirnya langsung berubah senyuman terlebar.


"Eh adinda ternyata sudah sampai disini."


"Coba katakan sekali lagi siapa yang melakukan!" Mahadewi yang sedari tadi menunggu Suro bersama Dewa Rencong dengan penuh khawatir langsung murka mendengar perkataan Suro. Dia tidak menyadari jika Mahadewi ada dibelakangnya, sebab dia yang baru bangun dari posisi tidurnya kemudian terduduk terperanjat dan sibuk memandangi pakaian dari logam yang menutupi tubuhnya.


"Bukan adinda yang melakukan maksud saya paman Maung yang menelanjan..! Belum selesai bicara sebuah hantaman keras mengenai hidung Suro yang membuatnya terlempar sejauh delapan langkah.


"Aduuuh...hidungku!"


"Bocah tidak tau diuntung! Sudah ditolong bukan berterima kasih justru menuduh sembarangan." Sebuah tendangan kecepatan tinggi dari Dewa Rencong langsung menghantam wajah Suro.


"Aduuuh hidungku patah ini paman!"


"Sukurin biar saja mulut tidak pernah disaring." Mahadewi bersungut-sungut sambil menatap Suro yang hidungnya berdarah.


"Aduuuh... hidungku ambles."


"Pingin tambah ambles?" Dewa Rencong menatap tajam ke arah Suro yang masih terduduk, sambil berkacak pinggang.


'Itu aku yang melakukannya tuanku.' Suara Kavacha terdengar jelas dikepalanya.


"Telat!" Suara Suro terdengar jelas dikuping Dewa Rencong yang masih memelototinya.


"Kau bilang apa bocah? Aku telat menolongmu!"


"Bukan, bukan paman Maung.. ampun maksud Suro telat menghindar. Aduuh...hidungku." Sambil mengusap-usap hidungnya dia kemudian bangkit berdiri. Tatapan matanya melihat dari kejauhan lesatan asap dari wujud siluman yang turun dari langit begitu mengerikan.


"Gawat paman kita harus segera menghentikan serangan siluman. Jika kita tidak segera menghentikannya anggota perguruan Pedang Surga yang kekuatannya dibawah tingkat tinggi akan dibantai habis oleh para siluman."


Dewa Rencong ikut menatap jalannya pertarungan dan juga lesatan asap wujud siluman yang terus menerus berdatangan seakan tidak ada habisnya. 


Mahadewi justru menatap penampilan Suro yang terlihat begitu gagah melebihi para raja. Karena zirah perang yang digunakan Suro terlihat begitu megah. Dia tidak pernah melihat pakaian perang yang terlihat sangat indah itu.


"Darimana kakang mendapatkan pakaian perang keemasan ini?" Mahadewi begitu takjub membuatnya tidak dapat menahan rasa penasarannya untuk bertanya.


"Ceritanya panjang dan aku tidak bisa mengatakannya sekarang." Suro justru kembali menatap Dewa Rencong yang tidak segera menanggapi perkataannya yang sebelumnya.


"Jika dalam jumlah sebegitu banyaknya meskipun aku bersama adimas Dewa Pedang tidak akan mudah menghabisi seluruh siluman itu." Dewa Rencong menghembuskan nafas panjang sebelum menanggapi perkataan Suro.


Suro termangu mendengar perkataan Dewa Rencong. Dia lalu berpikir keras mencoba mencari solusi agar bisa secepatnya menghentikan pembantaian yang ada didepan matanya 


Karena pertempuran yang berlangsung semakin mengerikan. Pasukan Kalingga yang baru saja datang telah diserbu oleh para siluman. Mereka seperti mendapatkan makan siang gratis. Para siluman itu berebutan melahap ribuan prajurit dari Kerajaan Kalingga itu.


"Aku punya ide paman Maung tetapi ini memerlukan bantuanmu." Perkataan Suro membuat kaget Dewa Rencong yang juga termenung mencari cara menyelamatkan mereka semua. Sebab jika dia segera menyusul melakukan seperti yang dilakukan Dewa Pedang bukan solusi terbaik. Meskipun jumlah yang telah dibantai Dewa Pedang semakin menggunung, karena dia memang tidak diberikan kesempatan oleh para siluman untuk berpindah tempat.


Tetapi dengan begitu banyaknya siluman yang telah dibantai ternyata tidak banyak membantu menyelamatkan seluruh pasukan Kalingga yang ada dibelakangnya. Sebab siluman berdatangan justru lebih banyak lagi. Sehingga dengan kondisi itu, membuat banyak siluman yang lolos dan memangsa prajurit yang tidak mampu melakukan perlawanan berarti.