
Duuuum!
Sebuah ledakan besar hampir saja meruntuhkan dinding makam kaisar. Setelah ledakan itu selesai seluruh tubuh Shi Suzaku telah lenyap. Sebab tubuh itu telah hancur dan menyebar rata ke seluruh dinding makam tersebut.
Setelah berhasil menghancurkan seluruh dinding besi yang hendak menggencet tubuhnya, mendadak Dewa Obat telah muncul kembali ditempat itu. Sebuah senyuman tersungging di sudut bibirnya.
Sebab apa yang dia perkirakan memang berhasil. Seluruh belenggu yang dibuat tidak cukup kuat untuk mengurung pertapa tua itu.
"Tidak mungkin! Bagaimana dia masih mampu mengerahkan kekuatan sedahsyat itu?" Ichi Shuzaku terkejut dengan kekutan yang ditunjukkan oleh Dewa Obat.
Seharusnya menurut perhitungan para Suzaku, setiap orang yang masuk ke dalam belenggu Cermin Pembalik Sukma dalam waktu yang dihabiskan di alam ilusi barusan, maka kekuatan tenaga dalam korban sudah diserap habis oleh pengguna jurus itu.
Setelah kekuatan korban berhasil di serap, maka tubuhnya akan ikut dilumat menjadi nutrisi bagi pengguna jurus itu.
Dalam pertarungan yang mereka lewati, hampir tidak ada yang pernah selamat dalam pertarungan yang menggunakan jurus tersebut. Tetapi baru kali ini mereka dikejutkan dengan kemampuan musuh yang mampu menghancurkan jurus dan bahkan menghancurkan tubuh pengguna jurusnya.
"Beruntung dirimu telah memperingatkan diriku muridku, walaupun aku tidak begitu jelas mendengar apa yang kau ucapkan, namun aku sempat menangkap beberapa kata tentang rahasia ilmu para siluman itu." Mata Dewa Obat menatap tajam ke arah Suzaku yang terkejut dengan kejadian barusan.
Dewa Obat lalu berjalan mendekat ke arah Suro tanpa menurunkan kewaspdaan dirinya pada ke tiga Suzaku.
"Aku sempat menangkap ucapanmu yang terakhir. Jika tidak salah kau menyebut perut. Akhirnya aku menyimpulkan mereka membuat alam ilusi dalam tubuh mereka."
Melihat Shi Suzaku mati dengan begitu mengenaskan, membuat Ichi Suzaku akhirnya turun tangan. Dia adalah siluman elang terkuat diantara Suzaku yang lain.
"Jangan biarkan satupun dari mereka hidup!"
"Jika kita tidak mampu membunuh mereka, maka nyawaku kita juga tidak berharga, karena itu sepantasnya nyawa ini menjadi tumbal demi kemenangan suku Elang Langit yang agung."
Ichi Suzaku segera membuat keputusan berat, setelah melihat kemampuan Dewa Obat barusan. Dia memberi perintah kepada dua Suzaku lainnya.
"Kita harus memberikan waktu yang lebih banyak kepada Yang Mulia Karuru, agar dia berhasil menyelesaikan urusannya didalam ruangan tempat jasad Kaisar Qing berada." Ichi Suzaku menatap dua Suzaku didepannya dengan pandangan penuh emosional.
"Maka tidak ada pilihan bagi kita selain melakukan pengorbanan bagi kejayaan suku Elang Langit dengan nyawa kita."
"Demi Kejayaan Elang Langit!" Mereka bertiga berseru secara bersamaan.
Mereka bertiga laku merapat untuk membuat serangan adalan mereka.
"Bentuk formasi pemanggilan Shinigami!"
Ketiga Suzaku segera menyatukan ketiga telapak tangannya dengan masing-masing sebelah tangan yang lain membentuk segel tangan.
**
"Hati-hati, mereka sedang memulai jurus pemangilan terlarang milik suku Elang Langit!" Geho Sama yang merupakan bagian suku Elang Langit memahami jurus yang akan digunakan musuh.
"Apa yang kau maksud Geho Sama?" timpal Suro.
"Mereka memanggil kekuatan lain dari alam gaib. Tetapi itu adalah kontrak hidup dan mati!"
"Mereka sepertinya sudah putus asa melihat kekuatan yang mereka hadapi," Suro kembali menyahut ucapan Geho Sama.
"Mereka melakukan itu apakah karena serangan yang aku lakukan, sehingga membuat mereka ketakutan?" Dewa Obat berbicara sendiri sambil melihat musuh yang berkumpul.
Suro dan Dewa Obat tidak memahami dengan ucapan Geho Sama.
"Mengapa tidak kita serang saja selagi mereka melakukan seperti itu?" Dewa Obat kembali bertanya kepada Geho Sama.
"Itu terlalu berbahaya,"
"Maksudnya?" Dewa Obat masih tidak mengerti.
"Lihatlah makhluk yang mulai terlihat muncul bersama ketiga chakra para Suzaku yang mulai terkumpul ditengah mereka! Jika kita mendekat ke arah mereka saat ini, maka kita hanya akan menjadi tumbal.
Tenaga dalam kita langsung ikut diserap habis sampai amblas. Sebab di sekitar mereka sebenarnya terbentuk segel tak kasat mata. Sebagai segel pelindung dan juga jebakan yang akan aktif dan ikut menyegel musuh jika masuk kedalamnya."
"Untung dirimu memberitahu mengenai hal itu. Memang makhluk apa yang lebih mengerikan dibandingkan wujud mereka yang memanggil?"
Geho Sama tertawa dan berhenti seketika lalu berpaling menatap Dewa Obat, lalu berbicara dengan nada serius,"Dewa Kematian! Dia juga dikenal dulunya sebagai penjaga neraka, jadi sebaiknya jangan sampai mati ditangannya. Karena itu artinya dirimu akan berakhir ke neraka!"
"Apakah makhluk itu yang kau maksud, Geho Sama?" Dewa Obat menunjuk sebuah sosok yang berwarna hitam kelam dengan sebuah cemeti panjang penuh duri ditangannya.
Wajah dari Shinigami itu berwarna merah dengan dua tanduk di dahinya. Sebuah senjata berupa cemeti penuh duri tajam itu berwarna hitam sehitam pakaiannya yang robek-robek di ujungnya.
Sedangkan ditangan kanannya sebuah bilah pedang besar yang juga berwarna hitam tergengam dengan erat.
"Hati-hati dengan cemeti yang dipegang makhluk itu, sebab cemet itu mampu menangkap nyawa manusia dan mencabutnya dari raganya. Sedangkan pedang itu mampu memenjarakan kesadaran manusia dalam alam mimpi yang tak berujung, salah satu pedang penyegel terkuat." Kembali Geho Sama mulai menjelaskan tentang kekuatan Shinigami yang telah muncul.
"Jangan sampai tubuh kalian tersentuh bilah pedang dan cemeti yang dia miliki, apalagi terkena tebasan pedangnya!" Geho Sama menambahkan dengan mimik muka begitu serius.
Makhluk itu mulai menghembuskan nafas panjang sambil memejamkan mata, seakan sudah lama dipenjara ditempat yang pengap.
"Akhirnya aku bisa melihat dunia ini, setelah sekian lama tidak seorangpun yang memanggilku!"
Pandangan matanya langsung berpindah ke arah Suro dan yang lainnya.
"Jadi mereka lah yang harus aku telan menjadi tumbalku?"
"Tebasan Mimpi Kematian!"
Lesatan dengan kecepatan sangat tinggi menghajar mereka bertiga. Beruntung mereka sebelumnya sudah diperingatkan oleh Geho Sama. Sehingga saat lesatan sebuah energi berwarna hitam melesat ke arah mereka, maka serentak bergerak menghindar.
"Jurus Golok Pelebur Langit!"
Dewa Obat tidak mau kalah, begitu dia berhasil menghindari serangan musuh dan berkelit beberapa kali, dia lalu menggunakan jurus golok miliknya.
Jurus tebasan itu tepat mengenai Shinigami, tetapi dia segera menyadari serangan tebasan golok miliknya tidak mampu melukai musuhnya.
"Bagaimana cara untuk menghabisinya, Geho Sama?" Dewa Obat berteriak keras sambil bergerak menghindar dari tebasan pedang milik Shinigami yang mengejar dirinya.
Dewa Obat lalu menyarungkan golok Sang Naga Pembantai miliknya dan berganti menggunakan gandewa Wijaya. Dia lalu mulai menghujani musuh dengan anak panah chakra. Sebab bukan hanya Shinigami yang menjadi lawan mereka kini.
Ketiga Suzaku yang memanggil sosok makhluk bernama Shinigami melesat ikut menyerang mereka. Mereka bergerak untuk membuka peluang Shinigami mampu mengenai mereka bertiga.
"Sial aku tidak mungkin memanggil Astra berkekuatan besar, Geho Sama cepat katakan bagaimana caranya kita dapat menghabisi makhluk itu!"
Sebenarnya bukan hanya Dewa Obat yang kebingungan dengan kekuatan Shinigami. Sebab Suro yang menggunakan jurus kedua dari ilmu tapak Dewa Matahari miliknya pun tidak melukai makhluk itu.
"Sebentar berikan waktu kepadaku, aku pernah mendengar makhluk itu. Tetapi baru kali ini ada yang menggunakan tehnik terlarang dan memanggilnya datang!"
"Cepat Geho Sama kita tidak bisa terus menghindar dari serangan makhluk itu dan juga para siluman elang!"
Setelah para Suzaku memanggil Shinigami, maka tubuh siluman elang itu tidak bisa dibunuh, meskipun luka telah menghiasi tubuhnya oleh serangan Taru Braja milik Geho Sama.
Jiwa dan tubuh mereka telah bersatu dengan Shinigami. Sehingga setiap kali tubuh mereka terluka separah apapun, maka semua kembali pulih seperti semula seakan tidak pernah terluka.
"Intinya makhluk itu tidak akan terluka oleh jenis senjata apapun, sebab dia adalah makhluk gaib!" Kembali Geho Sama menjelaskan kekuatan Shinigami
"Jangan pernah berpikir untuk menggunakan kekuatan jiwamu bocah!" Geho Sama buru-buru memperingatkan Suro, sebab dia telah membaca rencana pemuda itu yang sempat terlintas dalam pikirannya.
Suro hanya berdecak kesal mendengar Geho Sama. Sebab apapun serangan yang mereka gunakan bukan hanya tidak melukai Shinigami, tetapi para Suzaku juga.
**
Terima kasih yang sudah memberikan dukungan.
Bagi yang kurang puas itu adalah hak masing-masing disini bukan YLKI
Tetap ditunggu dukungannya agar authornya lebih semangat
terima kasih semua selamat week end
semoga pandemik ini cepat selesai, memang tidak mudah melewati pandemik.
Banyak yang sudah kehilangan pekerjaan karena efek domino dari pandemik ini. Tetap semangat semuanya