
"Aku bisa saja sedari tadi langsung mengejar lelaki yang melarikan diri itu sendiri tanpa meminta bantuan paman. Namun bayi ini sepertinya kehausan aku harus kembali ke kota Shanxi untuk memberinya minum secepatnya.
Selain itu aku khawatir jika aku meneruskan langkahku mengejar akan membahayakan jiwa dari bayi ini. Karena itu paman akan aku bawa ke kota Shanxi terlebih dahulu.
Bagaimana, apakah paman mau menerima tawaranku?" Suro bertanya sambil menatap Subutai.
Lelaki itu terlihat bimbang saat mendengar ucapan Suro.
"Jika paman merasa upah yang aku berikan kurang, maka aku akan menambahkan," ujar Suro sembari memperlihatkan kantong lainnya yang menggantung di pinggangnya.
"Baiklah, tetapi dengan syarat, aku tidak ikut bertempur bersama kalian melawan suku Elang Langit."
Suro menjawab dengan menganggukkan kepala sambil memberi tanda jempol ke arah Subutai. Senyum pemuda itu cukup lebar setelah mendengar jawaban Subutai.
"Aku akan memberikan seluruh upah dan juga memulihkan seluruh kemampuan paman, setelah paman menunjukkan tempat suku Elang Langit bersembunyi."
'Sudah aku duga sejak awal racun ini memang sangat bermanfaat sekali. Unung saja aku berhasil menirunya,' batin Suro sambil memberikan penawar racun dengan jumlah yang hanya dapat membuat Subutai mampu berdiri kembali.
Walau tenaga dalam yang dia miliki belum mampu pulih. Tetapi itu lebih dari cukup. Sebab setelah itu Suro memegang pundaknya.
Mereka kemudian menghilang dan langsung muncul di depan halaman walikota Shanxi. Sesuai dugaan Suro, setelah pertempuran yang berlangsung semua kembali berkumpul.
"Akhirnya kau kembali ngger, kau juga berhasil menyelamatkan bayi yang hendak di culik pasukan miterius.
Siapa lelaki ini?" Eyang Sindurogo tersenyum lebar setelah mengetahui kedatangan Suro.
Tetapi dia memicingkan mata melihat orang asing bersama muridnya.
Sebelum Suro menjawab ucapan gurunya, bayi yang ada dalam dekapannya mendadak menangis. Dia lalu berusaha menenangkannya. Tetapi terlihat dia kewalahan untuk membuatnya tenang kembali.
"Bayi ini sepertinya kehausan. Kedua orang tuanya telah dibunuh oleh orang yang menculiknya." Suro mencoba menjelaskan keadaan kedua orang tua bayi yang telah dibantai saat mencoba mempertahankan anaknya.
"Biar aku bantu nakmas," ucap tetua Dewi Anggini yang segera mendekat ke arah Suro.
"Bayi yang lucu," tetua Dewi Anggini terlihat begitu antusias melihat bayi ditangan Suro.
Setelah bayi itu berpindah tangan, Suro kemudian meneruskan perkataannya dan menjawab pertanyaan gurunya.
"Apakah kau sudah tau apa alasan mereka menculik para bayi dan membunuh para penduduk dengan menghisap darahnya hingga kering?" Dewa Rencong menyela ucapan Suro.
"Nah mengenai hal itu sebaiknya aku tanyakan paman ini," ucap Suro sambil menoleh ke arah Subutai.
"Mengenai hilangnya para bayi di kota ini memang dari perbuatan pasukan Elang Langit. Namun mengenai kematian penduduk yang dihisap darahnya hingga kering itu bukan dari pihak kami.
"Kemungkinan kalian sedang menghadapi seseorang yang mempelajari ilmu Kelelawar Hijau. Sebuah ilmu sesat yang membuat penggunanya hanya memakan dari darah saja.
Tetapi dengan itu tubuhnya sekuat baja dan berubah menjadi makhluk yang kekal. Walaupun sebenarnya tak lebih daripada menghisap hawa kehidupan makhluk lain."
"Sedikit mirip dengan ilmu empat Sage," sela Eyang Sindurogo.
Kali ini Subutai tercenggang mendengar ucapan barusan.
"Ada apa kisanak apakah kau pernah mendengar ilmu itu?"
Subutai tidak segera menjawab, dia beberapa saat belum menguasai keadaan. Dia justru masih memicingkan mata ke arah eyang Sindurogo.
"Tentu saja aku mengetahuinya. Hanya saja ilmu dahsyat itu telah musnah tidak ada yang memilikinya. Bagaimana pendekar bisa mengetahui ilmu tersebut?"
"Bagaimana dirimu juga mengetahui ilmu itu?" eyang Sindurogo justru berbalik bertanya kepada Subutai.
"Sebab ilmu itu ada di negeri Wajin hanya ada pada jaman kuno dahulu kala. Karena itulah aku terkejut saat pendekar menyebut ilmu empat Sage. Ilmu itu ditulis dalam kitab yang pernah aku baca memiliki sebutan lain sebagai ilmu pembantai siluman."
Seperti juga ilmu Kelelawar hijau itu adalah salah satu ilmu yang hanya dimiliki segelintir orang. Tidak banyak yang mengetahuinya.
"Apa yang terjadi sebenarnya bukankah Kelelawar Hijau telah mundur dari dunia persilatan. Mengapa pendekar dari aliran hitam itu kembali muncul? Jendral Zhou ikut menyahut ucapan Subutai.
Dia sebagai jendral penjaga kota tentu mengetahui mengenai sepak terjang para pendekar yang disebutkan oleh Subutai.
"Bagaimana kisanak bergabung dengan pasukan Elang Langit dari negeri Wajin, bukankah pakaian yang kisanak gunakan ini adalah orang-orang dari utara penghuni padang rumput tempat Khan Langit berkuasa?" Jendral Zhou kembali melanjutkan ucapannya.
Suro segera menyadari, jika lelaki setengah baya itu menggunakan pakaian yang berbeda.
"Oooo...jadi alasan itu, mengapa lelaki yang bernama Ichiro itu menyebut paman awalnya adalah pasukan Khan Langit. Jadi paman sebenarnya bukan dari negeri tempat Geho sama berasal?"
"Apa Geho sama? Bagaimana dirimu mengenal nama itu?" Mendengar nama yang disebutkan Suro, Subutai kembali terkejut.
"Weladalah... Paman Subutai mengenal Geho sama juga ternyata. Apakah paman salah satu temannya? Berarti paman ini lebih tua dibandingkan eyang guru yang sudah berumur ratusan tahun. Jika paman seumuran dengan Geho sama, berarti umurnya minimal sudah ribuan tahun," Suro bertanya dengan polosnya.
Eyang Sindurogo mulai menggaruk-garuk kepalanya. Begitu juga Subutai, dia juga ikut menggaruk-garuk kepalanya tidak memahami maksud perkataan Suro.
"Bukan seperti itu yang aku maksudkan, cerita Geho sama bagi masyarakat yang ada di negeri Wajin adalah sebuah nama tokoh yang hanya ada dalam dongeng.
Namun aku mendengar langsung dari Karuru pemimpin tertinggi dari suku Elang Langit, jika nama itu memang ada."
Setelah mendengar penjelasan Subutai, Suro mengangguk-anggukkan kepala. Dia kemudian menjelaskan kepada Subutai tentang Geho sama.
"Sebentar penjelasan pendekar Suro membuat jidatku mengepul." Subutai mengurut-urut jidatnya.
"Sebenarnya kalian ini siapa, aku tidak pernah sekalipun mendengar nama kalian, tetapi kekuatan kalian begitu mengerikan. Bahkan memiliki hubungan dengan para makhluk yang ada di jaman kuno."
"Bukankah Karuru yang paman sebutkan berkali-kali sebagai pemimpin tertinggi suku Elang Langit, juga termasuk makhluk dari jaman kuno?"
"Bagaimana pendekar Suro mampu mengetahuinya, jika Karuru yang aku sebutkan adalah makhluk dari jaman kuno?"
"Sebab barusan Geho sama sendiri yang menjelaskan kepadaku."
"Ha! Mana? Dimana Geho sama?" Subutai langsung bangun dan melihat sekeliling mencari sosok yang baru saja disebut oleh Suro.
Suro menggaruk-garuk kepalanya," eee...bagaimana aku menjelaskannya ya?"
Belum sempat Suro menjawab, justru Subutai mengangguk-anggukkan kepala seperti memahami sesuatu.
"Aku paham jadi pendekar Suro ini kadang dirasuki oleh siluman Geho sama yang dapat membisikan kedalam kesadaran pendekar?"
"Karena memang Karuru juga mampu melakukan seperti yang dilakukan Geho sama." Lanjut Subutai setelah tidak menemukan sesosok makhluk yang dia cari.
"Sebentar aku menyela, menurut perkataan angger Suro, kisanak sebelumnya bagian dari pasukan Elang Langit?" Eyang Sindurogo menyela ucapan Subutai yang hendak melanjutkan ucapannya.
"Benar apa yang pendekar Sindurogo katakan."
"Jadi aku ingin mengetahui alasan dibalik penculikan bayi ini.'
Subutai lalu menjelaskan, jika pencurian bayi itu, sebenarnya terjadi tidak hanya di kota Shanxi saja. Itu sudah menyebar ke kota-kota lain dalam beberapa hari saja.
Dia menyebut itu adalah perintah langsung dari Karuru. Bayi yang mereka curi sesuai dugaan awal memang hendak di jadikan tumbal untuk merendam sebuah pusaka terkutuk.
Kekuatan pusaka itu akan bangkit, jika diberikan tumbal darah para bayi dalam jumlah yang sangat banyak.
"Aku sebenarnya hanyalah orang-orang bayaran yang menjadi bagian dari pasukan Elang Langit. Tetapi aku mendengar jika penculikan bayi itu sebagai jalan untuk dapat merebut Nirwana dari para dewa.
Karuru menjanjikan mereka akan mendapatkan Nirwana, jika berhasil mengusir dewa yang terlalu serakah ingin menguasai Nirwana hanya untuk bangsa mereka saja."