SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 256 Kontrak Sihir Kegelapan part 2



Purbangkara menerjang dengan jurus apinya. Serangan gabungan mereka berdua menjadi begitu selaras, karena memang mereka berada dalam satu kesadaran yang bermuara dalam kesadaran Suro. Jurus api milik Purbangkara terlihat begitu menakutkan, bahkan para makhluk kegelapan tidak berani mendekati Purbangkara.


Dia memainkan jurus pedang dari bagian pertama jurus kristal dewa. Jurus itu mirip cecaran air hujan milik Perguruan Gerbang Mahakam. Gerakannya yang sangat cepat seperti air hujan yang mencoba mencabik-cabik tubuh Batara Antaga menjadi serpihan kecil-kecil.


Selain gerakan jurusnya yang sangat cepat, api hitam yang menyelimuti bilah pedangnya ditambah tiga puluh bilah pedang yang berseliweran membantunya, membuat Batara Antaga cukup kerepotan.


Dari ketiga puluh bilah pedang itu, beberapa kali pedang milik Suro berhasil menebas tubuh Batara Antaga, meskipun begitu luka itu dengan cepat akan kembali pulih.


Karena itulah Batara Antaga tidak terlalu menghiraukan luka karena tebasan pedang Suro, dia justru sibuk menahan serangan yang dikerahkan Purbangkara dengan tubuh api dan juga pedangnya yang dilapisi api hitam.


Kombinasi serangan jurus Suro dan Purbangkara mengepung Batara Antaga dari berbagai sisi, namun sampai berpuluh-puluh jurus belum mampu menumbangkan Batara Antaga.


Karena ada beberapa hal yang membuat dia mampu menahan kepungan serangan dahsyat itu, salah satunya adalah bantuan pasukan kegelapan yang terus berdatangan menahan serangan Suro. Hal lain yang cukup berarti bagi Batara Antaga dalam menahan serangan lawan, adalah keberadaan dua pusaka miliknya.


Dua senjata yang digunakan Batara Antaga memiliki bentuk yang sangat unik. Satu pusaka yang dia pegang berbentuk tombak pendek. Tombak itu keseluruhannya terbuat dari baja hitam sampai pada pegangannya. Sehingga tombak kondisi itu membuatnya menjadi lumayan berat. Panjang keseluruhan dari tombak itu kurang dari satu depa. Pusaka itu memiliki nama Tombak Sang Talaka.


Dengan Tombak itulah dia menghadapi jurus Purbangkara. Dia luar biasa lihai meskipun tombak itu cukup berat. Batara Antaga memainkan tombak pendek ditangannya, seolah tombak itu memiliki pikiran sendiri. Pusaka Tombak Sang Talaka memiliki kemampuan unik, yaitu dapat meredam panas dari bilah pedang Purbangkara.


Satu pusaka lainnya seakan bergerak sendiri secara bebas menahan serangan tiga puluh bilah pedang Suro. Pusaka itu bernama Sang Chandra Suci. Bentuknya pipih melebar setengah lingkaran seperti bentuk sebuah bulan sabit. Bagian dalamnya berbentuk seperti pola kobaran api. Panjang diameter pusaka itu dari ujung ketemu ujung lebih dari satu depa.


Warna sekujur bilah pusaka itu sesuai dengan


bahannya, yaitu baja khusus yang berwarna putih mengkilat. Dengan adanya kedua pusaka itu Batara Antaga untuk sementara masih mampu menghalau cecaran pedang Suro yang bergerak sangat cepat dan begitu rapat seperti pusaran badai.


Meskipun bermodalkan dua pusaka tingkat iblis dan tingkat langit. Dia sebenarnya cukup kewalahan menghadapi Suro yang menyerangnya seperti kesetanan.


Sebenarnya Batara Antaga cukup terkejut mengetahui kekuatan Suro berbeda jauh dibandingkan saat bertemu terakhir sebelum penyerangan ke perguruan Pedang Bayangan. Sekarang dia kembali dibuat terkejut, setelah menyadari kekuatannya telah meningkat tajam dan sudah berada pada tingkat surga. Ia mengira jika Suro selama ini menyembunyikan kekuatan sebenarnya.


Dia sangat murka, karena dia masih ingat beberapa rencana telah digagalkan oleh Suro. Seperti juga sekarang, kemenangan yang hampir saja dia dapatkan harus tertunda dengan kedatangan Suro.


Tenaga dalam yang sejak awal sengaja dia hemat, Karena kemarahannya yang sudah memuncak, maka akhirnya Batara Antaga tidak dapat menahan lagi.


"Anak ini, selalu saja dia terus mencoba menggagalkan semua rencanaku! Akan aku pastikan hari ini ditahun depan, adalah hari peringatan kematianmu bocah!"


"Lihat jurusku ini bocah apa kau mampu selamat darinya!"


Sebuah kekuatan sihir yang tidak dia perlihatkan sebelumnya, akhirnya terpaksa dia dikerahkan. Kekuatan sihir yang dia kerahkan kali ini sebenarnya ilmu simpanan.


Dia tidak menyangka jika demi menghadapi pemuda tanggung didepannya, ilmu itu terpaksa dia kerahkan saat ini.


Tetapi dia sudah tidak peduli lagi, dia sudah bertekad untuk menghabisi lawannya kali ini. Semua itu diawali dengan sebuah ledakan kekuatan miliknya.


Duuuum!


Ledakan kekuatan besar itu sengaja dia kerahkan, karena tenaga ledakan itu sebenarnya digunakan untuk melesatkan sesuatu benda yang terlihat seperti keluar dari sekujur tubuh Batara Antaga.


"Mundur Purbangkara!" Suro berteriak memperingatkan kembarannya untuk segera menjauh.


Beruntung Suro menyadari ada sesuatu bahaya besar dari ledakan kekuatan yang dikerahkan Batara Antaga. Dia menangkap lesatan benda hitam yang tidak terhitung banyaknya, karena itu adalah sesuatu yang sangat mirip dengan rantai pemasung jiwa milik Pujangga gila.


"Semuanya menjauh jangan sampai ada yang terkena rantai sihir itu!" Suro memperingatkan keseluruh tetua yang berada cukup jauh dari pertempurannya dengan Batara Antaga. Dia sendiri bersama Purbangkara memilih secepatnya mundur, karena mengetahui bahaya dari sihir yang dikerahkan Batara Antaga kali ini.


Dewa Pedang dan Dewa Rencong pernah bertempur melawan Pujangga gila di hutan Gondo mayit. Sehingga mereka berdua segera menyadari jika benda hitam yang menerjang bersama kekuatan Batara Antaga yang meledak, adalah sesuatu yang sama dengan milik Pujangga gila. Karena itulah dia ikut berteriak memperingatkan yang lain segera menjauh.


"Mundur kalian semua! Cepat menjauh!"


Puluhan manusia terkena jurus itu, bahkan diantaranya adalah para tetua. Salah satu tetua yang tertembus rantai itu adalah eyang Baurekso. Dia adalah ketua Perguruan Pedang Halilintar yang berada di Banyu Kuning. Tubuhnya diseret dengan begitu kuat. Para tetua lain yang mencoba membantu, justru ikut terkena serangan rantai sihir yang lain.


Para tetua itu berteriak kesakitan saat tubuhnya terbang karena tarikan yang kuat dari Batara Antaga. Teriakan rasa sakit para tetua itu membuat Suro yakin jika jurus yang dikerahkan musuhnya memiliki kesamaan dengan jurus Pujangga gila.


Mereka para tetua rata-rata hanya memiliki pencapaian kekuatan tingkat shakti, tentu bukan lawan yang mampu mengimbangi kekuatan Batara Antaga yang telah mencapai tingkat surga. Mereka semua yang berhasil ditarik Batara Antaga ke sisinya langsung kehilangan kesadaran.


Dewa Pedang, Dewa Rencong maupun Suro tidak sempat menolong mereka. Karena lesatan rantai hitam itu begitu banyak menutup jalan mereka untuk menyelamatkan para tetua, maupun para anggota perguruan yang ikut terjerat rantai milik Batara Antaga.


Purbangkara telah menghilang, karena Suro telah menghentikan ajian sedulur papat. Pedang kristal Dewa juga telah berada dalam genggaman Suro.


"Bagaimana lelaki itu memiliki rantai yang sama dengan milik Pujangga gila?" Dewa Rencong bertanya kepada Suro yang melesat mundur menjauhi Batara Antaga.


"Karena dialah yang menanamkan rantai itu pada jasad Pujangga gila, paman guru. Dia juga yang telah mengikat jiwa Pujangga gila, sehingga tak ubahnya menjadi mayat hidup, paman!"


Suro kemudian menceritakan akhir dari riwayat Pujangga gila dan juga sedikit penjelasan Geho sama tentang kontrak sihir.


"Gawat para tetua yang tertangkap rantai itu apakah akan berakhir menjadi pasukan kegelapan?" Dewa Pedang yang ikut mendengar penjelasan Suro menjadi khawatir dengan nasib para tetua yang tidak sempat dia selamatkan, karena telah ditarik menuju sisi Batara Antaga.


"Suro kurang mengetahuinya paman, tetapi kekuatan rantai itu sangat kuat. Bahkan eyang guru saja dapat dipecundangi dengan mudah. Dia tidak dapat lepas dari rantai itu meskipun eyang guru sudah sampai pada tingkat surga?"


"Jadi sebaiknya kita semua harus mewaspadai apa yang dikerahkan Batara Antaga kali ini!"


Saat mereka menatap Batara Antaga dari kejauhan, para tetua yang tertangkap sebelumnya telah kehilangan kesadarannya, serentak mereka bangun. Namun mereka sepertinya sudah tidak dalam kesadarannya sendiri.


"Ini yang Suro khawatirkan jika sampai tertangkap oleh rantai pemasung jiwa, mereka para tetua dan para murid perguruan sepertinya sudah dalam kontrak sihir yang dibuat oleh Batara Antaga."


Dan benar saja, sebab mereka yang telah tertangkap oleh rantai Batara Antaga langsung menyerang dengan rantai yang muncul dari tubuh mereka.


"Hahahaha kalian yang menghalangiku akan aku jadikan tumbal untuk Rantai Pemasung Sukma milikku!"


Bersama teriakan kemarahan Batara Antaga dia menyerbu menuju puncak bukit diikuti para tetua dan murid perguruan yang telah berada dalam kendalinya.


"Gawat! Kita tahan makhluk itu dengan serangan gabungan! Gunakan kekuatan maksimal kalian!" Dewa Pedang memberi aba-aba kepada para tetua untuk menggunakan jurus pedang terkuat.


Namun sepertinya keberadaan para tetua dan murid perguruan yang sudah dalam kendali Batara Antaga membuat mereka kesulitan menyerang. Karena para tetua dan para murid itu berada didekat Batara Antaga.


Seolah mereka memang sengaja dijadikan tameng agar dirinya tak tersentuh. Taktik licik dari Batara Antaga memang membuat semua ragu untuk melancarkan serangan gabungan.


Sebab jika mengerahkan jurus sejuta tebasan, maka para tetua yang tertawan ikut tewas. Dengan taktik itulah akhirnya Batara Antaga mampu menembus pertahanan musuh bersama seluruh pasukan daratnya.


Saat semua terus mundur Suro melakukan serangan yang tidak disangka oleh Batara Antaga, yaitu dengan menggunakan perubahan tanah.


Duuum!


Mendadak muncul naga yang membelit tubuh Batara Antaga dan membawanya masuk ke dalam tanah, kemudian menghantamnya dengan dinding tanah. Begitu kuatnya dentuman itu bumi bergetar dengan kuat.


Semua berlangsung dengan cepat hanya dalam satu kedipan mata, sehingga tidak banyak yang menyadarinya. Bahkan Batara Antaga sendiri tidak menyangka dengan serangan kejutan seperti itu.


Karena dia ditarik masuk ke dalam tanah, maka semuanya menjadi gelap gulita. Sebelum Batara Antaga sempat menyadari apa yang terjadi hantaman dinding tanah silih berganti kembali menghantam tubuhnya, secara terus-menerus.


Naga bumi yang melilit tubuhnya tidak mampu dia hancurkan secara total, karena seberapa kuat dirinya menghancurkannya, maka akan pulih dengan cepat dan terus menariknya semakin jauh ke dalam tanah.