
"Tehnik ini bernama Sembilan Putaran Langit. Walaupun tehnik ini sangat dahsyat tetapi tidak semua orang bisa mempelajari tehnik ini. Hanya seseorang yang memiliki kondisi bawahan lahir yang spesial."
"Salah satunya adalah dia harus memiliki sembilan kanda atau sembiln anasir alam didalam tubuhnya. Jika seseorang yang memiliki kanda kurang dari sembilan maka akan membuat perputaran chakranya terbalik."
"Jika itu terjadi maka kemungkinan besar orang tersebut akan cacat atau yang paling parah akan menyebabkan kematian. Karena dengan terbaliknya arus energi maka salah satu saluran nadi pasti akan pecah."
"Kebetulan kamu memiliki sembilan kanda dalam tubuhmu sehingga memenuhi syarat untuk mempelajari tehnik ini."
Dewa Pedang dengan telaten memberi pelajaran kepada Suro yang bersimpuh didepannya. Panjang lebar dia menjelaskan kepada calon muridnya itu. Dia menjelaskan sedetail dan sejelas mungkin agar Suro bisa memahaminya dengan baik.
"Tehnik ini memiliki sembilan tahap. Dalam setiap tahapnya mampu memberikan pasokan chakra yang signifikan."
"Jika seseorang telah melewati sembilan tahap maka dipastikan aliran energi yang didapat walau masih di tingkat tinggi, tetapi kekuatannya sembilan kali lipat dari kekuatan tenaga dalam pada umumnya. Atau bisa dikatakan kekuatanmu sudah seimbang dengan tenaga dalam tingkat shakti tahap pertama."
"Kau tau apa artinya itu suro?"
"Mohon maaf paman pendekar, Suro yang bodoh ini hanya memiliki sedikit pengetahuan mohon pencerahannya!"
"Seperti sebelumnya anggab saja kita saling berbagi ilmu tidak perlu kau panggil aku guru cukup namaku atau gelar pendekarku. Karena sebelum aku mengajarimu justru dirimulah yang lebih dulu mengajariku bocah."
"Mohon maaf paman Pendekar. Suro hanya tidak ingin dianggab lancang dan tidak memiliki sopan santun. Dengan tidak menghormati sosok Pendekar pedang terkuat di benua timur ini, jika tidak memangil dengan sebutan tuan guru."
"Hahahaha! Panggil saja aku seperti biasanya."
"Baik paman pendekar." Jawab Suro sambil menjura.
"Jika engkau telah mencapai kekuatan tingkat shakti tahap pertama tenaga dalammu akan meningkat berkali-kali lipat dengan kekuatanmu sekarang."
"Tetapi ada yang menggajal sejak awal aku bertemu ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan kondisi tubuhmu Suro. Tingkat pelatihan kundalinimu tidak lebih dari nadi sushumna. Seharusnya bisa dikatakan tingkatmu hanya setara dengan tingkat kelas dasar."
"Tetapi entah mengapa kekuatanmu hampir mendekati pendekar kelas satu atau justru lebih?"
Suro hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk.
"Mohon maaf tuan pendekar jika itu telah membuatmu bingung. Ada beberapa tehnik yang memang telah khusus diajarkan oleh Eyang Guru untuk menutupi kekurangan Suro dalam pelatihan tehnik kundalini."
"Tehnik tambahan itu yang telah memasok energi chakra ke dalam tubuh Suro dengan berlimpah. Seandainya tanpa itu tentu Suro tidak akan mampu mengerahkan tehnik Naga Api dari dalam bumi."
"Sungguh beruntung kamu Suro memiliki Guru yang Linuweh seperti Eyang Sindurogo."
"Tetapi jangan khawatir, walaupun aku tidak akan sehebat gurumu tetapi dengan tehnik ini pun aku jamin semua jalur nadi besar sampai titik mahkota akan mampu kamu buka Suro. Termasuk tujuh chakra dalam tubuhmu dan tiga granthi atau penghalang energimu akan terbuka semua."
"Selain itu ada keistimewaan lain yang membuat tehnik ini sangat istemewa bagi seorang ahli pedang."
"Satu syarat berikutnya untuk mencapai tahap puncak tehnik ini seseorang diharuskan masih dalam kondisi perjaka sampai dia selesai menembus sembilan tahap.
" Walaupun seseorang itu sudah mampu membuka empat belas nadi besar ditubuhnya juga mampu membuka tujuh chakra ditambah mampu membuka tiga granthi ditubuh, tetapi jika sudah tidak perjaka maka tidak akan meraih kekuatan puncak dari tehnik tenaga dalam sembilan putaran langit ini."
"Sekali lagi paman bertanya padamu, apakah dirimu masih perjaka nakmas suro? Karena sudah tidak perjaka akan mustahil nakmas mampu meraih kekuatan puncak."
"Apa itu perjaka paman pendekar?" Wajah Suro bertanya dengan begitu polos.
Plaak!
Dewa Pedang menepok jidatnya.
Dia baru ingat bocah yang ada didepannya walaupun telah memiliki tubuh seorang anak yang berumur lima belasan tahun, tetapi sejatinya tak lebih dari sebelas tahun.
"Ehem!"
Dewa pedang berdeham untuk menutupi kebingungan dirinya, tentang bagaimana cara menjelaskan kepada Suro apa itu perjaka. Dia menjadi ragu perlu dijelaskan atau tidak.
"Sepertinya nakmas masih perjaka jadi kita lanjutkan ke pembahasan berikutnya."
"Oh ya! Apa nakmas benar yakin tetap akan menunggu sampai dua purnama disini untuk memastikan bahwa makhluk itu tidak keluar dari gerbang dimensi disekitar sini lagi?"
"Tentu saja paman Pendekar!"
Suro menjawab dengan mantap. Keteguhan hatinya seakan tak tergoyahkan. Dewa Pedang diam-diam mengaggumi keteguhan jiwa yang dimiliki Suro. Sepertinya berkat pembelajaran yang diajarkan Eyang Sindurogo telah membentuk jiwanya menjadi kuat.
Kehidupan dari kecil sampai sebesar ini dihabiskan bersama Maharesi yang cara hidupnya yang begitu disiplin dan teguh dalam berpendirian. Dengan tidak langsung hal itu telah membuatnya menjadi pribadi yang sama.
Menjadikan dia seorang bocah yang memiliki jiwa dan mental yang kuat. Begitu teguh dalam berpendirian dan telah memiliki prinsip hidup yang tak mudah digoyahkan.
Walau dengan tubuh yang masih bocah tetapi dengan sikap kedewasaannya itu telah membuat Dewa Pedang menaruh simpati pada Suro bledek.
Setelah pertempuran berakhir bersama dengan hilangnya Eyang Sindurogo para prajurit dan yang lain membersihkan semua sisa-sisa tubuh monster dan dikumpulkan kemudian dihancurkan. Dengan cara dikirim ke dalam inti bumi oleh Suro.
Setelah selesai mereka pamit meninggalkan mereka berdua. Dikarenakan Adipati Lowo Ireng dan Adipati Rakai Kalung Warok harus secepatnya kembali ke kerajaan untuk melaporkan kejadian ini kepada panglima koalisi tiga kerajaan.
"Tehnik ini hanya bisa digunakan untuk kaum pria karena tehnik ini bersifat Yang atau lingga. Jika seorang wanita memaksa mempelajari tehnik ini maka akan membuat perubahan pada fisiknya."
"Baiklah mulai besok sampai dua purnama kedepan kita akan belajar disini. Mungkin akan kita lanjutkan pelatihannya di Perguruan Pedang Surga karena paling cepat seseorang mampu menyelesaikan tehnik ini selama sembilan bulan lebih. Tergantung seberapa dalam pemahamamu dan seberapa kuat potensi kekuatan yang ada dalam dirimu."
"Apakah itu tidak terlalu lama bagiku untuk menyelamatkan guruku wahai paman pendekar?"
Dewa Pedang termangu mendengar pertanyaan dari Suro. Memang benar jika tidak segera bisa menyelamatkan Eyang Sindurogo sedikit kemungkinan dia akan mampu diselamatkan. Setelah merasakan sendiri bagaimana kuatnya serangan yang berasal dari formasi sihir pertahanan alam kegelapan tak mampu mereka tahan.
Bahkan tidak lebih dari lima seruputan teh perisai energi pelindungnya hancur dan harus membuat mereka segera hengkang dari alam kegelapan itu secepatnya.
Dan yang lebih menghawatirkan adalah daya hisap alam itu. Kekuatannya mampu menguras chakra seseorang dengan cepat. Bahkan mungkin daya hidupnya juga akan terhisap habis hingga menjadi mayat.
"Paman paham nakmas Suro, tetapi dengan kekuatankupun paman tak mampu mengatasi kekuatan sihir dari alam kegelapan."
"Mungkin nakmas harus menjadikan ini untuk memotivasi diri nakmas agar secepatnya bisa menyelesaikan pelatihan. Selain itu seperti yang telah dikatakan gurumu tidak ada yang lebih tau tentang alam kegelapan kecuali nakmas Suro sendiri."
"Karena hanya nakmas yang telah menghafal kitab sihir itu. Semoga dengan berjalannya waktu nakmas bisa membongkar formasi sihir dialam kegelapan secepatnya."
"Baik, terimakasih pencerahannya paman pendekar. Suro akan berusaha semaksimal mungkin agar mampu secepatnya menyelesaikan pelatihan yang akan paman pendekar ajarkan. Dan menemukan solusi untuk mengalahkan formasi sihir di alam kegelapan."
Suro memberikan penghormatan dengan begitu dalam. Karena dengan nasehat yang diucapkan sang pendekar telah membuat mata hatinya terbuka.
Akhirnya pelatihan tehnik sembilan putaran langit dimulai. Tidak seperti yang dibayangkan Suro sebelumnya bahwa latihan ini harus dilaluinya dengan melakukan latihan fisik yang sangat berat. Seperti yang pernah dia lakukan bersama Eyang Sindurogo.
Justru latihan tehnik ini hampir seluruhnya dilakukan ditempat. Pengerahan chakra setiap tahap dalam tehnik ini sangat unik. Tehnik pengerahan chakra dilakukan dengan jalan bermeditasi. Dalam keadaan itu setiap anggota tubuhnya diposisikan sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk-bentuk gerakan dalam yoga.
Tehnik ini mempunyai sembilan titik pengumpulan chakra pertama di chakra muladhara (chakra dasar), kedua chakra swadhistana(chakra pelanangan), ketiga chakra ananda rudras (chakra antara titik sakral dan titik perut), keempat chakra manipura (chakra perut), kelima chakra ananda anahat (titik antara perut dan titik jantung), keenam chakra anahata (chakra jantung), ketujuh chakra wisudha (chakra tenggorokan), kedelapan chakra ajna (chakra didahi), kesembilan sahasrara(chakra mahkota berada diubun-ubun).
Hampir setiap hari setelah mencari ikan dipinggir pantai untuk mengisi perut mereka. Kegiatan selanjutnya adalah berlatih sampai sore hari. Kemudian dilanjutkan lagi sampai pertengahan malam. Kadang Suro melakukan meditasi bahkan sampai pagi menjelang.
Dalam beberapa hal Dewa Pedang sedikit bingung dengan sikap Suro. Misalnya kebiasaan dia memilih berlatih dibawah terik matahari yang sangat menyengat. Bahkan dengan bertelanjang baju seakan membiarkan tubuhnya terbakar sinar matahari.
Walaupun saat belajar bersama Eyang Sindurogo dia telah sampai pada Chakra yang ada dipusat atau chakra manipura, tetapi waktu itu semua kanda yang dia miliki belum terbuka semua. Oleh karena itu dia akan memulai dari awal lagi, yaitu chakra muladhara.
Pada chakra muladhara berlangsung begitu lama bahkan Suro hampir menyerah karena dia harus membuka sembilan anasir alam dalam kandanya. Beruntung Dewa pedang selalu memberi semangat, akhirnya dia mampu membuka granthi atau segel kekuatan yang ada di chakra muladhara. Walau sampai menghabiskan waktu dua puluh tujuh hari, dengan itu maka tahap pertama telah selesai.
Pada tahap kedua dititik chakra swadhistana dapat berjalan dengan cepat hanya membutuhkan waktu sembilan hari sudah mampu memutar energi chakra di titik tersebut dengan sempurna.
Pada tahap ketiga yaitu di chakra ananda rudras berjalan dengan lebih lambat agak susah di lewati. Akhirnya setelah tujuh belas hari mampu dia tembus.
Setelah hampir dua purnama tanda-tanda kedatangan makhluk maupun formasi sihir gerbang dimensi tetap tidak menunjukan kedatangan mereka atau tak terdeteksi sama sekali.
Meskipun begitu keputusan Suro untuk menunggu sampai selesai dua purnama tetap tidak berubah. Dia tetap menunggu sampai batas waktu yang telah dia ucapkan sebelumnya.
Setelah tahap ketiga mampu dia lewati yaitu pada titik dibawah pusar. Kekuatan Suro meningkat dengan sangat signifikan. Dia merasakan sensasi seluruh tubuhnya seakan penuh dengan kekuatan yang sangat melimpah.
"Suro merasakan kekuatan yang begitu melimpah paman pendekar! Sungguh luar biasa tehnik ini, bahkan sekarang seakan tubuhku begitu terasa ringan paman pendekar!."
"Hahahahaha! Justru aku terkejut Suro dengan perkembangan latihan yang kamu lakukan. Sungguh luar biasa baru kali ini aku melihat seseorang yang mampu melakukan pelatihan tehnik ini secepat dirimu. Ternyata memang betul kata Eyang Sindurogo, engkau adalah harta paling berharga yang dia miliki."
Perkataan Dewa Pedang yang mengutip perkataan Eyang Sindurogo kembali membuat hati Suro menjadi begitu sedih. Karena sampai detik ini dia tidak tau nasib gurunya.
"Maafkan jika perkataan paman membuat nakmas Suro kembali bersedih."
Seakan rasa bersalah menyelimuti Dewa Pedang yang tak sengaja mengingat perkataan Eyang Sindurogo.
"Tidak mengapa paman Pendekar! Ini justru akan Suro jadikan pemicu diriku untuk lebih bersemangat agar segera bisa menyelamatkannya."
Ternyata dengan kemajuan tehnik sembilan putaran langit ikut berpengaruh dengan kemampuannya menyerap chakra dari sinar matahari. Kemampuannya ikut mengalami kemajuan dengan pesat. Bahkan bisa diperkirakan peningkatannya mendekati angka hampir tiga puluh persen dari semua energi yang telah ditangkap kulitnya.
Pada tahap berikutnya, yaitu tahap keempat membuka chakra manipura yang berada di titik pusar. Dia menyelesikan tahap tersebut dalam jangka waktu dua minggu, baru dia bisa melewatinya.
Dengan terlewatinya tahap tersebut semakin besar energi chakra yang sanggup dia himpun. Kemampuannya mengumpulkan energi membuat tubuhnya terasa penuh tenaga. Bahkan seakan meluap-luap.
Setelah dua purnama lebih sudah terlewati Dewa Pedang kembali mengingatkan Suro batas waktu yang telah dia tetapkan telah terlewati. Dengan berat hati akhirnya dia mengikuti permintaan Dewa Pedang menuju Perguruan Pedang Surga.
Suro paham jalan berliku masih panjang untuk dia lewati sampai dia bisa menyelamatkan gurunya atau setidaknya dia akan memastikan kembali keberadaan gurunya di alam kegelapan.
Dewa Pedang melihat Suro yang terlihat lesu dan begitu berat meninggalkan pantai Karangampel. Dewa Pedang hanya dapat menarik nafas panjang melihat ekspresi wajah yang tertangkap dari bocah yang ada disampingnya itu. Dia memahami dan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Suro. Meskipun tak sebesar seperti yang dirasakan Suro.
Bagaimana tidak Gurunya satu-satunya ini adalah satu-satunya orang yang telah merawatnya sedari kecil dan tak ada orang lain yang dia kenal sebelumnya.
Dalam hatinya maupun dalam ingatannya tak ada yang lebih dia sayangi melebihi dia menyayangi orang yang telah dia anggap guru juga ibu sekaligus bapak untuknya.
Kesedihan yang dia rasakan tak mungkin bisa dipahami kecuali telah merasakan sendiri bagaimana rasanya kehilangan seperti yang dia rasakan.
Perjalanan kembali ke Perguruan Pedang Surga terasa lama dan terasa begitu berat bagi Suro. Bersama setiap langkah kuda yang membawanya seakan membuat dirinya semakin merasa bersalah dan semakin merasa tak berguna karena tak mampu menyelamatkan gurunya. Dialah dalam hatinya sebagai satu-satunya orang yang paling dia sayangi.