
Sesaat setelah dia menghantamkan jurusnya, kembali lagi Suro harus mengalami kekecewaan. Sebab saat jurusnya itu menghantam ke arah Dewa Kegelapan, lesatan bola chakra yang sangat menyilaukan mata itu lenyap begitu saja hilang tenggelam dalam hawa kegelapan yang menyelimuti tubuh lawannya.
'Gawat seranganku barusan adalah jurus keempat dari Tapak Dewa Matahari, namun tidak mampu menghancurkan hawa kegelapan yang melingkupi tubuhnya. Jurus yang sangat mengerikan.'
'Kekuatan sebesar itu bisa musnah tanpa jejak, bahkan aku tidak mendengar suara ledakan didalam kegelapan yang menyelubungi tubuhnya. Itu artinya jurusku musnah sebelum mengenai tubuh si mata julung-julung!'
Suro tidak kehabisan akal Naga Taksaka yang diselimuti api hitam dia kerahkan untuk melesat menghajar Dewa Kegelapan. Seperti juga jurusnya tubuh Naga Taksaka itu juga langsung lenyap, segera setelah masuk kedalam pekatnya hawa kegelapan.
Meskipun tubuh naga itu lenyap tak berbekas seperti juga jurus yang baru saja dikerahkan olehnya, namun Suro telah mendapatkan sedikit rahasia yang tersembunyi dalam hawa kegelapan yang melindungi tuannya.
Sebelum memastikan sesuatu yang diketahui oleh Lodra saat melesat masuk bersama Naga Taksaka, Suro kembali menyerang Dewa Kegelapan dengan jurus lain. Dia ingin memastikan apakah serangannya kali ini juga tidak mampu melukai lawannya.
Bilah Pedang Kristal Dewa kini sudah kembali berada ditangannya. Pedang itu kembali digunakan Suro untuk menangkis lesatan material hitam yang terus menghujani dirinya. Materi hitam dari hawa kegelapan yang berjumlah ribuan berebutan menyerang Suro.
Satu-satunya alasan yang membuat Suro tidak mampu mendekati musuhnya adalah keberadaan material hitam. Rencananya untuk menggunakan tehnik empat Sage menghisap langsung ke tubuh Dewa Kegelapan terpaksa dia tunda.
Meskipun begitu sejak tadi dia menggunakan tehnik itu untuk menyerap dari sisi terluar sedapat yang dia bisa. Walaupun hawa kegelapan yang terhisap tidak sebanyak sebelumnya, tetapi itu cukup bagi Suro untuk membuktikan rasa penasarannya. Hawa kegelapan yang terhisap oleh pusaran chakra disekitar tubuh Suro tidak memiliki efek buruk terhadap tubuh maupun jiwanya.
Melihat serangan tidak ada yang berhasil Suro melukai lawannya, dia kemudian memilih mengganti serangannya dengan jurus milik Dukun Sesat dari Daha.
"Tapak Selaksa Dewa Racun!"
Dengan menggabungkan jurus Langkah Maya, maka seolah Suro menyerang dari segala sisi. Namun kembali kejadian terulang. Semua serangan yang menghujani musuh itu lenyap dan tidak berbekas, setelah tenggelam dalam pekatnya hawa kegelapan yang menyelubungi tubuh lawannya.
'Jurus racunku pun tidak memiliki pengaruh apapun. Terpaksa aku harus bertaruh untuk serangan terakhirku. Meskipun nyawaku yang menjadi taruhannya, tetapi aku harus melakukannya. Karena aku juga tidak memiliki pilihan lain.'
Melihat semua serangan miliknya tidak berarti dihadapan jurus lawan, akhirnya Suro membuat keputusan nekat.
Namun sebelum melaksanakan rencananya untuk menyerang lawan dengan berbekal sesuatu yang diketahui oleh Lodra sebelumnya, Suro harus memastikan suatu hal yang lain terlebih dahulu.
'Kavacha apakah perisaimu ini mampu menahan serangan musuh yang berupa ribuan tombak itu?'
'Jangan khawatir hal itu tuan Suro, aku akan melindungi setiap inchi tubuhmu.'
Mendengar jawaban Kavacha, maka jawaban itu memantapkan hatinya untuk melakukan rencana terakhirnya. Suro segera mengerahkan Langkah Maya, tubuhnya menghilang dari pandangan.
Namun sebelum menghilang dua berkas sinar menyilaukan mata tertangkap oleh mata. Dua bola chakra terlihat bersinar sangat terang dikedua telapak tangannya.
"Mata julung-julung, apakah dengan kemampuan matamu itu kau bisa mengira ini bakal terjadi?"
Duuuuuum!
Craaash!
Ledakan begitu kuat terjadi ditengah hawa kegelapan dan membuyarkan seluruh kepulan asap yang sangat pekat itu. Material hitam yang sebelumnya melindungi tubuh tuannya juga ikut hancur.
Suro sebelum lenyap telah mengerahkan jurus yang lebih kuat daripada sebelumnya, yaitu mengerahkan jurus kelima Dua Ledakan Matahari Kembar.
Namun untuk memastikan jika jurusnya kali ini berhasil dia akan lenyap dan muncul ditempat terdekat dari tubuh Dewa Kegelapan.
Setelah serangan jurus kelima dari ilmu Tapak Dewa Matahari menghantam, pedang miliknya juga ikut melesat menembus tubuh lawannya.
"Setan alas manusia sialan!" Dewa Kegelapan menggerung dengan penuh kesal.
Akibat hantaman jurus milik Suro tubuhnya terlempar jauh. Dia tidak menyangka sama sekali jika jurus andalannya dapat di hancurkan.
"Sialan, mata nujumku belum pulih secara sempurna, sehingga tidak mampu melihat seluruh kemungkinan yang akan terjadi. Jika tidak aku pasti bisa mengantisipasi serangan mendadak ini!"
"Hahahaha...mata ikan julung-julung tidak mampu meraba seranganku!" Suro tertawa terpingkal-pingkal setelah berhasil menghantamkan jurusnya.
Suro melihat lesatan tubuh lawannya yang terpental cukup jauh. Pedang miliknya yang juga berhasil menembus tubuh lawannya telah kembali kepadanya.
"Makhluk itu sepertinya termasuk makhluk abadi, padahal selain jurusku menghantam dadanya. Pedangku secara meyakinkan telah merobek jantungnya. Tetapi kondisi seperti itu juga tidak mampu membunuhnya.' Dia tidak berniat menyusul tubuh Dewa Kegelapan dan memberikan serangan susulan. Sebab dia melihat lawannya sepertinya telah bersiap kembali.
Selain itu dia tidak mensia-siakan hawa kegelapan yang buyar setelah tuannya terlempar jauh. Dia segera menyerap dengan menggunakan tehnik empat Sage dengan kekuatan penuh.
Seketika itu juga pusaran angin yang melingkupi tubuhnya menarik hawa kegelapan yang berada didekatnya. Setelah itu semuanya amblas masuk kedalam tubuh Suro.
"Hmmm...mengagumkan kekuatanku yang aku gunakan untuk mengerahkan jurus barusan telah pulih kembali setelah menyerap hawa kegelapan yang tertinggal, bekas jurus semesta hitam."
Pandangan Suro tidak beralih dari lawannya yang terlihat dikejauhan. Sebab lawannya seperti tidak kurang sedikitpun setelah terhantam kekuatan yang begitu mengerikan.
'Makhluk yang mengerikan dengan cara apa aku mampu membunuhnya? Jurusku yang mampu menghancurkan gunung sekalipun tidak berhasil membunuhnya.' Suro berdecak kesal mengetahui lawannya tetap mampu bertahan dengan serangan begitu kuat.
Saat dia sedang berpikir, dari sisi utara Tirtananta datang menghampirinya.
"Ternyata lawanmu siluman ular telah kau habisi Tirtananta.' Sosok kembarannya yang wajahnya berwarna putih tidak menjawab. Dia hanya terdiam tidak ada ekspresi apapun yang terlihat diwajahnya.
"Aku punya akal, bagaimana jika aku menyerangnya berlima sekaligus dengan seluruh pengawal gaibku? Benar juga, sepertinya aku ada harapan untuk menghadapi musuh sekuat dia, jika empat penjaga gaibku bergabung dalam pertarunganku melawan Dewa Kegelapan."
"Meskipun nantinya aku tidak dapat mengalahkannya, tetapi aku punya kesempatan untuk menguras kekuatannya. Selagi ada kesempatan untuk menguras kekuatannya, maka aku yakin dapat mengalahkannya. Aku sudah cukup yakin, jika kekuatan si mata julung-julung itu tidak dapat memberi pengaruh buruk pada tubuhku dan juga jiwaku."
**
Melihat junjungannya dapat dihajar sampai terlempar begitu jauh, membuat Batara Karang dan Batara Antaga yang bertarung langsung meninggalkan lawannya masing-masng. Mereka berdua segera melesat menyusul tubuh junjungannya.
"Luar biasa kanjeng junjungan mampu bertahan, meski telah terhantam secara telak kekuatan serangan yang begitu mengerikan!" Batara Antaga terkesima melihat lesatan serangan Suro tidak melukai tubuh junjungannya.
"Luar biasa, matamu!" Dewa Kegelapan mendengus kesal sambil mengelus-elus dadanya setelah dua telapak tangan Suro berhasil mendarat tanpa dapat dia hindari. Dan pedang lawannya juga menyusul menembus jantungnya. Tetapi tidak ada lagi bekas luka ditubuh Dewa Kegelapan.
"Beruntung semesta hitamku dapat meredam kekuatan lawan, jika tidak tubuhku ini sudah hancur. Tapi akibat serangan barusan sepertinya tubuhku mengalami luka dalam yang tidak ringan."
"Kurang ajar bocah itu, pantas saja kalian dapat dikalahkan. Meskipun dia memiliki jurus yang mampu menyerap kekuatan milikku. Namun aku tidak mengira, jika dia mampu menyerap hawa kegelapanku dalam jurus semesta hitam."
"Seharusnya setelah menyerap hawa kegelapan sebanyak itu, tubuh maupun jiwanya sudah dalam kendaliku. Nyatanya dia tidak terpengaruh apapun. Kita akan mundur. Suruh semua pasukan perguruan ini untuk ikut bersama kita!"
"Dewi Kematian perintahkan anak buahmu untuk mengikutiku!" Batara Antaga berteriak ke arah pertempuran yang masih berlangsung.
Dewi Kematian yang sedang menghadapi pecahan tubuh Suro segera melesat diikuti para tetua lain dan juga siluman Gurita dan Hantu Laut yang berhasil selamat ikut bergabung dengannya, kecuali siluman ular yang tewas dihabisi penjaga gaib Suro yang bernama Tirtanata.
Batara Karang lalu membuka gerbang gaib. Seluruh pasukan perguruan mengikuti perintah ketuanya Dewi Kematian, masuk ke dalam gerbang gaib yang dibuat oleh Batara Karang.