SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 463 Rencana Tersembunyi



Semua tatapan mata tertuju pada pasukan musuh. Setelah menyaksikan kekuatan serangan Geho Sama barusan, musuh yang terus berdatangan akhirnya memilih untuk tidak langsung menyerang.


Semua musuh yang berdatangan itu menghentikan langkahnya pada jarak yang cukup jauh dari tempat Suro dan lainnya berdiri, yaitu lebih dari lima belas tombak(sekitar lima puluh meter lebih). Mereka kemudian mulai membentuk sebuah formasi.


Formasi yang digunakan pasukan musuh yang berdatangan itu dikenal dengan nama asahya wyuha (susunan tentara yang tidak dapat ditembus).


Gerak-gerik yang mencurigakan itu, tentu menjadi tanda tanya bagi semua. Walaupun raut muka mereka nampak seperti bintang buas, tetapi formasi yang mereka bentuk sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh para prajurit terlatih.


Taulah mereka sekarang jika unjuk kekuatan yang mereka perlihatkan sebelumnya, adalah sebagai bentuk gertakan. Tetapi siapa nyana justru lawan yang menghadang mereka telah mencapai tingkat surga.


Kekuatan Geho Sama yang mampu melemparkan musuh sebegitu jauh sudah menjelaskan seberapa tinggi kekuatan yang melambarinya. Kemungkinan karena alasan itulah mengapa mereka memutuskan untuk tidak meneruskan serangan.


Tindakan mereka yang langsung berubah drastis itu tidak urung membuat Suro dan lainnya mulai mengernyitkan dahi.


"Apakah para makhluk itu pernah mendengar ucapan seorang ahli strategi perang yang bernama Sun Tzu?"


"Maksud paman?" ucap Suro sambil mengerutkan dahi menimpali ucapan Pendekar Zhang Yuan.


"Menurut Sun Tzu kalau memiliki kekuatan sepuluh kali kekuatan musuh, kepunglah dia. Namun jika lima kali, maka seranglah dia.


Tetapi jika dua kali, hadapilah dia. Sedangkan kalau sama-sama kuat, maka pecah belahlah musuh. Namun jika kalah kuat, maka tindakan terbaik adalah bertahan. Terakhir jika Anda bukan tandingannya, maka sebaiknya hindarilah musuhmu."


"Lalu apa hubungannya dengan tindakan mereka?" tanya Geho Sama penasaran.


"Lihatlah mereka memilih membentuk pertahanan, setelah mengetahui kekuatan serangan pendekar Geho Sama. Pasukan musuh menyadari kekuatan kita tidak dibawah mereka." ucap Pendekar Zhang Yuan mengakhiri penjelasannya.


"Apakah itu artinya musuh yang kita hadapi kali ini memiliki kecerdasan?"


Suro masih menggaruk-garuk kepalanya menyahut penjelasan dari Pendekar Zhang Yuan barusan. Tetapi belum sempat mulutnya melanjutkan ucapannya, Dewa Rencong justru memberondong pertanyaan kepadanya.


Mulut Dewa Rencong sepertinya sudah gatal tidak tahan untuk bertanya kepada Suro. Sebab keputusan Suro membawa mereka tiba di pegunungan Longmen, sejak awal telah mengganjal pikirannya.


"Sebenarnya tujuan kita menghadapai para makhluk yang serba janggal ini demi apa bocah? Aku merasa mereka tidak ada urusannya dengan Batara Karang, walaupun memang aura sesat ini cukup mengganggu!"


Pertanyaan itu secara tidak langsung juga mewakili yang lainnya. Mereka juga bertanya-tanya tentang tujuan Suro membawa mereka semua ketempat itu.


Apalagi dari awal melawan Kirin Neraka, jumlah pendekar yang telah tewas hampir tiga puluh orang. Tentu jumlah itu bukanlah jumlah yang sedikit. Apalagi ini menyangkut nyawa pendekar yang sudah mencapai kekuatan tenaga dalam tingkat langit, tentu itu kejadian yang sangat disayangkan.


Kejadian yang menewaskan para pendekar oleh serangan para Kadal Api, juga masih terbayang jelas di benak setiap orang yang berhasil menyebrang.


Itu adalah peristiwa yang sangat mengerikan. Mereka yang tertangkap oleh Kadal api sudah tidak mampu lagi diselamatkan semua lenyap bersama kadal yang kembali terjun masuk ke dalam kawah.


Panas kawah itu sangat tinggi, sehingga untuk memusnahkan tulang manusia tidak membutuhkan waktu yang lama.


Suro sempat menoleh ke arah Dewa Rencong, tetapi pemuda itu tidak segera menjawab. Dia justru masih cengar-cengir sambil melirik ke arah Mahadewi yang semakin merapat berlindung dibalik tubuhnya.


Tangannya kembali mulai menggaruk-garuk kepala sebelum menjawab pertanyaan Dewa Rencong, "tujuan dari perjalanan kita adalah membuktikan kebenaran tentang adanya benih iblis di tempat ini paman Maung. Ternyata perjalanan ini tidak sia-sia persis seperti yang dijelaskan Paman Zhang kepadaku.


Lihatlah gerak-gerik mereka paman maung! Bukankah itu terlihat seperti para prajurit terlatih, walaupun nampak luarnya seperti binatang buas.


Apalagi melihat pakaian yang mereka kenakan. Aku yakin seseorang hendak membangun sebuah pasukan yang tak terkalahkan ditempat ini.


Bahkan aku yakin dengan pasukan sebesar kekaisaran Shui yang dipimpin Kaisar Yang Guang sekalipun tidak akan sanggup mengalahkan mereka. Itu sudah dibuktikan dengan serangan kapak yang dilakukan Geho Sama saja tidak mempan melukai mereka."


"Ah, benar juga ucapanmu bocah. Apa ini faktor umur, sehingga hal segampang ini tidak aku mengerti?" Dewa Rencong berseru menyadari kebenaran ucapan Suro.


"Dasar pikun," tanpa bersalah Geho Sama menyahut ucapan Dewa Rencong sambil mendengus.


"Aku rasa mereka adalah prajurit yang sengaja dipersiapkan agar dirasuki benih iblis. Bukankah sebelumnya paman Zhang menyebut seseorang yang dirasuki benih iblis, maka kekuatannya akan meningkat pesat berkali lipat dibandingkan sebelumnya."


Pendekar Zhang menganggukan kepala membenarkan ucapan Suro.


"Entah siapa yang melakukan ini, tetapi ku yakin ada hubungannya dengan Batara Karang dan juga Karuru.


Aku yakin mereka sedang membentuk pasukan yang akan digunakan untuk menguasai seluruh tanah didunia ini. Lihatlah siapa yang bisa menandingi pasukan yang kulitnya saja tidak mampu dilukai oleh kapak milik Geho Sama?"


Mereka masih menatap ke arah musuh yang terus bertambah. Formasi yang mereka bentuk sedari tadi seperti sedang menunggu aba-aba dari pemimpinnya.


Terlihat mereka semua dalam posisi siap tempur dengan senjata terhunus. Jumlah mereka kini lebih dari lima ratus pasukan. Entah bagaimana cara mereka memasuki goa dengan aman tanpa diserang Kirin Neraka yang menjaga pintu masuknya.


"Pendekar Zhang, apakah kau tidak memperhatikan pakaian yang mereka gunakan?" Ketua Bao Chong pemimpin Perguruan Kun Lun yang sedari diam menatap penuh penasaran pasukan musuh yang berada dikejauhan.


Mendengar ucapan Ketua Bao Chong, maka serta merta Pendekar Zhang Yuan langsung memicingkan mata. Pendekar itu lalu seperti baru menyadari sesuatu.


"Benar sekali saudara Bao. Mengapa aku baru menyadarinya? Bukankah itu seragam pasukan dari Kerajaan Goguryeo dan juga dari suku utara pasukan Tartar!" ucapan Pendekar Zhang membuat semua terpaku menatap tajam ke arah musuh.


Ingatan Pendekar Zhang yang telah malang melintang dalam dunia persilatan puluhan tahun sebelum tertangkap dan dijadikan boneka oleh tetua Yin Wuya, beruntung masih belum hilang. Sehingga saat ketua Bao Chong menyinggung pakaian yang digunakan musuh, maka Pendekar Zhang segera mengenalinya.


Begitu juga beberapa para pendekar dibelakang mereka ikut membenarkan ucapan ketua Bao Chong.


Seragam pasukan dari Kerajaan Goguryeo walaupun menggunakan zirah perang dari besi seperti pasukan Kekaisaran Shui yang sekarang dipimpin kaisar Yang Guang, namun ada ciri tertentu yang membuat mata orang awam pun sanggup membedakan diantara dua pasukan itu.


Diantara zirah perang baja yang digunakan musuh terdapat pula zirah perang yang sepenuhnya hampir terbuat dari kulit semua. Maka zirah perang semacam itu mereka kenali milik dari pasukan Tartar.


Zirah perang yang digunakan Pasukan Tartar memang justru terbuat dari kulit. Karena cara berpikir mereka yang sederhana, yaitu mementingkan kenyamanan dan terasa lebih ringan dikenakan.


Pilihan kulit untuk zirah perang mereka, biasanya memilih dari kulit kuda. Proses pembuatan zirah dari kulit itu sedikit unik. Salah satunya, yaitu merendamnya dengan menggunakan urin.


"Apa yang dikatakan pendekar muda Suro memang benar adanya. Aku setuju dengan pendapatnya" ucap Pendekar Zhang Yuan.


Mendengar ucapan Pendekar Zhang Yuan yang mendukung perkataannya, Suro justru seperti disambar gledek. Sebab dia segera menyadari bahaya yang akan mengancam seluruh Negeri Atap Langit.


"Gawat, artinya pasukan dari kekaisaran yang sedang bertempur di wilayah utara dan timur laut, kemungkinan besar sedang berhadapan dengan pasukan seperti mereka!" Suro segera membuat kesimpulan cepat setelah mendengar ucapan ketua Bao Chong.


"Benar apa yang dikatakan pendekar muda Suro, kemungkinan itu memang benar. Jika kekuatan musuh sekuat ini, maka pantaslah beberapa wilayah utara dan timur laut yang berdekatan dengan Kekuasaan Khan Langit dan Kerajaan Goguryeo telah jatuh dengan mudah." Ketua Bao Chong menimpali ucapan Suro.


"Kita harus menyelesaikan pertempuran disini dan menghancurkan seluruh sarang benih iblis, lalu menyusul bergabung dengan pasukan Jendral Yuwen Huaji. Jika tidak, aku yakin seluruh wilayah Negeri Atap Langit dan seluruh negeri di bawah langit akan jatuh ditangan kekuasaan Batara Karang." Suro kali ini tidak mampu menutupi kekhawatirannya.


Pendekar Zhang Yuang cukup terperangah mendengar ucapan Suro. Bukan hanya pendekar itu, tetapi semua yang mendengarkan ikut terkejut dan merasakan kekhawatiran yang sama.


"Mengamuklah Lodra!"


Karena itulah sebelum yang lain bergerak menyerang, Suro telah memulai serangannya. Pedang miliknya telah melesat menerjang ke arah musuh. Dia juga tertantang untuk mencoba ketajaman pedang miliknya, setelah sebelumnya kapak besar milik Geho Sama tidak mempan menghajar tubuh musuh.


**


Mahadewi kira-kira seperti ini. Karena lagi di Negeri Atap Langit pakaiannya kayak gini.