
"Tarian badai api!"
Api hitam dari ujung pedang milik Suro menerjang keluar seperti bendungan jebol. Api itu berputar melingkar terus naik ke atas. Kemudian mulai membentuk angin taufan yang berputar semakin kencang.
Segala hal yang ada di sekitar Suro ikut terhisap kedalamnya, begitu juga segala serangga terbang dan binatang melata yang merayap ditanah. Bahkan atap bangunan yang berada agak jauh ikut terhisap. Semua hancur terbakar menjadi abu.
Atap bangunan itu bagian dari komplek Perguruan Racun Neraka yang cukup luas lebih dari lima belas tampah(satu tampah setara dengan luas satu lapangan bola).
Kehancuran yang disebabkan serangan Naga Taksaka dan juga akibat pertarungannya dengan Naga Vritra telah menghancurkan seperempat dari seluruh komplek perguruan itu.
'Aku akan mengendalikan badai api hitamku bocah! Dan kau kendalikanlah Naga Taksaka, habisi siluman ular pengendali air itu!' Lodra berteriak agar Suro mendengar perkataannya.
Karena saat itu Suro secara bersamaan sedang berkonsentrasi mengendalikan Naga Taksaka dan juga jurus Tarian Badai Api.
'Baik Lodra yang agung aku akan menghabisi siluman ular itu.'
**
Pertarungan dua raksasa jelmaan siluman dan satu lagi naga yang dibentuk dengan menggunakan perubahan api dan tanah milik Suro, semakin bertambah dahsyat. Perubahan es milik Naga Vritra yang begitu kuat mampu menetralisir panasnya api hitam.
Sifat chakra yang terkandung dalam perubahan air memiliki kemampuan penyembuhan yang sangat mengagumkan. Sehingga setiap luka yang didapat Naga Vritra langsung sembuh seketika.
Berkali-kali semburan cairan dingin Naga Vritria mampu menghancurkan beberapa bagian dari tubuh Naga Taksaka. Tetapi tubuh yang terbuat dari lelehan lahar itu kembali menutup.
Hanya saja karena terus berulang-ulang kini tubuh Naga Taksaka semakin mengecil tinggal sepertiga dari tubuh Naga Vritria. Kondisi itu membuat naga milik Suro semakin terdesak.
Semburan dari Naga Vritria sangatlah beracun. Andai lawannya itu adalah makhluk hidup, meski sekeras dan setangguh apapun, pasti akan tewas seketika. Tubuhnya akan meleleh hanya dalam waktu sekejab. Tetapi itu tidak terjadi pada tubuh lawannya kali ini. Sebab lawannya bukanlah makhluk hidup, meskipun bergerak menyerupai seekor naga yang sebenarnya.
'Aku paham sekarang mengapa siluman itu seakan tidak terpengaruh panasnya tubuh Naga Taksaka. Ternyata semua itu disebabkan chakra dari puluhan tetua yang telah berada ditingkat shakti.'
Para tetua itu terus menyalurkan chakra miliknya kepada Naga Vritria. Chakra para tetua itu memiliki keistimewaan tersendiri karena bersumber dari kitab air.
'Aku harus menghabisi para tetua itu terlebih dahulu.' Meski Suro berada ditengah-tengah pusaran badai, namun hal itu tidak membuat tubuhnya ikut terbang. Sebab kakinya hampir selutut telah terbenam dalam tanah.
Suro segera memutus mata rantai kekuatan siluman ular itu dengan menengelamkan para tetua kedalam tanah. Sebab selain memberikan pasokan chakra, kekuatan milik tetua itu juga mampu menyembuhkan dengan cepat setiap luka yang diderita siluman ular itu.
Setelah pasokan chakra yang seakan gunung telah berhenti, maka kali ini luka-luka yang dibuat Naga Taksaka tidak serta merta langsung pulih dengan cepat.
Kesempatan itu digunakan Suro dengan sebaik mungkin. Jurus perubahan tanah miliknya segera dia kerahkan. Selapis demi selapis tanah terus melingkupi tubuh Naga Taksaka milik Suro. Kali ini dua naga itu memiliki ukuran yang seimbang.
Dua naga raksasa itu mulai bergumul dan saling melilit, akhirnya tubuh Naga Vritria mulai merasakan akibat dari pergumulan itu. Tubuhnya yang sudah tidak mendapatkan pasokan chakra dari puluhan tetua, membuat luka bakar disekujur tubuhnya tidak segera pulih. Walaupun siluman ini pengendali air tetapi bukan hal yang mudah menyembuhkan luka bakar disekujur tubuhnya.
Ular raksasa itu kali ini merasakan bahaya, tubuhnya segera berubah menjadi air. Tetapi Naga Taksaka tidak membiarkan lawannya kabur. Sebelum jurusnya dikerahkan dengan sempurna, sebagian tubuhnya telah terkunci dalam mulut Naga Taksaka.
Sebagian tubuhnya yang telah berubah menjadi cairan asam itu justru memperlancar Naga Taksaka untuk menelan habis tubuh lawannya.
"Selesai sudah tugasku Lodra yang agung!" Pandangannya kembali tertuju pada musuh yang mengelilingi dirinya.
Tubuh Suro sebelah kiri berada dalam kesadaran milik Suro, sehingga dengan leluasa Suro mengerakkan Naga Taksaka dengan begitu lihai. Sedangkan tubuh bagian kanan berada dalam kendali jiwa Lodra yang agung.
Berkat pengendalian api hitam dibawah kendali Lodra, membuat jurus tarian badai api menjadi begitu dahsyat. Tidak ada lawan yang berani mendekat. Seluruh binatang beracun yang menyerang telah tersapu bersih.
Petir bahkan mulai menyambar berkali-kali karena api hitam yang berputar kencang ikut mempengaruhi cuaca. Awan hitam mulai terbentuk diatas langit Perguruan Racun Neraka.
**
"Wakil ketua Tohlangkir, ini gawat! Orang itu telah menghabisi Naga Vritria!" Seorang tetua berteriak panik ke arah Tohlangkir.
"Bagaimana mungkin ada manusia yang memiliki pengendalian berbagai macam perubahan setinggi ini?"
"Wakil ketua apa yang akan kita lakukan?"
Tohlangkir segera tersadar saat salah satu tetua kembali menunggu perintah darinya.
Saat ini semua anggota perguruan sedang menunggu perintah. Mereka tidak berani gegabah melihat musuh yang begitu mengerikan kemampuannya.
"Kalian semua kerahkan kabut racun dengan kekuatan maksimal!" Tohlangkir kali ini menurunkan perintahnya kepada para tetua yang tersisa dan juga seluruh anggota perguruan. Setelah Suro berhasil menenggelamkan para tetua yang membantu Naga Vritria. Kini jumlah tetua Perguruan Racun Neraka telah berkurang banyak.
Para tetua yang berada pada tingkat shakti bisa begitu mudahnya ditenggelamkan satu demi satu oleh Suro, karena mereka dalam keadaan berkonsentrasi menyalurkan chakranya pada Naga Vritria. Saat kondisi lengah itulah Suro menenggelamkan mereka.
"Apakah ini berhasil?"
"Lakukan saja jangan bertanya! Selama dia bernafas maka masih ada kesempatan bagi kita untuk meracuninya!"
"Angin taufan ini akan memuluskan rencana kita. Kerahkan secara serentak sesuai aba-abaku. Jika dalam jumlah sedikit pasti langsung amblas ditelan api hitam yang begitu panas."
**
'Bocah apa yang kau inginkan? Apakah aku perlu membumi hanguskan seluruh perguruan ini?'
'Aku tidak menghendaki pembantaian. Disisi utara aku merasakan banyak anak-anak dan tahanan lain. Aku rasa mereka akan dijadikan tumbal untuk ular siluman yang sudah aku habisi tadi.'
'Bocah cubluk, membiarkan mereka tetap hidup hanya akan membahayakan nyawamu. Kamu kira dengan membunuh siluman ular itu, maka anak-anak dan tahanan lain tidak akan mereka bunuh. Mereka akan tetap mati sebagai tumbal praktek ilmu sesat mereka.' Lodra tetap berniat membumi hanguskan seluruh perguruan.
'Tidak, sebaiknya kita selamatkan mereka saja.' Suro tetap bersikeras dengan pendapatnya.
Saat Suro sedang mencoba mencegah Lodra yang hendak membantai seluruh perguruan, mendadak dari segala penjuru kabut yang sangat tebal terbentuk.
"Gawat ini kabut beracun!" Suro segera menyadarinya. Tetapi sepertinya sudah sangat terlambat.
Pengendalian api yang membentuk pusaran angin mempercepat kabut itu tersedot ke dalam inti pusaran angin dimana Suro berdiri.
Meskipun kabut itu telah terbakar dan telah menguap dalam udara, justru itulah yang dikehendaki Tohlangkir. Dengan kondisi itu membuat seluruh udara yang masuk dalam pusaran penuh dengan racun. Sehingga membuat Suro terlambat menyadarinya, karena dia telah menghirup udara itu.
Hal itu bisa terjadi karena kondisi dia yang berada dalam pusaran api, membuat paru-parunya meminta udara lebih banyak. Meskipun dia tidak terbakar oleh panasnya api, tetapi berada dalam pusat pusaran api memaksa paru-parunya harus bekerja lebih ekstra dari pada biasanya. Beberapa kali dia terlihat harus menarik nafas panjang.
"Bocah cubluk, sudah aku katakan, membiarkan orang-orang seperti mereka, hanya akan membuatmu celaka. Hyang Kavacha, lindungi organ dalam bocah ini. Aku akan menghabisi dahulu, makhluk yang telah berani melukai tuanku ini!" Kali ini suara yang keluar dari mulut Suro terasa berbeda. Suaranya berubah berat, karena memang saat ini Suro telah kehilangan kesadaran dan yang menguasai raganya adalah Lodra.
"Mereka tidak tau, bagaimana rasanya diriku harus menunggu sampai ribuan tahun, agar dipertemukan kembali dengan pemilik sejati bilah pedang ini. Aku tidak akan membiarkan kalian melukai tuanku lebih jauh. Kalian akan merasakan kemarahan Sang Hyang Garuda!"
Selepas perkataan Lodra tubuh Suro melesat dengan cepat ke atas.
"Rasakan api kemarahanku ini!"
Pada ketinggian yang tidak dicapai kabut dan udara beracun Lodra lalu melepaskan jurus yang lebih kuat daripada sebelumnya. Bahkan terkuat yang pernah diperlihatkan olehnya. Dia hanya sekali saja menebaskan bilah pedangnya. Tetapi tebasan itu membawa serta seluruh api hitam yang terus berputar dalam badai.
Api itu membentuk sebuah sosok yang sangat mengagumkan sekaligus mengerikan.
"Tamat sudah riwayat kita!" Tohlangkir segera menyadari bahaya yang mengancam, setelah melihat penampakan seperti sebuah bentuk makhluk yang luar biasa besarnya. Penampakan itu bergerak dengan sangat cepat meluncur turun dari langit.
"Munduuur! Selamatkan nyawa kalian semuaaa!"