SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 296 Negeri Bawah Tanah part 2



Sejak kedatangannya di awal Suro sudah begitu penasaran dengan kondisi alam ditempat tersebut. Apalagi kini dia melihat langsung, jika orang-orang yang menjadi penghuninya tidak terkena paparan jahatnya hawa kegelapan.


'Bagaimana mungkin tempat yang berada di kedalaman tanah ini justru tidak teracuni oleh hawa kegelapan,' Suro hanya bisa membatin sambil memandang ke arah orang-orang yang sedang menghunuskan tombak.


Secara penalaran kondisi yang dia lihat itu tidak masuk akal sama sekali. Sebab tempat itu berada lebih dekat dengan kekuatan Dewa Kegelapan disegel.


Seharusnya kekuatan itu meskipun sedikit akan tetap merembes masuk ke tempat itu. Namun secara ajaib justru tempat itu bersih sama sekali dari efek jahatnya hawa kegelapan.


Keingin tauannya begitu besar untuk mencari tau alasan mengapa tempat itu dapat terbebas dari racun hawa kegelapan. Karena itulah dia tidak melawan mereka.


Dalam diamnya itu juga dimanfaatkan Suro untuk berbicara dengan Geho sama melalui suara batinnya. Dia meminta untuk tidak melukai dan mengikuti saja permainan yang sedang dia buat. Dia juga meminta Geho sama untuk tidak memperlihatkan kekuatannya kepada manusia yang sedang mengepung mereka berdua.


Sebab Suro juga tidak berniat melukai mereka. Apalagi kekuatan pasukan yang mengepung mereka tidak lebih dari pada seorang pendekar kelas satu dan kelas atas.


Jadi bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, sebab mereka bukan sebuah ancaman. Mustahil pasukan yang berjumlah dua puluh orang itu dapat melukai mereka berdua. Karena itulah Suro meminta Geho sama untuk tidak terpancing dan melukai mereka.


"Katakan kepada kami, selain kalian berapa orang lagi yang berhasil menerobos tempat ini?" Lelaki yang memiliki tingkat praktik tenaga dalamnya sekelas pendekar tingkat satu mencoba mengertak ke arah Suro dan Geho sama.


"Kami bukan menerobos, yang benar kami tidak sengaja menemukan tempat ini. Kami hanya berdua saja tidak ada yang lain." Suro menjawab desakan pertanyaan yang terus menerus itu sambil tertawa kecil untuk mencairkan suasana.


"Apa yang kau tertawakan, kau kira ini sebuah lelocon. Kalian kira kami tidak tega menghabisi kalian sekarang juga dan memotong kepala kalian?" Kali ini lelaki yang terus membentak mereka dengan berbagai pertanyaan melotot tajam dan nada suaranya semakin bertambah keras.


"Jangan konyol La Temmalureng, La Togeq sakti memerintahkan kita untuk menangkap dan membawa siapapun yang tertangkap untuk dikirim kepada dirinya. Keputusan hukuman biarkan sang Togeq sakti yang memutuskannya!"


"Diam aku juga tau hal tersebut, tidak usah menguruiku. Aku hanya ingin membuat mereka membuka mulut, agar memudahkan kita menemukan seluruh orang yang berhasil menembus tempat ini!" Lelaki yang dipanggil dengan nama La Temmalureng itu membalas ucapan rekannya dengan nada kesal.


Suro kembali mencoba menjelaskan kepada mereka. Namun semakin dia mencoba menjelaskan, justru semakin membuat mereka bertambah mencurigainya.


"Ahh...kenapa jadi begitu merepotkan menjelaskan sesuatu yang sesederhana ini?"


Mereka tertawa tergelak, saat Suro menjelaskan jika dirinya mendatangi tempat itu dengan menaiki Naga bumi. Apalagi saat Suro menjelaskan jika tujuan utama kedatangan mereka berdua sebenarnya hendak menghabisi Batara Antaga, Batara Karang dan juga Dewa Kegelapan.


"Hahaha...! Ternyata setelah melewati penyiksaan para makhluk kegelapan, selain menjadi ahli berbohong mereka juga telah berubah menjadi manusia sinting yang kebanyakan berkhayal.


Dia pikir kita anak kecil yang dapat dibohongi dengan begitu mudah! La Temmalureng berbicara sambil diiringi suara tawa panjangnya. Teman-temannya juga ikut tertawa mendengar perkataannya.


"Sudah giring mereka berdua ke rumah La Togeq sakti. Semakin lama kita berbicara dengan mereka hanya akan membuat kita ikut gila. Hahaha...!"


Mereka kemudian mendorong-dorong tubuh mereka untuk berjalan sebagian justru menakut-nakuti dengan mendorong tubuh Suro yang terlihat kurus itu dengan ujung tombak.


Melihat hal itu, Geho sama kali ini tidak dapat menahan emosinya yang sejak tadi tak dapat dia tahan. Sebab sesuai arahan Suro setelah terbangun dari samadhinya dia tidak melawan. Bahkan tidak berbicara sepatah katapun.


"Kalian berani sekali mengacungkan mata tombak itu kepada tuan Suro!" Geho sama hendak berontak melihat Suro diperlakukan seperti itu.


Geho sama sudah mulai bergerak hendak berdiri dan menghabisi semua orang yang mengepungnya. Suro segera memberi tanda untuk tidak meneruskan niatnya.


"Tidak masalah Gagak setan kita ikuti keinginan mereka."


"Apa kau menyebut temanmu itu sebangsa setan?" Lelaki berkumis tebal bernama La Temmalureng itu menatap ke arah Suro dengan memelototkan mata.


"Anu...aduh bagaimana menjelaskan ini? Nama dia memang itu, nama aslinya adalah Geho sama."


Suro mencoba menjelaskan sebaik mungkin agar mereka dapat memahami. Tetapi karena penjelasan itu justru semakin membuat mereka tidak mau melepaskan Suro dan Geho sama. Karena itulah mereka akhirnya digiring menuju ketempat pemimpin mereka.


Sepanjang jalan Suro mengamati pemandangan sepanjang jalan yang dia lalui. Dia terkejut ternyata di dalam goa raksasa itu selain hutan lebat yang cukup luas, ada sebuah tatanan kehidupan masyarakat yang berdiri disana.


Dengan melihat langsung kondisi masyarakat yang dia saksikan, maka dia dapat memastikan mereka telah mendiami tempat itu dalam kurun waktu yang sangat lama.


Mungkin mereka mendiami tempat itu sudah sejak kondisi alam itu tidak mampu lagi dapat ditinggali. Mungkin sudah berlangsung ratusan tahun lalu. Keajaiban yang dia lihat pertama kali saat menemukan tempat itu semakin membuat dia penasaran alasan mengapa tempat tersebut tidak terkena racun hawa kegelapan.


"Bagaimana kalian tidak terpengaruh oleh racun hawa kegelapan, sebab bumi ini saja hancur oleh dahsyatnya kekuatan hawa kegelapan?"


"Tutup mulutmu, tidak usah pura-pura tidak mengetahui. Kalian pasti sedang mengorek lokasi sumber air suci kami bukan?" bentak La Temmalureng sambil mendorong tubuh Suro untuk mempercepat jalannya.


'Tenangkan dirimu Geho sama, kondisi alam ini dan orang-orang yang hidup ditempat ini sangat menarik. Aku ingin tau rahasia apa yang membuat mereka dan tempat ini bebas dari racun hawa kegelapan.'


Mereka terus memasuki pemukiman yang lebih padat dari pada sebelumnya. Rumah-rumah yang dimiliki penduduk itu terbuat dari batang-batang pohon yang ditumpuk. Atapnya terbuat dari rumbai, kemungkinan sejenis rumput ilalang.


Mereka akhirnya di sebuah rumah yang paling besar.


"La Tongeq sakti! Ada penerobos lihatlah kami berhasil menyandera mereka!"


Salah seorang yang menggiring mereka berteriak ke dalam rumah tanpa basa-basi. Entah siapa yang sedang dia panggil itu, kemungkinan kepala desa atau lurah atau semacamnya.


Tidak beberapa lama kemudian sesosok lelaki keluar dari dalam. Suro tertegun melihat lelaki yang baru dilihatnya itu. Dia mencoba mengingat-ingat seperti pernah melihatnya. Lelaki itu menatap ke arah mereka berdua lalu meneruskan kegiatannya mengupil.


'Dimana aku pernah bertemu dengan lelaki ini, sepertinya tidak terasa asing?' Suro membatin sambil menatap lekat ke arah lelaki yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Apa yang kau lihat kisanak?" Lelaki berbadan penuh otot itu balik melotot ke arah Suro dengan lebih menakutkan.


"Hahahaha...bukan apa-apa, aku hanya merasa pernah mengenal kisanak.''


Mendengar ucapan Suro, lelaki itupun menatap Suro dari atas sampai kebawah lalu ke atas lagi sampai beberapa kali.


"Benar aku ingat sekarang kau adalah....hmmmmmm!" Lelaki itu seperti mengingat-ingat nama seseorang.


Suro bahkan tanpa sadar ikut memiringkan kuping mencoba mendengar nama siapa yang akan disebut lelaki didepannya itu.


"Tikus kudisan yang sengaja disuruh menyusup untuk mencuri air dalam kolam suci kami!" Lelaki itu berbicara sambil terus mengupil tanpa melihat perubahan mimik muka lawan bicaranya.


Suro langsung berpandangan mata dengan Geho sama yang mulai tertawa cekikikan menyebut Suro sebagai tikus kudisan.


"Bawa mereka berdua ke dalam ruang tahanan!"


"Kisanak, mengapa kami dikirim ke dalam ruang tahanan, apa salah kami?" Kali ini Suro mencoba memprotes ucapan lelaki itu.


"Jangan banyak bicara kau ingin melawan kami?"


Trang! Trang!


Buk! Buk! Buk!


Saat Suro mencoba memprotes perintah lelaki yang dipanggil La Tongeq sakti, beberapa lelaki segera mendorong. Kali ini mereka bukan hanya mendorong, tetapi justru hendak menusuk Suro dengan mata tombak.


Namun saat mata tombak itu menghantam tubuh Suro terdengat berdentang beberapa kali.


Melihat tuannya diperlakukan seperti itu Geho sama langsung menendang dan memukul dalam satu hembusan nafas. Akibatnya tiga orang langsung terkapar tidak sadarkan diri.


Suro hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya melihat aksi Geho sama yang bergerak begitu cepat.


"Orang seperti kalian itu memang harus diperlakukan seperti ini, agar mengerti apa itu arti kata sopan santun kepada tamu.


Lelaki yang bernama La Tongeq sakti tidak kalah terkejutnya, sebab selain melumpuhkan orang yang mengelilingi dalam satu gebrakan jurus, Geho sama juga telah menekan mereka dengan kekuatan yang dia miliki.


Kini mereka segera menyadari jika dua orang yang sedang mereka sandera memiliki kekuatan yang sangat jauh dari mereka.


Saat La Tongeq sakti hendak bergerak, Suro telah memberikan gertakan yang membuat lelaki itu memilih menghentikan langkahnya.


"Sebaiknya paman tidak meneruskan niat paman apapun itu, jika tidak akan ada banyak korban jiwa yang tidak perlu. Jika bukan karena saya mencoba menghindari korban jiwa, tentu tindakan kalian menggelandang kami berdua tidak akan terjadi.


Karena kami datang ke tempat ini tanpa sengaja dan tidak memiliki niat buruk. Jika niat buruk itu ada anak buahmu sedari tadi tidak akan ada yang dapat berjalan sampai dirumah paman."


Selain ucapan itu sebenarnya pengerahan kekuatan Suro lah yang telah membuat La Tongeq sakti berhenti bergerak. Walaupun dia telah mencapai tingkat shakti, namun lawannya teramat kuat yang tak akan mungkin dia mampu memenangkan pertarungan.


Setelah melihat beberapa kali akhirnya Suro teringat, jika wajahnya La Togeq sakti sekilas mirip dengan Pujangga gila, hanya saja lelaki itu memiliki perawakan begitu kekar.