
Dewa Pedang melihat Sesuatu hal yang ganjil saat kedatangan rombongan Eyang Sindurogo.
"Bagaimana mungkin manusia ini bisa berubah drastis? Dia yang terkenal penyendiri dan memilih jalan kesunyian dalam hidupnya. Kini melakukan perjalanan ditemani dengan begitu banyak orang. Sesuatu yang aneh?"
'Rombongan orang yang begitu banyak mengapa aku merasa agak ganjil. Tampangnya yang kasar dan cara berpakaiannya mengingatkanku pada kawanan perampok. Selain mereka, siapa pemuda belia yang jalan berdampingan dengan Eyang Sindurogo?'
'Apa yang membuat manusia satu ini berubah?' Dewa Pedang menatap dari kejauhan sambil terus dipenuhi pertanyaan dan perasaan ganjil.
Eyang Sindurogo dari Kademangan Kalinyamat meneruskan perjalanannya ke tujuan berikutnya yaitu Kademangan Cangkring karena menurut informasi yang mereka peroleh dikademangan tersebut merupakan salah satu daerah yang ikut menjadi korban serangan Naga raksasa. Dikademangan Cangkring inilah Perguruan Pedang Surga berdiri.
Sebenarnya justru kademangan Cangkring yang berdiri disekitar Perguruan Pedang Surga. Sebab perguruan itu lebih dulu ada sebelum Kademangan Cangkring berdiri.
Eyang Sindurogo memilih kademangan Cangkring karena dia ingin bertemu dengan Dewa Pedang, ada sesuatu hal yang ingin dia bicarakan.
Banyaknya rumah-rumah penduduk yang berada disekitaran perguruan, berawal dari perlindungan yang diberikan Dewa Pedang kepada para penduduk dari ancaman para perampok dan kriminal lain. Dengan semakin bertambahnya penduduk dan rumah-rumah, akhirnya terbentuklah sebuah kota kademangan.
Karena dengan adanya Perguruan Pedang Surga ditengah pemukiman, telah membuat rasa aman bagi penduduk yang ada disekitaran tempat itu.
Tentu saja tidak ada yang berani membuat keonaran dikademangan tersebut. Bahkan Kademangan Cangkring disebut sebagai kademangan teraman. Angka kriminalnya bisa dibilang paling rendah dibandingkan tempat lain.
"Apa? mereka bukan pengikutmu tetapi justru bawahan dari muridmu yang masih bocah itu?"
Dewa pedang seakan salah mendengar bagaimana bocah ini memimpin hampir delapan puluh orang dewasa yang jelas-jelas mereka sebelumnya adalah seorang perampok.
Kini mereka semua dipimpin seorang bocah sebuah keputusan paling konyol yang pernah dia dengar. Banyak pertanyaanyang ada dalam pikiranny setelah mendengar apa yang dikatakan Eyang Sindurogo. Bagaimana mungkin seorang Maharesi Eyang Sindurogo bisa melakukan tindakan sekonyol itu? Apa alasan yang melandasi keputusannya itu?
"Walaupun muridku itu masih sangat muda tapi daya pikirnya itu melampaui umurnya."
"Salah satu bukti kematangan cara berpikirnya dia bisa menjabarkan ilmu kanuragan dengan lebih gamblang daripada kita yang sudah tua ini."
"Dia bisa mempengaruhi orang untuk berubah baik tanpa memaksa orang itu untuk berubah. yang jelas ada sesuatu yang aku sendiri susah untuk menjelaskan."
"Dia seperti punya kharisma yang tak biasa jangankan kepada manusia bahkan hewan-hewan buas bisa lebih penurut kepada dia."
"Maung yang bahkan aku sendiri sedikit kesulitan saat menjinakannya tetapi ditangan muridku dia seperti anjing rumahan. Aku juga curiga sepertinya dia bisa mengerti bahasa binatang. Sering aku lihat mereka berbicara dan si Maung menangapinya dengan antusias."
"Cerita konyol apa lagi? Mana ada manusia biasa berbicara dengan hewan?''
"Percayalah kalau yang aku katakan seperti yang aku lihat."
"Sekarang lihatlah apakah kamu masih melihat dari mereka terlihat seperti kawanan perampok? Jangan melihat tampang mereka, kalau yang itu sudah terlanjur tidak bisa diperbaiki lagi"
Eyang Sindurogo menunjuk ke arah Kolo Weling dan teman-temannya yang sedang membantu para penduduk membangun rumah. Mereka terlihat menikmati kegiatan baru mereka walau tidak mendapatkan imbalan tetapi mereka tertawa lepas sambil bercanda bersama penduduk disela kegiatan yang sebenarnya lumayan menyita tenaga itu.
Bahkan mereka makan bersama penduduk dengan penuh gembira walau yang mereka makan hanya makanan apa adanya. Tetapi mereka tidak mengeluh dengan kondisi itu.
Walau awalnya mereka menjadi pengikut Suro atas kengeriannya kepada Eyang Sindurogo tetapi perlakuan yang mereka dapatkan justru memberikan pencerahan dalam hidup.
Bahkan dari dalam hati mereka sendiri memutuskan untuk menjalani hidup yang lebih berarti dan lebih bisa menghargai orang lain. Karena sebuah kebahagiaan tidak melulu tentang materi dengan membahagiakan orang lain justru membuat mereka merasakan kebahagiaan yang sejati.
"Lihatlah mereka tidak terlihat terpaksa justru menikmati kegiatan mereka."
"Karena mereka ketakutan denganmu?" Dewa Pedang masih mencoba dengan argumentasinya.
"Ada benarnya argumentasimu. Diawal memang benar mereka tentu saja takut denganku, tetapi merubah cara pandang seseorang, perangai dan sikap itu tidak bisa dirubah dengan hanya atas dasar ketakutan."
"Mereka membantu para penduduk dengan inisiatif mereka dan mereka terlihat begitu antusias."
"Mungkin kamu tidak akan percaya bahkan muridku dalam beberapa hal mampu memahami sesuatu dengan sangat mendalam bahkan bisa mengalahkanku dalam memahami beberapa hal."
"Salah satu hal yang aku tidak bisa pecahkan selama ratusan tahun dia hanya dalam hitungan bulan dia sudah mampu membongkar rahasia yang tidak bisa aku pecahkan."
"Rahasia apa yang Maha Resi maksud?"
"Tentang rahasia apa aku tidak bisa sebutkan."
"Untuk membuktikan perkataanku berbincanglah dengan muridku dia telah hafal seluruh isi Kitab Dewa Pedang diluar kepalanya. Tanyakan kepadanya tentang ilmu pedang dan seberapa dalam pemahamannya mengenai Kitab Dewa Pedang."
"Apa? Bagaimana mungkin bisa anak sekecil itu menghafal juga memahami ilmu pedang serumit kitab Dewa Pedang?"
"Dan jangan bersedih mungkin bagimu Kitab itu sangat istimewa tetapi percayalah bagi Suro itu bukan sesuatu hal yang begitu istimewa, karena dia telah menghafal ratusan Kitab beladiri tingkat tinggi. Setelah dia membaca seluruh koleksiku."
"Sebenarnya bukan aku lakukan dengan sengaja." Kata Eyang Sindurogo Sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Awalnya sebenarnya tujuanku supaya dia lancar membaca. Dipadepokanku hanya tersimpan koleksi kitab-kitab ilmu persilatan tingkat tinggi tidak ada yang lain. Terpaksa aku suruh dia belajar membaca dengan bacaan seluruh kitab itu. Ternyata dia menghafal itu semua hanya dalam waktu tak kurang dari dua bulan."
"Dan aku tak menyangka dia menghafal semua baik titik koma maupun setiap baris kata dalam setiap lembarnya."
"Apa? Bagaimana mungkin dalam umur begitu muda memiliki pikiran yang sangat jenius?"
"Haduuh kepalaku kenapa jadi pusing seperti ini setelah mendengar ceritamu." Dewa Pedang mengosok-gosok kedua keningnya lalu menghabiskan air dikendi.
"Baiklah, biar kamu bisa mempercayai apa yang telah aku katakan. Akan aku panggil muridku dan kamu tanyakan langsung kepadanya. Buktikan sendiri benar atau tidak perkataanku?"
"Suro! Sini yek, Eyang ada urusan sedikit denganmu."
"Ada apa Eyang?"
Tanya Suro setelah memberi hormat kepada mereka berdua terlebih dahulu.
"Karena itu kamu tunjukan jurus-jurus yang ada dalam kitab Dewa Pedang lalu kamu jabarkan pemahamanmu tentang isi kitab tersebut ke Dewa Pedang biar dia bisa menilai dan memberi masukan kepadamu."
"Baiklah Eyang."
Karena tehnik ini termasuk tehnik rahasia mereka kemudian menuju kekediaman Dewa Pedang dihalamannya yang luas Suro mempraktekan jurus-jurus dalam kitab Dewa Pedang.
Jurus pertama Seribu pedang Bersatu Bersama Angin
Gerakannya yang halus dan cepat menggambarkan gerakan angin yang halus mampu melewati apapun dengan lincah dan cepat.
Jurus kedua Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari."
Gerakan pedangnya keras, rapat dan cepat membentuk perisai pedang yang tak bisa ditembus dan serangannya yang menyebar keseluruh penjuru mata angin.
Seakan kepakan sayap burung yang sedang melindungi anak-anaknya yang berada disarang
Sayapnya yang rapat menutup tak membiarkan ada celah musuh melukai anak-anaknya. Sekaligus menghancurkan musuh yang mengepung dengan serangan ke segala penjuru arah mata angin.
"Sudah cukup."
"Aku tak mempercayai yang aku lihat permainan pedangnya sangat luwes. Aku rasa ketrampilannya dalam ilmu pedang sejajar dengan murid utama perguruan ini. Kekurangannya dia belum bisa mengatur ritme pengerahan kekuatannya dengan sempurna."
"Selebihnya aku sangat mengagumi penguasaan jurus pedangnya."
"Lalu bagaimana pemahamanmu tentang kitab Dewa Pedang yang sudah kamu hafal diluar kepala bisa kamu jelaskan kepadaku?"
"Pemahaman Suro pasti tak sedalam tuan Pendekar Dewa Pedang yang telah dinisbatkan sebagai Pendekar Pedang Nomor Satu."
"Tetapi dari Jurus terakhir tehnik pamungkas dari Kitab Dewa Pedang yaitu Jurus Seribu Pedang menyatu membuat Suro memahami sesuatu dari jurus itu. Lalu Suro mencoba membuat jurus baru berdasarkan tehnik terakhir tersebut."
"Suro meminta petunjuk kepada Tuan Pendekar jika ada yang kurang."
"Tehnik Ini sebenarnya kebalikan dari jurus puncak dalam kitab Dewa Pedang Jurus Seribu Pedang Menyatu."
"Satu tebasan pedang dalam tehnik ini mengandung energi pedang setara dengan sejuta tebasan pedang. Untuk mempermudah menjelaskannya satu tebasan pedang ini setara dengan satu juta tebasan. Seperti kita melihat sebuah tebasan pedang melayang tetapi dalam satu waktu sebenarnya telah terjadi berkali-kali tebasan yang tak bisa ditangkap mata."
"Suro juga menciptakan pedang dari jurus Tapak Dewa Matahari."
Sebuah sinar keluar dari ujung jempolnya seperti satu helai benang.
"Pedang ini sangat tipis tetapi ketajamannya tidak perlu diragukan. Ini juga sebenarnya salah satu tehnik buat diriku mengatasi kelemahan Tehnik Dewa Matahari yang memerlukan asupan Chakra yang cukup besar. Dengan tehnik ini dapat menghemat chakra lebih banyak."
"Benar juga kenapa aku tidak dari dulu punya pikiran seperti itu." Eyang Sindurogo menepuk jidatnya sendiri.
"Bisakah kau praktekan didepanku tehnik Dewa Pedang yang barusan kamu jelaskan?"
Suro mengangguk lalu mempersilahkan mereka berdua menuju ke sebuah batu besar hampir setinggi satu tombak.
"Suro kamu angkat batu ini dan kamu tebas saat masih diudara biar lebih heboh hehehe."
Kata Eyang Sindurogo dengan tertawa setelah melihat Dewa Pedang begitu antusias.
Tetapi jujur sebenarnya dia juga begitu penasaran seperti apa kehebatan jurus ini karena dia justru ikut terkejut. Sebelumnya Suro tidak pernah mengatakan apapun tentang penemuanya membuat jurus pedang yang lebih hebat dari jurus pamungkas Kitab Dewa Pedang.
"Baik Eyang."
Dewa pedang refleks langsung menoleh kearah Eyang Sindurogo dengan mengerutkan dahinya yang langsung disambut Eyang Sindurogo dengan tertawa lebih lebar.
"Apa dia gila anak sekecil ini disuruh mengangkat batu sebesar gajah." Batin Dewa Pedang sebelum dia terkesima dengan apa yang dilakukan Suro Bledek.
Suro kemudian melakukan kuda-kuda tangannya digerakan seperti gerakan cara mengolah pernafasan atau seakan sedang mengangkat sesuatu. Dan...
Grek! Grek!
Batu itu bergetar dan bergerak sedikit lalu meluncur sangat cepat seakan sesuatu telah melemparnya dengan kuat. Batu itu yerlempar keatas hampir setinggi dua tombak.
Daaarrrr!
Sambil meloncat dan bersalto Sebuah tebasan dari pedang yang keluar dari jempolnya Suro berbentuk sinar yang tipis menghantam sekali ke arah batu tersebut. Ajaibnya batu itu langsung hancur dalam bentuk potongan kecil-kecil tak terhitung jumlahnya jatuh tersebar keseluruh penjuru.
Potongan itu telah membuktikan kebenaran teori jurus yang telah dia kemukakan sebelumnya.
"Luar biasa aku tak mengira hari ini aku berguru ilmu pedang dengan seseorang yang begitu muda sepertimu."
"Dan jurus yang begitu mengerikan dibuat oleh seorang yang masih kecil seperti ini.
"Hahahahaha."
"Dan akhirnya Dewa Pedang akan memangilku sebagai Mahaguru." Eyang Sindurogo tertawa puas. Tentu saja perkataan itu membuat Dewa Pedang melotot kepadanya.
Tetapi setelah dipikir memang benar apa yang dikatakan Maha Resi tersebut yang kemudian membuatnya harus mengusap-usap kedua keningnya lebih keras lagi.
Dewa Pedang terkesima setelah mendapat pemahaman baru dari kitab yang dari kecil sampai tua dia pelajari. Sebuah pemahaman yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya.
"Sepertinya berkat muridmu ini kita akan mendapatkan solusi untuk mengalahkan monster Naga raksasa."