SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 401 Cermin Pembalik Sukma part 2



'Burung emprit sialan, cepat kembali, tuan Suro dalam kondisi gawat!'


Lodra yang kehilangan tubuh dan kesadaran Suro, berubah menjadi panik. Hal yang bisa dia lakukan adalah memanggil Geho sama.


Setelah serangan dengan sinar yang menyilaukan pandangan, Lodra segera menyadari jika Suro telah lenyap. Pedang Kristal Dewa yang di kuasai oleh Lodra terbang mencari keberadaan Suro. Tetapi aura kekuatan Suro benar-benar telah lenyap dari jangkauan yang mampu dikerahkan Lodra.


Bukan saja Lodra, Geho sama juga merasakan telah kehilangan kontak batin dengan Suro. Setelah menyadari hal tersebut dia merasa sesuatu telah terjadi.


Karena itulah dia segera menghentikan samadhi yang dia lakukan. Dia kemudian menyusul ke tempat dimana sebelumnya Suro berada.


Hal pertama yang dilihat oleh Geho sama setelah sampai, adalah kelebat lesatan bilah Pedang Kristal Dewa. Bilah pedang itu berusaha menyerang ke arah sesosok bersayap dengan tinggi hampir satu tombak.


"Tidak aku percaya jika tidak melihat langsung, ternyata apa yang dikatakan bocah itu memang benar adanya. Aku yakin sosok itu adalah salah satu anggota dari Suku Elang Langit!"


Wujud Geho sama yang muncul itu tidak lagi seperti yang sebelumnya. Sebab setelah melakukan samadhi cukup panjang dan menyerap air Nirvilkalpa, maka terjadi perubahan secara menyeluruh pada tubuhnya.


Perubahan yang terjadi dapat dilihat pada wajahnya yang kini berubah seperti manusia pada umumnya. Walau hidungnya terlihat cukup panjang, tetapi tidak lagi berbentuk paruh.


Kulitnya yang sebelumnya bersisik seperti seekor tubuh naga, kini telah berubah seperti kulit manusia kebanyakan dan berwarna putih sedikit kemerahan.


Tinggi tubuhnya juga tidak lagi seperti raksasa, meski masih lebih tinggi dibandingkan manusia pada umumnya. Namun secara keseluruhan wujudnya tidak semenakutkan seperti sebelumnya, hanya saja diantara tulang belikatnya masih nampak sepasang sayap berbulu berwarna hitam.


"Lodra apa yang terjadi?" Geho sama mencoba melacak keberadaan Suro dengan empat sage, tetapi dia juga tidak berhasil menemukannya.


Lodra yang merasakan kemunculan Geho sama awalnya dia agak ragu, tetapi dia segera mengenali aura kekuatan yang dimiliki sesosok manusia bersayap yang tidak jauh darinya.


Pedang itu lalu melesat menghampiri Geho sama. Setelah berada dalam gengaman Geho sama, Lodra segera menceritakan tentang hal ikhwal hilangnya Suro, akibat serangan yang dilakukan lawan.


Kurama Tengu bernafas lega setelah Lodra berubah arah mendekati Geho sama. Sebab sejak dia berhasil melenyapkan tubuh Suro, justru dia dibuat kelabakan oleh pedang terbang milik Suro yang tertinggal.


"Perasanku saja atau memang pedang itu marah setelah tuannya telah aku pisahkan darinya dan aku kirim ke dunia sihir? Kurang ajar pedang itu bagaimana bisa tetap bergerak dan mengejar diriku, seperti hendak menghabisiku." Kurama Tengu mendengus kesal dan mulai menarik nafas panjang.


Sebenarnya makhluk itu mengetahui jika kwalitas pedang yang mengejar dirinya dengan kecepatan seperti kilat itu adalah pedang kwalitas tingkat tinggi. Tetapi dia menyadari, jika salah melangkah akibatnya dapat membahayakan dirinya sendiri.


Sebab pedang itu seperti memiliki pemikiran sendiri dan juga sekujur bilahnya telah diliputi kobaran api hitam. Dia mengetahui bahaya yang tersimpan dari jenis api hitam yang menyelimuti pedang terbang itu.


"Andai saja pedang itu tidak diliputi api tingkat hitam, tentu aku dapat menangkap dan mengendalikannya," Kurama Tengu masih meruntuk kesal atas kejadian yang menimpanya, setelah dikejar-kejar oleh Lodra.


Walaupun dia tertarik hendak menjadi pemilik bilah pedang itu. Tetapi Kurama Tengu memilih membatalkan niatnya untuk menguasai bilah pedang yang kini digengam Geho sama.


Apalagi saat dikejar-kejar pedang itu, dia merasakan ada aura pembunuh yang begitu kuat dari bilah pedang tersebut. Walaupun dia tidak mengetahui penyebab, mengapa sebuah bilah pedang memiliki aura pembunuh, namun dia menyadari jika pedang itu ingin menghabisi dirinya.


Melihat Pedang Kristal Dewa yang melesat menghampiri sesosok manusia yang baru muncul, Kurama Tengu menjadi terkesima, sekaligus lega. Sebab pedang itu terlihat menjadi begitu jinak, tidak seperti perlakuan yang dia terima sebelumnya.


'Siapa lagi ini? Bagaimana pedang terbang itu dapat dengan mudahnya dia tangkap? Aneh sekali, baru kali ini ada pedang yang bisa bergerak sendiri seperti itu. Apakah itu sejenis ilmu sihir?' Kurama masih kebingungan tidak dapat memahami.


**


Selagi Kurama Tengu kebingungan dengan tingkah pedang terbang yang tidak berhenti menyerangnya, kesempatan itu digunakan Lodra untuk menjelaskan kejadian sebelumnya kepada Geho sama.


Setelah mendengar penjelasan dari Lodra, maka Geho sama memahami apa yang terjadi dengan Suro.


"Kembalikan tuan Suro dari dunia sihir, jika tidak, maka akan aku kutuk kau menjadi kecebong."


Kurama Tengu mulai memandang wajah Geho sama, dan memincingkan matanya. Sebab dia merasakan aura pembunuh yang begitu kuat muncul dari sosok yang baru muncul itu.


"Apakah diantara kita pernah bertemu sebelumnya? Sebab aura pembunuh yang pendekar tunjukkan kepadaku seperti ada rasa permusuhan yang sangat dalam diantara kita?"


"Kau ingin tau dosa apa yang telah kau lakukan? Akan aku sebutkan dosa-dosamu!


Pertama kau sudah kurang ajar berani mengirim tuanku Suro ke dunia sihir, kedua kau tidak ada rasa hormatnya sama sekali kepadaku! Kau tau siapa diriku?"


"Memang siapa kisanak ini? Aku merasa belum pernah melihat, dan mengapa aku harus menaruh hormat kepada kisanak?"


"Kau bagian dari suku Elang Langit, bukan? Tunjukkan rasa hormatmu,karena aku adalah tuan Penyihir Agung, akulah Geho sama Raja dari segala raja siluman. Jadi tunjukkan rasa hormatmu kepadaku, aku lah leluhurmu!"


Kali ini Kurama Tengu mengakak terbahak-bahak mendengar ucapan Geho sama yang diucapkan dengan nada penuh amarah.


"Apa yang sebenarnya telah kau makan kisanak? Sepertinya kepalamu belum sadar. Atau kau justru baru saja bangun tidur dan masih belum menyadari sedang berhadapan dengan siapa?" Kurama Tengku tidak mampu menahan tawanya. Dia berbicara sambil terus tertawa terbahak-bahak.


"Leluhur kepalamu, aku tidak punya leluhur wajah jelek sepertimu!"


Kali ini bukan hanya Kurama Tengku yang tertawa, Lodra tidak dapat menahan tawanya mendengar ucapan makhluk raksasa yang menjadi lawannya. Tentu saja Geho sama tersinggung dengan apa yang dilakukan Lodra.


"Apa yang kau tertawakan Lodra? Kau pikir ini lucu? Siluman elang itu tidak punya sopan santun, dia hanya belum menyadari sedang berhadapan dengan siapa? Dia akan mendapatkan karma buruk, karena berani kurang ajar dengan leluhurnya!"


Geho sama memaki-maki Lodra yang terus menertawakan dirinya. Emosinya sudah tidak tertahan. Apalagi sebelumnya teriakan Lodra yang terus memanggil dirinya telah memecahkan konsentrasinya dalam samadinya.


Walaupun dengan itu dia akhirnya menyadari ada sesuatu yang salah telah terjadi. Padahal ada beberapa tahap yang belum dia selesaikan. Karena itulah wajahnya tidak sesempurna wajah seorang manusia pada umumnya.


**


'Sudah aku sangka sebelumnya, makhluk ini sepertinya sedikit ada yang salah dengan isi kepalanya, jika tidak bagaimana mungkin bilah pedang dia ajak berbicara,' Kurama Tengu hanya membatin sambil tetap penuh waspada.


Walaupun Kurama Tengu merasa sosok didepannya sedikit tidak waras, tetapi aura kekuatan yang dimiliki sosok didepannya itu tidak bisa dianggap enteng.


Kurama Tengu menatap Geho sama yang berbicara dengan bilah pedang yang sebelumnya terus menyerang dirinya dengan api hitam. Beruntung dia dapat meloloskan diri dengan menghilang dengan jurus Lipat Bumi dan juga menjelma menjadi banyak.


'Manusia burung ini sepertinya bukan manusia dan juga bukan siluman. Tetapi kemungkinan adalah campuran dari keduanya?'


Setelah memperhatikan wujud Geho sama, Kurama Tengku segera menangkap, jika aura kekuatan yang dimiliki sosok didepannya tercampur dengan aura kekuatan makhluk lain. Dia memiliki prediksi yang memang tidak salah, sebab ada bagian aura manusia, aura naga dan juga aura siluman dalam diri Geho sama.


**


"Siapa namamu, wajahmu mirip Kurama?" Geho sama menatap Kurama Tengu dengan sorot mata yang tajam, omelannya kepada Lodra telah terhenti, saat dia menyadari, jika sosok didepannya menatap dirinya sedang berbicara sendiri dengan bilah pedang yang dia gengam.


Kurama Tengu terkejut mendengar namanya diketahui oleh Geho sama.


"Bagaimana kau mengetahui namaku?"


"Aku dulu memiliki musuh bebuyutan. Walau sebenarnya selain Karuru dia juga termasuk dari salah satu kembaranku. Dibandingkan Karuru, wajah milikmu justru lebih mirip dengan Kurama Tengu.


"Mungkin yang kau maksud Kurama Tengu itu adalah kakekku. Menurut Yang Mulia Karuru dia telah mati di suatu pertempuran melawan para dewa saat hendak merebut Nirwana.


Dia ikut bertempur bersama suku Elang Langit yang lain, setelah Leluhur agung kami yang telah berhasil menyerap kekuatan Dewa Kegelapan memimpin suku Elang Langit hendak merebut istana para Dewa."


"Tidak mungkin, cerita ngawur dari mana itu?"


Lodra mulai menggerutu, sebab dia tidak sabar melihat Geho sama yang justru berbicara dengan musuh.


'Mulutmu jangan berbicara dahulu, Lodra, ada sesuatu hal yang hendak aku selidiki. Sebab makhluk ini sesungguhnya berasal dari suku Elang Langit. Salah satu suku kuno dari jenis siluman elang, termasuk juga diriku ini.


Aku hendak menyelidiki terlebih dahulu, apa yang sebenarnya terjadi. Aku yakin ada sesuatu hal yang salah dengan dukungan mereka kepada Dewa Kegelapan.


Sebab mereka dahulu mengusirku, setelah aku berhasil menjadi inang dari jiwa Dewa kegelapan. Jadi bersabarlah sedikit.' Dalam diamnya Geho sama mencoba menjelaskan kepada Lodra sambil tetap menjaga kewaspadaannya.


"Ini bukan cerita ngawur, sebab kami ingin mengulang kembali serbuan ke istana para dewa setelah serangan pertama semasa kakekku itu gagal.


Kebangkitan Dewa Kegelapan telah memberi peluang kepada kami untuk mewujudkan itu. Kami yakin dengan kekuatan kali ini, penyerbuan yang hendak kami lakukan akan memperoleh kemenangan.


Aku tau kau bukanlah berasal dari jenis manusia, atau justru mungkin campuran antara manusia dan siluman burung. Aura kekuatanmu yang kau tunjukkan barusan telah berada ditingkat surga, bukan?"


"Jika kau mau bergabung dengan pasukan kami, maka aku akan mengampunimu. Tetapi jika tidak, maka tak ada tempat bagimu untuk bersembunyi. Sebab tidak ada ampunan bagi yang berani melecehkan nama leluhur agung tuan Geho sama.


"Kepalamu memang terlalu bebal. Akulah Geho sama, jadi siapa melecehkan siapa sebenarnya ini?" Geho sama meruntuk kesal. Terdengar jelas giginya bergemeletukkan menahan murka.


"Selain itu ide gila siapa sebenarnya yang membuat kalian memutuskan menyerang para dewa?


Kalian pikir gampang menyerbu istana para dewa? Tidak akan ada yang sanggup memasuki istana diatas langit itu, kecuali kalian memiliki pusaka kunci langit."


Kurama Tengu tersenyum mendengar ucapan Suro.


"Dan kami memiliki pusaka itu."


"Jangan katakan kalian hendak mengorbankan ribuan nyawa sebagai persembahan bagi pusaka terkutuk itu! Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan rencana gila itu!"


"Nyatanya, tidak akan ada yang mampu menghentikan niat kami yang telah kami putuskan ini." Kurama Tengu segera mengerahkan ilmu memecah tubuhnya.