SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch.43 PERTARUNGAN PARA BIDADARI KHAYANGAN PART 3



Akhirnya pertarungan para dewi khayangan berakhir dengan diiringi tangis para penonton. Sepanjang pertarungan yang melibatkan dua bidadari cantik itu benar-benar membuat kehebohan besar. Walaupun hasil pertarungan itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sebagian besar penonton. Sebab dalam pertarungan itu justru bukan Gayatri yang memenangkan pertarungan tetapi berhasil dimenangkan oleh Arimbi.


Karena kehebohan yang dilakukan para penonton begitu luar biasa sehingga membuat Dewa Pedang pusing tujuh keliling. Beruntung saat itu Sri Maharaja Wasumurti sudah tidak lagi hadir diantara mereka. Jika masih ada diantara mereka tentu akan membuat Dewa Pedang kesusahan menyembunyikan wajahnya menahan malu.


"Tetua apakah dia akan baik-baik saja?" Arimbi bertanya kepada Tetua La Patiganna dengan penuh rasa bersalah. Tatapan matanya masih mengarah kepada iringan orang yang membawa Gayatri turun dari panggung dengan mengunakan tandu.


"Tidak perlu khawatir! Aku rasa dalam dua purnama tulangnya yang retak akan pulih."


"Syukurlah kalau begitu."


"Terimakasih tetua atas pertolongannya membuat rasa bersalahku sedikit berkurang." Arimbi menjura ke arah Tetua La Patigana sebelum turun dari panggung. Tetua La Patiganna hanya tersenyum dan membalasnya dengan anggukan kecil.


Gayatri yang sebelumnya tidak sadarkan diri akhirnya berkat pertolongan tetua La Patiganna bisa siuman kembali. Meski setelah itu untuk sekedar berdiri dia masih belum mampu . Ada satu ruas tulang rusuknya yang retak akibat hantaman bandul milik Arimbi. Selain itu hantaman yang begitu keras diulu hati masih menyisahkan sakit.


Pertarungan Arimbi dan Gayatri akhirnya selesai dan diumumkan pemenangnya oleh Tetua La Patigana. Setelah itu dilanjutkan dengan pertarungan sesi berikutnya yang merupakan pertarungan sesi terakhir pada hari itu. Pertarungan yang melibatkan para bidadari khayangan yang tak kalah cantiknya dengan peserta sebelumnya. Peserta berikutnya yang sudah berdiri ditengah panggung adalah peserta yang bernama Mahadewi dan Anjani.


Mahadewi berasal dari bumi Medang disana dia berlatih ilmu olah kanuragan disuatu perguruan yang dipimpin seorang pendekar wanita yang bernama Dewi Anggini. Dalam dunia persilatan Gelar pendekarnya lebih terkenal dari pada nama aslinya sendiri. Dia dikenal dengan nama Dewi Tangan Seribu.


Meski sekarang sudah berumur hampir separuh baya tetapi kecantikannya seakan belum luntur. Dia mudah ditemui karena memiliki ciri mata yang sipit yang semakin menambah kecantikannya. Karena memang selain gelar pendekarnya yang terkenal, kecantiknnya juga tak kalah terkenalnya. Karena kecantikannya itu juga dikenal dengan sebutan lain "Bidadari Tangan Seribu".Kulitnya terlihat lebih putih bersih dibandingkan perempuan Javadwipa pada umumnya.


Wajahnya yang terkenal karena kecantikannya sampai sekarangpun masih menyisahkan kecantikan yang tak mudah luntur. Bahkan kecantikannya itu masih sanggub membuat para tetua lain yang duduk bersebelahan dengannya bergetar. Kehadirannya yang jarang terlihat menjadi pusat perhatian para tetua lain yang sama-sama duduk dipodium kehormatan.


Kemampuannya dalam ilmu olah kanuragaan berdasarkan penggabungan ilmu dari negeri Bharata dan negeri Tartar. Karena Gurunya adalah seorang pendekar yang berasal dari negeri Bharata atau Hindustan. Gurunya itu menurunkan ilmu tangan kosong yang bernama Jurus tangan seribu. Dikemudian hari jurus itu lebih dikenal sebagai jurus Dewi Tangan Seribu.


Dewi Anggini dalam suatu peristiwa pernah diselamatkan nyawanya oleh Eyang Sindurogo. Sebuah peristiwa yang terjadi saat Eyang Sindurogo dalam perjalanan pulang dari pengembaraanya.


Setelah melewati suatu negeri yang bernama Negeri Wajin dia menyebrang ke daratan utama yang lebih luas. Disitulah takdir mempertemukannya dengan Dewi yang luar biasa cantiknya yang tak lain dia adalah Dewi Anggini sendiri.


Dia menolongnya dari serangan pembunuh bayaran kelas tinggi. Para pembunuh bayaran itu merupakan pasukan yang dikirim oleh seorang penguasa yang menyebut dirinya sebagai Kaisar. Entah urusan apa hingga mereka menjadi musuh penguasa. Dewi Anggini tidak bercerita Eyang Sindurogopun tak pernah bertanya mengenai alasan para pembunuh yang selalu mendatangi mereka disepanjang perjalanan mereka mengarungi daratan luas itu.


Entah alasannya apa selanjutnya Dewi anggini justru mengikuti kemana langkah kaki Eyang Sindurogo melangkah. Berbagai alasan dikemukakan salah satunya karena Gurunya telah terbunuh dalam peristiwa itu. Sehingga dia beralasan tidak ada tempat bagi dirinya untuk berlindung dari pasukan pembunuh bayaran yang terus memburunya.


Alasan itu menjadi ladasan baginya untuk membuat alasan lain. Alasan yang mengharuskannya untuk selalu mengikuti langkah kaki penolongnya. Karena memang tidak ada tempat lain yang lebih aman kecuali selalu bersama dengan malaikat penolongnya.


Walaupun memang setiap pasukan pembunuh yang dikirim tak sempat menyentuh satu helai rambutnya yang tergerai indah itu. Gelombang demi gelombang sepanjang perjalanan mereka para pembunuh itu akan selalu dihabisi oleh malaikat penolongnya sampai tuntas tak tersisa.


Mungkin dari situlah alasan yang melatar belakangi keputusannya sampai ikut menginjakkan kakinya ditanah Javadwipa. Karena memang didaratan yang luas itu sudah tak lagi menyisahkan satu jengkalpun tempat yang aman untuk dia tinggali.


Itulah berbagai alasan yang diutarakan kepada Eyang Sindurogo. Alasan yang akhirnya membuat dia menyerah dan membiarkan wanita cantik itu selalu mengikutinya.


Tetapi dengan berjalannya waktu ada satu alasan lebih kuat dari semua yang tak pernah dia utarakan kepada Malaikat penolongnya. Alasan yang akhirnya membuat dirinya terus melajang sampai waktu yang tak ada batasnya.


Untuk mengisi waktu luang dalam perjalanan Eyang Sindurogo selalu mengajari pendekar wanita itu dengan sebuah ilmu pedang yang bersumber dari Kitab Dewa Pedang. Oleh Eyang Sindurogo ilmu pedang itu dikombinasikan dengan ilmu tangan seribu yang merupakan ilmu andalan yang sudah dimiliki Dewi Anggini.


Alasan dia mengajari pendekar itu tentu saja agar bisa membuatnya sangat kuat. Sehingga dengan cara itu, secara tidak langsung akan membuatnya terbebas dari kungkungan wanita keras kepala yang selalu mengikutinya. Meskipun bagi kebanyakan lelaki lain justru akan dianggab sebagai anugerah terindah. Karena wanita yang selalu mengikutinya kecantikannya bagaikan bidadari yang turun dari langit.


Dengan pelatihan yang dijalani mengikuti petunjuk Eyang Sindurogo, akhirnya benar-benar membuat wanita itu menjadi kuat. Bahkan mengantarkannya menjadi salah satu pendekar yang disegani ditlatah bumi Javadwipa.


Penggabungan dua ilmu kanuragan itu menghasilkan jurus yang sangat digdaya membuat nama Dewi Anggini mencuat di dunia persilatan. Jurus yang menjadi Gelar nama pendekarnya yaitu Pendekar Dewi Tangan Seribu.


Dewi anggini pada saat itu masih gadis belia. Dan pada saat itu Eyang Sindurogo berkat Tirta Amerta atau air kehidupan tubuh dan wajahnya mirip seorang pemuda berumur dua puluhan tahun.


Bahkan sekarangpun walau sekilas seakan umur lima puluhan tahun hampir tidak terdapat kerutan diwajahnya. Penampilnnya yang terlihat seperti lima puluhan disebabkan jengot dan kumisnya yang dibiarkan memanjang. Ditambah gaya berpakaian dan rambutnya yang memanjang diikat selayaknya para Maharesi lain membuat dia seakan berumur limapuluhn tahun.


Menurut cerita pula dengan berjalannya waktu antara Dewi Anggini dengan Eyang Sindurogo akhirnya terjalin sebuah hubungan khusus. Walau tidak begitu jelas hubungan antara mereka berdua tetapi sebagian meyakini Dewi Anggini telah tertambat asmaranya kepada sosok Maharesi itu.


Meski dikemudian hari rasa itu tak terbalas karena hati Maharesi sudah tertambat kepada sesosok wanita dikehidupan masa lalunya. Seorang wanita yang dulu pernah melahirkan anaknya. Walaupun wanita dan anaknya sebenarnya telah meninggal jauh sebelum dia menjadi seorang pendekar yang memiliki ilmu Tapak Dewa Matahari.


Istri dan kedua anaknya yang kembar beserta seluruh penduduk satu desa tersapu bersih dibantai oleh sekelompok perampok. Beruntung saat itu Eyang Sindorogo yang dalam kondisi sekarat masih bisa tertolong nyawanya.


Malaikat penolong yang kemudian hari adalah yang mengajarinya ilmu olah kanuragan. Termasuk juga ilmu yang mengantarkannya menjadi Pendekar terkuat di belahan Benua Timur. Ilmu yang dimaksud tentu saja Ilmu Tapak Dewa Matahari. Tetapi kejadian itu terjadi sudah ratusan tahun yang lalu.


Seklumit cerita itu menyebar dikalangan dunia persilatan yang menjadikan Perguruan Tangan Seribu hampir tidak pernah tersentuh oleh golongan hitam. Nama Eyang Sindurogo yang menjadi malaikat pelindung perguruan itu sudah cukup untuk menakut-nakuti mereka. Ditambah keputusan perguruan itu yang bergabung dengan aliansi yang digagas Dewa Pedang, membuat perguruan itu sebagai tempat teraman dari gangguan serangan golongan hitam.


Mahadewi sendiri merupakan satu dari sekian banyak murid yang akhirnya terpilih sebagai murid utama menurut pilihan Dewi Anggini sendiri.


Mahadewi yang masih berumur sekitar lima belasan tahun dengan perawakan tubuhnya tinggi langsing. Kulitnya kuning langsat dan hidungnya terlihat mancung. Rambutnya yang hitam lurus digelung dibelakang dengan sebuah konde yang indah membuat parasnya terlihat ayu dan imut.


Setelah Tetua La Patigana memberi isyarat dimulainya pertarungan Mahadewi langsung mencecar lawannya.


"Seribu Pedang Bersatu dengan Angin!"


"Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari!"


Segera Anjani menyambut jurus lawan dengan jurus bertahan. Dia melihat penampakan jurus yang begitu dahsyat mau tidak mau langsung menahannya dengan jurus bertahan.


Anjani berasal dari kerajaan kecil Aqni Nusa atau kerajaan api suatu kerajaan yang berada digugusan pulau gunung berapi yang berada disebelah barat Javadwipa. Sebuah gugusan kepulauan dari Gunung berapi Karakatao. Pada awalnya Kerajaan tersebut merupakan kerajaan bawahan dari Kerajan Salakanegara. Karena Salakanegara pada perkembangannya akhirnya menjadi bagian kerajaan dibawah kekuasaan Tarumanegara. Maka secara tidak langsung Kerajaan Aqni Nusa kini menjadi kerajaan dibawah kekuasaan Tarumanegara.


Kerajaan Aqni Nusa hanyalah kerajaan kecil. Tetapi disana ada satu perguruan yang cukup disegani. Kerap kali mereka membantu memerangi serangan perompak. Peran mereka justru secara tidak langsung menjadi kekuatan tambahan bagi Kerajaan Aqni Nusa.


Ditambah perlindungan dari Dewa Pedang membuat perguruan itu semakin ditakuti keberadaannya oleh para perompak.


Perguruan itu bernama Perguruan Api Krakatao. Disitulah sedari awal Anjani belajar olah kanuragan. Berkat bakat dan ketekutannya dia dipilih menjadi murid utama yang mewakili perguruan mereka dalam pemilihan tetua muda ini.


Anjani berperwakan lebih berisi daripada Gayatri dengan kulit sawo matang.


Trang! Trang!


Serangan Mahadewi benar-benar memperlihatkan kemampuannya menuruni ilmu dari gurunya dengan begitu baik. Serangannya yang begitu dahsyat membuat lawannya harus tersurut beberapa langkah.


Anjani tak mengira serangan lawannya begitu dahsyat seakan dinding karang yang mendorongnya begitu kuat. Anjani berkali-kali dibuat keteteran dengan serangan lawan yang terus merangsek.


"Pusaran Pedang Dewa!"


Kembali Mahadewi membuat serangan yang lebih dahsyat. Serangan Madewi mengingatkan serangan dari pedang bayangan. Sebuah kemampuan yang seakan membuat bagian tubuhnya menjadi begitu banyak. Serangan Mahadewi bagai gelombang pedang dia bergerak memutar menebas ke arah lawannya.


Anjani menghadapi gempuran yang begitu dahsyat tak urung dibuat berkali-kali menghindar dan kembali tersurut beberapa langkah. Walaupun gempuran musuhnya sebegitu dahsyat tak satupun dari ujung pedang itu menyentuhnya. Tak memalukan pilihan dari Tetua yang bernama Eyang Kaliki itu.


"Lihatlah muridku! Dia masih mampu melayani setiap serangan dari murid Dewi khayangan yang terkenal dengan jurus tangan seribunya."


Eyang Kaliki menunjuk muridnya Anjani yang bertempur melawan murid Dewi Anggini yang dia sebut dengan nama lainnya yaitu Dewi Khayangan karena memang dulu dia dikenal dengan kecantikannya yang tak terbantahkan.


"Perguruan kami yang kecil sudah terbiasa bentrok dengan kelompok penyamun. Ada sisi baik yang bisa diambil dari hal itu. Pertarungan dengan manusia tak bermoral dan bengis, membuat keahlian tempur murid-muridku terasah dengan baik."


"Aku mendengar kalian bersama Kerajaan Aqni Nusa berhasil menghancurkan armada dari kelompok perompak Iblis mata satu yang terkenal itu."


"Ya itu adalah salah satu buntut dari pertempuran yang dilakukan satu purnama sebelumnya. Saat satu kapal Kerajaan Aqni Nusa hampir saja mampu dikuasai oleh salah satu kelompok perampok tersebut. Beruntung pemimpinnya yang ternyata putra dari Iblis mata satu mampu dibunuh."


"Jadi tujuan Iblis mata satu menyerang langsung Kerajaan Aqni Nusa adalah untuk balas dendam?" Tetua yang berada disebelah Eyang Kaliki kembali bertanya. Dia merupakan tetua cabang yang bernama Ki Kebo ijo. Dia guru dari Mahesa yang terkenal dengan jurus Tujuh Pedang Terbangnya.


"Benar, walaupun kami telah menghancurkan armada mereka dan memukul mundur pasukan perompak itu bukan berarti telah menghentikan langkah mereka untuk meratakan kerajaan kecil kami. Mereka sedang mengumpulkan kekuatan untuk menyerang kembali"


"Karena itulah saya datang ke sekte pusat sekaligus sebagai utusan Kerajaan Aqni Nusa untuk meminta bantuan Dewa Pedang."


"Apakah kekuatan perompak itu begitu hebat sehingga kekuatan Kerajaan kalian tidak mampu mengatasinya?"


"Benar kekuatan pada serangan awal sudah menghancurkan rumah penduduk dipesisir. Walau telah mampu kami pukul mundur tetapi kabar yang kami dengar mereka beraliansi dengan kelompok perompak lain. Sehingga membentuk kekuatan yang mampu meratakan negeri kami."


"Sudahlah untuk sementara aku tidak mau memikirkan masalah itu. Untuk sekarang penampilan muridku di laga pertarungan lebih mengasikkan untuk dilihat."


Anjani yang beberapa kali terdesak kini membuat perlawanan cukup berarti serangan pedang miliknya mengempur dengan begitu dahsyat. Jurus yang dia keluarkan berdasarkan kitab api seperti jurus Rithisak. Tetapi ada perbedaan karena sifat jurusnya Anjani yang bersifat yoni.


Sehingga ada perbedaan mencolok antara jurus mereka berdua. Jika jurus Rithisak bersifat lingga maka pergerakannya mengutamakan kekuatan sehingga bersifat keras. Maka dalam jurus yang dimainkan Anjani bersifat yoni atau bersifat lembut.


Jurus yang diciptakan Eyang Kaliki terinspirasi dari Gunung karakatao. Ledakan energi panas dari jurus telapak tangan Anjani mulai melingkupi tubuh lawannya yang berputar deras ke arahnya.


Energi panas yang keluar berasal dari telapak yang dipukul tanpa menyentuh lawannya. Tetapi justru disitulah kelebihannya karena tanpa menyentuhnya dia mampu menghempaskan angin kuat yang berhawa panas.


Hempasan angin panas ternyata berpengaruh kepada Mahadewi. Walaupun gerakannya yang berputar itu mencoba mengurangi efek panas dari tapak milik Anjani tetapi ternyata tidak begitu efektif.


Kemudian dia tersurut ke belakang mencoba mengurangi hawa panas yang menerpa tubuhnya.


"Camar menyambar menembus ombak"


Merasa jurus tapaknya mampu mendobrak jurus lawan, Anjani segera mengejarnya dengan jurus lain. Tubuhnya yang indah itu berjumpalitan memutari tubuh lawannya.


Aliran chakra yang dia hantamkan ke arah lawannya merupakan serangkaian jurus Tapak Tiga Puluh Enam Langkah. Jurus itu begitu tersohor sebab dengan kekutan itu telah membuat banyak para perompak dibuat bertekuk lutut.


Braak!


Pengerahan energi bumi digabung dengan unsur api menggerung melabrak cepat menghantam Mahadewi. Hantaman yang begitu kuat bahkan membuat tubuh yang indah itu terlempar hampir satu tombak.