
"Terima kasih tetua telah membantu saya melewati tahap terakhir dari latihan yang saya lakukan." Suro menjura dengan dalam kepada dua pendekar yang berada dihadapannya.
"Bagus nakmas akhirnya dirimu mampu menyelesaikan semua tahapnya dengan begitu mengagumkan. Apa yang telah nakmas lakukan ini akan menjadi sejarah baru atas pencapaian nakmas menyelesaikan seluruh tahap tehnik Sembilan Putaran Langit ini. Karena hanya nakmas yang mampu menyelesaikan sembilan tahap dengan begitu cepat. Tidak juga dengan adimas Jagat Saswito(nama asli dari Dewa Pedang), bahkan Mahaguru Dewa Pedang penemu tehnik ini sekalipun, memerlukan waktu sembilan purnama."
Suro hanya mengangguk-angguk mendengar pujian dari Eyang Udan Asrep.
"Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada tetua dan para pendekar yang telah Suro lewati kecepatan pencapaian mereka dalam menguasai tehnik ini. Dan tanpa mengurangi rasa terima kasihku kepada paman guru dan juga tetua berdua yang telah membimbing Suro menjadi lebih kuat. Tetapi entah mengapa perasaan merasa bersalah dan tidak berguna, karena tidak bisa menolong eyang guru justru semakin terasa berat mengelanyuti perasaanku tetua."
"Walaupun tetua menganggab apa yang telah Suro lakukan ini sebagai sesuatu yang mengagumkan. Namun bagi Suro justru menganggab pencapaian ini belum maksimal, sehingga proses latihan masih menghabiskan waktu hampir enam purnama."
"Dengan kata lain, Suro sudah membiarkan eyang guru selama hampir enam purnama nasibnya terkatung-katung dalam dunia lain. Suro merasa bersalah dan merasa tidak berguna karena tidak mampu menolong eyang guru pada saat kejadian itu. Bahkan sampai sekarangpun Suro belum melakukan apapun untuk menolongnya."
"Tidak nakmas kamu tidak perlu merasa bersalah dan merasa tidak berguna. Apa yang menimpa Eyang Sindurogo adalah garis takdir. Dan apa yang telah kamu lakukan sekarangpun justru telah membuktikan baktimu kepada gurumu. Dengan berusaha menjadi lebih kuat sehingga nantinya bisa menolong gurumu nakmas."
"Jika seorang Dewa Pedang dan Eyang Sindurogo sekalipun tidak mampu mengatasi kekuatan musuh di alam lain. Maka itu semua sudah diluar kekuatan nakmas. Semua itu sudah menjadi ketetapan dan kehendak dari Sang Hyang Ngakaryo Jagat. Nakmas sudah melakukan sesuatu yang sudah luar biasa. Eyang Sindurogo pasti tidak menyalahkanmu nakmas. Aku yakin dia akan bangga memiliki murid berbakti seperti nakmas." Eyang Udan Asrep menepuk-nepuk pundak Suro sambil tersenyum.
"Benar apa yang dikatakan kakang Udan Asrep, nakmas sudah melakukan hal yang terbaik. Semua itu sudah berada diluar kekuatan nakmas. Bahkan Dewa Pedang dan Eyang Sindurogo seorang pendekar terkuat di seantero langit Benua Timur ini tidak mampu mengatasi kekuatan lawan, tentu itu semua sudah sangat jauh dari jangkauan kemampuan nakmas."
"Karena itu nakmas tidak perlu terlalu menyalahkan diri sendiri. Apa yang telah nakmas usahakan dan telah nakmas lakukan sudah membuktikan baktimu kepada gurumu. Selain itu apa yang nakmas capai sekarang, jika Kakang Sindurogo melihatnya, pasti dia akan merasa sangat bangga dengan kemampuan dan bakat yang nakmas miliki."
Panjang lebar dua pendekar senior itu menasehati, memberi masukan dan menguatkan jiwanya yang masih terus memikirkan nasib gurunya dialam lain. Tidak ada yang salah memang dengan apa yang telah dilakukannya. Karena dalam dunia ini bagi dirinya hanya Eyang Sindurogo satu-satunya keluarganya. Bagi dirinya gurunya adalah merupakan sosok yang menggantikan peran seorang ibu, bapak dan sekaligus merangkap seorang guru yang mengajarkan, mengenalkan dan mendidik, tentang segala hal yang menyangkut kehidupan juga tentang ilmu olah kanuragan.
"Apa yang sudah Suro lakukan hingga bisa menyelesaikan seluruh tahap latihan tehnik ini, semata-mata agar bisa secepatnya menolong eyang guru. Semakin cepat Suro menyelesaikan latihan, maka akan semakin besar pula peluang yang Suro miliki untuk dapat menolongnya keluar dari dunia kegelapan."
Mereka para pendekar itu tidak menyangka ternyata cara berpikir pemuda yang dihadapannya itu, begitu mengagumkannya sama dengan bakat yang dia miliki. Sebuah cara berpikir yang memiliki tingkat kebijaksanaan yang hampir mustahil sudah dimiliki seorang anak seusianya.
"Jika keinginanmu untuk menyelamatkan gurumu justru nakmas jadikan motivasi latihanmu adalah tindakan yang sangat bagus. Bukan hanya kekuatanmu yang mengagumkan tetapi ternyata hatimu lebih mengagumkan nakmas. Tidak percuma guru nakmas seorang Maharesi sehingga bisa membentuk pribadi nakmas menjadi seperti ini."
"Mohon maaf tetua sekarang saya sudah menyelesaikan semua tahapnya, apakah hari ini juga Suro diperkenankan menyusul paman guru Dewa Pedang menuju Kadipaten Banyu Kuning?"
"Apakah nakmas tidak ingin beristirahat terlebih dahulu?"
"Saya rasa tidak perlu tetua. Karena dengan adanya masalah di Banyu Kuning membuat misi penyelamatan eyang guru menjadi tertunda. Semoga kehadiranku di Banyu Kuning bisa membantu mempercepat mengatasi serangan para siluman itu. Seperti yang telah diceritakan tetua, jika tetua Dewi Anggini menyebutkan tehnik empat sage bisa menjadi senjata yang ampuh untuk mengatasi para siluman. Tetapi Suro jujur belum mengetahui tentang kebenaran dari perkataan tetua Dewi Anggini. Karena baru kali ini Suro mendengar mengenai kemampuan tehnik empat sage mampu mengatasi kemampuan para siluman yang sangat merepotkan. Bahkan paman guru Dewa pedang sekalipun ikut dibuat kerepotan."
"Tetapi apakah memang benar tetua, jika para siluman itu memiliki kemampuan yang bisa merubah dirinya menjadi asap, air atau api setiap kali siluman itu ingin menyelamatkan diri?"
"Benar kabar tersebut, tetapi jujur saja aku juga kurang memahami maksud dari menjadi asap, air maupun api. Tetapi jika melihat tehnik yang dimiliki Perguruan Gerbang Mahakam yang asal ilmunya dari siluman Sungai Mahakam maka bisa jadi apa yang dikabarkan dari Kadipaten Banyu Kuning itu benar adanya."
"Baiklah tetua, apapun kemampuan para siluman itu, Suro akan menghadapinya. Semoga kehadiran saya di Banyu Kuning benar-benar sesuai dengan harapan tetua Dewi Anggini, sehingga mampu mengatasi para siluman. Semakin cepat teratasi masalah di Banyu Kuning, maka akan semakin cepat juga Suro bisa menyelamatkan eyang guru."
"Mohon ijin tetua mumpung matahari belum tenggelam di barat, sebaiknya Suro mulai menyiapkan semua perbekalan obat-obatan sebelum berangkat menuju Banyu Kuning menyusul paman guru."
"Mohon doa restu tetua, Suro akan pamit sekarang juga."
"Tunggu sebentar nakmas, waktu itu aku belum mengatakan bahwa Pendekar Dewa Rencong akan ikut bersama nakmas menuju Kadipaten Banyu Kuning."
"Benarkah paman pendekar? Suro tidak menyangka ternyata dibalik sikap paman yang cenderung keras, ternyata menyimpan hati yang sangat baik sekali."
"Baik kepalamu bocah! Dasar bocah gemblung! Aku menemanimu menuju Banyu Kuning karena permintaan Pendekar Dewa Pedang."
Suro tertawa kecil mendengar ocehan Dewa Rencong kepadanya.
"Jika demikian Suro mohon ijin terlebih dahulu mengambil perbekalan dan juga obat-obatan yang telah diminta paman guru." Suro segera menjura ke arah dua pendekar didepannya. Setelah itu dia bergegas berbalik untuk menuju tempat Kolo Weling.
"Tunggu! Aku akan ikut denganmu mengambil obat-obatan yang diminta Dewa Pedang. Dari sana kita akan langsung berangkat bersama."
"Kakang sepertinya aku juga harus pamit sekarang juga sebelum berangkat menuju Banyu Kuning."
Eyang Udan Asrep mengangukkan kepala sambil tersenyum.
Suro kembali menjura hormat ke arah Eyang Udan Asrep, kemudian bersama Dewa Rencong dia melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Begitu sampai dihalaman rumah Suro berbalik menatap Dewa Rencong yang mengikutinya.
"Mohon maaf paman pendekar bisa tunggu sebentar, sejak granthi terakhir berhasil dibuka rasanya sudah begitu gatal menunggu sampai tuntas menyelesaikan tahap terakhir. Karena Suro sudah tak sabar ingin mencoba terlebih dahulu kekuatan yang baru saja saya capai ini."
"Baiklah silahkan nakmas. Tetapi mencoba seperti apa yang nakmas maksud kan?" Dewa Rencong bersedekap mengira Suro mengajaknya berlatih tanding.
"Saya ingin mencoba mengerahkan ilmu milik eyang guru, Tapak Dewa Matahari dengan kekuatan yang sesungguhnya."
Suro segera mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya. Energi chakra mengalir ke ujung jarinya kemudian energi chakra itu langsung terpancar keluar dari sepuluh ujung jarinya. Jurus pertama dari ilmu tapak Dewa Matahari sepuluh jari dewa menguncang bumi. Dia kelihatan begitu gembira akhirnya bisa mengelar jurus milik gurunya.
Melihat jurus pertama mampu dia kerahkan, kemudian dia kembali mencoba jurus kedua Telunjuk Dewa Mencari Kebenaran.
Blaaar!
Dia mengacungkan jari telunjuknya naik ke atas, dari ujung jari itu menerjang dengan mengerikan sinar yang lebih besar seakan menembus langit.
Dia masih penasaran kembali dia mengerahkan jurus itu mengarah pada sebuah tebing batu yang agak jauh dari tempatnya berdiri. Hampir berjarak sekitar tiga puluh tombak.
Duuuaaaaar.....!
"Saat pertama kali melihat Eyang Sindurogo menggunakan tehnik ini paman dibuat berdecak kagum. Aku tidak menyangka ada manusia bisa sekuat dirinya."
"Tetapi melihat nakmas melakukan ini membuat paman merasa nakmas bukan manusia lagi. Tidak mungkin anak seusia nakmas sudah bisa memainkan jurus yang sangat menguras energi chakra ini. Jangan-jangan nakmas masih keturunan demit yang berumur ribuan tahun?"
Huuk!
Suro mendengar perkataan Dewa Rencong begitu kaget rasanya seperti tersedak, padahal sudah empat hari dirinya belum masuk makanan ke dalam mulutnya walau satu suap pun.
Suro segera menghentikan pengerahan jurusnya. Dan mulai mengaruk-garuk kepalanya sambil menatap Dewa Rencong.
'Agaknya pendekar ini saat menjadi wasit seleksi tetua muda, kepalanya terbentur dinding tanah yang aku kendalikan. Membuat pikirannya terasa agak aneh.' Suro masih saja menatap Dewa Rencong sambil tetap tersenyum lebar, tetapi dalam hatinya dia meruntuk mendengar dirinya disebut keturunan demit.
"Paman Pendekar bisa saja." Suro membalasnya dengan tertawa kecil.
'Masa ada demit bilang demit.' Suro berbicara dengan suara pelan sambil kembali melangkah.
"Nakmas bicara apa?"
Suro yang sudah beberapa langkah didepan Dewa Rencong menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan pendekar itu. Secara perlahan menoleh ke belakang sambil memamerkan seluruh giginya.
"Hehe paman mendengar? Maksud Suro masa ada demit setampan ini, paman? Hehehehehe....!"
"Apa yang terjadi?" Eyang Udan Asrep tergopoh-gopoh keluar dari dalam rumah begitu mendengar ledakan begitu keras.
"Hahaha...bocah gemblung ini sedang memamerkan kedahsyatan jurus milik gurunya!"
Suro hanya mengaruk-garuk kepalanya sambil meringis tertawa kecil.
"Aku kira ada ledakan apa." Eyang Udan Asrep ikut tersenyum mendengar perkataan Dewa Rencong.
"Paman pendekar bagaimana jika kita berlari saja menuju Kadipaten Banyu Kuning? Suro yakin dengan perkembangan kekuatan Suro dan ilmu meringankan tubuhku pada saat sekarang bisa lebih cepat sampai disana dibandingkan menggunakan kuda."
"Jika nakmas yakin, tentu saja paman tidak akan keberatan kalau itu memang bisa menghemat waktu lebih cepat."
Setelah menjura kepada Eyang Udan Asrep tubuh Suro segera melesat dengan cepat meninggalkan tempat itu. Dewa Rencong terkesan dengan kecepatan langkah kilat Suro. Dia mengenali tehnik saifi angin milik Suro yang tak asing bagi dirinya. Hanya saja melihat Suro yang masih begitu muda mampu melakukannya membuat dia begitu kagum.
Dewa Rencong menganguk pelan kepada Eyang Udan Asrep sebelum tubuhnya juga melesat cepat mengejar Suro menuju tempat Kolo Weling.
Selang tak sampai seperempat seperminuman teh mereka berdua sudah berada ditempat Kolo Weling.
Ternyata disana sudah menunggu Mahadewi dan Made Pasek yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan Kolo Weling dipendopo rumah depan.
Mereka berdua segera menjura menyadari kedatangan Dewa Rencong bersama Suro.
"Ada apa gerangan tuan pendekar Dewa Rencong mampir digubuk kami ini? Satu kehormatan bagi kami karena pendekar mau mampir disini." Kolo Weling segera berdiri lalu menjura setelah mengetahui siapa yang baru saja datang.
Dewa Rencong membalas dengan senyuman yang jarang diperlihatkannya.
"Aku menemani nakmas Suro, kisanak. Dia akan mengambil persediaan obat-obatan yang telah dipesan oleh Dewa Pedang. Kami akan membawanya menuju Kadipaten Banyu Kuning."
Mahadewi yang mendengar ucapan Dewa Rencong terkejut, dia tidak percaya karena dengan berangkatnya Suro ke Banyu Kuning menandakan semua latihan yang di lakukan Suro sudah selesai.
"Berarti latihan kakang sudah selesai?"
"Benar adinda semua tahap latihanku sudah aku selesaikan. Karena itulah kami akan segera berangkat menuju ke Banyu Kuning."
"Kalau begitu tidak ada gunanya jika aku tetap ada disini. Adinda akan ikut kakang menuju Banyu Kuning."
"Aku juga!" Made Pasek ikut menyahut perkataan Mahadewi.
Suro langsung menoleh ke arah Dewa Rencong meminta pendapat ke arahnya.
"Berarti kita harus berangkat menggunakan kuda jika kalian ikut. Awalnya tadi kami berencana berlari menuju Kadipaten Banyu Kuning. Tentu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Apalagi dengan melihat nakmas Suro berlari dan menunjukan kecepatannya yang mengesankan, aku cukup yakin bisa lebih cepat sampai disana dibandingkan dengan menggunakan kuda."
"Terima kasih paman pendekar." Mahadewi dan Made Pasek segera menjura setelah diberikan ijin.
Setelah semua persiapan selesai, mereka segera berangkat memacu kudanya menuju Kadipaten Banyu Kuning. Perbekalan obat-obatan yang banyak akhirnya ditempatkan pada kuda cadangan yang mengikuti dibelakangnya.
Entah musuh apa yang nanti akan mereka hadapi di Banyu Kuning? Tetapi yang pasti, bukan musuh yang mudah dihadapi. Apalagi jika mengingat seorang Dewa Pedang sekalipun dibikin kerepotan. Tentu lawan yang sedang menunggu kedatangannya adalah lawan yang sangat kuat.
**
**Terima kasih yang telah memberi masukan untuk perkembangan novel SURO BLEDEK ini. Semoga dengan semakin banyak yang memberikan masukan koin semakin banyak juga yang didapatkan authornya... eh......... maksudnya semakin banyak masukan dari pembaca semakin membuat penulisan novel ini menjadi semakin baik apalagi ditambah sumbangan koin dan poinnya pasti akan membuat authornya tambah semangat.
Ditunggu comment-comment berikutnya. Tidak lupa ditunggu juga dukungan pada novel ini berupa sumbangan like, koin dan pointnya.
Mungkin kedepannya novel ini akan up setiap hari walaupun kapasitas per chapternya tidak sebanyak sebelumnya atau mendekati**.