SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 349 Markas Mawar Merah part 2



“Bagaimana mungkin jika sosok yang barusan kita tolong tadi adalah orang yang menyamar kakang?”


“Padahal aku sangat yakin sekali jika sosok tadi adalah guruku, ataukah seseorang telah mengendalikan pikirannya lalu digunakan untuk menjebak kita?”


“Mungkin saja itu terjadi. Dan dengan itu juga eyang guru dan Dewa Rencong dapat ikut terjebak oleh tipu muslihat kelompok ini. Tapi itu kita pikirkan nanti, saat ini kita pikirkan bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari ruangan sempit ini?” Suro segera menyadari jika dinding sisi kanan dan kiri semakin menyempit.


Itu artinya jika mereka tidak segera meninggalkan tempat tersebut, maka tubuh mereka akan hancur tergencet kedua sisi dinding. Karena itulah Suro secepatnya harus meninggalkan tempat tersebut.


“NAGA BUMI!”


BRAAAK!


Sebelum dinding itu mengencet tubuh mereka berdua, Suro segera mengerahkan ular naga dari dalam tanah. Naga bumi berhasil menjebol bagian bawah lorong itu yang juga terbuat dari batu.


Suro dan Mahadewi segera keluar dari tempat tersebut melalui lorong baru yang dibuat oleh Naga Bumi. Tepatnya mereka menaiki naga bumi untuk keluar dari tempat yang hampir saja merengut nyawa mereka berdua.


Braaak!


“Apa...kalian masih bisa keluar dari lorong kematian?” sosok yang mirip dengan tetua Dewi Anggini terkejut melihat Suro dan mahadewi mendadak muncul didepan mata mereka dengan cara menjebol lantai ruangan tersebut.


Mereka berdua beberapa saat masih tetap berada diatas tubuh naga bumi yang tubuhnya sebesar pohon kelapa. Mereka kemudian turun dan bersiap menghadapi musuh yang berjumlah lebih dari seratus orang.


“Jadi kalian memiliki penawar racun Pelumpuh Tulang?”


Melihat mereka berdua terlihat begitu segar bugar, maka sosok yang menyerupai Dewi Anggini segera menyadari, jika Suro maupun Mahadewi kini tidak lagi dalam pengaruh racun Pelumpuh Tulang.


‘Pasti Ari Muka dan Wah Muka anakku tidak menyangka hal ini. Karena itu lah mereka berdua berhasil di habisi,’ Sosok yang mirip dengan Dewi Anggini itu meruntuk dalam hati melihat usahanya gagal untuk menjebak Suro dan Mahadewi.


Saat mereka hendak dijebak, pasukan musuh ternyata telah bersiap jika seandainya usaha mereka gagal. Mereka telah menunggu diujung lorong bersama sosok yang mirip dengan Dewi Anggini.


Jumlah mereka cukup banyak tidak kurang dari seratus lima puluh orang telah bersiap dengan senjata terhunus. Mereka tidak menyangka, jika akhirnya Suro dan Mahadewi dapat meloloskan diri.


Padahal rencana itu disusun dengan sangat matang. Bahkan sosok yang menyamar itu rela melukai tubuhnya sendiri agar dapat meyakinkan mereka berdua. Bahkan sebelum mereka terkurung telah disebar racun pelumpuh tulang supaya mereka tidak dapat menyelamatkan diri.


Dinding batu yang menutup jalan mereka sebelumnya, sebenarnya dapat dihancurkan oleh Suro. Namun dia takut itu justru akan meruntuhkan semua dinding dan akan membahayakan Mahadewi. Suro juga tidak menggunakan jurus Langkah Maya, karena sejak awal dia hendak menyerang musuh dengan menggunakan naga bumi miliknya.


“Jika kalian hendak menggurungku, seharusnya kalian menggurung dengan sesuatu yang jauh lebih kuat dari pada itu,” Suro tersenyum ke arah mereka, meskipun matanya belum mampu melihat dan masih dibebat kain.


“Mahadewi ini saatnya kau pastikan wanita itu gurumu yang asli atau bukan? Serahkan yang lain padaku!” Suro berbicara kepada Mahadewi yang berdiri disampingnya. Dara itu mengangguk pelan menanggapi ucapan Suro.


Bersama dengan itu melesatlah sepuluh bilah pedang dari belakang pundak Mahadewi.


“Maafkan guru jika ini memang dirimu yang asli!” Mahadewi meloncat menerjang ke arah sosok yang mirip gurunya.


Serangan sepuluh bilah pedang miliknya berhasil mendesak sosok yang mirip Dewi Anghini. Suro juga tidak tinggal diam, secara serentak dia mengerahkan berpuluh-puluh bilah pedang miliknya untuk menyerang pasukan musuh.


Dengan itu, maka Mahadewi dapat bertarung dengan sosok yang mirip dengan gurunya tanpa diganggu oleh pasukan musuh yang lain.


Sebab serangan yang dilakukan Suro telah membuat pasukan musuh yang berjumlah lebih dari seratus orang itu berhasil dibuat kewalahan. Apalagi pedang yang digunakan olehnya berkali lipat lebih banyak dibandingkan dengan yang digunakan Mahadewi.


Puluhan pedang melesat dari pundaknya. Pedang-pedang itu berseliweran mencabut nyawa lawannya seperti memiliki pikiran sendiri. Serangan yang dilakukan Suro tidak diduga sama sekali oleh lawannya.


Selain dengan menggunakan jurus pedang, dia juga menyerang musuh menggunakan naga bumi miliknya. Dia memang sengaja menyerang lawan dari jarak jauh. Karena itulah dengan adanya naga bumi itu tidak ada seorangpun yang berhasil mendekatinya.


Tempat yang mereka gunakan untuk pertarungan itu, seperti berada pada sebuah ruangan yang menyerupai goa buatan. Tempat itu cukup luas seperti halaman depan dari markas Mawar Merah.


Pasukan musuh terus berdatangan seakan tidak ada habisnya. Meskipun serangan yang dilakukan Suro telah menghabisi pasukan musuh cukup banyak.


Jumlah yang terbunuh oleh pengerahan jurus pedang terbang Suro menumpuk semakin bertambah banyak. Namun hal itu tidak membuat ciut nyali pasukan pembunuh yang sudah terlatih itu. Mereka terus berusaha merangsek kedepan.


Karena semakin banyaknya pasukan yang mengepung dirinya, kini Suro merubah tehnik serangan dengan menggabungkan beberapa jurus. Selain menggunakan puluhan bilah pedang, dia juga menggunakan ilmu Tapak Dewa Matahari.


“Hahahaha...ternyata dia murid dari Sindurogo Pendekar Tapak Dewa Matahari! Kita lihat apa dia juga dapat lepas dari racun kita?” seseorang yang barusan berbicara itu kemungkinan adalah salah satu pemimpin dalam kelompok Mawar Merah.


Buuum! Buuum!


Bersama teriakan lelaki itu, pasukan musuh melemparkan bola-bola yang kemudian meledak. Kabut yang muncul dari ledakan itu hampir tidak terlihat, tetapi berhasil menyelubungi Suro. Karena itu adalah racun Pelumpuh Tulang.


Seseorang yang baru saja memberi perintah memiliki tubuh yang kekar dengan sebuah topeng warna merah menutupi wajahnya. Jika diperhatikan sejak awal mereka kemungkinan menggunakan topeng sebagai bagian identitas dan juga sebagai cara untuk membedakan tingkat kekuatan mereka.


Seperti sejak awal mereka diserang kebanyakan menggunakan topeng berwarna hitam, sebab kekuatan mereka telah mencapai kekuatan yang setara dengan pendekar tingkat tinggi. Beberapa orang yang sebelumnya berhasil dibunuh Suro yang menggunakan topeng warna hijau memiliki tingkat kekuatan setara dengan pendekar tingkat shakti.


“Muka Badak! percuma kalian menggunakan racun itu! Sebab bocah itu entah bagaimana telah memiliki penawar racun Pelumpuh Tulang!” sosok yang berteriak itu adalah wanita yang menyerupai tetua Dewi Anggini.


Wanita itu segera merespon serangan ke arah Suro yang menggunakan racun pelumpuh tulang, sebab saat dia menjebak Suro dia telah berhasil menebar racun itu. Tetapi racun itu sepertinya tidak berpengaruh, hal itu terlihat setelah Suro muncul kembali dari dalam lantai markas mereka.


Dan benar saja setelah serangan itu Suro tetap berdiri tegak sambil terus memberikan perlawanan ke arah mereka yang mengepungnya.


**


Mahadewi sendiri terus mendesak musuhnya dengan menggunakan jurus sepuluh pedang terbang miliknya. Walaupun musuhnya tadi sempat berteriak ke arah lawan Suro, dia sendiri sebenarnya cukup kewalahan melayani serangan yang dilakukan Mahadewi kepadanya.


Buuuum! Buuuum! Buuuum!


Ledakan berturut-turut hampir saja mengenai Mahadewi, setelah lawannya melemparkan bola-bola yang mampu meledakkan asap berwarna hijau.


Mahadewi segera menyadari, jika musuh yang didepannya itu mengerahkan


serangan seperti yang dilakukan musuh sebelumnya, yaitu sesosok lelaki menyerupai wajah Suro dan hendak melakukan tindakan tidak senonoh kepadanya.


“Jadi kau ternyata memang bukan guruku! Cepat katakan padaku kalian bawa kemana guruku?” Mahadewi berteriak penuh kemarahan.


Dara itu kini tidak lagi menahan kekuatannya. Serangan yang dia kerahkan semakin cepat dari pada sebelumnya. Dia kali ini cukup khawatir dengan kondisi gurunya yang belum dia ketahui keberadaannya.


“Kalian harus membayar atas apa yang kalian lakukan kepada guruku ratusan kali lebih pedih!”


Serangan yang dilakukan Mahadewi meskipun belum mampu melukai musuhnya dengan parah, namun sosok wanita yang memiliki wajah seperti Dewi Anggini itu mengakui kekuatan yang dikerahkan Mahadewi. Dia benar-benar tidak mampu menahan serangan dara itu lebih lama.


“Cepat habisi dara itu Setan Seribu Wajah!” Seseorang yang menggunakan topeng merah berteriak ke arah sosok yang menyerupai Dewi Anggini.


Lelaki yang begitu kekar itu juga merasa tidak mampu menahan serangan Suro lebih lama lagi. Apalagi sebelumnya serangan andalannya berupa serangan racun tidak berhasil melumpuhkan Suro.


Walaupun saat itu pasukan yang datang membantu terus berdatangan. Tetapi serangan yang dilakukan oleh Suro terlalu dahsyat tidak bisa dihadapi oleh seseorang yang berada di tingkat shakti ke bawah.


 “Kau pikir aku sedang bermain-main, dara ini memiliki jurus pedang yang tidak pernah aku lihat! Lihatlah jurusnya sama seperti milik pemuda itu!” Perempuan yang memiliki wajah


menyerupai Dewi Anggini itu menjawab teriakan lelaki bertopeng merah yang barusan berteriak.


'Setan tua sialan! Merekalah yang telah membunuh kedua anakku,  sedari tadi kalau aku mampu sudah aku cincang-cincang tubuh mereka berdua. Tetapi jurus mereka benar-benar membuatku kewalahan!' Setan Seribu Wajah menggerutu dalam hati sambil melayani serangan dari Mahadewi


“Jurus Kabut Kesesatan!”


Dewi Anggini palsu yang tak lain adalah Setan Seribu Wajah segera mengerahkan tehnik halusinasi dengan mengerahkan kabut tebal yang muncul disekitar tubuhnya. Dia hendak membuat Mahadewi kebingungan menentukan keberadaan dirinya. Karena selain kabut itu begitu tebal itu adalah racun yang mampu membuat seseorang berkhayal dan kesulitan untuk berkonsentrasi.


Kesempatan itu digunakan lawan untuk menyerang Mahadewi dengan menggunakan senjata yang mirip susuk. Beberapa kali senjata itu melesat menerjang ke arah Mahadewi.


Namun dara itu dapat menghindari dengan cukup gesit. Apalagi jurus pedangnya yang bergerak bebas dengan sangat cepat selalu berhasil menangkis semua serangan itu.


Memang kabut itu membuat Mahadewi sempat kebingungan mencari keberadaan musuhnya, karena itu lah dia segera menggunakan jurus yang merupakan bagian dari kitab dewa pedang, yaitu jurus Pusaran Pedang Dewa. Jurus itu digunakan untuk membuyarkan tebalnya kabut asap yang dibuat lawannya.


Pedang milik Mahadewi berputar dengan sangat cepat berubah seperti putaran tornado mencoba menyingkirkan kabut yang mencoba menghalangi dirinya menemukan keberadaan Setan Seribu Wajah yang sedang menyamar menjadi gurunya.


“Aaaaarrrrrgggghhh!”


Buuuum!


Satu bilah pedang berhasil menusuk Setan Seribu Wajah. Dia langsung melemparkan sebuah bola yang sedikit lebih besar dari sebelumnya ke arah Mahadewi.


Ledakan yang timbul setelah bola itu dilemparkan, membuat Mahadewi harus melindungi tubuhnya mundur cukup jauh. Kesempatan itu juga digunakan Setan Seribu Wajah untuk kabur.


“Kurang ajar, bagaimana mungkin bocah semuda itu memiliki kekuatan dan pemahaman pedang setinggi itu?” Setan Seribu Wajah meruntuk setelah merasakan jurus pedang milik Mahadewi.


Sebenarnya Setan Seribu Wajah memiliki kekuatan yang tidak rendah, namun pemahaman dan tehnik pedang yang dia miliki kalah jauh dengan yang dimiliki oleh Mahadewi yang telah mencapai tahap bersatu dengan pedang. Dia kemudian memilih menjauh dan bergabung dengan pasukan Mawar Merah yang lain.


“Aku tidak akan membiarkan dirimu kabur dengan mudah, aku akan menghabisimu!” Mahadewi mencoba mengejar ke tengah pasukan musuh yang semakin bertambah banyak.


“Jangan kesana Mahadewi, tetap berada didekatku!”


Langkah kaki Mahadewi terhenti karena mendengar teriakan dari Suro. Dara itu kembali mendekat ke arah pemuda yang berteriak kepadanya.


Teriakan Suro barusan sangat beralasan, sebab ditengah pasukan musuh muncul seseorang yang telah mencapai kekuatan surga.