SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 432 Makam Kaisar Qing part 2



"Berarti tempat yang akan kita tuju berada di bagian terdalam dari komplek makam tersebut?" Dewa Obat ikut berbicara.


Pertapa tua itu juga dibuat begitu penasaran. Sebab menurut penjelasan yang dia baca memang makam itu dibuat dengan sedemikian megah dan juga sangat rumit.


Berbagai mekanisme rumit memenuhi keseluruhan makam. Termasuk jebakan-jebakan yang dipasang didalamnya dibuat dengan sedemikian detail.


Namun korban jiwa atas pembangunan makam itu sangatlah banyak. Para pekerja yang berjumlah tujuh ratus ribu jiwa dikabarkan ikut dikubur hidup-hidup ditempat itu.


Itu diluar para rakyat yang dipaksa membangun tempat itu. Ribuan selir yang mandul dan juga pelayan termasuk para Kasim juga ikut dikuburkan bersamanya.


"Benar tuan pertapa, pintu masuk yang akan kita lalui ada disebelah sisi timur pegunungan ini." Jawab Suro


Mereka bertiga lalu melesat mengikuti Suro dibelakang. Sebab dia yang mengetahui letak pintu masuk menuju ke dalam makam Kaisar Qing Shi Huangdi.


Tidak beberapa mereka melesat dengan kecepatan tinggi, mereka kemudian sampai ditempat yang dituju.


"Mana bocah? Aku tidak melihat jalan masuk di tempat ini." Geho sama menatap ke arah Suro, setelah sampai ditempat yang dituju.


"Sebentar, mungkin dinding batu inilah yang menjadi gerbangnya?" Suro meraba dinding batu didepannya.


Gerbang batu yang dimaksud Suro menyatu dengan tebing yang merupakan lereng pegunungan Lishan yang berada disisi timur.


"Aku sepertinya harus membukanya secara paksa." Selesai berbicara Suro lalu mengerahkan tehnik perubahan tanah.


Suara bergemuruh menandai gerakan batu besar yang mulai terbuka. Salah satu dari dua batu besar yang merupakan gerbang utama menuju ke dalam makam. Dengan susah payah Suro berusaha memaksa batu raksasa itu mau bergeser agar mampu mereka lewati.


"Lihat, salah satunya adalah hal ini, mengagumkan bukan kemampuan bocah gendeng ini!" Geho Sama tertawa melihat Dewa Obat terkagum-kagum melihat kemampuan Suro.


"Sudah, akhirnya berhasil aku buka." Suro tersenyum lebar melihat usahanya berhasil.


"Ada apa Geho sama sepertinya ada sesuatu yang kamu pikirkan?" Suro yang melihat Geho Sama seperti orang yang mencurigai sesuatu setelah melongok ke dalam lorong didepannya.


"Jalan ini sepertinya belum pernah dilewati. Bukankah Yon Suzaku menyebut para Suzaku telah berada didalam makam. Apakah mungkin mereka masuk lewati jalan yang lain?" Sambil menggaruk-garuk kepalanya Geho Sama mengutarakan hal ganjil yang dia rasakan.


"Benar juga apa yang kau katakan, tetapi aku tidak menemukan jalan yang kau maksud." Suro ikut melongok ke dalam lorong. Terlihat jika lorong itu memang seperti belum pernah terjamah manusia.


Suro juga merasakan bau udara yang begitu pengap. Itu menandakan, bahwa udara yang ada didalam lorong telah terperangkap dalam waktu yang sangat lama.


"Dibandingkan kita harus mencari jalan lain yang mungkin saja dilewati para pasukan Elang Langit, lebih baik kita lewati saja lorong ini. Mungkin saja ini jalan tercepat menuju makam utama dari kaisar Qing Shi Huangdi." Dewa Obat memberikan usul kepada mereka berdua sambil melangkahkan kakinya mendekati lorong didepannya.


Kepalanya melongok ke dalam terowongan itu. Memang di dalam terowongan itu seperti apa yang dikatakan Geho Sama. Tetapi dia merasa jalan yang mereka temukan itu memang jalan utama menuju makam utama.


Mereka kemudian bergerak memasuki terowongan gelap yang ada didepan mereka. Secara mengagumkan saat kaki mereka mulai masuk semakin dalam tiba-tiba semacam obor yang berada disepanjang lorong itu menyala sendiri.


Ada cara mekanik yang rumit yang mematik obor itu hingga menyala. Obor itu kemungkinan dibuat khusus dari minyak yang berasal dari lemak ikan paus. Sebab minyak ikan itu memiliki keistimewaan dapat bertahan nyalanya sampai sedemikian lama.


Setelah beberapa tombak mereka memasuki lorong itu, bukan hanya obor-obor yang bisa hidup sendiri. Kini mereka harus berhadapan dengan berbagai jebakan.


Sebagian besar jebakan itu berupa senjata yang mampu melesat tanpa ada yang menggerakkannya. Semua menyerang dari berbagai sudut lorong tanpa disangka.


Beruntung mereka bertiga adalah pendekar yang mampu bergerak melebihi cepatnya anak panah yang sedang melesat sekalipun. Sehingga semua jebakan yang menghujani mereka sepanjang perjalanan tidak berhasil melukai.


Semakin dalam mereka berjalan tempat yang mereka tuju udaranya terasa begitu lembab dan apek. Jebakan yang ditemui juga semakin bertambah banyak, berbagai rupa senjata silih berganti menghujani mereka bertiga.


"Apakah ada gas beracun yang dipasang?" Dewa Obat yang berjalan dibelakang Suro cukup khawatir jika mereka dijebak dengan gas beracun.


Bukan hal yang berlebihan kekhawatiran Dewa Obat, sebab dalam kondisi mereka kekurangan udara jika ada bahaya asap beracun, maka mereka tidak akan memiliki banyak waktu untuk meloloskan diri.


"Sampai sejauh ini aku tidak merasakan adanya bau beracun. Semoga saja jebakan semacam itu tidak ada." Sambil menjawab pertanyaan Dewa Obat, Suro terus melangkahkan kakinya dengan cukup hati-hati.


Setelah sedemikian jauh mereka berjalan, kini mata mereka disuguhi pemandangan yang menggoda iman. Sebab terpampang jelas beberapa ruangan yang mereka temui disepanjang jalan berisi berbagai logam mulia dan batu mulia yang tidak sedikit jumlahnya.


Semakin ke dalam lagi maka pemandangan seperti itu semakin banyak dan semakin bertambah banyak. Bagi mata orang awam pemandangan seperti itu telah menghentikan langkah mereka dan memilih mengambil harta benda tersebut.


Sebab memang seperti itulah tujuan harta benda dalam berbagai bentuk yang menarik mata itu diletakan di ruangan-ruangan sepanjang lorong panjang itu. Semua itu digunakan untuk menghentikan langkah siapapun yang memasuki makam tersebut.


Tidak cukup hanya logam mulia dan batu mulia dalam berbagai bentuk yang digunakan untuk menarik perhatian, kini telihat disepanjang lorong yang mereka lewati berbagai senjata terpampang dengan rapi.


Berbagai senjata juga mereka temukan, tetapi itu tidak menarik hati mereka bertiga. Walaupun kwalitas senjata itu cukup baik.


"Senjata yang ada ditempat ini mengapa kwalitasnya lebih buruk dibandingkan senjata yang pernah aku lihat di makam Kaisar Gong?"


Suro sempat memeriksa beberapa senjata yang tidak jauh dari jangkauannya.


Tetapi semakin dalam mereka masuk mereka menemukan senjata yang lebih baik kwalitasnya dibandingkan sebelumnya. Emas yang menumpuk pun semakin banyak.


"Apakah kau tidak tertarik mengganti pedangmu yang menggantung di pundakmu?" Geho Sama bertanya ke arah Suro, sebab pemuda itu sempat memilih beberapa pendang yang dia temukan.


"Aku rasa koleksi pedang milikku dari oleh-oleh yang kau bawa dari Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan lebih bagus kwalitasnya dibandingkan pedang yang ada disini."


Apa yang dikatakan Suro bukanlah berlebihan, sebab pedang yang menggantung dipundaknya dalam kotak besar memiliki kwalitas tingkat langit.