
"Apakah kalian akan meninggalkan aku?" Mendadak dari arah depan dari balik pintu sesosok wanita yang begitu cantik dengan riapan rambutnya yang lemas terurai cukup panjang seperti sebuah benang sutra yang berkilauan. Rambut itu tersisir dengan begitu rapi membuat rambut itu terhembus angin, sehingga seakan sesuatu yang sangat ringan.
Rambut itu terlihat begitu hitam dan berkilauan seakan mutiara yang sedang terpapar sinar matahari. Dua Dewa itu tertegun menatap penampakan yang terlihat lebih menarik dibanding makhluk yang tertidur dengan suara dengkurannya terdengar begitu mengerikan.
Wajahnya yang tirus dan membentuk dagunya yang lancip seakan begitu runcing semakin membuatnya begitu ayu. Bibirnya yang tipis begitu merah meski tanpa pewarna yang melapisinya.
Matanya yang lebih sipit dari wanita Javadwipa lainnya membuat dia mudah dikenali. Apalagi kulitnya yang terlihat putih bersih membuat setiap jakun lelaki yang memandangnya baik dari lelaki jenis buaya, kadal, cicak ataupun yang lelaki jenis kucing garong sekalipun akan menelan ludah berkali-kali.
"Bukan kalian saja yang memiliki hutang budi kepada kakang Sindu, aku juga memiliki segudang hutang budi yang tidak terukur banyaknya. Karena aku sudah berhutang budi dan berhutang nyawa tidak terhitung banyaknya. Karena itulah akulah yang paling pantas diantara kalian semua yang harus menggenggam tanggung jawab menolong kakang Sindu!"
"Demi mendengar rencana kalian yang akan pergi ke pantai Karang Ampel untuk menuju dimensi lain melalui gerbang gaib, maka aku juga bertekad untuk ikut menolong kakang Sindu."
"Karena itulah aku melakukan latihan tertutup seperti yang dilakukan ketua perguruan. Aku ingin meningkatkan kekuatan dengan meraih tingkat tertinggi dari Saifi angin, setelah langkah kilat."
Suro terkejut mendengar masih ada tingkatan lain setelah langkah kilat. Dia baru kali ini mengetahui tentang fakta tersebut. Karena itu dia mulai menajamkan kupingnya untuk mendengarkan wanita yang terus berbicara tanpa ada yang mencoba membuatnya berhenti.
"Tingkat saifi angin yang aku pelajari ini adalah tingkat pamungkas. Dengan kemampuan baru ku ini, memungkinkan diriku berlari di udara seakan terbang."
"Kalian mungkin belum mengetahui sebenarnya eyang Sindurogo sudah mampu terbang di udara jauh sebelum dirinya sampai di tahap tenaga dalam tingkat langit."
"Dan aku menyusul datang ke sini, karena kata Eyang Udan Asrep ketua perguruan telah menyelesaikan latihan tertutupnya. Menurut kakang Udan asrep ketua perguruan kakang Dewa Pedang hendak membahas dengan nakmas Suro mengenai rencana datang ke Karang Ampel."
"Aku katakan cukup sekali, aku harus ikut, tidak ada jawaban tidak aku harus ikut. Jangan pernah ada seorangpun yang menghalangi niatku untuk menolong kakang Sindu!" Wanita yang terlihat begitu cantik tetapi memiliki watak yang begitu keras masih berdiri didekat pintu tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
Jika tidak mengetahui tentang dirinya orang akan mengira dia masih berumur kisaran angka tiga puluhan tahun. Padahal dia telah berumur lebih dari umur empat puluh tahun.
"Tidak ada yang akan berani menghalangi niat tetua Dewi Anggini, silahkan duduk bersama kami. Nakmas Suro akan menunjukan sesuatu kepada tetua. Silahkan duduk tetua!" Dewa Pedang yang sudah hafal dengan tabiat wanita itu tetap menanggapi dengan sebuah senyuman.
Mendengar jawaban dari ketua perguruan Dewa Pedang barusan Dewi Anggini kemudian mengangguk, lalu mulai berjalan ke arah mereka bertiga.
Maung yang sedari tiduran agaknya terlalu pulas, sehingga tidak terganggu dengan suara tinggi dari tetua Dewi anggini.
"Silahkan nakmas perlihatkan kondisi Eyang Sindurogo yang sekarang, seperti apa kondisinya?"
"Baik paman guru." Suro mengangguk dan kembali memperlihatkan Kaca Benggala kepada tetua Dewi Anggini.
"Kaca Benggala tunjukanlah kepada hamba keberadaan eyang Sindurogo!"
Seperti sebelumnya penampakan bayangan dalam Kaca Benggala.
"Kakang Sindu!" Tetua Dewi anggini cukup terkejut dengan penampakan yang diperlihatkan Kaca Benggala.
"Mengapa penampilannya begitu berbeda kakang Dewa Pedang?" Tetua Dewi Anggini menatap Dewa Pedang disebelahnya.
Dewa Pedang menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Dewi Anggini.
Suro tersenyum ke arah wanita cantik tetapi bagi dirinya roman mukanya itu begitu menakutkan, hampir mirip dengan Mahadewi.
"Menurut Suro, eyang guru telah dijadikan alat oleh dua orang yang pernah dikejarnya sampai daratan di Benua Tengah. Eyang guru pada waktu itu mungkin tidak mengetahui jika musuh yang sedang dia cari sebenarnya bersembunyi di atas awan."
"Diatas awan? Maksudnya bagaimana nakmas Suro?" Tetua Dewi Anggini menyipitkan matanya yang memang sudah sipit.
"Penampakan yang terlihat barusan adalah bagian dari sebuah istana yang terbang di langit. Mereka dapat terbang kemanapun tanpa terlacak."
"Suro menduga semua kejadian yang terjadi di tanah Javadwipa diantaranya serangan Naga raksasa dan peperangan di Banyu Kuning semua atas rencana dua makhluk yang menguasi wahana terbang itu. Mereka jugalah yang membuat Eyang Sindurogo hilang ingatannya."
"Mereka adalah dua orang yang salah satunya merupakan ketua Perguruan Awan Merah yang lebih dikenal dengan nama Batara Karang. Tetapi dia memiliki nama lain yaitu Batara Sarawita."
"Dengan melihat kejadian yang beratus-ratus tahun lalu yang telah terjadi, maka kemungkinan selain dirinya yang satu lagi bernama Hyang Antaga adalah sejenis makhluk abadi."
"Saat bertarung diatas wahana terbang, Suro melihat dua orang itu menyembah eyang guru. Sesuatu peristiwa yang tentu terasa sangat ganjil dan tidak masuk akal pastinya."
"Karena itu Suro mengambil kesimpulan jika kesadaran yang sekarang menguasai eyang guru adalah penguasa kegelapan yang hendak dibangkitkan lagi oleh mereka berdua. Agaknya wadak eyang guru yang seorang manusia abadi sudah menjadi incaran oleh mereka berdua."
"Karena itu mereka sengaja mencari cara untuk menjebaknya. Peristiwa penyerangan yang dilakukan naga raksasa bagian dari permainan mereka, agar dapat menggiring eyang guru dapat dijebak oleh mereka."
"Sampai saat ini cara mereka cukup berhasil. Bahkan hilangnya sisa pasukan Medusa merupakan pekerjaan oleh seseorang yang dilakukan dua orang itu, yaitu Batara Sarawita atau Batara Karang dan juga Hyang Antaga."
"Mengapa Suro berani menyimpulkan mengapa kesadaran yang menguasai eyang guru adalah penguasa kegelapan. Sebab saat berada diatas Wilmana wahana terbang milik mereka Suro merasakan sebuah kekuatan kegelapan bahkan lebih gelap dari pada milik iblis kali purusha dari sumber kekuatan yang dikerahkan Pedang iblis sekalipun."
"Kekutan kegelapan yang dia kerahkan itu menurut jiwa pedangku bernama Vetala. Sebuah kekuatan yang mampu merasuki makhluk hidup menjadi pasukan kegelapan."
Sampai disitu Suro terdiam untuk menunggu reaksi apa yang akan dilakukan Dewi Anggini. Tetapi tetua itu telah terdiam dan membisu. Pikirannya sepertinya sedang menerawang jauh. Entah sedang memikirkan apa, tetapi agaknya terkait dengan sosok eyang Sindurogo.
"Mengapa jalan hidupmu penuh liku kakang Sindu. Mengapa para Dewata memberi garis takdir setragis ini. Padahal kau adalah lelaki terbaik yang pernah aku kenal."
"Kau adalah lelaki yang hampir tidak memiliki pikiran buruk. Pikiranmu terlalu suci untuk disebut sebagai manusia. Tetapi entah mengapa jalanmu sedari dulu penuh onak dan duri." Tetua Dewi anggini menggumam pelan tetapi semua mendengar apa yang dikatakan olehnya barusan, kecuali Maung, sebab harimau itu sudah mengorok.
"Lalu rencana apa yang akan kakang Dewa Pedang lakukan?" Dewi anggini kembali menatap Dewa Pedang.
**Tetap ditunggu dukungannya agar yang ngetik menjadi bertambah semangat lagi
Tidak ada akar rotan pun jadi
Tidak ada poin komentar pun jadi
semua tetap jaga jarak stay at home moga dijauhkan dari covid. Tetap jaga kesehatan jangan keluar rumah terlebih dahulu kecuali kebutuhan mendesak. Semua tetap semangat**