SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 57 PERTARUNGAN TAHAP KEDUA part 5



Ledakan tenaga dalam milik Rithisak menimbulkan semburan api yang bertambah besar kekuatannya. Beruntung Mahesa kali ini mampu mengantisipasi terlebih dahulu. Dia melemparkan badannya dengan cepat ke arah kanan. Dia berguling dengan cepat sambil melemparkan bilah pedangnya terlebih dahulu. Kemudian dia bergerak ke arah lain. Tujuannya tentu saja ke arah tiga bilahb pedang miliknya yang tergeletak tidak jauh darinya.


Trang!


Rithisak menangkis luncuran satu bilah pedang milik Mahesa dengan mudah. Kemudian kembali mengejar ke arah lawannya..


Mahesa dengan gerakan cepat akhirnya mampu menguasai tiga bilah pedang miliknya yang sebelumnya masih tergeletak dilantai.


"Gelombang Pedang Menggulung Gunung!"


Tanpa menunggu lama sebelum Rithisak semakin mendekat, dia segera kembali memberikan serangan yang cukup dahsyat. Tiga larik pedang segera menerjang kearah Rithisak dengan begitu dahsyat.


"Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari!"


Rithisak segera mengelar jurus bertahan menghadapi gelombang pedang yang menyerangnya dari tiga jurusan.


Trang! Trang!


Kembali suara pedang beradu dengan ritme semakin cepat. Kemungkinan Mahesa kali ini ingin segera menyelesaikan pertarungan. Mahesa yang mengendalikan pergerakan pedangnya dengan begitu dahsyat, membuat tenaga dalamnya juga ikut terkuras banyak.


Rithisak yang diserang dengan begitu ganas memilih bertahan dengan rapat. Kesempatan itu digunakan Mahesa sebaik mungkin. Sambil mengatur pergerakan pedangnya, secara cepat dia mencoba mengumpulkan kembali empat bilah pedang lainnya yang berserakan disekitar arena pertarungan.


Rithisak dibuat begitu sibuk, sampai tidak memberi kesempatan bagi dirinya untuk mencegah Mahesa mengumpulkan semua bilah pedangnya. Serangan yang dilakukan Mahesa benar-benar membuat bilah pedangnya begitu hidup.


Setiap pedang Mahesa menyambar ke arah Rithisak, segera ditangkis dengan cepat membuat bilah pedang itu terlempar. Tetapi setiap kali pedangnya ditangkis dan terlempar, segera Mahesa menarik pedang itu kembali. Dengan gerakan memutar pedang tersebut kembali menyerang lawannya.


Seakan tak ada habisnya bilah pedang Mahesa menyerang dari berbagai arah secara bergantian. Rithisak kali ini benar-benar dibuat kerepotan. Apalagi tempo serangan Mahesa bertambah semakin cepat.


"Aku masih kagum dengan cara dia mengendalikan bilah pedangnya. Secara bersamaan dia bisa mengatur pola serangan. Seakan lawannya sedang bertarung dengan orang yang banyak." Azura berbicara sambil bersedekap, dia menoleh kearah orang lawan bicaranya yang berada disebelah kanannya.


Tatapannya kembali ke arah arena dimaman Mahesa dan Rithisak sedang bertarung. Lawan bicaranya yang tidak lain, adalah Bayu Aji. Dia tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan Azura.


"Benar kisanak bukan pekerjaan yang mudah. Cara dia mengendalikan bilah pedang memang terlihat begitu rumit."


"Apakah kisanak merasa ada yang berbeda dari ledakan api milik lelaki yang menjadi lawan Pendekar pedang terbang itu?"


"Berbeda bagaimana kisanak?"


"Aku merasa dalam tubuhku begitu terasa bertenaga. Dan setelah melihat orang itu keyakinanku bertambah. Semua itu pasti efek dari obat yang diberikan bocah itu."


"Yang sedang berbicang dengan peserta perempuan yang dibelakang itu." Azura menunjuk ke arah Suro dengan kepalanya. Bayu Aji melirik ke arah yang ditunjuk Azura dan menganguk kecil.


"Aku merasa setelah menelan obat itu tenaga dalamku bertambah dengan begitu pesat. Lihatlah serangan yang dilakukan orang itu ledakan apinya bisa sampai sejauh itu sangat berbeda sekali dengan serangannya pada babak awal."


"Sebenarnya aku juga merasakan seperti yang kisanak rasakan. Obat itu memang manjur. Bahkan tubuhku masih terasa bertenaga setelah melakukan pertarungan barusan."


"Berarti kita merasakan sensasi yang sama setelah menelan obat yang diberikan bocah itu."


"Apakah ada efek sampingnya?" Azura merasa khawatir setelah menyadari khasiat obat yang telah ditelannya. Pantas saja saat dia menghadapi Narashoma tenaganya seakan tak ada habisnya. Berbeda sekali dengan yang dia rasakan pada pertarungan di babak pertama. Kembali dia melihat ke arah Suro yang masih asik berbicara dengan peserta perempuan yang ada disebelahnya.


Bayu Aji hanya mengangkat bahunya menandakan bahwa dia juga tidak tau tentang hal itu.


"Bukankah tadi dia bilang memiliki banyak obat yang seperti barusan kita minum?" Azura kembali bertanya ke arah Bayu Aji.


"Ya aku juga mendengar perkataanya."


"Bagaimana jika nanti setelah selesai pertarungan kita bertanya kepadanya, mengenai efek samping yang dikandung obat itu? Sekaligus kita juga meminta atau membeli obat yang dia miliki jika memang tidak memiliki efek yang berbahaya."


"Benar sekali itu ide yang bagus." Bayu Aji terlihat menganggukan kepala pertanda setuju dengan usul Azura.


Rithisak terlihat masih bergelut dengan tiga bilah pedang yang menyerangnya dari berbagai arah. Kesempurnaan tehnik pedang Mahesa memang mengagumkan.


"Ledakan Kemarahan Rubah Api!"


Cara yang sama dilakukan Rithisak saat pertama kali mencoba terlepas dari kungkungan jurus Mahesa. Tetapi memang cara itu memang terbukti ampuh untuk keluar dari kepungan serangan musuh. Sebab setelah putaran sabetan pedangnya yang dilepaskan berbarengan dengan ledakan energi api, maka pedang milik lawannya langsunt terpental cukup jauh. Sehingga dengan itu memberi kesempatan bagi dirinya untuk meloloskan diri dari kepungan pedang milik Mahesa.


Mahesa yang menyadari formasi pedangnya kembali dapat dihancurkan, kali ini dia harus memikirkan cara lain agar bisa menang.


Terlihat Rithisak bergerak cepat ke arah Mahesa yang berjarak lebih dari dua tombak. Mahesa yang sudah menyadari serangannya mampu digagalkan lawannya segera bergerak secepat mungkin, mengumpulkan keempat bilah pedang lain yang masih berserakan disekitar arena.


Beruntung sebelum Rithisak lebih dekat ke arahnya. Mahesa telah mampu mengumpulkan keseluruhan bilah pedangnya. Segera dia menyiapkan serangan pamungkas untuk meraih kemenangan. Tetapi dalam serangan pamungkasnya kali ini dia juga sedang berjudi dengan nasib. Sebab jika rencananya tidak semulus yang direncanakan kemungkinan dia akan kalah.


"Gelombang Pedang Menggulung Gunung!"


Dia segera melancarkan serangan yang lebih ganas ke arah lawannya yang berjarak kurang dari satu tombak itu. Keempat pedang yang barusan dia kumpulkan diluncurkan dengan deras.


Pedang itu menghajar ke arah Rithisak yang justru menyongsong arah datangnya serangan. Sehingga berjarak semakin bertambah dekat dengan Mahesa. Sesaat setelah itu Mahesa membuat serangan susulan dengan cepat.


"Pukulan Brajamusti!"


Buuk! Buuk!


Dua pukulan jarak jauh milik Mahesa menghantam dengan telak. Rithisak tidak menyadari hal itu karena dia terlalu terfokus pada serangan pedang yang bergulung-gulung menghampirinya dengan begitu ganas. Sebuah tehnik pengendalian pedang yang nyaris sempurna. Sebab dalam kondisi seperti itu sesaat setelah melemparkan bilah pedangnya, dia masih sempat membuat serangan susulan. Dua buah pukulan jarak jauh yang terkenal kedahsyatannya. Sebuah tehnik pukulan yang dapat meningkatkan kekuatan pukulannya sampai berkali-kali lipat.


Tenaga dalam Mahesa yang sudah mencapai tingkat tinggi dilepaskan dengan hampir seluruh kekuatannya yang tersisa. Dengan kekuatan tenaga dalam milik Mahesa sekitar lima puluh persen membuat tubuh Rithisak terlempar cukup jauh. Begitu kerasnya pukulan itu, sampai membuat tubuh Rithisak keluar dari arena pertarungan.


Buru-buru Mahesa menarik kembali serangan pedangnya. Kemudian dia mengejar ke arah terlemparannya tubuh lawan. Mahesa terkejut dengan kekuatan yang barusan dia lepaskan. Dia tidak menyangka dengan efek tehnik pukulan yang belum lama dia pelajari itu. Dia baru mempelajari beberapa bulan sebelum keberangkatanya ke perguruan pusat.


Gurunya berpesan untuk tidak mengunakannya jika memang tidak terpaksa. Tetapi Mahesa merasa seperti ada yang berubah dengan kekuatan yang dia miliki. Bahkan setelah dia banyak mengerahkan chakra untuk mengatur bilah pedangnya, seakan masih banyak pasokan tenaga tambahan lain pada dirinya.


"Apa kau ingin membunuhnya bocah?" Dewa Rencong yang tak sempat menghentikan serangan Mahesa ikut terkejut akibat serangan itu. Dia segera memeriksa detak nadi besar yang berada dileher dekat kuping Rithisak.


"Mohon maaf tetua saya juga tidak menyangka kekuatannya sebesar itu. Apakah dia baik-baik saja tetua?"


"Beruntung dia masih hidup bocah. Lihat apa yang telah kamu lakukan! Sepertinya ada beberapa tulang rusuknya yang retak." Dewa Rencong kembali memeriksa tubuh Rithisak yang masih pingsan.


"Mohon maaf tetua aku sendiri tidak menyangka akan sekuat ini kekuatan pukulanku."


"Apa nama tehnik pukulanmu bocah sampai membuat lawanmu seperti ini?" Dewa Rencong memelototi Mahesa yang tertunduk sambil ikut memeriksa kondisi Rithisak. Dewa Rencong selain marah dia sebenarnya ikut kagum dengan kekuatan pukulan jarak jauh yang dilepaskan Mahesa.


"Brajamusti tetua!"


"Bocah cubluk(bodoh)! Siapa nama gurumu yang sama cubluknya dengan dirimu? Mengajari tehnik mematikan tanpa terlebih dahulu memberi tahu efek yang diakibatkan!" Dewa Rencong memandangi para tetua yang berkumpul. Mereka segera bergerak cepat mendatangi tubuh Rithisak yang terlempar cukup jauh. Dengan efek hantaman yang begitu kuat membuat dia masih belum sadarkan diri dari pingsannya. Mereka mencoba ikut menolong Rithisak yang masih pingsan.


"Mohon maaf Dewa Rencong saya Banyu langit guru dari murid ini. Saya sebagai gurunya ikut bertanggung jawab. Karena telah teledor mengajarinya tanpa pernah memperlihatkan efek yang akan diakibatkan pada lawan! Semoga ini menjadi pelajaran terakhir baginya untuk tidak mengulangi perbuatannya yang hampir mencelakai murid sesama satu perguruan."


"Tetua cubluk dengan murid cubluk!" Dewa Rencong menatap dengan marah sebelum akhirnya mereda dengan sendirinya setelah dia mengalirkan tenaga dalam dan membuat Rithisak kembali sadar.


Tetua Banyu langit memandangi muridnya yang masih tertunduk karena merasa bersalah. Dia ikut terkejut dengan kekuatan yang dilepaskan muridnya. Entah mengapa dia seperti tidak mempercayai dengan kekuatan yang dimiliki muridnya. Agaknya ada sesuatu hal yang membuat kekuatan muridnya meningkat dengan pesat. Sehingga membuatnya lebih kuat dari pada seharusnya.


Setelah dilakukan pertolongan selanjutnya Rithisak dibawa keluar untuk mendapatkan pengobatan selanjutnya.


Kemudian Dewa Rencong mengumumkan hasil pertarungan yang dimenangkan Mahesa.


Hasil pertarungan yang sangat mengejutkan. Sebab bukan karena tehnik pedang miliknya yang mengagumkan, tetapi justru tehnik pukulan tangan kosong yang tidak diperlihatkan sejak awal yang menjadi kunci kemenangannya. Khalayak ramai menjadi terkagum-kagum dengan kekuatan yang diperlihatkan Mahesa. Mereka tidak menyangka ternyata pukulan tangan kosongnya tak kalah mengerikan dibandingkan jurus pedangnya.


"Memang berapa persen kekuatanmu yang kamu gunakan untuk pukulanmu barusan?" Sambil berjalan keluar dari area pertandingan dia menanyai muridnya. Sepertinya Tetua Banyu Langit masih penasaran dengan peningkatan kekuatan Mahesa yang begitu pesat.


"Hanya sekitar lima puluh persen guru."


"Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan Mahesa?"


"Benar aku tidak salah mengingatnya guru."


"Bagaimana bisa kekuatanmu meningkat pesat apa yang terjadi? Tidak mungkin hanya dalam waktu dua hari ini sudah membuat tenaga dalammu berubah sekuat ini? Aku masih ingat seberapa kuat kekuatanmu, jika yang kamu katakan barusan benar!"


" Benar guru Mahesa tidak berbohong. Mahesa sendiri juga ikut terkejut dengan kekuatan yang yang barusan Mahesa lancarkan. Mahesa merasa ini pasti akibat dari khasiat obat yang sebelum pertarungan telah aku telan. Sebab setelah menelan obat itu sirkulasi tenaga ditubuh Mahesa bergerak begitu lancar membuat tubuhku terasa sangat bertenaga. Tetapi Mahesa tidak menyangka efeknya bisa sampai sejauh ini. Bisa meningkatkan kekuatan tenaga dalamku dengan begitu pesat."


"Benarkah obat dari mana? Siapa yang memberikan?" Tetua Banyu Langit terkejut dengan perkataan muridnya. Sebab ciri-ciri khasiat obat yang disebutkan muridnya merupakan obat yang dulu sangat melegenda dan sangat susah dicari. Karena yang membuatnya juga tidak mudah ditemui yaitu Eyang Sindurogo.


"Dari salah seorang murid utama yang juga menjadi peserta. Murid dari Dewa Pedang. Dia memberikan obat itu ke semua peserta."


"Benarkah? Bagaimana mungkin dia memberikan obat semacam itu dengan begitu mudahnya?"


"Entahlah guru, memang guru tau itu obat apa?"


"Dulu ada obat yang memiliki khasiat seperti yang kamu sebutkan bahkan menjadi legenda. Sayang sangat susah dicari karena yang membuat obat itu juga sama susahnya untuk diketemukan."


"Benarkah itu?" Mahesa terperanjat dengan penjelasan gurunya.


'Berarti aku sangat beruntung mendapatkan obat itu. Darimana bocah itu mendapatkan obat yang justru guru menyebutnya sebagai obat yang hanya sebuah legenda.' Mahesa membatin dengan raut muka seakan tidak mempercayai dengan perkataan gurunya barusan.


"Apa itu tidak salah bukankah tindakannya itu membuat lawannya juga menjadi kuat?"


"Entahlah guru tetapi memang benar manfaat dari obat itu benar-benar luar biasa. Tenaga dalamku meningkat dengan pesate guru."


Setelah Dewa Rencong selesai mengumumkan kemenangan dipihak Mahesa maka sesi pertarungan itu sudah berakhir dan dilanjutkan dengan sesi pertarungan berikutnya. Dia kemudian mengambil gulungan nama dibumbungan yang dibawakan tetua lain.


"Narashinga! Peserta yang akan bertarung disesi selanjutnya. Silahkan yang merasa memiliki nama ini turun ke arena pertarungan!"


Narashinga harapan terakhir dari perwakilan perguruan yang ada di Kerajaan Malaka.


"Shinga! Aku titipkan kemenangan padamu! Kali ini kamu harus menang agar ada perwakilan dari salah satu perguruan di Kerajaan Malaka yang menjadi tetua muda." Narashoma memandang ke arah adiknya yang berhenti melangkah dan menjawab dengan anggukan kepala.


Dewa Rencong kembali membuka gulungan nama yang dia ambil dari bumbungan.


"Suro bledek! Nama yang barusan aku pangil silahkan turun ke arena pertarungan untuk melanjutkan pertarungan sesi berikutnya."