SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 347 Pisau Kilat



Duuum! Duuum! Duuum!


Dentuman keras secara berturut-turut mengantam dinding lorong itu. Dentuman itu berasal dari suara tubrukan dua sisi dinding labirin yang saling berseberangan.


“Untung saja kakang memperingatkan, jika tidak tubuhku sudah remuk,” jantung Mahadewi berdetak kencang melihat dinding yang saling mengunci.


Dia sudah dapat membayangkan tubuhnya akan menjadi seperti apa jika berada ditengah-tengah dinding yang saling menghantam tersebut.


“Seperti yang sudah aku perkirakan labirin-labirin ini memang sudah dipasangi berbagai jebakan yang dapat menghabisi pasukan musuh.” Beruntung Suro saat berlari itu merasakan pergeseran dinding sesaat setelah Mahadewi hendak memasuki area jebakan itu.


Mereka lalu merubah arah lain setelah lorong didepan mereka tidak dapat dilewati. Belum habis satu seruputan teh langkah mereka harus kembali berhenti.


Sebab serbuan senjata rahasia yang berupa puluhan pisau terbang menerjang ke arah mereka berdua.


Trang! Trang!


Mahadewi kembali mengerahkan jurus sepuluh pedang terbang. Dengan kemampuan dan pemahamannya tentang pedang yang telah sampai pada tahap bersatu dengan pedang, membuat setiap gerakan senjatanya yang berseliweran di udara seperti memiliki pikiran sendiri.


Dengan jurus itu juga lesatan pisau terbang yang terus menghujani mereka berhasil ditangkis semua. Gerakan sepuluh bilah pedang milik Mahadewi melesat dengan begitu cepat.


Dengan itu, maka tidak ada satu pisau pun yang menghujani mereka dapat melukai mereka berdua. Pertahanan yang dibuat oleh Mahadewi begitu rapat, seakan sepuluh pedang itu adalah payung pedang yang berkilatan menghadang ratusan pisau terbang.


Melihat serangan dari sisi depan tidak berhasil melukai Suro dan juga Mahadewi, akhirnya pasukan musuh mengerahkan seluruh pasukannya. Diatas sepanjang lorong yang dilewati mereka berdua, ternyata musuh telah bersiap. Setelah serangan mendadak tidak berhasil, maka kali ini dari segala sisi ikut menyerang secara serentak.


Lorong tempat dimana Suro dan Mahadewi merupakan celah tebing tinggi yang memisahkan dua gunung batu. Di puncak tebing-tebing itulah musuh bersembunyi dan terus menyerang mereka.


Melihat musuh yang mengepung diatas ketinggian, bukannya memilih sembunyi atau menghindar, Suro melakukan pilihan yang tidak diduga oleh musuh. Sebab kini dia melesatkan tubuhnya terbang naik ke atas menghampiri musuh yang telah mengepung irinya dan juga Mahadewi.


Dia cukup kagum, ternyata musuh berhasil mengepung dirinya tanpa dia sadsri. Kemampuan dirinya yang bisa membaca getaran tanah tidak dapat menangkap gerakan musuh.


Dia menyadari jika musuh minimal berada ditingkat tinggi yang menguasai ilmu meringankan tubuh tertentu, sehingga langkah mereka tidak dapat dibaca. Walaupun memang jarak antara mereka dan musuh terpaut cukup jauh. Selain itu mereka bergerak diatas puncak gunung batu.


Mahadewi yang melihat Suro melesat ke atas segera bergegas menyusul dan menggunakan ilmu meringankan tubuh miliknya. Dia kemudian berdiri diatas pundak Suro.


Sambil berpijak di antara gagang-gagang pedang milik Suro yang berada dipundaknya, Mahadewi menggunakan kesempatan itu untuk menangkis seluruh serangan musuh yang tidak ada habisnya.


Tehnik pertahanan dengan menggunakan jurus sepuluh pedang terbang miliknya terbukti ampuh. Mahadewi tidak membiarkan satupun lesatan pisau terbang dapat melukainya. Terutama dia tidak membiarkan pisau itu akan melukai pemuda yang matanya tertutup kain itu.


Setelah sampai dia atas gunung batu itu Mahadewi langsung berdiri disamping Suro dengan waspada. Meskipun saat itu musuh telah menghentikan hujan serangannya. Dia tetap mewaspadai, jika ada serangan mendadak.


Berbeda dengan Mahadewi yang terlihat begitu waspada dengan adanya musuh yang telah mengepung dari segala arah mata angin, Suro justru tetap tenang-tenang saja dan tidak terlihat gentar sedikitpun meski menyadari musuh yang mengepung lebih dari seratus orang.


“Nama kalian sebagai kelompok pembunuh memang bukan omong kosong belaka, bahkan aku tidak dapat menyadari gerakan kalian. Tetapi jangan senang dulu, karena nama kelompok kalian, pasti akan lenyap dari muka bumi. Aku lah yang akan memastikan hal itu terjadi."


"Jika kalian tidak ingin kehilangan nyawa bersama markas yang akan aku ratakan, maka aku hanya meminta satu syarat untuk dilakukan, yaitu tunjukkan tempat dimana markas kalian berada, atau tunjukkan tempat dimana tetua Dewi Anggini disekap?”


Lawan yang ada didepan Suro saling berpandangan, sebelum tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha...ada orang buta yang berani mengancam kita. Nyalimu sungguh besar orang buta! Tetapi...mengapa baru aku sadari, ternyata sosok yang sedari tadi melindungi si buta adalah seorang gadis belia yang cukup imut."


"Jika kalian hendak menikmati dara yang cukup manis ini, tunggu setelah aku selesai dengannya. Hahahaha...!” Lelaki itu tertawa begitu puas dan diikuti yang lainnya.


Mahadewi langsung murka dan hendak menyerang ke arah musuh, namun tindakannya itu langsung ditahan oleh Suro.


“Biarkan aku robek mulut lelaki itu kakang!”


“Tenang saja adinda, biarkan kakang yang akan menghadapi mereka kali ini, dari pada kita berputar-putar sedari tadi tidak juga menemukan markas Mawar Merah, sebaiknya kita tanyakan langsung kepada mereka."


“Apa yang bisa kita tanyakan dari mereka? Aku yakin mulut mereka tidak akan membuka, kecuali setelah kita penggal kepalanya”


“Sudah percayakan hal itu kepada kakang, aku memiliki cara yang praktis untuk membuat mulut mereka terbuka. Aku akan menanyakan kepada yang terkuat dari mereka, kejadian sebelumnya tidak akan aku ulang kembali."


"Aku rasa lelaki yang barusan menertawakan kita pasti mengetahui dimana markas mereka berada." Selesai berbicara Suro segera maju


ke arah depan, dimana lima belas langkah didepan mereka musuh telah bersiap.


Melihat Suro terlihat begitu tenang dan percaya diri, tak khayal membuat lelaki yang barusan melecehkan Mahadewi menjadi terkejut. Bukan hanya dia yang terkejut, tetapi semua berubah menjadi waspada dan wajah menunjukkan rasa kengerian, sebab saat itu Suro telah mulai menunjukkan aura kekuatannya.


Tanpa sadar mereka tersurut kebelakang. Meskipun dia merasakan aura kekuatan yang begitu besar, tetapi lelaki yang barusan melecehkan Mahadewi masih berusaha menggertak Suro.


“Sebelum dirimu lahir aku sudah


dikenal sebagai pembunuh , jadi jangan menakutiku dengan aura kekuatan yang


hanya secuil ini. Sebaiknya kau harus mengetahui namaku. Dalam dunia persilatan mereka mengenalku dengan sebutan” Xio Fang si Pisau Kilat”. Apa kau takut mendengar namaku itu bocah?”


Suro berhenti sejenak mendengar


pertanyaan lelaki yang menyebut dirinya sebagai si Pisau Kilat itu.


“Aku rasa nama itu itu tidak pernah aku kenal. Dan aku juga tidak peduli dengan sebutanmu, jadi untuk apa aku harus takut terhadap nama yang tidak pernah aku kenal?”


Lelaki yang bernama Xiao Fang itu mendengus kesal. Sebenarnya lelaki itu merasakan kengerian setelah mengetahui pancaran aura kekuatan Suro yang begitu kuat. Namun dia merasa itu adalah akal-akalan saja.


Dia tidak percaya seorang pemuda belia mampu memiliki kekuatan yang mungkin setara dengan ketua kelompok mereka. Karena itulah dia hendak memastikan hal tersebut dengan menyerangnya.


“Kurang ajar kau bocah, ucapan sombongmu itu harus kau bayar dengan nyawamu!”


“Apa yang kalian tunggu? Cepat habisi pemuda itu!”


Bersama teriakan lelaki itu mereka segera mencabut pedang dan menyerbu ke arah Suro. Mereka mengira Suro yang buta dan sedari tadi terus dilindungi oleh Mahadewi dapat mereka habisi dengan mudah. Apalagi saat itu Mahadewi tidak lagi berusaha melindungi Suro dan berada cukup jauh darinya.


“Sekuat apapun, jika matamu buta kau bisa apa menghadapi kecepatan pisau kilatku.”


Sebelum yang lain berhasil mendekati Suro, justru si Pisau Kilat itu telah menyerang Suro dengan lesatan pisau terbang miliknya. Tingkat kecepatan serangan dari Xiao Fang berbeda dari yang lain.


Julukannya sebagai Pisau Kilat bukanlah omong kosong belaka, sebab mata sekalipun akan susah menangkap lesatan pisau milik lelaki itu.


Sebelum pisau itu mengenai tubuh Suro, sekelebat bilah pedang melesat cepat menangkis semua serangan puluhan bilah pisau yang hampir mustahil untuk dapat ditangkis maupun dihindari.


Trang! Trang!


Tanpa menggerakan satu ujung jarinya pedang itu telah bergerak sendiri menangkis serangan yang datang.


Mereka begitu terkejut dengan pertunjukan yang tidak dimasuk akal itu. Semua pisau itu bukan saja ditangkis oleh bilah pedang yang bergerak dengan sendirinya itu, tetapi semua ditebas putus menjadi dua.


“Tidak masuk akal itu adalah pisau yang memiliki kwalitas yang tinggi, bahkan aku buat dari batu langit. Bagaimana mungkin dapat dipotong dengan begitu mudahnya?”


“Siapa kau sebenarnya bocah? Aku bahkan tidak pernah melihat jurus pedang seperti milikmu!”


Suro menanggapi ucapan Xiao Fang si Pisau Kilat dengan sebuah senyuman simpul. Tiga puluh orang yang menyerbu, segera memanfaatkan kesempatan itu selagi Suro sibuk menangkis hujan serangan yang dilakukan oleh Xiao Feng.


Mereka sebenarnya sedikit bingung dengan kondisi Suro yang matanya dibebat kain. Sebab mustahil dia masih mampu menangkis pisau yang mata mereka saja tidak dapat mengikuti kecepatan lesatannya.


Keterkejutan mereka semakin menjadi saat dalam jarak kurang dari satu tombak Suro tiba-tiba mengerakkan tangannya yang sedari tadi bersedekap.


Zraaat! Zraaat!


Sepuluh sinar memancar


dari kesepuluh ujung jari Suro. Serangan itu langsung menghentikan langkah


orang-orang yang masuk dalam jangkauan serangan yang dilakukan oleh Suro.


Bau daging terbakar langsung terasa di hidung, karena sinar dari tehnik Tapak Dewa Matahari milik Suro telah memotong tubuh lawannya. Tubuh mereka langsung jatuh bergelimpangan dengan kondisi terbelah tanpa ampun.


“Kekuatan apa ini?” Xiao Fang tekejut melihat kejadian mengejutkan didepan matanya.


Sebelum selesai dari keterkejutannya serangan lain yang tidak dia duga telah menghampiri dirinya. Mendadak Suro telah muncul didekatnya, lalu menotok beberapa urat nadinya dengan cepat.


Mata Xiao Fang yang melotot sudah mengambarkan bagaimana reaksi keterkejutannya atas serangan yang dilakukan oleh Suro. Dia benar-benar tidak mampu menalar gerakan Suro yang bisa mendadak muncul didekatnya, tanpa dia sempat berkelit dari totokan yang dilakukan Suro.


Rasa khawatirnya segera menyelimuti Xiao Fang. Hal terakhir yang bisa dia lakukan setelah dirinya dibuat tidak berdaya, adalah berteriak memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menyerang Suro.


“Habisi mereka berdua! Jangan biarkan mereka dapat menemukan markas kita! Jangan pedulikan ak," ucapan lelaki itu terhenti ditengah jalan.


Sebab Suro buru-buru kembali menotok nadi sekitar lehernya agar Xiao Fang tidak dapat berteriak kembali. Tetapi perintah itu sudah didengar oleh orang-orang yang berjumlah lebih dari seratus orang itu. Mereka kembali menyerang Suro dan juga Mahadewi.


Mahadewi segera menyerang balik saat orang-orang mulai mengarahkan serangan kepadanya. Sepuluh bilah pedangnya miliknya kembali melesat dari dalam sarung yang tergantung di pundaknya.


Suro memilih memerintahkan Lodra untuk melayani mereka yang bergerak menyerang dirinya. Tajamnya Pedang Kristal Dewa tidak dapat ditanggung oleh senjata mereka.


Disaat Lodra menghalangi langkah beberapa orang yang berada disisi kanan, maka puluhan pisau terbang yang berasal dari musuh yang berada di sisi kiri segera menghujani Suro.


Tanpa menunggu bantuan Lodra Suro langsung mengerahkan jurus pertama dari Tapak Dewa Matahari. Sepuluh sinar dari ujung jari Suro berhasil menahan serangan pisau terbang itu.


Lalu seluruh bilah pisau itu berjatuhan semua tanpa ada yang sempat menyentuh tubuh Suro. Setelah selesai menahan serbuan pisau terbang, Suro lalu mengeluarkan sebuah pill dan dijejalkan ke dalam mulut Xiao Fang si Pisau Kilat.


Mata lelaki itu melotot saat Suro menekan beberapa saraf di beberapa tempat dilehernya. Sebab pill yang tidak ingin ditelannya itu meluncur dengan bebas masuk kedalam


perutnya.


“Sudah selesai, sekarang kau bisa ceritakan kepadaku dimana letak markasmu itu berada?” Suro terlihat begitu serius bertanya kepada Xiao Fang.


Pada saat bersamaan musuh yang berada diluar jangkauan dari Lodra bergerak hendak menyerang Suro. Tetapi pemuda itu seolah tidak memperdulikannya.


Musuh yang mendekat itu bergerak dengan diam-diam sambil menggunakan tehnik ilmu meringankan diri yang membuat langkah kaki mereka hampir tidak dapat didengar. Karena itu adalah tehnik rahasia kelompok pembunuh itu.


Mereka mengira gerakannya tidak di baca oleh Suro. Sebab pemuda itu justru sibuk mendengarkan setiap jawaban yang ditanyakan kepada Ciao Fang.


Zrraaat! Zraaaat!


Tanpa diketahui oleh mereka, saat mereka telah masuk dalam jangkauan serangannya, maka kembali melesat larik sinar yang langsung membabat habis tubuh mereka.


Suro menyerang musuh dibelakangnya tanpa menoleh sama sekali, sebab pada saat itu Suro sedang berkonsentrasi mendengarkan ucapan Xiao Fang yang terdengar seperti merancau.


Kondisi Xiao Gang seperti orang yang sedang mabuk berat setelah sebuah pill dimasukan kedalam mulutnya. Melihat ekspresi dari wajah Xiao Fang, seandainya dia tidak ditotok, mungkin lelaki itu akan memilih memenggal kepalanya sendiri dari pada mengucapkan sesuatu yang tidak ingin dia ucapkan.


Dia seakan tidak mempercayai dengan apa yang dilakukan oleh mulutnya yang bergerak seakan diluar kesadarannya sendiri. Setiap kali Suro bertanya, maka mulut itu segera membuka tanpa dapat dia cegah.


Wajahnya yang sebelumnya terlihat begitu sangar kini mulai berubah seperti hendak menangis, karena semua rahasia yang dia ketahui telah dikatakan kepada pemuda yang ada didepannya. Semakin carut marut raut muka dari Xiao Fang, maka semakin melebarlah senyuman Suro.


“Terima kasih Pisau Kilat, ternyata mulutmu memiliki kecepatan yang tak kalah dengan pisaumu. Setiap jawaban yang aku tanyakan telah kau jawab dengan begitu lancar. Aku menyukai kerjasama yang telah kau lakukan. Aku pikir sebaiknya dirimu aku biarkan saja seperti ini.”


“Jika pasukan yang bersamamu tidak membunuhmu, aku yakin petinggi kelompok kalianlah yang akan menghabisimu.”


“Enak saja, bukan mereka! Aku sendiri yang akan menghabisi mulut lancang itu!” teriakan Mahadewi melesat bersama sebuah bilah pedang yang berhasil menancap dikepala Xiao Fang.


Suro terperanjat merasakan desiran angin yang lewat didekat kepalanya. Dia menyadari betapa cepatnya lesatan pedang yang dikerahkan Mahadewi.


‘Untung kepalaku tidak kena, benar-benar wanita satu ini,’ Suro hanya bisa membatin sambil mengusap-usap kepalanya yang hampir saja tersambar.


Setelah berhasil membunuh Xiao Fang bilah pedang itu kembali melesat ke arah lain. Pedang itu mengejar satu orang yang hendak melarikan diri. Sayang kecepatan pedang itu mampu mengejar sosok yang berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


“Sudah selesai kakang, tidak satupun yang dapat melarikan diri untuk memperingatkan yang lain atas kedatangan kita.” Mahadewi lalu kembali menarik seluruh bilah pedang miliknya masuk ke dalam wadahnya. Pandangannya berpindah ke arah Suro yang masih mematung menunggu dirinya selesai menyarungkan pedangnya.


“Kita tidak usah melewati lorong yang membuat kepalaku pusing ini. Kakang sudah mendapatkan petunjuk kemana sebaiknya kita menemukan markas Mawar Merah.”


Suro lalu menceritakan apa yang dikatakan Xiao Fang sebelumnya kepada Mahadewi.


“Baiklah, apa yang kakang tunggu ayo kita serang markas mereka."