SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 321 Rahasia Kehidupan Dewi Anggini



Setelah eyang Sindurogo berhasil menghabisi jagoan yang ada di sebelah kiri, Dewa Rencong juga berhasil mengatasi pasukan yang menyerang dari ujung sisi kanan.


Eyang Sindurogo setelah memukul mundur pasukan, dia beralih kesisi tengah. Dia berpindah itu bukan karena pasukan musuh yang ada di sisi sebelah kiri sudah hancur, namun ada sesuatu hal yang lain yang membuat dirinya berpindah tempat ke tengah.


Salah satunya adalah sosok yang menggunakan baju kebesaran sebagai seorang senopati pasukan negeri atap langit.


Lelaki itu terus menyerang Dewi Anggini dengan golok besar yang menjadi ujung dari tongkat besarnya. Serangannya menghantam tanah beberapa kali membuat, tanah sekalipun dapat terbelah.


"Kepung dia agar dapat kita tangkap hidup-hidup! Jika kita berhasil, maka anggap saja tugas kita selesai! Hahahaha...!"


Mereka mengepung dari segala penjuru. Tetapi Dewi Anggini melawan mereka dengan jurus Pedang Tangan seribu.


"Menyerah saja putri Yifu aku akan mengampunimu nyawamu, jika kau mau bekerjasama! Sangat disayangkan, jika aku harus merusak wajahmu yang ayu itu! Hahaha...!"


Wuuut! Wuuuut!


Zraaat! Zraaat!


Blaaar!


"Biar aku yang menghadapi lelaki ini adinda!"


Serangan salah satu senopati berserta pasukan dari negeri atap langit itu dapat langsung dihentikan oleh eyang Sindurogo dengan sinar chakra yang keluar dari ujung telunjuknya. Padahal serangan yang dikerahkan eyang Sindurogo dilakukan dari jarak jauh.


Dia sepertinya cukup khawatir dengan keselamatan Dewi Anggini, walaupun terus terdesak, sebenarnya wanita itu dapat melayani semua serangan lawannya. Bahkan beberapa kali dapat membunuh beberapa orang yang mengepungnya.


Setelah mendapatkan serang dari eyang Sindurogo, lelaki itu bahkan terpental tiga langkah kebelakang saat golok besar miliknya menahan terjangan sinar yang menghantam dirinya. Beberapa anak buahnya justru tidak sempat menghindar dan langsung tewas terpenggal


Eyang Sindurogo yang muncul disamping Dewi Anggini memberikan isyarat agar dia mundur. Meski wanita itu awalnya tidak bersedia, tetapi akhirnya dia mengikuti keinginan lelaki idamannya itu.


"Aku mengenalmu kisanak, kau adalah Yuwen Hu, bukan? Tetapi aneh, mengapa wajahmu terlihat begitu muda?"


"Hahaha kau mungkin melihat wajahku mirip dengan penguasa sejati dari dinasti Zhou utara. Meskipun dia tidak muncul sebagai kaisar, tetapi dia lah yang mengatur kekuasaan para kaisar dinasti Zhou utara!"


"Tetapi bukan kah lelaki itu kabarnya telah kau bunuh, karena dia salah satu otak dibalik tragedi keluarga kaisar Gong?"


"Dia juga salah satu yang memaksa kaisar Gong dari dinasti Wei Barat untuk menyerahkan tahtanya dan mengakhiri kekuasaan dinasti Wei Barat."


"Itu kabar palsu, tidak mungkin diriku yang membunuhnya. Karena Setelah kembali ke tanah Yawadwipa, aku sudah tidak pernah lagi menginjakkan kakiku ke negeri kalian!"


"Jadi begitu, ternyata desas desus tentang Yuwen Hu dibunuh keponakannya sendiri itu benar!"


"Tetapi apapun itu, namamu sudah terlanjur dikenal karena masuk dalam lingkar perebutan kekuasan, meskipun itu terjadi secara tidak langsung. Karena Kaisar Gong adalah ramanda dari putri Yifu Yuan atau sekarang kalian lebih mengenalnya sebagai Bidadari tangan seribu atau juga dengan nama lain Dewi Anggini."


"Aku tidak menyangka kecantikannya yang dulu sangat terkenal , kini semakin bersinar meskipun itu waktu yang hampir setengah abad."


Mendengar ucapan lelaki itu, terlihat raut muka tidak suka pada wajah eyang Sindurogo "apa urusanmu datang kesini? Apakah ini perintah dari kaisar dari dinasti Zhou utara itu?"


Dewi Anggini setelah meminum pill yang dibuat eyang Sindurogo dan menembus tingkat langit terjadi perubahan fisik lebih muda. Paras Dewi Anggini terlihat seperti wanita umur sekitar tiga puluhan lima tahun.


Bukan hanya Dewi Anggini semua mengalami hal tersebut setelah selesai menyerap seluruh khasiat pill buatan eyang Sindurogo.


Pill itu dibuat mengikuti resep obat Bhavana Sahasra Nirwana. Eyang Sindurogo mendapatkan resep itu dari seseorang yang dipanggil sebagai Dewa obat di Negeri Atap Langit. Dia adalah seseorang yang sangat misterius, namun kemampuan pengobatannya sangatlah mengagumkan.


"Hahaha...kau sepertinya tidak lagi mendengar kabar negeri kami, setelah meninggalkan sekian lama. Silih berganti kekuasaan telah terjadi di negeri kami. Kekaisaran dinasti Zhou utara telah tamat. Kini kami dipimpin penguasa baru dari dinasti Sui."


"Dia adalah Yang Guang atau Yang Jian, tetapi sang Maharaja diraja lebih dikenal sebagai Kaisar Wen."


"Lalu apa urusannya kaisar wen atau apalah itu dengan adinda Dewi Anggini?"


"Ternyata seperti itu, ini urusannya hanyalah masalah harta karun!"


"Kau salah, kedatangan kami adalah karena kami haus darah. Kami ini adalah pendekar, harta mudah dicari. Tetapi jika dalam satu kali kayuh kami mendapatkan kekuatan besar, sekaligus harta karun yang tak terhitung jumlahnya, apakah itu tidak membuat kami tergiur? Hahahaha...!"


"Kalian kirim kemana rakyat dari kerajaan yang telah kalian taklukan?"


"Apa urusanmu dengan mereka, sebentar lagi kalian semua juga akan menyusul mereka. Jadi tanyakan saja sendiri dan berbincang-bincanglah sepuasnya di alam baka yang sebentar lagi akan kalian masuki!"


Jawaban lelaki itu menyiratkan sesuatu hal yang tidak ingin dia jelaskan. Lelaki itu kemudian menyerang eyang Sindurogo dengan tombak berujung sebuah golok besar.


Wuung! Wuuung!


Jurus yang dilakukan lelaki itu sangat cepat, tetapi tidak cukup cepat untuk mengenai tubuh eyang Sindurogo yang bergerak dan berpindah melebihi kecepatan kedipan mata.


Melihat serangannya tidak mampu mengenai lawannya, dia semakin mempercepat irama serangan miliknya. Tetapi jurus langkah maya tidak mudah ditandingi oleh kecepatan serangan lelaki itu.


"Apakah kalian diperintahkan oleh Batara Antaga atau Batara Karang untuk mengambil relik kuno didalam istana Dhamna?"


"Hahaha...ternyata kalian telah membaca salah satu maksud sebenarnya dari penyerangan yang telah kami lakukan di Swarnadwipa ini! Tetapi tidak mengapa, itu artinya kalian tidak akan mati penasaran!"


"Pantas saja kekuatan kalian mampu mencapai tingkat surga. Semua ternyata ada kaitannya dengan kekuatan milik Dewa Kegelapan. Tetapi mengapa kalian tidak memiliki tanduk seperti yang biasa kami lihat, jika seseorang menyerap hawa kegelapan?"


Dewa Rencong yang muncul didekat eyang Sindurogo langsung menimpali ucapannya barusan "sepertinya aku mengetahui mengapa mereka tidak terkena racun hawa kegelapan. Sebab mereka menyerap sebuah kekuatan dari Dewa Kegelapan yang cukup murni. Kekuatan itu tidak akan meracuni siapapun yang menyerapnya.


Karena kekuatan murni yang mereka serap itu adalah kekuatan Laghima. Sebuah kekuatan yang hampir tidak ada hawa kegelapannya."


Eyang Sindurogo mengangguk-anggukan kepala mendengar ucapan Dewa Rencong.


"Aku baru mendengarnya ada hal semacam itu. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu aku tau darimu dan seluruh pasukanmu. Pasukan kalian hanya membuat monster dalam diriku bangkit kembali!"


Zraat! Zraat!


Dua sinar dari kedua mata eyang Sindurogo menerjang ke arah senopati pasukan Negeri Atas Langit yang sebelumnya berbicara dengannya. Tetapi sinar itu tidak berhenti menyasar lelaki itu.


Setiap orang yang terkena sinar dari kedua mata eyang Sindurogo langsung berubah menjadi archa batu.


Zraaat! Zraaat!


Brak! Brak!


Setelah itu sepuluh sinar dari ujung jari eyang Sindurogo menghancurkan tubuh yang berubah menjadi batu itu. Jurus itu juga menandai amukannya yang menerjang seperti Banteng ketaton atau Banteng terluka.


Eyang Sindurogo kali ini tidak menahan kekuatannya lagi, setiap serangan yang dia lakukan membabat setiap musuh yang mengepung dirinya.


Dewa Rencong tidak mau kalah, dia juga segera mengerahkan jurus seperti yang digunakan eyang Sindurogo. Sepuluh sinar chakra yang muncul dari ujung jari Dewa Rencong membabat habis setiap musuh yang berada didekatnya.


Sesekali dia juga mengerahkan jurus Vajra yang menghantamkan kilat petir yang membuat pasukan musuh hangus terbakar.


Melihat pasukannya berhasil diporak-porandakan oleh eyang Sindurogo dan juga Dewa Rencong, maka pasukan dari Nageri Atap Langit segera merapatkan pasukannya bergabung bersama pasukan negeri Bharata.


**


Tidak jauh dari eyang Sindurogo Dewa Pedang terlihat bertarung dengan Panglima dari Jambudwipa. Lelaki yang memiliki postur tubuh seperti seekor kingkong menggunakan gada besar ditangan kanannya dan sebuah golok ditangan kirinya terus menyerang Dewa Pedang.


Dia tidak bertarung secara sendiri beberapa pasukannya ikut serta mengeroyok Dewa Pedang. Mereka menyerang dengan menggunakan ilmu Kalaripayattu. Ilmu bela diri ini mengutamakan aliran energi yang berasal dari dalam tubuh dan kekuatan yang diilhami oleh pergerakan hewan. 


Jurus-jurus yang digunakan dalam ilmu beladiri Kalaripayattu meniru gerakan dan kekuatan para hewan, seperti jurus monyet, jurus Singa, jurus gajah, jurus ular dan lain-lain.