SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 244 Gunung Ararat



Setelah ledakan keras yang menggelegar akibat pengerahan jurus ledakan matahari kembar, gerbang gaib telah lenyap. Entah bagaimana nasib Batara Karang, tetapi sebelumnya dia sempat menahan salah satu dari dua bola energi yang melesat ke arahnya.


Saat terjadi ledakan karena sinar yang keluar begitu menyilaukan mata, maka tidak ada yang mampu memastikan, apakah Batara Karang mampu selamat atau musnah dari serangan yang begitu mengerikan. Semua terjadi dalam sekejap dan saat terjadi ledakan itu tidak ada yang sanggup melihat ke arah pusat ledakan.


Setelah ledakan yang menggelegar itu berakhir Suro dan Geho sama langsung melesat mendekat ke arah eyang Sindurogo.


Gurunya masih menatap ke arah dimana jurusnya dia hantamkan.


"Akhirnya makhluk itu dapat dikalahkan oleh eyang guru?"


"Apakah makhluk itu akhirnya musnah, eyang?"


"Entahlah, eyang juga tidak mengetahuinya secara pasti. Dia seperti makhluk kegelapan lainnya. Tubuhnya dapat kembali pulih dengan cepat, meskipun eyang berhasil melukai nya dengan sangat parah." Eyang Sindurogo kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Suro yang berada disampingnya.


"Apakah kamu berhasil menemukan relik kuno tempat para Ashura disegel?"


"Iya eyang, Suro berhasil menemukan relik kuno." Suro memperlihatkan temuannya itu kepada gurunya.


Dia buru-buru menghampiri gurunya, sebenarnya hendak memastikan gurunya dalam keadaan baik-baik saja. Sebab dia menyadari untuk mengerahkan jurus barusan bukan perkara yang mudah taruhannya adalah nyawa.


Sebab energi yang memancar dengan sangat menyilaukan mata itu, setelah mulai terbentuk langsung menyedot kekuatan tenaga dalam penggunanya dengan sangat cepat. Bahkan karena alasan itu juga, untuk mengerahkan jurus satu tingkat dibawahnya, yaitu jurus ketiga dan keempat, eyang Sindurogo dan juga Suro, mereka akan mengumpulkan kekuatan lain dari luar tubuhnya sebagai tenaga cadangan. Semua itu dilakukan untuk menghindari bahaya buruk dari pengerahan jurus itu, sehingga tidak menjadi senjata makan tuan, yaitu mati karena tersedot oleh jurus yang dikerahkan sendiri.


Tetapi dengan melihat reaksi dan tatapan gurunya, Suro segera memahami tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Apalagi kekuatan milik gurunya memang sudah sangat kuat, yaitu telah mencapai tingkat surga.


"Bagus kamu thole Suro. Kamu simpan dan teruskan pencarian seluruh relik yang tersisa."


"Sepertinya eyang tidak bisa menemanimu mencari relik kuno yang tersisa, sebab ada sesuatu yang hendak eyang pastikan kebenarannya. Karena saat melihat orang-orang yang memiliki tanduk, eyang rasa pernah melihat seragam yang mereka gunakan. Jika tidak salah itu adalah bagian dari Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan di negeri Turk. Negeri itu masuk antara perbatasan Benua Barat dan Benua Tengah. Kebetulan jika dari daerah pegunungan Himalaya ini tinggal sepertiga perjalanan lagi."


"Sejak dulu aku ingin mendatangi tempat itu, karena aku mendengar betapa buruknya perguruan dimana Lembu jahanam, Medusa dan juga Batara Karang berasal."


Mendengar nama Medusa Suro lalu menceritakan riwayatnya yang telah berakhir.


"Jadi begitu baguslah, ternyata memberikan kesempatan kedua kepada makhluk semacam itu hanya akan memperpanjang keangkaramurkaan yang mereka lakukan dan tentu akan membuat sengsara bagi masyarakat luas. Karena itu eyang juga hendak menghancurkan perguruan itu. Dengan kekuatanku sekarang eyang yakin dapat terbang lebih cepat kesana."


"Apakah Suro perlu ikut eyang kesana?" Suro yang baru saja berkumpul dengan gurunya, tentu saja keberatan jika harus ditinggalkan kembali olehnya.


"Jangan khawatir dengan gurumu ini le. Kali ini eyang akan memastikan tidak lagi terjebak oleh siasat Batara Karang. Kamu lanjutkan saja pencarian relik kuno yang tersisa. Selain itu penjelasan dari pak tua mengenai tempat-tempat dimana relik kuno itu disimpan eyang sudah tidak mengingatnya."


"Karena kamu yang mengingat, jadi kamu saja yang mencarinya le. Eyang berjanji tidak akan membutuhkan waktu lama."


Suro memahami pendirian gurunya yang keras kepala sejak dulu. Bahkan karena hal itu juga setelah berhasil dikembalikan ingatannya, justru mengembalikan wataknya yang keras kepala. Akibatnya hampir saja terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Beruntung Sang Hyang Ismaya menengahi.


Suro mendengar ucapan gurunya hanya tersenyum sambil mencari cara agar gurunya tetap dalam kondisi baik-baik saja meski berjauhan. Akhirnya dia punya rencana yang membuat gurunya tidak akan tersinggung.


Sebelum gurunya bertanya lebih lanjut Suro lalu menceritakan rahasia yang sebelumnya tidak sempat dijelaskan oleh Suro. Rahasia antara dirinya Geho sama, Lodra dan juga Hyang Kavacha yang berbagi kesadaran dengannya.


Penjelasan itu tentu saja membuat eyang Sindurogo cukup terkejut, kagum, bangga dan sekaligus senang, semua bercampur aduk menjadi satu.


Dia menjelaskan jika dia dan Geho sama meski berjauhan tetap dapat terhubung. Selain itu dengan tehnik langkah semu dan ilmu puter giling dapat menghemat waktu perjalanan yang akan dia tempuh.


Suro juga menceritakan asal mula dia memiliki kekuatan api hitam dari bilah pedang yang sebelumnya adalah kepunyaan ahli pedang dari negeri Jambudwipa atau negeri Hindustan.


"Pedang iblis, aku ingat nama itu. Aku tidak menyangka orang itu sampai jauh-jauh datang dari negeri atas angin datang ke Yawadwipa. Bagaimana akhir dari manusia yang memiliki kekejaman yang tidak dapat diukur itu apalagi katanya dia memiliki kekuatan cukup mengerikan?"


Suro kemudian menceritakan peperangan di Banyu Kuning dan juga tindakan dirinya yang menyelidiki Perguruan Tengkorak Merah yang justru mempertemukan dirinya dengan tokoh itu.


"Hah? Apa? Kamu mambunuhnya?"


"Ckckckckck! Weladalah edan tenan, eyang tidak menyangka muridku yang ganteng berubah sekuat ini. Edan...eyang masih seperti mimpi melihat perubahan yang ada pada dirimu nggeer cah bagus."


Penjelasan dari Suro yang terasa masuk akal, akhirnya diterima oleh eyang Sindurogo. Dia setuju jika perjalanannya menuju ke negeri Turk ditemani oleh Geho sama. Karena dia juga dapat menolong muridnya, jika sewaktu-waktu Suro membutuhkan pertolongannya.


"Tuan Suro sebelum hamba pergi bersama guru tuan, sebaiknya hamba memberikan sesuatu kepada tuan. Pusaka yang akan hamba berikan dapat dipergunakan untuk menjaga diri tuan dari kemungkinan buruk dan juga dapat digunakan untuk menyimpan relik kuno. Sehingga tidak ada yang mengetahui maupun ingin merebut dari tangan tuan Suro. Karena itu semua tersimpan didimensi yang bergabung didalam jiwa tuan."


Geho sama akhirnya memutuskan untuk memberikan pusaka Sarang lebah iblis kepada Suro. Ada beberapa alasan yang melatar belakangi keputusannya itu.


Dia kemudian memperlihatkan pusaka yang dimaksud keluar dari mulutnya. Bentuk pusaka itu mirip rumah lebah berbentuk bulat memanjang tak lebih dari segenggaman tangan dewasa.


Geho sama lalu mulai mengajari ilmu sihir yang dapat mengendalikan pusaka tersebut kepada Suro.


Setelah selesai mengajari sihir itu kepada Suro, maka giliran dia disuruh menyimpan pusaka itu bergabung dalam jiwanya. Semua itu dilakukan dengan menggunakan tehnik ilmu sihir kelas atas.


Geho sama yang belum mencapai pencerahan sempurna merasa kekuatan dari pusaka sarang lebah iblis itu berpengaruh buruk pada jiwanya. Sehingga membuat niatnya untuk membersihkan jiwanya menjadi terganggu. Karena memang didalam pusaka itu terdapat ribuan lebah siluman.


Sejatinya pusaka itu adalah sebuah istana bagi Ratu siluman lebah. Sehingga siapapun yang menguasai pusaka itu sama saja menguasai pasukan siluman lebah.


Keputusannya membersihkan pusaka itu kepada Suro, selain karena alasan untuk membersihkan jiwanya, dia juga hendak memastikan keselamatan tuannya.


Suro mendengarkan semua penjelasan Geho sama. Setelah itu Suro diminta untuk mempraktekkan apa yang telah dijelaskan.


Setelah Geho sama merasa yakin, akhirnya mereka melanjutkan rencana sebelumnya, yaitu melanjutkan perjalanan. Dari sana mereka kemudian berpisah.


Suro mengerahkan ajian puter giling dan langsung lenyap dari pandangan. Tujuan dia kali ini adalah menuju Perguruan Pedang Bayangan. Dia hendak mengambil relik kuno yang masih disimpan disana.


Tidak menunggu lama setelah itu Geho sama juga segera membuka sihir dimensi ruang waktu yang melenyapkan tubuh dirinya juga eyang Sindurogo menuju negeri Turk. Tujuan mereka adalah sekitar gunung Ararat. Selain dengan nama gunung Ararat ada nama lain yang dikenal, yaitu Agri Dagi atau gunung Agri.